
"I'm...sorry," ujar Arunika dengan wajah tidak enak setelah beberapa saat terdiam mendengar pernyataan penuh kesedihan Gavin mengenai akhir dari hidup ibunya.
Gavin menggeleng pelan, "No, it's okay. Itu sudah lama terjadi," balasnya sambil berusaha tersenyum untuk menenangkan Arunika. Hanya saja senyuman itu tak mampu memberikan hasil yang diinginkan. Gadis berambut coklat terang itu masih terlihat tidak tenang.
Lelaki berdarah campuran Jerman-Indonesia itu pun meletakkan kedua tangannya pada masing-masing lengan atas si perempuan, lalu mengusapnya perlahan. Arunika mengangkat kepalanya yang awalnya tertunduk dan membalas tatapan dalam Gavin. Perempuan tersebut memang sudah sering melihat wajah ketampanan di atas rata-rata Gavin yang dihiasi oleh senyuman tipis, namun entah kenapa wajah yang ditunjukkan oleh pria itu sekarang ... terasa sangat berbeda. Entah kenapa—lagi—wajah itu menimbulkan perasaan tak nyaman dalam diri Arunika sehingga ia malah menjadi kikuk sendiri.
Berdeham sambil mengalihkan pandangan menjadi langkah pertama yang Arunika ambil untuk menghilangkan kecanggungan dalam dirinya. Setelah mengembuskan napas pelan, netra Arunika kembali bertemu dengan milik Gavin.
"Mau mendengar cerita tentang hidupku juga?" tanya Arunika. Keinginan ini muncul setelah menyadari betapa terbuka Gavin pada dirinya sekarang, berbeda saat pertemuan mereka di makam. Gavin sangat enggan membicarakan ibunya dan itu semua terlihat dengan jelas, makanya Arunika tidak berani mengorek lebih dalam. Namun karena sekarang Gavin berani, Arunika malah terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Gavin mengangguk kepalanya tanpa berpikir lama. Inilah waktu yang Gavin tunggu sejak beberapa waktu lalu, Arunika yang bersedia untuk menceritakan dirinya tanpa paksaan dari mana pun. Bukan dari keadaan, bukan dari permintaan dirinya ataupun orang lain, namun dari dirinya sendiri.
Keheningan singkat terjadi kembali sebagai waktu yang Arunika ambil untuk mempersiapkan dirinya. Bisa dibilang Gavin adalah orang kedua—setelah Hera—yang akan mengetahui bagaimana kondisi keluarganya. Tentu ia tak akan menceritakan kondisi mentalnya. Untuk kondisi tersebut Arunika akan selalu menyimpannya sendiri tanpa seorang pun tahu, kecuali psikiater pribadinya, Fayn Addison.
"Aku lahir di keluarga yang katanya sangat jenius, keluarga Bumantara." Mulai Arunika menceritakan dirinya dan keluarganya.
"Keluarga ini memiliki julukan ..." Arunika menghentikan kalimatnya dan menatap Gavin, meminta lelaki itu melanjutkan.
"The Doctors Family." Dan Gavin menangkap sinyal tersebut.
"Right. Keluarga ini katanya selalu menghasilkan calon-calon dokter berkualitas dengan kemampuan serta kepintaran yang tidak perlu diragukan lagi. Banyak orang bilang menjadi Bumantara itu enak banget, kesejahteraan hidupnya terjamin dan akan memiliki masa depan yang cerah. Aku tidak akan menyangkal omongan-omongan itu, tapi jika bisa memilih di keluarga mana aku lahir, maka Bumantara akan menjadi pilihan terakhirku," lanjut Arunika sambil berusaha mempertahankan senyumnya. Gavin terdiam.
"Saking inginnya menghasilkan generasi yang makin cemerlang, keluarga ini bersedia melakukan apa pun demi mewujudkan keinginan itu. Sejak umur empat tahun mereka mulai mengenalkan kami dengan materi-materi dasar kedokteran. Di umur delapan tahun, kami mulai dijadwalkan kursus akademik secara rutin. Awalnya hanya dua mata pelajaran per minggunya, namun makin lama bertambah, bertambah, dan bertambah hingga akhirnya sekarang kami kursus setiap hari selama tiga jam." Mata Arunika makin memanas di setiap kalimat yang diucapkannya. Ia mulai menundukkan kepalanya.
"Hari Minggu, hari di mana seharusnya bisa digunakan sebagai waktu istirahat, kami harus berdiam diri di rumah dan belajar mandiri selama lima jam. Di saat teman-teman seusiaku bisa bepergian ke luar kota atau sekadar bermain ke mall seusai ujian, aku tetap harus pulang cepat dan mempelajari materi pelajaran semester baru. Jujur, aku selalu iri melihat kalian yang bisa menikmati hidup tanpa perlu khawatir akan dimarahi orang tua ketika mendapatkan nilai jelek." Sebutir cairan bening mengalir di pipi merah Arunika. Terdengar isakan kecil dari perempuan itu.
Gavin mengetahui itu sehingga ia menariknya untuk kembali masuk ke dalam dekapannya. Tangan yang lebih besar itu mengelus lembut punggung Arunika sambil meletakkan dagunya di atas kepala Arunika. "I'm sorry, you can stop now, Arunika. Don't force yourself to say things that hurt you," ujar Gavin dengan suaranya yang sangat lembut dan menenangkan. Mendengar kalimat yang diucapkan dengan penuh kelembutan itu membuat Arunika tanpa sadar mendorong dirinya untuk makin masuk ke dalam pelukan lelaki blasteran tersebut. Ia berusaha mencari kenyamanan dalam kehangatan tubuh Gavin.
Hal yang membuat Arunika tidak pernah menceritakan kondisi keluarganya pada orang lain—kecuali Hera—adalah karena respons mereka yang tidak pernah baik. Pernah beberapa kali Arunika memancing orang-orang tersebut dengan pertanyaan mengenai keluarganya dan sebagian besar memberikan jawaban yang kurang mengenakkan bagi Arunika. Ada jawaban yang seakan mengentengkan kehidupan Arunika dan menganggap Arunika hidup bak putri dalam kerajaan. Ada yang menjelek-jelekkan kehidupannya sendiri, namun memuji kehidupan Arunika secara berlebihan. Ada yang langsung menuduh Arunika tak akan paham dengan kondisi kehidupan mereka karena merasa memiliki kesenjangan yang sangat besar. Dan ada juga yang menjatuhkan Arunika dengan menganggap Arunika sedang melakukan "merendah untuk meroket".
Bukannya Arunika ingin menggeneralisasi, namun pengalaman-pengalaman itu memunculkan sedikit rasa takut dalam dirinya sehingga ia benar-benar selektif dalam memilih teman. Untungnya ia bertemu dengan Hera yang open minded dan menerima Arunika apa adanya, bukan karena Arunika adalah seorang Bumantara. Bahkan setelah Arunika bercerita mengenai keluarganya, Hera langsung mengamuk dan mencaci maki keluarga Arunika di depan mata perempuan itu.
Hanya kali ini saja, batin Arunika sambil memejamkan matanya.
Di sisi lain, melalui kejadian ini, Gavin menjadi makin memahami sebagian kecil hidup Arunika yang luar dan dalamnya sangat berbeda. Ia juga mencatat dengan bolpoin merah di kepalanya, segala hal yang berkenaan dengan keluarga gadis itu akan menjadi topik yang mungkin sensitif sehingga ia harus bertanya lebih dahulu saat ingin mengangkat pembicaraan mengenai hal tersebut.
Beberapa saat adam dan hawa itu diam dalam posisi serupa. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu sibuk menulis satu poin baru dalam do's and don'ts-nya, sedangkan satunya mulai memikirkan sebuah perasaan asing namun nyaman yang selalu dirasakannya saat bersama si adam. Namun tak lama Gavin menyadari tangisan Arunika yang telah terhenti sehingga ia menarik sedikit tubuhnya—namun masih dalam posisi berpelukan—agar bisa menatap wajah Arunika yang dihiasi oleh mata dan hidung merah.
"Jangan menangis lagi, ya. Nanti cantiknya hilang," pinta Gavin sambil mengusap sisa-sisa air mata di sudut mata Arunika. Kalimat penenang sekaligus pujian itu cukup membuat dada Arunika berdetak lebih cepat dari biasanya sehingga ia benar-benar menjauhkan tubuhnya dari Gavin, lalu mengusap wajahnya pelan.
"Bohong. Memang sekarang masih cantik? Dengan mata sembab dan hidung tersumbat begini?" tanya Arunika tak percaya dengan perkataan Gavin. Si pria terkekeh dan mencubit pelan pipi Arunika.
"Tentu saja, wajahmu malah menjadi lucu sekarang. Lihat, semuanya merah begini," jawab Gavin dengan penuh keyakinan. Arunika terdiam selama beberapa detik, sedikit terpesona dengan sikap Gavin yang sangat lembut. Namun setelahnya ia berdecak kesal main-main.
"Gombal." Gavin mengerutkan dahinya mendengar satu kata itu. Apa artinya? Tolong diingat, Gavin sampai sekarang masih belajar tentang bahasa gaulnya Indonesia. Ia masih memiliki jalan yang sangat panjang untuk bisa sepenuhnya menguasai bahasa tersebut, terlebih memahami setiap kata baru dengan berbagai macam arti yang dibuat oleh anak muda negara.
Mulut Gavin telah terbuka untuk menanyakan arti kata tersebut, namun tidak jadi ketika menyadari Arunika yang masih mengenakan cardigan, seperti beberapa hari sebelumnya. Lelaki itu terus berpegang pada alasan bahwa Arunika sedang tidak sehat akhir-akhir ini sehingga ia terus melapisi tubuhnya dengan cardigan ataupun jaket. Cuaca memang sedang dalam mood yang tak menentu. Namun sepertinya keyakinan itu harus goyah ketika bagian lengan cardigan gadis itu sedikit tersingkap dan memperlihatkan sebuah perban melilit sepanjang satu jengkal. Hanya saja pemandangan itu tak bertahan lama karena Arunika yang kembali menggerakkan tangannya.
"Vin, mukaku sekarang masih merah?" Gavin sedikit tersentak ketika Arunika memukul pelan lengannya. Namun sepertinya Arunika tak menyadari itu.
Gavin terdiam sebentar sambil menatap Arunika dengan pandangan yang sulit diartikan, membuat Arunika memasang wajah bingung. "Kenapa? Mukaku masih merah, ya?" tanya Arunika kembali sambil memegang rautnya. Gavin pun menggeleng sambil tersenyum.
"Sudah tidak merah sekarang." Akhirnya Gavin menjawab sehingga Arunika tersenyum lega.
Tanpa babibu ia langsung beranjak dari duduknya. "Baiklah, aku harus kembali ke dalam sekarang, takut keluargaku curiga karena sudah pergi terlalu lama. Kau ingin ikut atau masih mau di sini?" tanya Arunika lagi dengan kepala sedikit menunduk, menatap Gavin yang masih duduk di bangku. Gavin pun menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Masuklah terlebih dahulu, aku masih mau di sini sebentar." Arunika mengangguk paham sehingga ia berjalan menjauhi Gavin sambil melambaikan tangannya. Lambaian itu dibalas oleh si lelaki. Sembari Arunika yang makin mengecil di pandangan, Gavin menatap perempuan itu dengan tatapan curiga.
Kenapa firasatnya tidak bagus akan hal ini?
...⁕⁕⁕...