RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 2: ARUNIKA BUMANTARA



"Bumantara?" Arunika mengangguk kepalanya, sedangkan pria di sebelahnya masih memproses satu kata itu, merasa tidak asing. Tak lama kedua matanya melebar dan menatap tak percaya pada perempuan yang sejak tadi memperhatikannya.


"The Doctors Family?" tanya Gavin penuh kekejutan. Bagaimana tidak? Keluarga Bumantara dikenal akan kegeniusan mereka di bidang kesehatan dunia. Dijuluki sebagai The Doctors Family, keluarga tersebut selalu menghasilkan dokter-dokter hebat di setiap generasinya dan keahliannya pun sudah tidak diragukan lagi.


"That's what they call us," balas Arunika dengan santai sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke meja kerja di ruangan itu. Ia mengambil satu buku besar dan membukanya, lalu menuliskan beberapa kata di sana. Kemudian Arunika kembali mendekati Gavin dan menyodorkan buku tersebut.


"Sign here." Gavin pun sudah tahu buku apa itu sehingga ia langsung menandatangani buku tamu tersebut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegangi ice bag di kepalanya. Setelah memastikan tanda tangan Gavin ada di buku tersebut, Arunika menutupnya dan meletakkannya kembali di meja. Kemudian kembali duduk di tempat semulanya.


"Left-handed?"


"Both, actually."


"Wow!" Mata Arunika langsung berbinar penuh antusias, ini pertama kalinya ia melihat seseorang bisa menggunakan kedua tangannya dengan baik. Gavin hanya diam saja, sudah biasa melihat orang bereaksi seperti itu.


"Hey." Panggilan itu menghentikan kekaguman Arunika dan membalasnya dengan menaikkan kedua alisnya.


"Kau bisa menggunakan bahasa Indonesia ... when you talk to me. Aku ... ingin cepat menguasainya." Meski aksen bulenya masih terasa sedikit kental dan pengucapannya sedikit terdengar kaku, Arunika memahami apa yang dikatakannya, jadi ia pun mengiakannya.


"Sudah berapa lama kau belajar?" Arunika sengaja mengucapkannya dalam tempo lambat, membantu Gavin untuk mengerti pertanyaannya.


Hening, mungkin Gavin masih berusaha men-translate kalimatnya. Arunika menganggap ekspresi Gavin yang sedang berpikir cukup lucu, jadi ia hanya diam dan menunggu.


"Kurasa dua bulan," jawab Gavin setelah beberapa saat terdiam. Arunika kembali mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan membantumu sampai kau nanti bisa memahami rapku dalam bahasa Indonesia." Arunika tertawa sehabis mengatakannya dan anehnya, tawa tersebut mampu menarik senyuman di bibir Gavin. Dan detik-detik selanjutnya, ruang kesehatan diisi dengan obrolan penuh keakraban antara Gavin dan Arunika. Dalam hati, Gavin sedikit merasa bersyukur karena dalam sehari ia sudah bertemu dengan dua orang yang sangatlah ramah, tentu ia menganggapnya sebagai awalan yang baik. Juga, berharap hidupnya di negara baru ini bisa menyembuhkan sakit yang ia terima di dua tempat tinggalnya yang dulu.


...⁕⁕⁕...


"Siap untuk berkeliling sekolah?" Seorang pria dengan warna kulit eksotisnya berdiri di depan Gavin, Gavin kenal siapa lelaki di depannya ini.


"Ketua kelas?" Pria tersebut mengangguk dan mengulurkan tangannya, "Floyd Cyrill."


Gavin menerima ulurannya, "Gavin Kanagara."


"Ayo," ajak Floyd dengan jempol yang ia arahkan ke luar kelas. Gavin pun mengangguk dan mengikuti ke mana Floyd membawanya pergi. Karena sekarang merupakan jam istirahat, jadi kondisi lorong menjadi sangatlah ramai dan tatapan para murid tertuju pada Gavin. Banyak yang berbisik memujinya hingga mengatainya, namun ia tak peduli dan hanya fokus pada Floyd yang sedang menjelaskan macam-macam ruangan yang dilewati. Sebenarnya ia sudah tahu beberapa ruangan itu saat berkeliling singkat dengan kepala sekolah pagi tadi, tapi ia merasa tak masalah untuk kembali mendengarkannya.


Setelah selesai, mereka berjalan santai di taman dan menikmati setiap tanaman yang dirawat apik oleh sekolah.


"Apakah ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Floyd dengan tatapan tertuju pada Gavin. Sejak tadi, Floyd sadar bahwa ada hal yang ingin Gavin tanyakan, jadi ia sedikit memancingnya agar murid baru di kelasnya itu berani.


"Kau tahu Arunika Bumantara?" Floyd terdiam sebentar lalu mengangguk, ia sepertinya tahu maksud dari pertanyaan itu.


"Can you tell me who she is?" Pinta Gavin dengan suara yang memelan di akhir.


Floyd terkekeh dan menepuk pundaknya, "tentu saja, tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?"


Gavin awalnya sedikit ragu untuk mengatakan jawabannya, namun melihat Floyd yang sudah sangat penasaran, ia akhirnya bersikap berani, "karena dia seperti orang yang tahu segala hal. Sebelum aku memperkenalkan diriku, dia sudah tahu namaku dan sebelum aku tahu di mana kelasku, dia sudah tahu di mana kelasku. So, I feel a little bit scared."


Floyd langsung tertawa keras sehabis mendengarnya. Pria di sebelahnya ini mengatakan kalimat-kalimat tersebut dengan wajah yang sangat polos, ditambah adanya sedikit ekspresi takut terkandung di wajah campuran itu, membuatnya dalam hati juga menertawakan Arunika. Sedangkan Gavin memasang wajah bingung, kenapa Floyd tertawa? Apa yang lucu dari perkataannya?


Setelah tertawa sekitar dua menit, akhirnya tawa itu berhenti. Floyd berusaha untuk mengembalikan kendali dirinya dengan menarik dan membuang napasnya perlahan. Ia juga menghapus air mata kecil di ekor matanya, kemudian menepuk pundak Gavin beberapa kali.


"Arunika adalah ketua OSIS sekolah ini." Gavin menelengkan kepalanya, ada satu kata yang tak ia pahami, OSIS?


"Jadi, sepertinya Arunika sudah tahu tentang kedatanganmu ke sekolah ini sehingga ketika melihat murid yang asing di matanya, otak pintarnya langsung tahu kalau kaulah murid baru itu. Dan karena ia sudah tahu dirimu, sudah pasti ia juga tahu di mana kelasmu." Jelas Floyd yang terdengar sangat masuk akal bagi Gavin, membuat ketakutannya pada Arunika menurun drastis.


"Bagaimana rasanya bertemu Arunika?" Sekarang Floyd yang bertanya, meski sebenarnya ia sudah tahu kira-kira seperti apa jawabannya.


"Sedikit pusing." Floyd kembali tertawa, benar dugaannya.


"She's really have that big energy. Selama di medical room, dia terus berbicara tanpa henti sampai membuatku merasa sedikit lelah." Kalimat terakhir itu Gavin ikuti dengan hembusan napas berat, membuat tawa Floyd makin keras. Membayangkan Arunika yang berbicara tanpa henti dan Gavin yang sedikit demi sedikit energinya terkuras karena ocehan perempuan itu mampu membuat harinya menjadi lebih cerah.


"Arunika memang terkenal dengan sifat cerewetnya. Jadi, orang baru yang bertemu dengannya akan kaget, tapi dari situ juga orang baru tersebut menjadi merasa nyaman berada di sekitarnya." Gavin menyetujui balasan itu karena ia juga merasakannya.


Tiba-tiba, perempuan yang menjadi perbincangan antara dua lelaki itu masuk dalam tangkapan mata Gavin dan Floyd. Bisa dilihat Arunika berbincang dengan penjaga taman yang sedang memotong rumput. Dari jauh Gavin bisa merasakan betapa serunya percakapan mereka karena keduanya yang terus tertawa.


"Rasanya Arunika mengenal seluruh pekerja di sini, hebat sekali didikan keluarganya," puji Floyd dengan penuh ketulusan, sedangkan Gavin memilih untuk diam.


"Arun!" Arunika, Gavin, dan Floyd menoleh ke sumber suara. Senyum Arunika merekah dan merangkul perempuan itu.


"Dia teman dekatnya Arunika, Hera Courtney," jelas Floyd singkat dan dijawab anggukan oleh Gavin.


Tak lama kedua perempuan itu membalikkan badannya. Saat itulah netra coklat terang Arunika dan netra hijau keabuan Gavin bertemu untuk kedua kalinya. Pemilik si mata coklat terang melebar dengan senyuman yang makin terbuka lebar.


"Halo, kita bertemu lagi! Bagaimana kepalamu?" tanyanya sambil berjalan cepat mendekati Gavin. Karena ia juga sedang merangkul Hera, Hera pun ikut tertarik, namun yang lebih penting lagi adalah tatapannya yang seakan bertanya apakah pria itu adalah Gavin Kanagara si murid baru? Meski tidak membalas tatapan temannya, Arunika membalas pertanyaan batin itu dengan anggukan kecil.


"Sudah lebih baik. Terima kasih sudah menyembuhkannya," balas Gavin dengan senyuman tipis. Arunika mengangguk senang dan membalas sapaan Floyd.


"Kalian mau ke kantin? Kalau mau, ayo, bareng," ajak Hera dengan santai. Gavin dan Floyd melirik satu sama lain selama beberapa detik dan keduanya pun mengangguk. Dengan begitu, keempat anak muda itu berjalan bersama menuju kantin dengan Arunika-Hera yang berjalan di depannya Gavin-Floyd.


Selama perjalanan, Gavin memperhatikan Arunika yang tak hentinya menjawab sapaan-sapaan dari murid lainnya. Senyum tak lepas dari wajahnya, membuat ia sedikit mengagumi perempuan itu. Sesampainya di kantin, Gavin sedikit terkejut dengan keramaiannya, hampir seluruh tempat telah terisi.


Selagi mencari tempat, suara yang cukup keempat orang itu kenali terdengar, membuat mereka mencari sumber suaranya. Benar saja, ternyata Maverick telah melambaikan tangannya. Maverick seakan tahu kalau empat orang itu sedang mencari tempat dan kebetulan, meja tempatnya duduk hanya diisi oleh dirinya sendiri karena posisinya yang berada di pojok.


"Kenapa sendirian? Di mana teman-temanmu?" tanya Floyd sambil mengambil tempat di sebelah Maverick dan Gavin memilih duduk di depannya Maverick, sedangkan Arunika serta Hera sudah pergi untuk membeli makanan.


Mendengar pertanyaan itu Maverick mendecih kesal, "apanya teman, mereka lebih memilih untuk makan bersama si bodoh itu." Floyd mengernyit bingung. Maverick pun menunjuk meja yang berjarak sekitar dua meja di depannya dengan dagu. Kedua pria itu mengikuti tunjukan Maverick, bisa dilihat beberapa teman yang Floyd kenal cukup dekat dengan Maverick sedang makan bersama gerombolan Archie.


"Lagi-lagi dia mengambil temanmu," ujar Floyd dengan hembusan napas berat, sedangkan Gavin sedikit bingung dengan kalimat tersebut.


"Isn’t he … yang tanding denganmu hari ini?" tanya Gavin dengan ragu yang dijawab anggukan oleh Maverick.


"Ada masalah apa dengannya?" tanya Gavin lagi, Maverick terdiam. Melihat keterdiaman itu, Gavin langsung paham kalau dia sudah bertanya terlalu jauh.


"Tidak perlu dijawab kalau tidak mau, yang penting adalah kalau dia sampai mengambil tindakan, seperti sekarang, berarti dia merasa iri denganmu." Maverick tersenyum seusai mendengar kalimat itu.


"Bagaimana kalau sekarang kita saja yang menjadi temanmu? Biar kau tidak merasa kesepian lagi," ujar Floyd dengan nada menggoda di kalimat keduanya. Maverick mendecih main-main dan kembali memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.


"Kau berani berkata seperti itu di saat kedua telingaku mendengar apa yang kau katakan?" Ketiga pria itu menoleh ke suara yang mampu mencapai sudut ruangan, begitu juga dengan seluruh murid yang berada di kantin. Semuanya menatap satu orang yang telah meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan wajah marahnya.


"Arunika?"


...⁕⁕⁕...