RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 1: GAVIN KANAGARA



"Breaking news! Sekolah kita akan kedatangan murid baru!" Suaranya yang kencang itu mampu menarik perhatian seluruh teman kelasnya, ditambah dengan kalimatnya yang terdengar cukup aneh. Anak baru saat sekolah sudah berada di semester dua?


"Serius? Kau tahu dari siapa?" tanya seorang siswi yang duduk di area belakang kelas bersama gengnya.


Siswi seribu telinga itu berjalan mendekati gerombolan tersebut dengan senyuman penuh percaya diri. Ia berdiri di tengah gerombolan, meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan tubuh yang sedikit ia condongkan ke depan. Semua orang di kerumunan itu menatap dengan intens, seakan mendesaknya untuk segera buka mulut. Namun, tangan si penyebar berita terulur dengan posisi telapak menghadap atas. Semuanya langsung paham maksud siswi itu.


"Beritahukan terlebih dahulu, baru 'kuberikan, Felicia Charlene," ujar perwakilan kelompok itu, atau mungkin lebih dikenal sebagai "ketua"-nya.


"Kau tahu inilah caraku berbisnis, Tania Hartanto." Jawaban itu membuat Tania akhirnya mengeluarkan dompet merah mudanya, mengeluarkan selembar kertas berwarna biru, dan memberikannya pada si informan dengan wajah sedikit kesal. Berbeda dengan si penerima yang menunjukkan wajah cerah sambil memasukkan uang tersebut ke kantong seragamnya.


"Senang berbisnis denganmu," ucapnya dengan senyuman lima jari.


Berdeham sedikit, mulailah ia bercerita, "ibuku dan istri kepala sekolah kita berada di satu arisan yang sama, lalu kemarin, istrinya berkata kalau besok, alias hari ini, sekolah kita akan kedatangan murid baru. Terdengar aneh memang mendengar adanya murid baru di semester dua sekolah, tapi kepala sekolah harus menerimanya karena berasal dari keluarga yang terkenal dan kuat."


"Dari keluarga mana?" tanya Tania dengan tidak sabar. Di dunia yang sangat besar ini, ada banyak sekali keluarga yang terkenal dan memiliki kekuasaan yang kuat. Jika keluarga tersebut mampu untuk membuat kepala sekolah bertekuk lutut, maka dipastikan keluarga tersebut tidaklah main-main.


"Kanagara." Seluruh pasang mata di sana melebar dan meneriakkan satu kata yang sama dengan suara keras, "hah?"


Lagi-lagi seluruh atensi diberikan pada gerombolan di pojok sana, namun mereka tidak peduli dan masih berusaha mencerna satu kata itu.


"Tidak mungkin," ucap teman Tania, Wilona, dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Begitu juga reaksiku saat mendengarnya."


"Tapi bukannya keluarga Kanagara tinggal di Inggris? Kenapa mereka pindah ke sini?" Felicia menggeleng, menandakan ketidaktahuannya.


"Tidak ada yang tahu alasan mereka pindah. Kabar kepindahan mereka saja sudah membuat dunia kelas atas gempar, tidak ada yang peduli dengan itu," lanjut si informan dengan dua bahu yang dinaikkan.


"Tapi, ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat wajah mereka, terkhususnya anak sulung mereka. Kalian tahu kalau dia dikenal sangat berbakat dan memiliki wajah yang katanya sangat tampan. Sayangnya dia tidak suka diliput, makanya sampai sekarang tidak ada satu pun gambar wajahnya yang tersebar di internet," ujar Wilona yang dibalas dengan anggukan setuju dari semuanya.


"Ada juga yang mengatakan—" Sayangnya kalimat tersebut harus terputus akibat suasana ricuh di sepanjang lorong. Para siswa berlarian seakan ada hantu yang mengejar mereka, membuat Felicia dengan cepat berjalan ke luar kelas dan menahan satu murid pria.


"Ada apa ini?" tanya Felicia sambil menatap lurus siswa yang napasnya terengah-engah.


"Maverick ... dan Archie ... mereka akan bertanding basket di lapangan outdoor!" jelas siswa tersebut dengan suara tersendat-sendat, lalu melepas pegangan Felicia di tangannya dan kembali berlari mengejar teman-temannya yang sudah jauh di depan sana.


Setelah mendengar itu, Felicia membalikkan badannya dan menatap gerombolan Tania. Seakan berkontak batin, mereka dengan cepat mengikuti rombongan menuju lapangan outdoor yang terletak di bagian belakang sekolah. Sesampainya di sana, bisa mereka lihat Maverick dan Archie telah berdiri di tengah lapangan dengan masih memakai seragamnya. Sedikit informasi, sudah menjadi rahasia umum Maverick dan Archie memiliki hubungan yang buruk. Mereka saling membenci dengan alasan yang tidak diketahui, seakan hubungan yang awalnya biasa saja itu berubah dalam semalam. Namun hubungan yang buruk itu dinikmati oleh banyak siswa karena membuat mereka menjadi bisa menonton pertandingan gratis seperti sekarang.


"Ini sudah menjadi pertandingan yang ke berapa, huh?" tanya Tania sesampainya di sana.


"Entahlah, mungkin puluhan? Hubungan mereka memburuk sejak kelas satu," balas Felicia yang berdiri di sebelahnya.


Sedangkan di tengah lapangan sana, berdiri di antara Maverick dan Archie, siswa yang dikenal sebagai kapten tim basket sekolah menjadi wasitnya. Tangan kanannya telah mengangkat tinggi bola dan sebuah peluit sudah berada di mulutnya. Matanya melirik ke Maverick dan Archie secara bergantian dan tak lama peluit ia bunyikan sambil melempar sedikit bolanya.


Pertandingan dimulai.


...⁕⁕⁕...


"Son, come here, introduce yourself to the principal and teachers here," panggil seorang pria dengan umur hampir mencapai kepala lima. Kesadaran pria muda itu tertarik kembali ketika merasa dirinya dipanggil, ia pun berjalan mendekati dan berdiri di samping ayahnya. ('Nak, sini, perkenalkan dirimu pada kepala sekolah dan para guru yang ada di sini.)


Dengan senyuman tipisnya, pria muda itu mengulurkan tangannya, "hello, nice to meet you, my name is Gavin Kanagara. I hope I can give my best to this school." (halo, senang bertemu denganmu, nama saya Gavin Kanagara. Saya harap saya bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah ini.)


Uluran tangan itu dijawab oleh pria tua yang telah menjabat sebagai kepala sekolah selama tiga tahun, "nice to meet you too, I, Hendra Wijaya, ready to always help you while studying here." (senang bertemu denganmu juga, saya, Hendra Wijaya, siap untuk selalu membantumu selama belajar di sini.)


"Thank you, also please understand my Bahasa, I'm still trying to learn it." Kalimat itu mengundang tawa seluruh orang di sana dan dibalas dengan anggukan paham. Setelah mengucapkan itu, Gavin kembali berkenalan singkat pada para wakil kepala sekolah dan beberapa guru lainnya. (Terima kasih, juga tolong maklum dengan bahasa Indonesia saya, saya masih berusaha untuk mempelajarinya.)


Setelah sesi perkenalan yang singkat itu, Gavin dan Harris—ayah Gavin—diajak berkeliling singkat untuk memperkenalkan denah sekolah pada Gavin. Kemudian, sampailah mereka di lapangan out-door yang masih ramai karena pertandingan basket antara Maverick dan Archie. Gavin menatapi pertandingan itu dengan saksama, berbeda dengan ayahnya yang sibuk berbicara dengan kepala sekolah. Rasanya ingin sekali untuk menontonnya dari jarak dekat, jadi ia izin pada ayahnya dan dibolehkan.


Setelah menjadi lebih dekat dengan lapangan, Gavin menyaksikannya dengan nyaman selama beberapa menit karena belum ada murid yang sadar akan keberadaan Gavin sebagai murid asing. Kemudian, telinga Gavin mulai berkedut akibat beberapa siswa yang membicarakannya, bertanya-tanya siapa dirinya. Ia pun sadar kalau harus keluar dari kerumunan. Gavin membalikkan badannya dan mengucapkan permisi, meminta murid di depannya memberikan jalan. Nahasnya, Gavin menjadi tak tahu bahwa Maverick dan Archie sedang berlari menuju sisi lapangan areanya berdiri. Bola di tangan Archie itu sengaja didorong oleh Maverick agar lepas dari sana dan dorongan itu cukup kuat hingga melambung tinggi dan mengenai kepala Gavin dengan keras.


Gavin pun berjongkok dan mengerang rendah sambil memegangi kepala bagian belakangnya, sedangkan permainan antara Maverick dan Archie langsung terhenti saat itu juga. Mereka berlari mendekati Gavin, Maverick ikut berjongkok di sisi kiri Gavin, dan Archie berdiri di belakang Gavin dengan tangan terlipat di depan dada.


"Hei, maafkan aku, apakah kau tidak apa?" tanya Maverick sambil memegang lembut pundak pria yang tak dikenalnya itu.


Berbeda dengan Maverick, Archie mendengus, "seharusnya tidak sakit, jika kau laki-laki." Dahi Maverick menukik tajam ketika mendengar Archie menekankan tiga kata terakhirnya.


"Mau laki-laki atau bukan, setiap orang pasti akan kesakitan ketika kepalanya terkena bola." Meski tak sepenuhnya mengerti, entah mengapa Gavin merasa harus setuju dengan perkataannya sehingga ia mengangguk pelan, sedangkan jarinya menekan sedikit kepalanya dan memutar-mutarnya, berharap cara ini bisa sedikit menghilangkan sakitnya.


Maverick yang melihat itu langsung menahan tangan Gavin, "jangan seperti itu, kau hanya akan membuat bagian sana makin merah. Ayo, 'ku antar ke medical room." Sebenarnya Gavin kurang paham apa yang dikatakan oleh Maverick, tapi ketika mendengar kata 'medical room', ia tahu kalau dirinya akan dibawa untuk diobati.


Selama perjalanan, Gavin dan Maverick saling berkenalan dan tak butuh waktu lama bagi mereka menjadi akrab karena sifat supel Maverick. Mereka berkomunikasi dengan dua bahasa—Indonesia dan Inggris—dan beberapa kali Maverick mengajarkan kata-kata baru padanya. Gavin jadi bisa sedikit melupakan sakit di kepalanya. Sesampainya di medical room, Maverick mengetuk pintu dan menyuruhnya masuk.


"Kau yang jaga hari ini, Run?" tanya Maverick pada seorang perempuan yang sedang berjongkok di depan etalase obat, sedangkan Gavin hanya diam memperhatikan.


Mengetahui suara tersebut, perempuan itu menolehkan kepalanya dan memberikan senyuman lima jari, "iya, kenapa? Habis bertengkar lagi dengan Archie?" Maverick menggeleng dan menggeser tubuhnya sehingga perempuan itu bisa melihat sosok lain yang sebelumnya tak disadari kehadirannya.


Perempuan itu terdiam sebentar, begitu juga dengan Gavin. Dua pasang netra dengan warna yang cukup kontras itu saling bertatapan hingga detik keenam dan didetik ketujuhnya, Maverick berdeham, membuat kedua orang itu tersadar. Gavin menoleh ke samping, sedangkan yang lainnya menunduk sebentar ke bawah. Tak lama perempuan itu berdiri dan memberikan senyum ramah pada Gavin, "have a seat please," ucapnya sambil menunjuk ranjang kecil di depannya. Gavin pun mengikuti perkataannya. (silakan duduk.)


"Baiklah, aku pergi dulu, ya. Si bodoh itu pasti sedang mencak-mencak di lapangan sekarang." Perempuan itu mengangguk sambil tertawa. Bunyi pintu yang terbuka dan kembali tertutup menandakan bahwa sekarang hanya ada Gavin dan perempuan itu di sana.


Perempuan yang tak Gavin kenal ini mendekatinya dengan membawa sebuah *ice bag compress di tangannya. Tatapan Gavin seakan bertanya bagaimana perempuan itu tahu kondisinya? Padahal perempuan itu tidak bertanya sama sekali. Dan seakan menangkap pertanyaan itu, perempuan itu berkata, "since then your hand was there*." Gavin kemudian menyadari posisi tangannya yang tak lepas dari bagian belakang kepalanya. (sejak tadi tanganmu berada di sana.)


"Use this for 15 to 20 minutes." Gavin menerima ice bag itu dan menempelkannya di kepala. (Gunakan ini selama 15 sampai 20 menit.)


"You're the new student, right? Gavin Kanagara." Gavin kembali terkejut, entah kenapa sejak tadi perempuan yang sekarang duduk di sebelahnya ini tahu hal-hal yang belum dikatakannya. Namun akhirnya ia mengangguk pelan. Perempuan itu pun menjulurkan tangannya dengan ekspresi lembut yang mampu membuat Gavin merasa nyaman. (Kau adalah siswa barunya, 'kan? Gavin Kanagara.)


"Hi, I'm Arunika Bumantara."


...⁕⁕⁕...