
Di sinilah Arunika sekarang, berdiri di antara kerumunan orang dengan penampilan-penampilan yang sangat berkelas. Para wanita mengenakan gaun buatan desainer ternama dengan rias wajah yang dibuat senatural mungkin, sedangkan para pria menyelimuti tubuhnya dengan jas yang membuat mereka menjadi sangat gagah serta menawan. Tangan-tangan tersebut memegang segelas sampanye dan saling bercakap tanpa henti.
Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin harus diceritakan bagaimana Arunika akhirnya berada di situasi tersebut. Semua bermula dari Arunika yang baru saja menyelesaikan kursus matematika wajib serta minatnya dua hari lalu, tepat setelah kejadian antara dirinya, Gavin, dan geng Archie. Saat dirinya turun ke lantai satu untuk mengambil minuman, dirinya mendapati kedua orang tuanya duduk di ruang tengah dengan masing-masing sibuk menatap tabletnya. Kepulangan mendadak tersebut membuat Arunika bingung karena seingatnya mereka sedang dinas ke luar kota. Ternyata, alasan kepulangan sepasang dokter itu adalah untuk menghadiri acara peluncuran produk baru Keluarga Rosverd. Dan ia pun sudah "diperintah" untuk ikut datang sehingga di sinilah Arunika sekarang.
"Loh? Arunika sudah sebesar ini? Padahal rasanya baru kemarin tante menjenguk mamamu saat melahirkanmu," ucap seorang wanita yang usianya tak beda jauh dari ibunya dengan senyuman memuji.
Arunika yang mendengar itu tertawa, "sudah lama tidak bertemu, Nyonya Rosverd," balasnya dengan senyuman yang dibuat selembut mungkin. Iya, sekarang Arunika sedang berbicara dengan Nyonya utama acara, istri dari kepala keluarga Rosverd.
"Sudah punya pacar?" tanya wanita itu lagi sambil memegang lembut pundak Arunika yang terekspos.
Arunika terkekeh sebelum menjawab pertanyaan itu, "belum, nyonya, masih mau fokus ke sekolah dulu."
Nyonya Rosverd mengernyit mendengar panggilan Arunika padanya, ia mengelus pundak itu dan mengatakan, "jangan panggil nyonya, panggil tante saja, ya." Arunika hanya bisa mengangguk mengiakan.
"Kalau begitu, bagaimana sekolahnya? Lancar?" tanya nyonya itu lagi sambil menyesap sampanye di tangannya.
"Sampai sekarang lancar, tante, cuma memang sedikit sibuk saja." Nyonya Rosverd pun mengangguk paham sambil tersenyum.
"Nyonya, Keluarga Barclay menginginkan percakapan dengan Anda." Seorang butler datang dan mengucapkan kalimat tersebut dengan suara kecil, tapi masih bisa didengar oleh Arunika. Hati Arunika pun berteriak senang.
"Tante ke sana dulu, ya, selamat menikmati acaranya," pamit wanita itu dengan senyuman, Arunika membalasnya dengan senyuman juga sambil mengangguk.
Setelah kepergian Nyonya Rosverd, Arunika berencana untuk menarik dirinya dari kerumunan, namun sebuah suara menghentikan niatnya.
"Nona Bumantara?" Arunika menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang lelaki dengan tubuh gagahnya berdiri di depannya. Dalam hati Arunika menduga kalau pria itu berumur sekitar seperempat abad. Setelah terdiam sebentar, Arunika mengangguk, membenarkan panggilan tersebut.
Pria itu pun memberikan senyuman ramah sambil mengulurkan tangannya, "saya Alastair Grantham." Arunika membulatkan mulutnya, ternyata dari keluarga pemilik perusahaan kelapa sawit terbesar dunia.
"Arunika Bumantara," balas Arunika dengan ramah.
"Kau menikmati pestanya?" tanya Alastair berusaha membuka pembicaraan. Arunika menaikkan bahunya dan menjawab dengan santai, "biasa saja."
"Berarti sekarang kau masih SMA, ya? Umur berapa?" tanya si pria lagi sambil menatap dalam pada Arunika. Entah kenapa, Arunika merasa sedikit risi ditatap seperti itu sehingga ia mengalihkan pandangan.
"Kelas dua SMA, enam belas tahun," balas Arunika sekenanya. Tatapan pria di depannya makin intens sehingga rasanya ingin sekali untuk kabur dari situasi tersebut.
"Berarti umur kita hanya berbeda tujuh tahun, bisa-lah." Benar dugaan Arunika tentang usia pria itu, namun, dahi Arunika kemudian mengernyit kecil mendengar perkataan tersebut, apa maksud perkataannya?
"Maksud ... perkataannya apa, ya?" Arunika tidak ingin menduga yang tidak-tidak sehingga ia bertanya memastikan. Perbedaan umur tujuh tahun memang bukan masalah bagi Arunika, tapi entah kenapa Arunika menangkap pria itu seakan ingin bersama dirinya yang masih di bawah umur.
Alastair terdiam sebentar lalu memberikan senyuman canggung, "sebenarnya kau cukup menarik dimataku, mau tidak berkenalan lebih dalam lagi denganku?" Mata Arunika melebar tak percaya dan dengan cepat ia melangkah menjauh. Alastair yang melihat reaksi Arunika pun panik.
"Maksudku bukan begitu, hanya berkenalan saja, tidak yang aneh-aneh." Alastair berusaha untuk menjelaskan, meski berantakan. Ia juga berusaha menggapai tangan Arunika.
"Permisi." Tanpa mengatakan apa pun Arunika langsung melangkah pergi meninggalkan Alastair dengan wajah sedihnya. Sambil berjalan, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah bergidik ngeri. Apa-apaan ini? Dirinya barusan didekati oleh pria yang ingin menjalin hubungan romantis dengannya?
Arunika terus berjalan sampai berada di samping ruangan yang cukup gelap. Punggung kecilnya ia sandarkan pada tembok, lalu mengembuskan napas pelan. Setelah merasa tenang, matanya melirik meja penuh kue-kue kecil yang dihidangkan oleh tuan rumah acara, kemudian mengambil satu kue tersebut dan memakannya.
Saat asyik menatapi pemandangan di depannya, sebuah sosok berjalan mendekatinya. Arunika memicingkan matanya, ia tidak bisa melihat wajahnya karena ruangan yang menggelap—tanda acara utamanya sebentar lagi akan dimulai. Setelah sosok itu hanya sekitar tiga langkah darinya, barulah Arunika mampu menangkap sosok tersebut. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit terkejut, tidak menduga kalau akan bertemu dengan sosok ini.
"Halo, Arunika."
...⁕⁕⁕...
Bunyi alarm yang sangat keras itu nyatanya tak mampu membangunkan sosok yang masih bergelung di balik selimut tebalnya itu. Bukannya terbangun, pria muda tersebut malah mematikannya dan melanjutkan mimpinya. Toh hari ini merupakan hari libur, jadi ia tak harus bangun pagi. Rencana bangun siangnya pun didukung oleh gelapnya ruangan karena tirai yang masih terbuka.
Namun, rencana hanyalah rencana. Beberapa saat kemudian pintu kamarnya dibuka dengan keras oleh makhluk kecil yang memeluk boneka teddy bear-nya. Makhluk kecil itu menaiki satu-satunya ranjang di sana dan melompat-lompat dengan penuh semangat.
"Kak Gavin, ayo, bangun! Katanya janji mau bermain bersama Erlan di kolam renang." Ya, makhluk kecil itu adalah Erlano, sedangkan pria yang masih menggulungkan tubuhnya dalam selimut merupakan Gavin.
Mau tidak mau Gavin harus membuka matanya. Janji adalah janji, harus ditepati. Secara perlahan pria itu mendudukkan dirinya dengan mata setengah terbuka, karena Erlano masih melompat-lompat, Gavin menarik tubuh kecil itu dalam pelukannya dan kembali merebahkan badannya.
"Ih! Kakak! Ayo, bangun! Erlan sudah siap, masa Kak Gavin baru bangun?" protes Erlano sambil meronta dalam pelukan kakaknya. Gavin yang mendengar protes-an dari si kecil hanya tertawa dengan suara seraknya. Kemudian ia membangunkan badannya dan mendudukkan Erlano di pahanya.
"Baiklah, tunggu sebentar, ya, kakak siap-siap dulu, oke?" Erlano mengangguk paham, membuat Gavin tertawa gemas dan mengusap lembut kepala adiknya. Ia pun menurunkan Erlano dari ranjang.
"Erlan pergi duluan ke kolam, ya, dan minta tolong ke butler untuk dipasangkan pelampung tangan." Erlano kembali mengangguk dan dengan cepat berlari keluar kamar Gavin. Tak lama terdengar teriakan makhluk kecil itu memanggil butler keluarganya, membuat Gavin menggeleng pelan sambil tersenyum.
Lelaki itu pun kemudian bersiap dan selesai dalam beberapa menit saja. Ia hanya perlu gosok gigi dan cuci muka, mandi bisa ia lakukan setelah dari kolam renang. Setelahnya, ia berjalan menuju kolam renang yang terletak di belakang rumah. Di sana ia bisa melihat Erlano yang sudah memakai pelampung tangan, serta disiapkan juga beberapa pelampung jenis lain di pinggir lapangan.
Dua jam kedua lelaki itu bermain di kolam renang dan mungkin bisa lebih jika Rebecca tidak berteriak memanggil Erlano untuk berhenti. Meskipun tidak rela, akhirnya Erlano menuruti perkataan ibunya dan menyelesaikan aktivitas airnya. Dan karena Erlano selesai, maka Gavin pun begitu. Ia merasa harus mentas karena matahari yang makin naik.
Gavin keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan sekitar sepuluh menitnya di sana. Dengan handuk yang melilit pinggannya dan handuk kecil yang ia gosok pelan ke kepalanya, tangan kanannya membuka lemari. Matanya mengedar mencari pakaian yang sekiranya sangat santai. Pilihannya pun jatuh pada kaos hitam dan celana jogger abu-abu. Sehabis memakainya, ia kembali masuk ke kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Urusan permandiannya pun akhirnya benar-benar selesai.
Karena merasa belum lapar, Gavin pun pergi ke studio pribadinya yang berisikan berbagai macam alat musik miliknya. Meski spesialisasi utamanya adalah piano, sebenarnya Gavin bisa memainkan tujuh alat musik. Piano, gitar, biola, drum, cello, flute, serta contrabass, dan mungkin akan bertambah jika ada alat musik lain yang menarik perhatiannya. Studio ini menjadi ruangan yang paling sering ia kunjungi, alasannya simpel, yaitu kenyamanan yang diberikan tak bisa dikalahkan oleh ruangan lain di rumahnya. Di sana ia bisa menjadi dirinya sendiri dan melakukan apa pun yang diinginkannya. Sering juga Gavin tidur di ruangan itu, makanya di sana tersedia satu ranjang kecil.
Gavin menghampiri grand piano-nya dan duduk di depannya. Ia menarik dan mengembuskan napasnya perlahan, kemudian satu jarinya menekan tuts putih dan diikuti oleh jari-jarinya yang lain di tuts yang berbeda. Tidak lupa juga dengan kedua kakinya yang bermain di pedal piano, membuat suara yang dihasilkan makin sempurna. Sambil tangannya terus menari dengan lincahnya, tubuhnya tanpa sadar bergoyang ke kanan dan kiri, terhanyut dalam suara indah tersebut.
Lima menit ia habiskan untuk menyelesaikan satu lagu itu. Ia pun tersenyum puas, lalu memainkan lagu lain. Tiba-tiba, sebuah ketukan dapat Gavin dengar dari pintu studionya, membuatnya menghentikan permainan pianonya.
"Siapa?" tanya Gavin dengan suara lantang.
"Ini saya." Ternyata suara butler keluarganya.
"Ada apa?" tanya Gavin lagi, ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap pintu.
"Tuan memanggil Anda untuk datang ke ruang kerjanya." Balasan tersebut membuat dahi Gavin mengerut bingung.
"Tuan? Ayah saya?" Aneh sekali, ayahnya berada di rumah? Memangnya tidak bekerja? Begitulah batin Gavin.
"Iya, ayah Anda."
...⁕⁕⁕ ...