RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 26: INGIN MELINDUNGI



Arunika memberikan tatapan tajamnya pada pria di sebelahnya, sedangkan yang ditatapi terus tersenyum lebar seakan apa yang dikatakannya tidaklah salah. Namun Arunika sedang malas untuk berdebat, ia tak ingin hari menyenangkannya ini rusak hanya karena perkataan satu pria yang tidak mengerti attitude. Arunika pun akhirnya kembali menatap akuarium di depannya, berusaha mengabaikan pria itu.


Bukannya berhenti, teman dari pria itu malah melontarkan kembali kalimat tak pantas pada Arunika, "jual mahal banget jadi cewek, orang sudah baik-baik nyapa malah dibiarin." Arunika masih diam, seakan telinganya tak menangkap satu pun kata-kata itu. Namun Gavin sudah melirik curiga.


Dua lelaki asing itu terkekeh, lalu pria berambut gimbal itu mendekatkan wajahnya pada Arunika, "lo makin menantang kalau bersikap kayak gini, ayo, main bareng." Arunika mendengus kesal sambil memutar bola matanya. Perempuan itu langsung menoleh dan memberikan tatapan menusuk.


"Berhenti sebelum saya memanggil satpam," peringat Arunika sambil mendorong pria itu dengan kedua tangannya, berusaha menjauhkan wajahnya. Arunika mengucapkan kalimatnya dengan suara yang cukup keras sehingga mulai menarik perhatian ketiga temannya serta pengunjung lain, sedangkan Gavin sudah diam-diam mengamati sejak tadi. Hanya saja Gavin kurang memahami maksud perkataan-perkataan itu, sepertinya pria itu menggunakan bahasa gaul—yang di mana Gavin belum terlalu mengenalnya—tapi ia sudah menangkap sinyal emosi di wajah Arunika.


Peringatan Arunika seakan tak didengar oleh sang lawan bicara. Lelaki di depannya malah bersiul sambil menatap tubuh Arunika dari ujung rambut sampai ujung kaki, "oh, c'mon, *****, we can play together," ucapnya sambil berusaha menggenggam tangan Arunika, ingin menariknya pergi. Arunika pun berusaha menjauhkan tangannya. Gavin dengan cepat berdiri di depan Arunika, menjadikan dirinya sebagai tameng. Lalu tangan si pria yang berusaha menggapai Arunika itu Gavin tangkap dan membuangnya kasar dengan tatapan tajam. Begitu juga dengan Maverick dan Floyd yang berdiri di samping Gavin dan menyilangkan kedua tangannya, sedangkan Hera berdiri menemani Arunika.


"Lo ngomong apa? *****? Lo itu yang *****!" ucap Hera dengan penuh emosi, sedangkan Arunika meringis mendengarnya. Jarang-jarang temannya ini berkata kasar sehingga jika sudah begitu, maka emosinya sudah melambung tinggi.


Lelaki mesum itu meringis sambil menatap tangannya yang dibuang kasar oleh Gavin, lalu memberikan tatapan tajam pada kelima orang di depannya. Ia menyeringai, "ternyata lo bawa pasukan, ya," ucapnya dengan suara rendah. Kemudian ia menatap Gavin yang memberikan wajah datar serta dinginnya, matanya memancarkan api yang membara akibat emosi.


"Dan lo pacarnya, ya?" lanjutnya sambil menunjuk Gavin. Mendengar kata pacar keluar dari lelaki itu, Gavin menduga ia dianggap sebagai pacarnya Arunika.


"Saya tidak peduli jika dia pacarku atau tidak karena yang terpenting sekarang adalah kau sudah melakukan catcalling padanya," jawab Gavin dengan tajam. Namun jawaban itu malah mendapatkan tawa dari sekelompok pria di depannya.


"Formal banget ngomongnya, geli dengernya," balas lelaki lain yang berdiri di belakang kanan pria yang meng-catcalling Arunika.


"Bule dia, makanya ngomongnya kaku banget," balas temannya yang berdiri di sebelahnya.


Kesepuluh jari Arunika telah mengepal erat, kemudian ia menepuk pundak Gavin dan meminta untuk diberikan jalan. Gavin pun memiringkan tubuhnya dan Arunika berjalan melewati tubuh 180 senti Gavin. Melihat Arunika yang kembali berada di hadapan, senyuman merekah dari wajah lelaki mesum itu.


"Akhirnya lo mau main sama kita, ayo," ajak lelaki itu sembari berusaha menggapai tangan Arunika kembali. Namun sebelum keinginannya berhasil, Arunika telah mengangkat tangannya dan menampar pipi lelaki itu, bahkan suara yang dibuatnya sangatlah keras, membuat semua orang yang memperhatikan adu mulut itu meringis. Pasti sakit banget, begitulah pikir mereka. Tak beda dengan Gavin, Hera, Maverick, dan Floyd yang melebarkan matanya terkejut. Namun tak lama ekspresi mereka berubah menjadi senyuman penuh bangga.


Lelaki mesum itu memegang pipinya yang memerah dan melirik Arunika dengan penuh amarah, sedangkan Arunika tersenyum puas dan menepuk-nepuk tangannya seakan membersihkan kotoran yang ada di telapak tangannya. "Sepertinya lo belum tahu kalau gue bukanlah orang yang sabar dan akan diam saja ketika sadar diri gue diinjak-injak oleh orang lain. Sejak awal tangan gue sudah gemes pengen nampar lo, tapi gue tahan karena keinget resolusi gue di tahun ini, banyak bersabar," ucap Arunika dengan santai, lalu mengembuskan napas puas.


"Gue laporin lo ke polisi," ancam lelaki mesum itu sambil menunjuk wajah Arunika, namun ditepis oleh Maverick.


"Jangan suka tunjuk-tunjuk orang sembarangan," nasihat Maverick dengan santai.


Arunika menaikkan kedua bahunya tak peduli, "silakan, toh sebentar lagi bukan gue yang dibawa pergi sama satpam." Kalimat itu Arunika ucapkan sambil memandangi area belakang geng mesum itu. Beberapa satpam telah berjalan mendekati pusat pertengkaran itu, sepertinya ada pengunjung yang melapor.


"Kami mendapatkan laporan, ada yang melakukan tindak pelecehan seksual di sini," ucap satpam yang memimpin dua satpam lainnya. Arunika, Hera, Gavin, Maverick, dan Floyd serentak menatap tiga lelaki asing di depannya. Meski tak ada satu pun dari kelimanya yang membuka mulut, ketiga satpam itu langsung memahaminya melalui kode mata.


"Baik, mari ikuti saya untuk keluar dari sini," ucap satpam itu sambil menuntun tiga pria mesum yang sudah tak bisa melakukan apa pun. Lelaki yang Arunika duga sebagai ketua geng dari kelompok itu menatap sinis pada Arunika, namun Arunika membalasnya dengan lambaian tangan.


Arunika memberikan senyuman lebarnya, "saya tidak apa, Anda yang menelepon keamanan, 'kan? Terima kasih sudah membantu." Pengunjung wanita itu menggeleng, lalu mengatakan tak masalah dan senang bisa membantu. Setelah berpelukan kecil, wanita itu pun pergi.


Kelima remaja itu pun berjalan keluar dari Sea World dengan Hera yang merangkul Arunika dan ketiga orang lainnya berjalan lebih dulu di depan mereka. Kemudian mereka sepakat untuk beristirahat di salah satu bangku panjang kosong yang tersedia tak jauh dari sana. Maverick dan Floyd pergi untuk membeli minuman, sedangkan Hera pergi ke toilet. Kepergian tiga orang itu pun menyisakan Arunika dan Gavin di bangku itu. Terjadi keheningan di antara mereka. Arunika memainkan jaket denim Gavin yang masih dipakainya, sedangkan Gavin menumpukan kedua lengannya di masing-masing paha yang dilebarkan sebahu dan kepalanya ia tundukkan mengarah tanah.


"Arunika," panggil Gavin dengan suara rendah, membuat Arunika sedikit terkejut. Kemudian perempuan itu menoleh menatap pria yang duduk di sebelahnya.


"Setelah ini tolong ajarkan aku bahasa non formal kalian," pinta Gavin dengan kepala terus tertunduk. Arunika mengernyitkan dahinya bingung.


"Apakah kau memikirkan ejekan pria jelek tadi? Tentang dirimu yang menggunakan bahasa formal?" Gavin mengangguk pelan. Arunika terdiam mendengar itu, lalu ia berdiri dari duduknya dan berpindah posisi menjadi berjongkok di depan Gavin. Arunika menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha melihat wajah Gavin. Namun Gavin malah makin menundukkan kepalanya.


"Tidak ada yang salah dengan memakai bahasa formal, Gavin. Kau wajar menggunakannya karena bahasa Indonesia bukan bahasa utamamu. Terlebih lagi di sekolah kita cenderung menggunakan bahasa Inggris. Kita berempat menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara denganmu juga karena kau sendiri yang meminta di awal, ingat, 'kan?" ucap Arunika dengan nada yang sangat lembut. Namun Gavin malah menggelengkan kepalanya, membuat Arunika tak paham.


"Aku ingin belajar agar bisa lebih cepat memahami apa yang terjadi padamu," aku Gavin yang membuat Arunika terdiam.


"Sebenarnya aku sudah mengamati interaksimu dengan pria jelek itu sejak awal, hanya saja aku kurang memahami apa yang kalian bicarakan sehingga aku memilih untuk diam. Dan ternyata dia meng-catcalling-mu, jika aku memahami percakapan kalian sejak awal, kau tidak perlu mendengarkan kalimat menyakitkan seperti tadi," lanjut Gavin sambil menggaruk kepalanya dengan jari-jari di kedua tangannya. Gavin lupa, image Arunika di sekolah dan di ruang publik sangatlah berbeda. Di sekolah tidak akan ada yang berani mengganggu perempuan itu karena Arunika dikenal cukup menyeramkan meski juga terkenal akan keramahannya. Berbeda di ruang publik, tidak ada satu pun yang mengetahui bagaimana Arunika sehingga ada kemungkinan untuk berani bersikap kurang ajar.


"Aku ingin melindungimu ... sebagai teman tentunya." Arunika tersenyum lembut mendengar kalimat itu sehingga ia memegang lembut kedua tangan Gavin yang berada di kepalanya, lalu menariknya turun secara perlahan. Gavin pun tanpa sadar menaikkan kepalanya sampai akhirnya netra biru kehijauannya bertabrakan dengan netra coklat terang Arunika.


"Baiklah, aku akan mengajarimu," ucap Arunika menyetujui permintaan Gavin. Kemudian si perempuan merentangkan tangannya, membuat Gavin terkejut sekaligus bingung. Apakah gestur ini memiliki arti sama dengan yang selama ini ia ketahui?


Melihat Gavin yang sepertinya ragu-ragu sekaligus bingung, Arunika terkekeh sehingga akhirnya ialah yang bergerak. Ia menarik tubuh Gavin untuk masuk dalam dekapannya, membuat Gavin terkejut setengah mati.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," bisik Arunika di sebelah telinga Gavin, membuat si lelaki tersadar dan mengangguk pelan. Ia pun membalas pelukan itu dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Arunika. Entah kenapa Gavin merasa sangat nyaman, ditambah dengan elusan lembut Arunika di punggungnya, membuat dada Gavin menghangat. Begitu juga dengan Arunika, perempuan itu memejamkan matanya dan terus mengelus punggung pria di pelukannya.


Tanpa kedua orang itu sadari, Maverick, Floyd, dan Hera—dengan tangan membawa minuman serta camilan yang dibeli—memperhatikan interaksi intim itu dengan tatapan penuh keyakinan.


"Mungkin Gavin belum menyadarinya, tapi hatinya sudah ia berikan untuk Arunika," ucap Maverick yang diangguki oleh Hera dan Floyd.


"Mau diberitahu atau dibiarkan?" tanya Hera sambil menatap kedua pria di sebelahnya.


"Dibiarkan," jawab Maverick dan Floyd serempak. Mereka pun saling bertatapan dengan senyuman puas.


"Lebih seru untuk melihat sendiri bagaimana Gavin menyadari perasaannya," ucap Floyd sambil terus memandangi Arunika dan Gavin yang baru saja menguraikan dekapan itu.


...⁕⁕⁕...