
Arunika berdiri di depan cermin full-body yang memantulkan bagaimana penampilannya sekarang. Tubuh bagian atasnya telah ditutupi oleh crop-top coklat tua dengan baseball jacket berwarna hitam-coklat, sedangkan kakinya yang cukup jenjang dilapisi oleh sweatpants hitam dan memakai sepatu dari salah satu perusahaan penghasil perlengkapan olahraga ternama dunia berwarna putih campur hitam. Ia juga menyatukan seluruh rambutnya menjadi satu dan menahannya dengan penjepit rambut. Setelah memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya, Arunika mengambil tas pundaknya dan pergi meninggalkan kamarnya.
Arunika berjalan menuruni tangga dan langsung menuju ke pintu utama rumah, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Arunika, mau ke mana?" Arunika membalikkan badannya dan mendapati sang ibu duduk di sofa ruang keluarga dengan sebuah majalah berada di tangannya. Arunika sedikit terkejut melihat eksistensi ibunya, ia pikir wanita itu akan bekerja. Namun karena kejadian ini sudah ia antisipasi, dengan wajah tenangnya Arunika menjawab.
"Aku mau ke mall karena ada keperluan OSIS yang harus dibeli untuk acara sekolah." Claris terdiam mendengar itu sambil menatap lurus anaknya, berusaha mencari tanda kebohongan. Namun wajah penuh keyakinan serta ketenangan itu membuat ia akhirnya percaya sehingga ia kembali fokus pada majalah di depannya.
"Pulang sebelum jam makan malam, malam ini kita akan dinner di luar." Perintah dengan nada dingin itu Arunika balas dengan anggukan. Ia juga tahu apa yang dimaksud dengan 'kita', siapa lagi kalau bukan dirinya, ibunya, dan ayahnya. Sebenarnya sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk setidaknya makan bersama di luar rumah setiap dua minggu sekali, dengan catatan kedua orang tuanya ada di rumah.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arunika berjalan ke luar pintu dan memasuki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Beberapa detik kemudian keempat roda mobil itu berputar dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Arunika. Karena suasana mobil yang sepi, Arunika memutuskan untuk mengeluarkan airpod dari tasnya dan memutar lagu kesukaannya akhir-akhir ini. Kepalanya bergoyang kecil ke kanan dan kiri menikmati lagu sambil sesekali mulutnya berkomat-kamit mengucapkan liriknya.
"I have loved you since we were 18, long before we both thought the same thing ...." gumam Arunika dengan suara yang sangat kecil, sampai-sampai sopir di depannya tak dapat mendengar. Ketika telinganya dimanjakan oleh melodi, matanya hanya menatap jalanan dengan pikiran kosong. Netra coklat terangnya menatap orang-orang yang berjalan dengan latar belakang gedung pencakar langit. Memang bukan pemandangan yang indah ataupun memukau, namun dengan ini Arunika sadar kalau semua orang memiliki kehidupan dengan masalahnya sendiri. Pemikiran tersebut membuat Arunika merasa tenang karena artinya tidak hanya dirinya yang berjuang untuk bertahan di dunia ini.
"Nona, kita sudah sampai." Suara dengan nada sopan itu membuat Arunika tersadar dari lamunannya. Ia mengucapkan terima kasih dan mengatakan akan menghubungi jika ingin pulang sebelum turun dari mobil. Setelahnya, ia berjalan memasuki pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia dengan santai. Tanpa perempuan itu sadari, eksistensi Arunika cukup menarik banyak orang yang berlalu lalang di sana. Bukan karena dirinya terkenal—Arunika belum pernah muncul ke publik—namun karena kecantikannya yang cukup membuat orang salah fokus. Tapi Arunika tidak peduli, atau lebih tepatnya tidak sadar, dan terus berjalan hingga ke lantai dua bangunan tersebut.
Arunika terus berjalan sampai akhirnya matanya melihat plang jalan yang bertuliskan 'La Rosé Residence' dengan sebuah panah mengarah ke kiri. Perempuan itu mengikuti petunjuk tersebut dan mendorong pintu yang menjadi pemisah area antara mall dengan apartemen tempatnya berdiri sekarang. Arunika kembali berjalan mendekati area lobby apartemen, setelahnya mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari orang yang menjadi tujuannya mendatangi tempat tersebut.
"Nona Arunika." Arunika menoleh ke belakang ketika mendengar sebuah suara berat dengan nada sopan memanggilnya. Perempuan itu tersenyum melihat sosok di depannya.
"Bagaimana kabarmu, dokter? Senang bertemu denganmu kembali." Arunika mengulurkan tangannya dengan senyuman cerah. Pria di usia kisaran 35 itu membalas uluran tangan si perempuan.
"I'm good. Senang bertemu denganmu juga, Arunika." Setelah mengucapkan itu, Fayn mengajak Arunika untuk pergi ke taman yang berada di rooftop. Untungnya di sana cukup sepi sehingga Arunika merasa lebih nyaman untuk bercerita.
Keduanya duduk di bangku yang menyajikan pemandangan bangunan-bangunan tinggi serta langit biru di depannya. Angin berhembus cukup kencang, namun mampu membuat Arunika merasa tenang. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya pelan, sedangkan sejak tadi Fayn hanya menatap anak muda di sebelahnya dengan tatapan sendu. Ia benar-benar tahu bagaimana sulitnya kehidupan Arunika karena ia telah menemani perempuan itu sejak umur empat belas tahun. Dan Fayn perlu menegaskan, ia selalu melihat Arunika sebagai pasien yang sangat kuat dan hebat, seseorang yang diam-diam Fayn acungi empat jempol.
"Tiba-tiba mimpi itu muncul kembali." Fayn terdiam mendengar itu, tentu ia tahu mimpi apa yang dimaksud. Mimpi yang menjadi langkah awal dari segala perjuangannya. Mimpi yang membuat Fayn sadar, ternyata keluarga Bumantara tidaklah sewaras itu.
"Mimpi itu terus datang selama seminggu ini, membuatku terbangun di jam tiga pagi dan berangkat ke sekolah dalam kondisi kurang tidur sampai akhirnya kemarin aku pingsan. Benar-benar menyebalkan." Lanjut Arunika sambil memasang wajah kesal. Fayn masih diam, membiarkan remaja itu mengeluarkan unek-uneknya.
"Dan dokter tahu apa yang lucu?" Fayn menaikkan satu alisnya sebagai balasannya ketika Arunika menoleh menatapnya.
"Masa mimpi itu muncul hanya karena percakapan kecil dengan seorang pria?" Sekarang alis Fayn naik keduanya, sedikit bingung namun juga merasa lucu. Ia ingat mimpi buruk itu muncul setelah Arunika mengalami kejadian-kejadian yang serupa dalam mimpinya, seperti ketika seseorang menarik tangannya dengan keras, ketika seseorang memanggil namanya dengan suara keras, hingga suara keras yang disebabkan oleh ayunan barang. Ia tak menduga mimpi itu muncul hanya karena percakapan.
"Apakah kau ada menyinggung kejadian itu?" tanya Fayn yang dijawab gelengan.
"Dia hanya menanyakan hal-hal yang menurutku basic ... atau mungkin tidak." Arunika menjeda sedikit kalimatnya akibat teringat percakapannya dengan Gavin waktu itu. Ia kembali mengingat pertanyaan-pertanyaan yang pria itu lontarkan dan ada satu pertanyaan yang Arunika sadari, itulah yang menjadi penyebabnya.
Fayn menyadari perubahan ekspresi Arunika pun tersenyum simpul. Benar dugaannya, remaja itu tanpa sadar menyinggung hal yang terjadi di mimpinya.
"Dia bertanya tentang kursus, tidak detail memang, tapi aku menjelaskan kalau sejak kecil sudah diikutkan banyak kursus. Itulah yang menjadi trigger-nya," ucap Arunika dengan tatapan seakan baru menyadari suatu hal. Fayn pun mengangguk paham, sedangkan Arunika mengembuskan napas kasar.
"Bodoh sekali, bisa-bisanya aku tidak sadar?" Fayn tertawa mendengar keluhan penuh emosi Arunika.
"Memangnya siapa pria itu? Kau sampai tidak sadar menceritakan hal tersebut padanya," tanya Fayn penasaran, ini pertama kalinya Arunika tanpa sadar bersikap terbuka pada orang lain selain dirinya. Bahkan Arunika membutuhkan dua bulan untuk akhirnya bisa menceritakan segalanya pada dirinya.
Arunika melirik dokter tersebut dan Fayn terus memberikan wajah penasaran sehingga Arunika menyerah, "dokter tahu keluarga Kanagara?" Psikiater itu diam sebentar lalu mengangguk.
"Keluarga yang pintar main musik, 'kan?
"Kau dekat dengannya?" tanya Fayn lagi yang dijawab santai, "dia anak baru di sekolahku dua minggu lalu dan kita hanya berteman." Si dokter kembali memberikan tatapan sedikit tak yakin, apalagi pada kata-kata 'kita hanya berteman'. Namun Arunika tak menyadarinya karena matanya fokus memandangi pemandangan di depannya. Fayn pun tersenyum simpul.
"Tapi Arunika, sebenarnya ini adalah perkembangan yang bagus untukmu." Arunika mengernyit mendengarnya, namun tak lama ia paham maksud psikiater tersebut. Benar juga, ini pertama kalinya dirinya bisa terbuka pada seseorang.
"Kau tak bisa selamanya memendam itu semua sendiri, kau perlu seseorang yang bisa dan mau untuk mendengarkanmu sepanjang hidupmu. Dan tentu bukan aku karena aku hanyalah dokter pribadimu, kau membutuhkan sosok yang lebih dari itu," nasihat Fayn dengan suara lembutnya.
Arunika terkekeh setelah Fayn menyelesaikan kalimatnya, membuat si dokter bingung. "Aku jadi teringat satu orang, ia percis mengatakan hal yang sama sepertimu," ucap Arunika masih dengan kekehannya.
"Nenekmu, ya? Dokter Eleonora?" Duga Fayn yang dijawab anggukan oleh Arunika.
Arunika merenggangkan kakinya yang sejak tadi tertekuk dan membiarkannya dalam posisi memanjang dengan tumit yang menempel ke lantai, sedangkan Fayn meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Dokter Eleonora sudah kuanggap sebagai guru sendiri dan dia mengatakan hal itu padaku saat aku terpuruk. Lalu barulah aku terdasar, ada satu orang yang selalu bersamaku meski keadaanku sedang benar-benar buruk." Arunika tersenyum mendengar itu. Ia bisa melihat tatapan Fayn yang berbinar ketika menyinggung orang yang paling dicintainya. Arunika menjadi bertanya-tanya, kira-kira kapan dirinya bisa merasakan hal itu juga.
"Nenek mengatakannya jauh sebelum aku sadar akan kesehatan mentalku, ketika aku sendiri belum paham apa itu cinta." Arunika teringat kembali kenangannya bersama sang nenek, satu-satunya orang dewasa yang waras di keluarga Bumantara, satu-satunya orang dewasa yang bisa Arunika jadikan sebagai pegangan.
"Besok peringatan kematiannya yang kelima tahun, 'kan?" tanya Fayn setelah mengingat tanggal kematian wanita itu.
Arunika mengangguk, "besok aku akan pergi ke sana."
"Sendirian?"
"Tidak ada yang peduli padanya setelah sepeninggalnya, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku juga tidak masalah pergi sendirian, toh lebih nyaman." Kalimat dengan nada tak acuh itu membuat Fayn meringis dalam hati. Keluarga pasiennya ini benar-benar sesuatu.
"Dokter tidak datang besok?" Arunika menatap sang dokter.
"Aku akan datang lusa karena besok ada pasien yang mau konsultasi." Arunika mengangguk paham, kemudian mengecek jam dari ponselnya. Sudah pukul tiga sore, begitu pikirnya.
Karena sudah merasa lega, Arunika berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Fayn. Mereka berdiri berhadapan dengan Fayn yang memasukkan kedua tangannya di saku.
"Oh, ya, selama seminggu ini kau ada minum obat pereda cemasmu? Pasti mimpi itu men-trigger panic attack-mu juga, 'kan?" tanya Fayn dengan wajah serius.
Arunika memberikan senyuman lima jarinya dan menggeleng, "tidak sama sekali. Panic attack-ku hanya kambuh sekali dan aku memutuskan untuk menenangkannya dengan cara yang kau ajarkan." Mendengar jawaban itu Fayn tersenyum bangga dan menepuk pundak Arunika beberapa kali.
"Baguslah kalau begitu, jangan sering meminumnya jika tidak ingin badanmu menjadi lebih lemah lagi," nasihat Fayn yang dijawab anggukan penuh pengertian oleh sang pasien.
"Terima kasih sudah bersedia mendengarkanku, dokter. Bayarannya aku kirim nanti." Kalimat kedua itu Arunika keluarkan dalam bisikan, membuat Fayn tertawa lebar, kemudian menggeleng pelan.
"Kali ini kau tidak perlu membayar, kau sudah membayarnya dengan perkembanganmu. Itu sudah cukup untukku," serunya dengan senyuman lembut. Arunika pun ikut tersenyum.
"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya. Titip salam untuk istrimu!" Arunika mulai melangkah menjauh dari sang dokter dengan tangan yang dilambaikan. Masih dengan senyumannya, Fayn membalas lambaian itu sambil mengangguk.
"Kalau dokter Eleonora masih berada di sini, dia pasti akan sangat bangga pada cucunya. Sangat kuat dan pemberani."
...⁕⁕⁕...