RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 3: TERBIASA



Suasana di kantin menjadi sedikit tegang akibat teriakan amarah Arunika. Banyak murid yang bertanya-tanya mengapa perempuan itu marah dan siapa yang membuatnya marah. Namun, pertanyaan itu langsung terjawab ketika suara seorang perempuan terdengar, sebuah suara yang sangat dikenal oleh penghuni sekolah.


"Lagi-lagi kau berlagak seperti ketua OSIS yang berkuasa di sini," muak Tania, begitu juga dengan Wilona dan teman-temannya yang menatap sinis Arunika.


Arunika menyeringai tipis, "sayangnya aku tidak berlagak, aku adalah ketua OSIS." Kata 'ketua OSIS' sengaja Arunika tekan untuk menyadarkan Tania bahwa dirinya memang berkuasa, padahal sejujurnya, Arunika paling tidak suka bersikap seperti ini.


Karena percakapan itu sangatlah keras, Gavin mendapati kejanggalan di kalimat Arunika. Kenapa menjadi ketua OSIS membuatnya memiliki kekuasaan lebih dibanding murid lainnya? Ia pun menatap Maverick dan Floyd, meminta penjelasan. Sadar bahwa Gavin masih asing dengan sistem OSIS di sekolah mereka, kedua pria itu berusaha menjelaskan dengan suara sekecil mungkin karena suasana kantin yang hening.


"Sistem pemilihan ketua OSIS di sini berdasarkan 60 persen dari guru dan 40 persen dari siswa. Awalnya sistemnya tidak seperti ini, tapi di pemilihan dua tahun lalu, salah satu kandidat ketua OSIS-nya melakukan kecurangan agar bisa terpilih." Floyd mulai menjelaskan dengan suara yang nyaris seperti berbisik.


"Dia menyogok banyak murid, khususnya anak kelas satu, untuk memilihnya," perjelas Maverick dengan suara yang tak beda jauh dari Floyd.


"Setelah menjadi ketua OSIS, kinerjanya benar-benar buruk, seluruh acara yang diadakan oleh OSIS berantakan karena dia tidak bisa mengaturnya dan dia juga ketahuan korupsi uang kas OSIS. Sekolah pun tahu perilakunya dan akhirnya dia dikeluarkan dari sini, kemudian jabatan ketua OSIS diberikan pada wakilnya dengan pengawasan yang super ketat dari sekolah," cerita Floyd yang dibalas dengan anggukan paham oleh Gavin.


"Karena trauma dengan kejadian itu, akhirnya sekolah membuat peraturan bahwa pemilihan ketua OSIS berdasarkan 60 persen guru dan 40 persen murid, menandakan bahwa murid yang berhasil menjadi ketua mendapatkan sebagian besar kepercayaan guru di sini dan jika mengkhianatinya, hukumannya tidak akan main-main," sambung Maverick sambil terus menatapi adu mulut di tengah kantin. Begitu juga dengan Gavin.


"Aku hanya berusaha untuk berteman dengannya," kilah Tania dengan ekspresi yang dibuat semeyakinkan mungkin. Namun Arunika tentu saja tidak percaya.


"Kau yakin? Memangnya ada berusaha berteman tapi orang yang kau ajak berteman itu menunjukkan wajah ketakutan?" Skeptis Arunika dengan satu alisnya yang naik. Tania melirik ke murid perempuan kelas satu di sebelahnya yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya.


Dengan penuh ancaman Tania berbisik dengan mulut sedikit terkatup, "angkat kepalamu, *****." Alis Arunika menukik tajam mendengar bisikan itu—syukurlah ia mempunyai telinga yang tajam. Ia langsung memukul keras meja tempat Tania duduk, membuat seluruh orang di sana terlonjak kaget. Baiklah, sepertinya Arunika benar-benar marah sekarang.


"Kau mengatakan itu pada orang yang kau usahakan untuk menjadi teman?" bisik Arunika penuh kemarahan di telinga Tania, lalu menoleh pada Hera yang sejak tadi berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapan itu mengisyaratkan Hera untuk menarik pergi murid bully-an Tania dari sana. Hera menangkap sinyal itu sehingga ia menghampiri murid tersebut dan mengucapkan beberapa hal sebelum mengajaknya pergi dari kantin.


Maverick mengembuskan napas berat sambil menundukkan kepalanya dan bergumam, "Arunika yang marah ini benar-benar tidak baik untuk jantungku." Sedangkan Gavin dan Floyd masih memperhatikan kejadian kemarahan Arunika yang sangat jarang terjadi.


"Kapan kau akan berhenti, Tania Hartanto?" tanya Arunika sambil mendudukkan dirinya di samping Tania, tempat di mana korban Tania duduk sebelumnya. Ia menopang kepalanya dengan tangan kanan dan menatap lurus ke perempuan di sebelahnya.


"Memangnya kau ada bukti tentang perbuatanku, ha?" tantang Tania sambil memosisikan dirinya sama seperti Arunika, hanya berbeda arah saja. Arunika pun memberikan senyuman manis namun terlihat mematikan di seluruh pasang mata di meja itu.


"Semua bisa kudapatkan selama akulah ketua OSIS-nya, apalagi untuk tindakan yang jelas-jelas salah dari sisi mana pun."


"Lalu setelah mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan dengan itu? Memberitahu sekolah? Memberitahu keluargaku? Memangnya hal kecil seperti itu bisa mengeluarkanku dari sekolah? Memangnya keluargaku akan percaya dengan hal murah seperti itu? Kau harus tahu kalau keluargaku sangat percaya bahwa diriku ini sangat polos dan tidak mungkin untuk melakukan hal jahat," ucap Tania dengan nada meledek.


Arunika menggeleng pelan, membuat Tania sedikit mengernyitkan dahinya.


"Ada satu kekuatan yang bisa membuat sekolah maupun keluargamu menekanmu untuk setidaknya meminta maaf, tidak peduli kau mengakuinya atau tidak." Tania memberikan wajah bingung, sedangkan Arunika menyeringai dan mendekatkan mulutnya ke telinga Tania.


"Kekuatan publik." Mata Tania melebar seketika, membuat Wilona dan teman-temannya membuat wajah bingung sekaligus penasaran. Arunika menjauhkan wajahnya dan tersenyum penuh kemenangan.


"Iya, publik, merekalah yang sebenarnya menguasai kita." Seketika Tania menundukkan kepalanya dengan kesepuluh jemarinya mengepal kuat. Arunika pun saat itu langsung tahu bahwa dirinya menang.


Ia pun berdiri dari duduknya dan menepuk pundak Tania sekali, "berhenti atau semua yang kukatakan tadi terjadi. Ini kesempatan terakhirmu, Tania Hartanto." Sehabis mengatakan itu, Arunika langsung pergi meninggalkan kantin, menyusul Hera dan korban Tania yang ia yakini berada di UKS.


Kepergian Arunika membuat semua orang di sana mengembuskan napas lega, seolah akhirnya bisa merasakan kembali udara segar. Kejadian ini seakan menjadi pengingat bagi mereka untuk tidak memicu masalah ataupun kemarahan sang ketua OSIS. Mungkin ini juga alasan kenapa para guru sayang sekali dengan Arunika, tahu bagaimana cara memosisikan dirinya di segala situasi.


Maverick mengembuskan napas lega dan meminum air mineralnya, sedangkan Floyd dan Gavin masih diam. Floyd cukup merasakan tekanan meski bukan dirinya yang "disidang" oleh Arunika, sedangkan Gavin merasakan kekaguman serta sedikit keirian di hatinya karena dalam lubuk hatinya terdalam, ia ingin sekali bisa bersikap seperti Arunika.


...⁕⁕⁕...


Sedan keluaran terbaru memasuki pekarangan rumah mewah berkonsep minimalis dengan sebuah kolam ikan kecil di tengahnya. Setelah mobil itu terhenti sempurna, pintu belakangnya dibukakan oleh sang sopir dan keluarlah sosok Arunika dari sana dengan wajah datarnya. Tak langsung memasuki rumahnya, ia malah memandangi rumah yang didominasi oleh putih dan hitam itu. Bi Ina, kepala pelayan di rumah keluarga Bumantara, telah berdiri di depan pintu masuk dan menatapnya bingung.


"Non, kenapa tidak masuk?" tanya Bi Ina yang membuat Arunika sedikit tersentak dan memberikan senyuman manisnya.


"Entah kenapa, Bi, setiap kali aku melihat rumah ini, rumah ini terasa makin besar dan sepi, sangat tidak cocok untuk hanya ditinggali oleh satu orang." Bi Ina terdiam mendengar kalimat itu, sedangkan Arunika menggelengkan kepalanya.


"Berbicara apa, sih, aku ini?" ucapnya sambil tertawa kecil, lalu berjalan memasuki rumah yang menjadi tempat tinggalnya sejak lahir.


Ini adalah sisi Arunika yang tidak diketahui oleh teman-teman di sekolahnya. Sisinya yang terlihat sangat rapuh dan kesepian di dalam luasnya bangunan yang disebut sebagai rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman dan ternyaman, tempat di mana lelah bisa terangkat dalam sekejap karena bertemu kembali dengan orang-orang yang dikasihi. Namun, dalam kamus Arunika, rumah hanyalah tempatnya untuk tidur, makan, mandi, dan belajar. Tidak ada yang namanya kehangatan ataupun kenyamanan.


Kedua orang tuanya sibuk bekerja karena tuntutannya yang begitu besar, sedangkan kedua kakaknya berada di negara asing untuk menuntut ilmu, jadi tersisa dirinya yang paling sering menggunakan bangunan itu. Kedua orang tuanya lebih sering pulang dan berangkat ketika Arunika masih terlelap dalam mimpinya. Arunika juga tidak bisa sering-sering menghubungi kedua kakaknya karena perbedaan waktu dan tidak ingin mengganggu mereka. Jadilah Arunika menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan mendekam di perpustakaan kecil di rumahnya. Dengan begitu, setidaknya ia bisa melupakan rasa kesepiannya.


"Non, guru kursus biologinya sudah datang." Suara Bi Ina terdengar dari luar kamar, membuat Arunika yang sedang memakai baju santainya mempercepat gerakannya.


"Iya, tolong siapkan minuman dan camilan ringannya, ya. Saya sebentar lagi turun ke bawah," pinta Arun sambil mengambil buku-buku yang akan digunakan nanti. Buku anatomi manusia, buku pembelajaran tentang reproduksi, buku pembelajaran tentang respiratori, satu buku catatan, dan beberapa alat tulis. Iya, Arunika memang telah beberapa langkah lebih maju dari teman-teman sekolahnya. Jika di sekolah masih diajari topik-topik dasarnya, maka Arunika telah mempelajarinya secara mendalam.


Selain itu, Arunika setiap hari mengikuti kursus pelajaran yang telah diatur oleh orang tuanya. Hari Senin pelajaran biologi selama tiga jam, Selasa pelajaran fisika selama tiga jam, Rabu pelajaran kimia selama tiga jam, Kamis pelajaran matematika wajib dan matematika minat selama tiga jam, Jumat pelajaran bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin selama tiga jam, Sabtu kursus berkuda dan golf, dan terakhir Minggu ia diharuskan untuk belajar mandiri selama tiga jam.


Gaya hidup seperti ini sudah Arunika geluti sejak umur delapan sehingga rasanya sudah sangat terbiasa otaknya terus bekerja dari pagi hingga malam. Saat dirinya masih kecil, sering kali ia memohon pada orang tuanya untuk setidaknya memberikan satu hari di mana dirinya bisa istirahat tanpa harus belajar sedetik pun. Namun jawaban orang tuanya malah membuat Arunika sadar, sia-sia ia memohon.


"Kau adalah seorang Bumantara! Kau belum tahu bagaimana dunia luar sana, tapi kita, yang sudah mengetahuinya, hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik padamu agar kau siap bertemu dengan mereka yang meremehkan kita."


Arunika ingat jelas bagaimana wajah ayahnya mengatakan itu dan ia juga ingat jelas mulutnya berteriak mengatakan bahwa dirinya hanya ingin dimengerti. Namun tentu saja ayahnya mengabaikan suaranya dan terus memaksakan apa yang dianggapnya terbaik. Sampai akhirnya seiring berjalannya waktu, mau tidak mau, suka tidak suka, Arunika harus beradaptasi dan menerima semua yang diberikan orang tuanya. Dan tanpa Arunika sadari, hatinya menelan semua kepahitan itu dan merusaknya secara perlahan.


...⁕⁕⁕...