RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 20: TANTANGAN



"Halo, pacarku!" Gavin yang sedang berbincang santai dengan kedua temannya sambil menikmati bakso menoleh ke sumber suara ketika merasa familier dengannya. Dari kejauhan, netranya dapat menangkap sosok Arunika berjalan dengan wajah cerahnya sambil melambaikan tangan pada Gavin, sedangkan Hera hanya bisa menggeleng pasrah di samping perempuan itu.


Arunika mengucapkan kalimatnya dengan suara keras sehingga banyak orang yang mendengar, menimbulkan kembali bisikan-bisikan tanya mengenai hubungan kedua orang tersebut. Gavin pun langsung mengetahui, kalimat itu bersifat sarkasme sehingga ia hanya tertawa kecil sembari memandangi Arunika yang mengambil duduk di sisi kanannya.


"Sudah makan pacarku?" tanya Arunika sambil menahan kepalanya dengan kepalan tangan yang sikunya bertumpu di atas meja, kemudian memberikan pandangan jahil pada pria itu—sesekali menaikkan kedua alisnya.


Hera, Maverick, dan Floyd yang melihat itu langsung membuat gestur badan seakan sedang muntah, sedangkan Gavin kembali menutup mulutnya dengan kepalan tangan—menahan tawa. Kemudian terlintas ide jahil di kepala Gavin, yaitu mengikuti sandiwara menjijikkan Arunika.


Ia menusuk satu-satunya bakso yang tersisa di piringnya dengan garpu dan menyodorkannya ke mulut Arunika. "Sudah. Ini baksonya sisa satu, mau?" tawar Gavin sambil mengubah posisinya menjadi sama seperti Arunika, hanya kebalikannya saja.


Arunika benar-benar berusaha keras untuk menahan tawanya, ia tak menduga pria itu akan mengikuti tingkahnya. Namun karena bakso di depan matanya ini sangat menggoda, tanpa basa-basi perempuan itu langsung memakannya. "Thanks, hon," ucapnya sambil mengunyah bakso itu, juga memberikan kedipan matanya. Interaksi itu sudah tidak bisa dilihat oleh ketiga orang lain di sana sehingga Hera dengan cepat menarik tangan Arunika untuk pergi mengambil makanan, sedangkan yang ditarik hanya tertawa terbahak-bahak.


Entah Gavin dan Arunika sadari atau tidak, interaksi tadi dilihat oleh hampir semua orang di kantin—karena gosip itu sudah menyebar ke satu sekolah. Sekarang mereka terbagi dalam dua kubu, yang satu percaya akan hubungan Arunika-Gavin dan satunya tidak. Alasan mereka yang percaya adalah banyak sekali murid lelaki sekolah yang diam-diam menyukai Arunika karena sifat ramah serta supelnya yang mampu membuat para lelaki terpesona dalam sekejap, jadi mereka menganggap hal itu berlaku juga di Gavin—apalagi selama hampir dua minggu ini Arunika dan Gavin sering bermain bersama—dan mungkin mereka baru berpacaran beberapa hari sehingga awalnya belum mau go public. Di sisi lain, alasan mereka yang tidak percaya adalah masa berteman atau pengenalan yang dianggap masih terlalu singkat. Belum ada sebulan mereka mengenal satu sama lain dan sudah berani berpacaran? Tidak mungkin. Jadi, kubu ini menganggap seluruh tindakan tadi hanyalah sandiwara karena sudah mengetahui gosip yang beredar.


Arunika dan Hera akhirnya kembali ke meja dengan membawa tray berisi makanan. Mungkin masih ada yang bingung dengan konsep kantin di sekolah ini karena kadang harus mengambil makanan yang sudah disajikan, tapi kadang bisa juga membelinya, seperti yang Gavin lakukan saat Arunika sakit. Biar Arunika jelaskan secara singkat. Sekolah Arunika memiliki dua jam istirahat, di jam istirahat pertama, semua siswa diwajibkan memakan makanan yang sudah disajikan oleh sekolah, sedangkan di jam istirahat kedua, siswa boleh membeli makanan di kedai lain karena biasanya stok makanan yang disediakan sudah menipis atau bahkan habis. Nah, sekarang merupakan jam istirahat kedua, makanya Gavin bisa membeli bakso dan Arunika mengambil makanan yang dimasak oleh koki sekolah.


Perempuan itu kembali duduk di samping Gavin dan mulai menikmati makanannya. Namun tak lama dirinya merasakan sebuah tatapan intens sehingga ia melirik ke Gavin yang sejak tadi menatap lekat di sosis piringnya. Arunika pun menusuk satu sosis itu dengan garpunya dan mendekatkannya ke mulut Gavin, membuat pria itu sedikit terkejut.


"Makan, daripada dilihat terus," ucap Arunika sambil terkekeh. Gavin kemudian sadar, Arunika menyadari keinginannya terhadap sosis itu sehingga ia mengusap tengkuknya canggung. Namun bukan berarti ia menolak sosis itu, Gavin melahap sosis itu dalam satu suapan dan mengucapkan terima kasih. Hera, Maverick, dan Floyd serempak menelengkan kepala.


"Sejak kapan kalian nyaman suap-suapan begini?" tanya Maverick penuh curiga, begitu juga dengan Floyd dan Hera yang memberikan ekspresi serupa.


Arunika dan Gavin melirik satu sama lain, kemudian mengingat kembali perjalanan mengelilingi kota kemarin. Demi memenuhi omongannya untuk mengenalkan kota pada Gavin, Arunika benar-benar menarik pria itu ke mana saja, salah satunya pasar malam yang menjual banyak sekali makanan ringan. Karena kalap, Arunika membeli setiap jajanan yang menurutnya menarik. Perempuan itu sampai tidak sadar kalau tangannya hanya dua dan tidak bisa membawa seluruh makanan yang dibelinya—bahkan tasnya saja akhirnya dikalungkan di leher Gavin. Pada akhirnya, mau tidak mau mereka harus saling menyuap agar bisa menikmati jajanan-jajanan tersebut.


Meskipun begitu, tidak mungkin Arunika dan Gavin menceritakan yang sesungguhnya, bisa-bisa mereka benaran dianggap berpacaran. Si perempuan sudah membuka mulutnya, siap memberikan alasan yang menurutnya masuk akal. Sayangnya, tiba-tiba muncul seorang lelaki di samping meja tempat kelima orang itu duduk. Hera, Maverick, dan Floyd melirik tajam, merasa kedatangan orang ini mengganggu interogasi mereka. Di sisi lain, terdapat hati yang merasa lega, namun kelegaan itu langsung meluap ketika menyadari siapa orang tersebut.


"Ada apa, Archie?" tanya Arunika dengan wajah datar. Tentu ia masih mengingat kejadian pria itu menyakiti Gavin dan tidak mau mengaku, begitu juga dengan kejadian tangannya dilempari bola basket oleh pria yang berdiri di sebelah Archie.


"Ayo, one-on-one," tantang Archie sambil menatap tajam ke arah Gavin. Kelima orang di meja itu terkejut, kenapa tiba-tiba begini? Arunika langsung menatap Gavin, dengan ekspresi wajahnya yang seakan bertanya, ada masalah apa dengannya. Gavin menangkap pertanyaan itu sehingga ia menggeleng dengan wajah penuh kejujuran.


"Kenapa kau tiba-tiba menantangnya?" tanya Maverick dengan wajah tak terima. Ia tahu Gavin tidak pernah menyinggung pemuda itu setelah kejadian tempo hari, bahkan Gavin tidak memusingkannya—sesuai dengan perkataannya, masalah sudah selesai.


Tak menjawab pertanyaan Maverick, Archie terus memberikan tatapan tajam pada Gavin, kemudian memandangi jarak duduk antara Arunika dan Gavin yang sangat tipis. Gavin pun mengikuti tatapan sang lawan yang berubah arah dan mulailah ia merasa curiga.


"Sepertinya tanpa sadar aku mengusik hatimu, ya," tanya Gavin dengan tatapan penuh arti. Archie menyadari maksud perkataan itu, berbeda dengan yang lainnya yang hanya bisa memasang wajah bingung.


Bilang saja kalau ingin Arunika melihat permainan basketmu, batin Gavin dengan sedikit kesal.


"Sebentar, kau ingin mengulang pertandingan karena ingin aku melihat kalau kau tidak salah? Tentu saja kau tidak akan salah karena ada aku yang melihat pertandingan itu." Arunika menekankan kata 'aku' di kalimat keduanya, menunjukkan pertandingan ini dan sebelumnya berbeda. Archie mengeratkan giginya, hatinya mulai memanas karena Arunika terang-terangan membela Gavin. Gavin melihat perubahan ekspresi itu sehingga ia makin yakin dengan dugaannya.


"Dan sepertinya ada yang makin memanas di sini," sindir Gavin dengan senyuman jahilnya, membuat Archie kembali menatap tajam padanya. Arunika memukul pelan lengan Gavin dengan wajah kesal.


"Dari tadi kau mengatakan apa, sih? Sudah, biarkan—"


"Kapan?" Arunika, Hera, Maverick, dan Floyd membelalakkan matanya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Gavin. Keempatnya memberikan tatapan bingung serta tak percaya pada pria yang menatap Archie dengan senyuman tipisnya.


Lagi-lagi Gavin melakukan hal tak terduga. Arunika masih mengingatnya dengan jelas, pria itu tidak suka mencari masalah dengan orang lain, bahkan ia langsung menganggap masalahnya dengan Archie—orang yang membuatnya terluka—selesai dalam hitungan menit. Begitu juga dengan Maverick dan Floyd yang kebingungan. Mereka sangat menyadari, Gavin selalu berusaha menghindari masalah dengan orang lain dan tidak ingin membuat pertengkaran dengan orang lain. Lalu kenapa ia sekarang malah menerima tantangan tersebut?


"Besok, setelah pulang sekolah di lapangan indoor. Wasitnya kakak kelas dari tim basket sekolah, deal?" Tanpa berpikir panjang Gavin mengangguk setuju, sedangkan lainnya masih memasang wajah bingung. Setelah kesepakatan itu, akhirnya geng Archie melangkah pergi dengan sang ketua memberikan tatapan penuh keyakinan akan hasil pertandingan besok. Mau bagaimana pun Archie tetaplah anak basket yang sudah berlatih hampir tiap hari, berbeda dengan Gavin yang hanya bermain untuk hiburan saja. Jadi Archie merasa optimis untuk besok.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Arunika yang membuat Gavin bingung.


"Berubah pikiran apanya?"


"Kau yang dulunya memintaku untuk tidak mencampuri keputusanmu dalam menyelesaikan masalah dengan Archie yang kurang dari lima menit itu karena tidak ingin memperpanjang masalah, sekarang malah menerima tantangan darinya?" Jelas Arunika yang membuat Gavin tersenyum.


"Sebelumnya aku belum mengenal bagaimana sifat Archie, Arunika. Tapi setelah diamati, dia bukanlah orang yang bisa jera dengan cara yang kulakukan dulu, sehingga aku memilih untuk memenuhi egonya biar dia berhenti." Arunika menelengkan kepalanya, meminta penjelasan lebih. Gavin yang melihat itu gemas sendiri.


"Mengalahkanku." Satu kata itu mampu menjawab kebingungan Arunika akan "ego" Archie.


...karena tidak terima akan kedekatan kita, batin Gavin melanjutkan.


Berbeda dengan Arunika yang langsung mempercayai alasan Gavin; Hera, Maverick, dan Floyd saling menatap satu sama lain, seakan berkomunikasi melaluinya. Mereka mulai menyadari, sepertinya ada alasan lain mengapa Gavin menerima tantangan Archie.


Apakah kita memikirkan hal yang sama? Batin ketiga orang itu dengan tatapan penuh arti.


...⁕⁕⁕...