
"Aku tidak ada menyebut nama." Dengan santai Arunika menjawab dengan kedua bahu dinaikkan.
"Kau menuduhku. Tapi sayangnya bukan aku, dia terjatuh sendiri karena ingin mengambil bola dariku," bantah Archie dengan wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin.
"Tapi kita punya saksi mata di sini." Tatapan Archie langsung tertuju pada Maverick dan menunjuknya, "dia?" Arunika ikut melirik Maverick yang tak memberikan respons apa pun.
Archie tertawa mengejek, "bagaimana kau tahu kalau apa yang dikatakannya benar? Kau tahu kalau dia tidak suka padaku, jadi bisa saja dia mengatakan itu untuk menjebakku." Dahi Arunika mengerut dengan tangan mengepal, dalam hati memuji kepintaran Archie dalam memberikan balasan yang masuk akal.
Namun Arunika tetaplah Arunika, ia tak termakan oleh omongan pria di depannya itu. Ia pun melemaskan dahinya dan merenggangkan kepalan tangannya. Kepalanya sedikit mendongak dan matanya melihat ke sana dan sini, membuat Archie bingung.
Ketika mata Arunika sudah menemukan objek yang diinginkan, ia menunjuknya, sebuah barang yang terpasang di sudut ruangan bagian kanan belakang Arunika, “mau lihat CCTV?”
Archie terdiam mendengar itu, ia lupa kalau ada CCTV di setiap ruangan sekolah. Ia kembali mengelak, “CCTV-nya rusak.”
“Kau yakin?” Sembari mengatakan pertanyaan itu, ia mengeluarkan handphone-nya dan mengotak-atiknya sebentar. Ia menempelkan benda pintar tersebut ke telinganya dan mengetukkan jarinya di bagian belakang handphone. Beberapa detik setelahnya, terdengar suara pria tua yang membuat wajah Arunika tersenyum ramah, seakan pria itu ada di depannya.
"Selamat sore, Pak Sucipto? Iya, pak, saya Arunika." Sebagian besar orang di sana cengo, Arunika ternyata menghubungi Pak Sucipto, karyawan sekolah yang bertugas mengawasi seluruh CCTV sekolah. Hera, Fernando, dan Laura yang melihat ekspresi-ekspresi itu tertawa dalam hati. Mungkin mereka lupa kalau Arunika adalah murid yang kenal hampir seluruh guru dan karyawan sekolah, jadi wajar kalau ternyata perempuan itu memiliki kontak para pekerja di sana.
"Maaf mengganggu waktunya, saya ingin bertanya," ujar Arunika sambil menjauhkan handphone-nya dari telinga dan men-speaker-nya dengan volume suara yang dinaikkan agar semua orang di sana bisa mendengar percakapannya dengan Pak Sucipto.
"Silakan, Non."
"CCTV ruang olahraga indoor lagi rusak, ya?" tanya Arunika sambil menatap CCTV itu.
"Tidak, kok, Non. Kemarin baru dilakukan maintenance dan semua CCTV-nya baik-baik saja, bahkan saya sedang melihat Non Arunika dan yang lainnya dari sini." Arunika melirik ke arah Archie yang menundukkan kepalanya, kemudian ia melambaikan tangannya ke CCTV.
Pak Sucipto tertawa, "karena Non tidak bisa melihat saya dari sana, jadi saya bilang saja, ya, saya lagi membalas lambaian tangan Non dari sini." Kalimat itu menjadi bukti kuat bahwa Pak Sucipto memang bisa melihat Arunika dari CCTV. Arunika pun tersenyum penuh kemenangan, namun ia bertanya kembali pada pria tua tersebut.
"Terus Bapak sekitar 25 menit yang lalu di mana?"
"Saya dari tadi di sini, Non," ungkapan itu membuat badan Archie membeku, berbeda dengan Arunika yang berteriak senang dalam hati.
"Kalau begitu, Bapak lihat pertandingan antara dua siswa di sini?"
"Iya, Non, seru pertandingannya." Dengan antusias Pak Sucipto mengatakan kalimat tersebut.
"Tapi, sepertinya ada yang cedera, ya. Tadi saya lihat anak rambut hitam itu sepertinya bermainnya terlalu bersemangat sampai akhirnya tidak sengaja menyenggol—" Telepon itu terputus karena sekarang benda pintar tersebut berada di lantai dengan layarnya yang retak. Semua orang di sana terdiam, begitu juga dengan Arunika yang masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Tangannya dilempari bola basket?
Tidak, itu bukan perbuatan Archie, melainkan perbuatan Ergy William, salah satu "bawahan" Archie. Archie menatap Ergy dengan tajam, sedangkan yang ditatapi memberikan wajah panik. Dirinya benar-benar tidak sadar melakukan itu, ia hanya merasa bahwa Archie sudah berada di posisi yang sangat terpojok, ia hanya ingin melindunginya. Entah dorongan dari mana, bola basket yang sejak tadi di tangannya ia lempar ke tangan Arunika dengan cukup keras sampai akhirnya ponsel tersebut jatuh.
Gavin yang melihat itu langsung mendudukkan dirinya dengan mata melebar penuh emosi. Maverick dan Floyd pun memberikan wajah yang tak beda jauh. Hera langsung mendekati Arunika yang masih diam terpaku menatapi tangannya. Fernando berjalan menuju Ergy dengan amarah melambung tinggi dan menarik bajunya.
"Kau berani bersikap kasar pada perempuan?" ucap Fernando sambil genggaman yang menguat di bajunya. Laura pun berusaha menghentikan Fernando dengan kata-kata penenang.
"Fer, berhenti, Fer. Kita anggota OSIS, kalau ketahuan kita bisa disidang habis-habisan sama sekolah." Perempuan itu berusaha melepaskan tangan Fernando dari baju Ergy, sedangkan Ergy hanya bisa menutup matanya dengan perasaan takut.
Akhirnya Fernando melepaskan baju Ergy dan diajak menjauh oleh Laura.
"Run," panggil Hera dengan selembut mungkin. Tak lama Arunika mengembuskan napasnya pelan dan menurunkan tangannya yang sejak tadi dilihatnya. Matanya mengarah pada CCTV, menaikkan kedua jempolnya dengan senyuman lembut, berpesan melalui gesturnya bahwa semuanya baik-baik saja dan pria tersebut tidak perlu khawatir. Ia juga berharap Pak Sucipto dapat menangkap pesan tersebut.
Setelahnya, Arunika mengembuskan napas lagi dan menatap Gavin yang masih diam dalam posisinya. Perempuan tersebut sadar kalau Gavin juga merasakan amarah sehingga ia berjalan mendekati "pasien"-nya dan memberikan senyuman kesal yang dibuat-buat, "apakah sepuluh menit sudah berlalu? Kalau belum, pasien harus tiduran agar bisa mengurangi memarnya." Entah kenapa, Arunika merasa harus meredakan emosi Gavin terlebih dahulu, jadi ia hanya mengikuti hatinya.
Gavin menatap dalam Arunika selama beberapa saat, "iya, sepuluh menit sudah berlalu," balasnya kemudian. Arunika mengangguk paham dan meminta Floyd menghentikan kompresnya. Ia membuka lagi kotak P3K dan mengeluarkan perban dari sana. Dengan cekatan Arunika memerban bagian kaki yang terkilir dengan tidak terlalu kencang.
"Perbannya bisa dilepas setelah 72 jam dan selama proses penyembuhan, jangan melakukan aktivitas berat sampai kau bisa berjalan tanpa rasa sakit. Lakukan kompres dingin ke kakimu di 72 jam pertama sebanyak tiga sampai empat kali sehari selama lima belas sampai dua puluh menit. Dan ketika tidur, gunakan bantal untuk mengganjal kaki, lalu posisikan kakimu lebih tinggi dari dada, seperti yang kau lakukan tadi. Jika kau mengikuti semua instruksiku, kakimu akan sembuh dalam 3 hari, tapi jika tidak, lebih baik kau segera ke dokter, paham?" jelas Arunika panjang lebar dengan wajah penuh kelembutan, membuat wajah Gavin sedikit demi sedikit melunak.
"Siap laksanakan, bu dokter." Arunika tersenyum mendengar panggilan itu. Tanpa mereka sadari, semua orang memperhatikan interaksi Arunika dan Gavin. Hera, Fernando, dan Laura saling bertatapan dengan penuh arti. Archie mengalihkan pandangannya, yang penting tidak mengarah pada kursi panjang sana.
"Nah, karena masalah pasienku sudah selesai dan emosiku juga sudah turun, bagaimana kalau kita menyelesaikan masalah lain yang ternyata menjadi lebih parah?" tanya Arunika membalikkan badannya dan menatap Archie serta Ergy. Kemudian tatapannya beralih ke ponsel pintarnya yang tergeletak mati di lantai. Ia mengambilnya dan mencoba untuk menghidupkannya. Tidak bisa, handphone-nya telah rusak. Ia lagi-lagi mengembuskan napas berat.
"Baiklah, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban terhadap handphone-ku karena aku masih punya uang untuk membelinya lagi. Tapi, aku akan meminta kalian bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada Gavin ...," ucap Arunika sambil menunjuk Archie, "dan kau padaku," lanjutnya menunjuk Ergy.
"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini." Arunika menoleh dan memberikan tatapan tak percaya pada Gavin yang duduk di belakangnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku malas mencari masalah dengan orang lain, jadi anggap saja aku sudah memaafkannya dan masalah selesai," sahut Gavin dengan wajah datar. Archie yang mendengar itu tak percaya, begitu juga dengan Arunika.
Arunika kembali membalikkan badannya untuk menatap pria di depannya, ia meletakkan tangan kanannya di pinggang dan jari-jari tangan kirinya memijat pelan batang hidungnya, "bagaimana bisa kau menganggap masalah ini sesepele itu? Apa yang dilakukan oleh Archie sudah termasuk dalam pembullyan dan masalah tidak bisa selesai dengan semudah itu."
"Arunika, ini adalah masalahku dengannya, jika aku menganggapnya selesai, maka selesai. Begitu juga denganmu, jika kau menganggap masalahmu dengan Ergy berat dan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, maka lakukanlah apa yang kau mau. Jadi, jangan mengaturku dalam memutuskan sesuatu." Kalimat yang diucapkan dengan tegas itu membuat Arunika terdiam. Matanya menatap kedua netra terang Gavin, mencari kebohongan di sana. Tidak ada.
Arunika pun mengulum bibirnya sekali dan mengangguk paham. Napas ia hembuskan perlahan dan berkata dengan suara pelan, "kau benar, maaf, aku sudah melewati batas." Seketika itu juga Gavin merasakan perasaan tidak nyaman di hatinya, namun dengan cepat ia menepisnya.
Arunika kemudian menatap Ergy dalam diam, menimbang sesuatu. Setelahnya ia mengangguk yakin, "baiklah, aku juga tidak akan memperpanjang masalah ini, aku juga akan menganggap sudah memaafkanmu dan masalah selesai." Keputusan yang cukup mengejutkan dari Arunika, namun juga aneh. Diam-diam Ergy mengembuskan napas lega dalam hatinya.
"Run?" tanya Hera tidak percaya. Arunika menatap teman dekatnya dan tersenyum, "kadang kita perlu untuk tidak memperpanjang masalah dan mengikhlaskannya, lelah juga kalau semuanya ditanggapi secara serius." Sehabis mengucapkan itu, Arunika menatap jam dinding di ruangan. Dirinya cukup terkejut ketika tahu jarum panjang telah menunjuk angka enam.
"Kalian semua pulanglah, sudah jam enam, sekolah sebentar lagi akan ditutup." Mendengar perkataan itu, semuanya pun langsung bersiap untuk pulang, sedangkan Arunika sudah berlari keluar ruangan.
"Hati-hati, Run!" teriak Hera yang mendapatkan jawaban berupa jempol dari Arunika.
"Gavin, ingat pesanku tadi!" Peringat Arunika sambil terus berlari menjauh.
Dan lelaki yang diingatkan hanya mampu menatap punggung si perempuan yang telah menghilang dari balik pintu.
...⁕⁕⁕...