
Di sepanjang lorong lantai dua yang cukup ramai, seorang perempuan berlari dengan wajah penuh kepanikan. Tindakan tersebut tentu menarik perhatian para murid yang berlalu lalang, penasaran mengapa perempuan itu bertingkah seakan sedang dikejar hantu. Perempuan itu terus berlari sampai akhirnya berhenti di depan ruangan yang bertuliskan Medical Room. Dengan napas tersengal perempuan itu membuka pintu.
"Vin," panggil Hera dengan suara pelan dan tak lama sebuah tirai dari ranjang paling pojok terbuka, menampakkan wajah Gavin yang hanya mengeluarkan kepalanya.
"Sini," ajak Gavin dengan tangan dilambaikan pelan. Hera pun berjalan mendekati. Di dalam bilik tirai itu terdapat Arunika yang terbaring dengan mata terpejam.
"Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Hera sambil mendudukkan diri di kursi yang Gavin berikan.
"Kata dokter dia mengalami kelelahan dan adanya gejala dehidrasi. Dokter meminta untuk dibiarkan saja dan memberikannya dua gelas air setelah terbangun." Jelas Gavin sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan Hera mengembuskan napas pelan sembari mengelus tangan Arunika.
"Bagaimana bisa kau yang membawanya ke sini? Padahal seharusnya dia sedang di laboratorium biologi untuk penilaian," tanya Hera lagi sambil melirik Gavin.
"Kau satu kelas dengannya, 'kan?" tanya balik Gavin yang dijawab anggukan oleh Hera, "penilaiannya berdasarkan nomor absen. Arun di nomor urut delapan, aku di nomor delapan belas, jadi dia penilaian terlebih dahulu dan aku harus menunggu di kelas." Gavin membulatkan mulutnya, tanda paham terhadap penjelasan itu.
"Kita bertemu saat Arunika baru saja keluar dari laboratorium dan aku dari ruang musik, ingin ke toilet. Kita mengobrol sebentar dan dia bilang kalau ada penilaian biologi. Tapi tiba-tiba Arunika mimisan dan langsung pingsan, jadilah aku yang membawanya ke sini," jelas Gavin dengan suara sepelan mungkin, tak ingin mengusik tidurnya Arunika. Begitu juga dengan Hera yang mengangguk-angguk.
Keheningan terjadi setelahnya. Hera hanya fokus pada Arunika yang tertidur dengan wajah polosnya, terlihat sangat nyaman seakan sudah lama bisa tidur senyenyak ini. Sedangkan pria yang berdiri satu langkah di belakang Hera sesekali melirik, sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan pada satu-satunya teman dekat Arunika, namun ia ragu.
"Ada apa?" Nyatanya Hera menangkap keinginan sekaligus keraguan itu. Gavin sedikit tersentak lalu menggaruk pelan tengkuknya, ia ketahuan. Tapi karena Hera sudah tahu, lebih baik ia tanyakan saja.
"Apakah kau sadar kalau seminggu ini Arunika terlihat kelelahan?" Hera terdiam sebentar lalu mengangguk.
"Sejak Senin kemarin, aku sudah sadar kalau wajahnya terlihat lebih lesu, tapi saat itu dia beralasan kekurangan tidur karena terlalu seru membaca buku. Hari-hari selanjutnya pun aku merasa kalau Arun terlihat makin lelah, tapi dia lagi-lagi beralasan kalau kelelahannya disebabkan oleh event Valentine's Day. Sulit sekali mengetahui kondisinya karena setiap ditanya selalu menjawab tidak apa-apa." Hembusan napas berat mengikuti setelah Hera menyelesaikan kalimatnya.
"Apakah Arunika sudah sering pingsan? Karena saat aku datang ke sini, dokternya seakan sudah tahu bagaimana kondisinya." Terdapat jeda sebelum akhirnya dijawab anggukan lagi oleh Hera. Kemudian perempuan itu menenggelamkan kepalanya ke ranjang.
Dengan suara sayupnya, Hera berbicara dengan nada memperingati, "jangan beritahu siapa pun. Selama ini yang tahu hanyalah Arun, aku, dan dokter sekolah, yang sekarang ditambah dirimu. Sebenarnya aku tidak tahu kenapa Arunika benar-benar ingin merahasiakan ini, tapi aku hanya bisa menghargai keinginannya."
"Keluarganya tidak tahu?" Masih dengan kepala di atas ranjang, Hera menggeleng pelan.
"Rahasia ini malah paling Arun sembunyikan dari keluarganya." Baiklah, semakin Gavin mengenal perempuan yang terbaring itu, semakin Gavin merasa kalau Arunika adalah sosok yang berbeda dari yang ia kenal.
"Apakah tubuh Arunika memang lemah sejak lahir? Makanya dia jadi sering pingsan," tanya Gavin untuk terakhir kalinya.
"Kata Arun iya, tapi aku kurang percaya. Entahlah, aku bingung melihat anak ini, dari luar dia terlihat sangat terbuka, tapi setelah mengenalnya lebih dekat, ternyata dia sangat tertutup dan terlihat—"
"Misterius." Gavin memotong kalimat Hera dan perempuan itu mengangguk setuju, "seperti memakai topeng." Perjelas Hera sambil mengangkat kepalanya.
"Aku tidak pernah tahu apa yang ia pikirkan ataupun rasakan, seakan ada sebuah tembok besar yang menghalangi." Lanjut Hera sambil mengelus kembali tangan teman dekatnya, sedangkan Gavin hanya bisa menatap dalam perempuan yang akhir-akhir memunculkan sebuah perasaan asing di hatinya.
Keheningan kembali terjadi, namun tak lama kedua netra coklat terang itu terbuka secara perlahan. Arunika mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha membiasakan matanya dengan cahaya yang menusuk. Hera membantunya untuk mendudukkan diri, sedangkan Gavin telah menyodorkan satu gelas air padanya.
"Kenapa Gavin bisa ada di sini?" tanyanya dengan suara pelan.
"Kau lupa? Kau bertemu dengannya dan tiba-tiba pingsan di depannya, jadi dialah yang membawamu ke sini." Setelah mendengar itu Arunika mengingat kembali situasi sebelum dirinya pingsan sehingga ia membulatkan mulutnya.
"Benar juga."
Gavin kembali dengan segelas air penuh dan memberikannya lagi pada Arunika, membuat perempuan itu bingung.
"Dokter bilang kau ada gejala dehidrasi, jadi harus diberikan dua gelas air setelah bangun." Jelas Gavin yang membuat Arunika mengangguk paham, lalu kembali menandaskannya. Setelah itu si pria mengambil gelas tersebut dan meletakkannya di nakas samping ranjang.
"Baiklah, karena kau sudah bangun, aku boleh kembali ke kelas?" tanya Gavin yang membuat Arunika sedikit gelagapan.
"Tentu saja, maaf sudah merepotkanmu dan terima kasih sudah membantu." Gavin tersenyum lembut lalu mengusap pelan kepala Arunika. Hera yang melihat itu sedikit tercengang.
"It's okay, we are friends, right? Glad to see you waking up in a better condition." Mendengar itu Arunika ikut tersenyum lembut, kemudian tatapannya beralih pada Hera.
"Kau juga tidak kembali ke kelas? Sekarang masih jam pelajaran biologi, 'kan? Sudah penilaian?" tanya Arunika bertubi-tubi, membuat Hera terkekeh.
"Iya, sekarang masih jam pelajaran biologi dan aku belum penilaian. Kau masih ingin di sini? Kalau iya, aku akan kembali ke kelas dan meminta izin pada guru atasmu," jawab Hera sambil berdiri dari duduknya.
"Aku masih ingin di sini, kepalaku masih sedikit pusing," balas Arunika sambil memegang pelan kepalanya. Hera pun mengangguk paham.
"Baiklah, beristirahatlah. Aku dan Gavin akan kembali ke kelas, nanti saat istirahat aku akan ke sini lagi," pamit Hera sambil menepuk pelan kaki temannya. Begitu juga dengan Gavin yang melambaikan tangannya kecil, yang dibalas lambaian juga oleh Arunika.
Setelahnya kedua orang itu menghilang dari balik tirai dan tak lama terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup, menunjukkan bahwa kedua temannya benar-benar telah keluar dari ruangan. Arunika pun mengembuskan napas berat dengan wajah lelahnya, lalu mengubah posisinya kembali menjadi terbaring dan merapikan selimutnya. Tangan kanannya ia angkat dan diletakkan di atas kedua matanya, sedangkan tangan kirinya diletakkan di atas perut.
Alasan utama kenapa Arunika pingsan memang karena kelelahan, tapi penyebab kelelahan itu bukanlah dari keseruan membaca buku ataupun pusing memikirkan event Valentine's Day. Ini semua karena mimpi sialan itu.
Awalnya Arunika mengira mimpi kenangan buruknya itu hanya muncul sekali—di hari Senin kemarin. Namun nyatanya tidak. Selama lima hari terakhir, Arunika selalu terbangun di jam tiga pagi akibat mimpi tersebut, untungnya tidak sertai dengan panic attack seperti di hari pertama. Meski begitu, tetap saja Arunika merasa tidak nyaman dan terganggu—apalagi Arunika bukanlah tipe orang yang mudah tertidur lagi setelah terbangun. Ia pun mulai menduga kalau traumanya kambuh dan mungkin disebabkan oleh percakapannya dengan Gavin di acara keluarga Rosverd.
Arunika sadar kalau ia harus mendatangi psikiater pribadinya, yang mengobatinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya. Sialnya, Arunika hanya bisa pergi di hari Sabtu atau Minggu karena hari biasanya sangatlah padat. Arunika pun juga harus memikirkan alasan ketika ternyata ayah maupun ibunya berada di rumah. Ia harus membuat alasan yang masuk akal biar tidak menimbulkan kecurigaan dari siapa pun. Dan rencananya, perempuan itu akan mengunjungi dokternya besok.
Masih dalam posisi yang sama, Arunika berdecak kesal, "kenapa harus kambuh lagi, sih?" Kondisi ini benar-benar bukan keinginannya, apalagi perempuan itu tak menduga bisa kambuh hanya karena percakapan kecil dengan Gavin.
"Kenapa ... percakapan ... itu ... bisa ... menjadi ... trigger?" Terdapat jeda di setiap gumaman yang keluar dari mulut Arunika akibat rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Selama lima hari ini ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak dan sulit untuk tertidur kembali setelah terbangun sehingga suasana sepi di sekitarnya membuat sang kantuk datang dengan cepat. Arunika tak ada niatan untuk melawan karena ia sadar, ia sangat membutuhkan tidur ini, sekalipun hanya satu jam.
...⁕⁕⁕...