RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 30: PESIMIS



Ini merupakan hari kedua Gavin berusaha menghindari Arunika, ia masih belum siap berhadapan dengan perempuan itu. Lelaki tersebut sebenarnya ingin sekali berada di sisinya, namun tekadnya untuk membangun sebuah batas antar dirinya dengan Arunika menghalangi. Gavin benar-benar tidak ingin mengacaukan hubungannya yang telah terjalin dengan sangat apik hancur hanya karena satu tindakan konyolnya.


"Vin, sampai kapan kau akan menghindari Arunika?" Gavin menghentikan menulisnya pada buku catatan, lalu matanya beralih pada Floyd yang juga sedang mencatat materi sejarah yang baru saja dijelaskan oleh guru.


"Kau menyadarinya?" balas Gavin yang membuat Floyd menaikkan satu alisnya. Pertanyaan bodoh macam apa ini? Pikirnya.


"Jelas-jelas kau melakukannya di depan mata kita dan kau masih berharap kita tidak menyadarinya?" sindir Floyd yang membuat Gavin terdiam. Maksud dari kata 'kita' adalah Floyd, Maverick, dan Hera.


"Berarti Arunika juga sadar, ya?" Muncul kembali pertanyaan konyol dari si lelaki tampan itu, membuat Floyd rasanya ingin sekali melempari Gavin dengan penghapus.


Gavin sedang berada dalam fase lolanya karena sepanjang hari memikirkan batasan apa lagi yang harus ia ingat. Sampai saat ini, ia sudah mulai tahu dan akan berhenti ketika merasa siap untuk kembali berdekatan dengan Arunika.


Floyd hanya bisa mengembuskan napas pelan. "Arunika menyadari perubahan sikapmu dan sekarang dia uring-uringan. Dia selalu bertanya, kenapa kau menghindarinya? Apa kesalahannya padamu? Dan sebagainya," jelas Floyd sambil kembali menulis, sedangkan Gavin termenung. Jujur, ada sedikit bagian dihatinya merasa senang mendengar hal itu karena artinya kehadirannya memberikan dampak bagi Arunika.


Namun tak lama Gavin menyadari suatu hal, "bagaimana bisa kau tahu kondisi Arunika sekarang?" tanyanya dengan sedikit berbisik karena guru mulai kembali menjelaskan materi.


"Hera yang memberitahukannya padaku dan Maverick," balas Floyd santai.


"Apakah kalian juga tahu alasanku menghindari Arunika?" Floyd terdiam sebentar mendengar itu lalu mengangguk, membuat Gavin melebarkan matanya. Dirinya belum sekali pun memberitahukan Floyd maupun dua teman lainnya perihal perasannya pada Arunika, namun bagaimana bisa mereka tahu? Apakah seluruh perasaan itu terpampang jelas di wajahnya? Kalau begitu apakah Arunika juga menyadarinya? Banyak pertanyaan berkeliaran di kepala Gavin.


Floyd melirik pada Gavin yang terhanyut dalam pikirannya sendiri, ia pun tersenyum tipis. "Kita menyadarinya saat di Dunia Fantasi, ketika kalian berpelukan setelah insiden Sea World," jelas Floyd seakan mulai memberikan jalan terang bagi Gavin.


"Kita menyadarinya karena memang memperhatikanmu secara diam-diam sejak kejadian pertandinganmu dengan Archie. Kita mencurigai alasanmu mengambil keputusan yang sangat di luar sifatmu dan juga memperhatikan bagaimana perilakumu terhadap Arunika. Mungkin saat itu kau belum sadar, tapi semuanya terlihat dari sikapmu padanya," lanjut Floyd yang semakin membuat Gavin terdiam.


"Tapi ini semua kita sadari karena hampir selalu berada di sekitar kalian. Jika tidak, sebenarnya tidak terlihat, kok." Kalimat ini mampu membuat seluruh badan Gavin kembali rileks serta hatinya yang melega. Inilah kalimat yang paling ia tunggu sejak Floyd bercerita.


"Lalu kenapa kalian tidak memberitahuku?" tanya Gavin kembali. Bukankah lebih cepat untuk memberitahunya langsung?


"Entahlah, bagi kita lebih seru untuk melihat langsung bagaimana kau menyadari perasaanmu. Daripada kau tahu karena diberitahu, bukanlah lebih unik jika kau sadar karena sebuah permainan piano?" terang Floyd yang lagi-lagi membuat Gavin terdiam. Floyd akhirnya selesai menulis sehingga ia meletakkan bolpoinnya ke meja. Ia menyilangkan kedua tangannya depan dada.


"Lagi pula, menurutku lebih sulit untuk menerima kenyataan kita memiliki perasaan pada seseorang ketika diberitahu oleh orang lain, pasti kita akan cenderung bersikap denial dan defensif. Jadi, lebih baik sadar saja sendiri dan menerimanya secara perlahan." Gavin cukup setuju dengan perkataan tersebut sehingga ia mengangguk pelan.


"Terima kasih sudah memahami," ucap Gavin yang membuat Floyd mendengus sambil tersenyum.


"No problem, itu semua hanya prinsipku dalam menanggapi perasaan." Dengan santai Floyd membalasnya.


Maverick telah diceritakan seluruh percakapan antara dua teman lelakinya melalui mulut Floyd. Ia beberapa kali menertawai respons bodoh dari Gavin, membuat Gavin cukup kesal karena tawa pria itu sangatlah menjengkelkan, sekaligus berusaha menutupi rasa malunya.


Setelah memasukkan satu potong siomay dalam mulutnya, dengan garpu yang diarahkan pada Gavin, Maverick bertanya, "apa yang akan kau lakukan sekarang? Tentang perasaan dan hubunganmu pada Arunika." Gavin terdiam, memikirkan sejenak jawabannya.


"Untuk sementara waktu, aku ingin menyembunyikannya terlebih dahulu karena ada kemungkinan perasaan ini hanya sesaat ... istilahnya apa, ya, dalam bahasa gaul kalian?" tanya Gavin pada kedua temannya, ia ingat pernah dijelaskan istilah dengan definisi tersebut oleh Arunika.


"Cinta monyet?" Gavin mengangguk mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Maverick. Keduanya pun mengangguk paham.


"Lalu, apa alasanmu menjauhi Arunika?" Sekarang giliran Floyd yang bertanya.


Gavin mengembuskan napasnya pelan, "setelah menyadari perasaan ini, aku sadar, sikapku pada Arunika akan berbeda dari sebelumnya. Selama ini aku menganggap dan memperlakukan Arunika sebagai teman, namun setelah sadar, pandanganku padanya akan berubah dan sadar tidak sadar akan memperlakukannya sebagai perempuan yang kusukai. Karena itulah aku memutuskan untuk membentuk sebuah batasan, bagaimana pun juga hubungan pertemanan kami lebih berharga."


"Kenapa kau bisa menyukai Arunika?" Maverick kembali bertanya.


Gavin bergumam kecil dengan sedikit menelengkan kepalanya ke kanan. "Sebenarnya ... aku tidak tahu," balas Gavin setelah beberapa saat sambil tertawa. Ia menggaruk pelan tengkuknya. Floyd dan Maverick masih diam, menyimak penjelasan lanjutan Gavin.


"Tapi mungkin seperti yang lainnya. Arunika itu ramah dan supel banget, bahkan dia duluan yang mengajakku berkenalan saat pertama masuk ke sini. Seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat sisi-sisi Arunika yang lain, seperti ketegasannya dalam memimpin OSIS, kepintarannya dalam memosisikan diri di berbagai situasi, sampai kelihaiannya dalam merawat orang lain. Tanpa sadar aku mengagumi semua hal itu, lalu terpesona oleh tampilannya, hingga akhirnya menyukainya." Lagi-lagi Gavin merasa malu harus mengatakan itu semua di depan kedua temannya sehingga ia berapa kali batuk kecil. Floyd dan Maverick berusaha menahan senyuman—tentu saja tidak berhasil—sebagai respons dari seluruh cerita itu.


Floyd pun berdeham pelan untuk meredakan senyumannya dan tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi lebih serius, membuat Gavin dan Maverick juga ikutan memasang ekspresi serius. Tatapan Floyd lurus pada Gavin yang duduk di sebelahnya.


"Sebenarnya ini hanya rasa penasaranku saja, jadi kalau tidak mau menjawab tidak apa," mulai Floyd yang membuat Gavin makin ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh temannya.


"Katakanlah Arunika ternyata memiliki perasaan yang sama denganmu sehingga nantinya kalian berpacaran, kira-kira apa yang akan terjadi setelahnya?" lanjut Floyd yang membuat Gavin diam seribu bahasa.


"Kalian memiliki keluarga dengan sejarahnya masing-masing, apakah nantinya ada salah satu dari keluarga kalian yang bersedia untuk mengalah?" Floyd menekankan kata 'mengalah' dengan jari telunjuk dan tengah dari masing-masing tangan tertekuk lalu bergerak naik turun.


Gavin tertawa setelah beberapa saat terdiam, mengundang kebingungan dalam benak Floyd dan Maverick. Melalui pertanyaan Floyd tadi, Gavin kembali tersadar, baik keluarganya maupun Arunika, keduanya sama-sama strict dalam menentukan pasangan bagi keturunannya. Keluarganya akan lebih mementingkan wanita yang berkarir di bidang musik, inilah alasan utama mengapa ibunya tak diterima karena kariernya sebagai presenter televisi nasional.


Di sisi lain, Gavin juga tahu sedikit bagaimana kondisi keluarga Arunika karena perempuan itu sendiri yang mengatakan, keluarganya sangat keras dan kuno. Berdasarkan pernyataan itu, Gavin bisa menduga, keluarga Arunika akan mencari menantu yang juga berprofesikan dokter agar bisa mempertahankan pure-blood yang menjadi kebanggaan mereka selama puluhan tahun. Dan jika benar begitu, maka dirinya tak memiliki kesempatan.


Dengan tatapan dalam serta sendunya, Gavin berbicara dengan nada penuh ke tidak yakin-an, "aku pesimis dengan hal itu."


...⁕⁕⁕...