RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 17: KEBEBASAN



Di pagi yang cerah ini, kediaman keluarga Kanagara sudah ramai dengan suara-suara piring maupun peralatan makanan yang bersentuhan dengan meja marmer itu. Para pelayan mulai menyiapkan menu sarapan yang biasa ada di setiap paginya, seperti roti, berbagai macam selai, sereal, buah-buahan, susu, teh, hingga kopi sesuai permintaan sang kepala keluarga.


Sambil menunggu seluruh persiapan selesai, Harris duduk di sofa ruang keluarga menonton berita harian melalui televisi, sedangkan Rebecca berada di kamar Erlano untuk membangunkannya. Seorang pelayan berjalan mendekati Harris dan menundukkan sedikit kepalanya.


"Tuan, sarapan sudah siap." Harris menoleh sebentar pada pelayan itu dan mengangguk kepala sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian ia mematikan televisi dan melangkahkan kaki menuju ruang makan. Karena jalan menuju ruang makan harus melewati tangga, Harris bisa melihat sang istri turun sambil menggendong putra mungilnya yang masih dalam balutan baju tidurnya.


Harris pun mengecup pelan kepala Erlano, "good morning, jellybean." Kecupan itu dapat Erlano rasakan meski dirinya masih setengah sadar. Erlano membuka matanya secara perlahan dan membalas sapaan sang ayah dengan kepala yang masih bersandar pada pundak ibunya.


"Morning too, papa." Harris dan Rebecca terkekeh mendengar balasan dengan suara parau itu, menunjukkan seberapa besar keinginannya untuk terus tidur. Interaksi keluarga yang penuh kehangatan itu mampu membuat beberapa pelayan yang melihatnya tersenyum tipis.


"Sweetheart." Panggil Harris setelah mendudukkan dirinya di meja makan. Rebecca yang tahu dirinya dipanggil menoleh menatap suaminya setelah meletakkan Erlano di kursinya.


"Di mana Gavin? Kenapa sampai sekarang belum turun? Masih tidur?" Pertanyaan bertubi itu membuat Rebecca terdiam sebentar. Melihat raut kebingungan suaminya, Rebecca menduga kalau Harris masih belum tahu di mana Gavin sekarang.


"Gavin sudah pergi satu jam lalu," jawab Rebecca yang memunculkan kenyitan di dahi suaminya.


"Pergi ke mana dia di jam se-pagi itu?" Rebecca menatap suaminya dalam, lalu mengembuskan napas pelan. Harris pun makin bingung.


"Dia pergi ke makam Anahita." Kedua mata Harris melebar dan tak bisa mengatakan apa pun. Rebecca kembali mengembuskan napas berat setelah melihat Harris yang tak berkutik.


Kapan pria ini bisa memahami anaknya sendiri? Batin Rebecca dengan nada lelah.


... ⁕⁕⁕...


Gavin telah duduk di sana sejam lamanya. Matanya memandangi ukiran identitas orang yang telah terkubur sedalam dua setengah meter di dalam tanah itu. Di batu tersebut tertulis nama ibunya, yaitu Anahita Irvine, yang lahir pada 11 September 1974, wafat pada 14 September 2010 di usia 36 tahun, dan sebuah kalimat pendek.


"Thank you, I'm free now," gumam Gavin membacanya sambil mengelus pelan ukiran kalimat itu.


Pikiran Gavin kembali terlempar ke sepuluh tahun lalu, saat dirinya masih tinggal di Jerman bersama keluarganya di usia enam tahun. Meskipun saat itu hari sudah sangatlah larut dan seharusnya rumah hanya diisi oleh keheningan, namun tidak dengan rumah Kanagara. Gavin kecil hanya bisa berdiri di depan kamarnya dan menatap bingung para pelayan yang berlari kacau di hadapannya. Gavin kecil pun menajamkan telinganya dan mendengar secara samar teriakan butler yang meminta untuk memanggil dokter pribadi keluarga secepat mungkin.


Karena masih tak paham, Gavin kecil berjalan ke kamar tidur orang tuanya, ingin bertanya pada sang ibu—karena sang ayah sedang bekerja di luar kota. Ia yakin sang ibu tahu apa yang terjadi. Namun sesampainya di ambang pintu, ia malah melihat banyak pelayan mengerubungi sesuatu. Awalnya kehadiran sang tuan muda tak disadari, namun salah satu pelayan secara tak sengaja menangkap siluet pria kecil itu. Sontak saja beberapa pelayan berjalan mendekati Gavin kecil dan bertanya mengapa tuan mudanya belum tidur dengan wajah panik. Sayangnya, pandangan Gavin telah terpaku pada sang ibu yang tergeletak di lantai dengan mulut berbusa serta tangan yang menggenggam lemah sebuah tabung transparan kosong.


"Mama?" Panggil Gavin dengan tubuh membeku. Ia memang masih kecil dan tak sepenuhnya paham tentang apa yang terjadi pada ibunya, namun hatinya tahu, sang ibu berada dalam kondisi bahaya. Para pelayan pun berusaha untuk menarik Gavin pergi dari ruangan itu, namun Gavin kecil memberontak sambil meneriak memanggil ibunya.


"Mama! Mama! Bangun, mama! Gavin ada di sini! Lepaskan Gavin!" Sayangnya kekuatannya tak mampu mengalahkan beberapa pelayan dewasa yang memegang kedua lengannya. Dirinya dibawa ke ruang tidurnya dengan seorang pelayan menemaninya, lalu duduk di ranjang. Gavin memainkan jari-jarinya dengan gelisah dengan kepala tertunduk.


"Carrie, mama akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Gavin suara pelan, malah terdengar seperti berbisik. Pelayan yang berdiri di sebelahnya sekuat mungkin menahan tangisannya dan berlutut di depan Gavin, lalu memegang kedua tangan sang tuan muda. Kepalanya sedikit mendongak agar bisa menatap netra biru kehijauan Gavin kecil.


"Mari kita berdoa untuk yang terbaik, ya? Semoga nyonya baik-baik saja dan bisa bermain bersama tuan muda lagi," balas Carrie sambil mengeratkan genggaman tangannya. Ia harus benar-benar menahan air matanya karena tak ingin memberikan asumsi jelek dalam diri Gavin.


Kedua kakinya terhenti di depan kamar tidur ibunya. Ia bisa melihat seluruh pelayan menutupi wajahnya dengan tubuh bergetar, ada juga yang saling berpelukan. Dan di lantai dekat ranjang sana, tubuh ibunya ditutup oleh selimut putih yang seharusnya ada di ranjang oleh dokter pribadi keluarga.


...ibunya melihat dirinya tumbuh dewasa dan menjadi pianis hebat di masa depan.


Tak mampu lagi menahan tangisannya, Gavin langsung mengeluarkan seluruh kesedihannya dengan isakan yang sangat keras, mengagetkan seluruh orang di ruangan itu. Gavin menjongkokkan dirinya dan menyembunyikan wajahnya di sela antara kaki dan perutnya. Bibir kecilnya terus memanggil mamanya, berharap wanita itu terbangun dan menenangkan dirinya karena itulah yang terjadi setiap dirinya menangis. Para pelayan di dalam ruangan itu, termasuk Carrie yang menyandarkan tubuhnya ke tembok dekat pintu sambil menangis, tidak bisa mengatakan ataupun melakukan apa pun. Pada akhirnya semua orang di rumah itu diselimuti oleh kabut hitam di gelapnya malam 14 September 2010.


Air mata Gavin kembali bercucur ketika mengingat kejadian yang sudah lawas namun tetap menyakitkan sampai detik ini. Sebenarnya kedatangan Gavin ke sana bukanlah untuk mengingat kembali kejadian itu. Ia selalu datang ke sana ketika merasa rindu pada ibunya dan biasanya menceritakan banyak hal, meski tak tahu sang ibu mendengarkannya atau tidak. Hanya dengan cara ini Gavin bisa mengingat kehadiran ibunya, juga hanya cara inilah Gavin bisa merasa nyaman mengeluarkan apa yang ada di hatinya.


Gavin menyeka matanya dan memberikan senyuman lembut, tidak seharusnya ia menunjukkan wajah sedih di depan makam ibunya. Ia tak ingin ibunya juga merasa sedih ketika melihatinya dari padang rumput yang luas itu.


"Ma, sejak dua minggu lalu, Gavin tinggal di negara ini. Akhirnya Gavin bisa mengunjungi mama sebanyak yang Gavin mau. Sebelumnya Gavin sulit sekali untuk mendatangi tempat ini karena masih tinggal di Inggris dan ayah pasti tidak akan mengizinkanku pergi jika tidak ada yang menemani. Gavin juga akhirnya tahu kenapa mama sayang sekali sama kampung halaman mama ini." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Gavin tertawa pelan dan mengubah posisi duduknya menjadi dua kaki yang tertekuk dan ia peluk hingga menempel ke dadanya.


"Makanannya enak banget, untung Gavin cocok dengan makanan di sini. Makanan kesukaanku adalah bakso dan nasi goreng. Lalu untuk minuman, Gavin dikenalkan pada minuman sachet yang warna-warni itu, Gavin lupa namanya, tapi minuman itu enak sekali." Gavin memulai ceritanya sambil terus menatap batu di depannya.


"Orang-orangnya juga friendly dan baik banget. Di sekolah baruku, dalam sehari Gavin mendapatkan empat teman baru, hebat, 'kan? Mama pernah bilang, Gavin harus mencari teman yang bersedia untuk membantuku dalam setiap kondisi dan tak pernah memandang latar belakang Gavin. Gavin sudah menemukannya, ma." Dengan bangga Gavin memberitahukan keempat teman barunya—yang tak lain adalah Arunika, Hera, Maverick, dan Floyd—dengan senyuman senang.


"Lingkungannya pun cukup nyaman. Setiap pagi udaranya menyegarkan dan sangat cocok untuk dipakai berolahraga, makanya setiap hari Sabtu dan Minggu pagi Gavin sempatkan untuk berolahraga, seperti berlari atau berenang. Hanya saja, kadang harus terjebak macet saat berangkat sekolah dan cuacanya panas banget di siang hari." Meski kalimat terakhir terdengar seperti keluhan, namun sebenarnya tidak. Pria itu hanya sedang menceritakan pengalaman barunya di sebuah negara yang tak pernah ia tinggali.


Gavin akhirnya diam setelah panjang lebar bercerita, namun tak lama ia melepaskan pelukan pada kaki dan berdiri dari duduknya sambil memukul pelan bokongnya, membersihkan tanah maupun rumput yang menempel.


"Pantas saja di surat itu mama meminta untuk dimakamkan di sini. Gavin paham sekarang." Setelah mengucapkan itu Gavin mendongakkan kepalanya ke langit sambil memejamkan matanya. Angin secara lembut menyapu wajahnya dan menyibak rambutnya. Ia menarik napasnya dalam lalu mengembuskannya.


"Gavin bersyukur mama berada di sini, lingkungannya benar-benar bagus. Setiap pagi mama akan disuguhi oleh padang rumput hijau yang sehat dan bersih dengan angin yang sangat menyejukkan. Bahkan mama bisa melihat kupu-kupu atau burung beterbangan, cantik, 'kan?" ujar Gavin setelah melihat kupu-kupu bersayap biru serta burung pipit hinggap di sudut kiri dan kanan batu nisan ibunya. Terukir senyuman di wajah tampan itu.


"Semoga mama selalu bahagia di sana, karena kebebasan inilah yang selalu mama dambakan sejak dulu." Gavin mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sendu. Fakta tersebut ia sadari seiring berjalannya waktu.


"Gavin pergi dulu, ya. Kapan-kapan Gavin akan datang lagi," pamit Gavin. Ia merasa cukup untuk hari ini. Sepertinya ia sudah menghabiskan satu setengah hingga dua jam di situ, melihat dari matahari yang masih malu-malu ketika dirinya datang dan sekarang mataharinya sudah mau ke puncak.


Gavin pun bersiap untuk pergi meninggalkan makam sang ibu, namun ketika dirinya menoleh ke samping kanan, matanya tak sengaja menangkap figur seseorang yang sangat ia kenal. Awalnya Gavin tak yakin karena sosok itu mengenakan topi yang membuat wajahnya menjadi tak terlalu kelihatan, namun disisi lain Gavin merasa sangat mengenali postur tubuh itu.


Kebetulan sekali, setelah sosok itu meletakkan sebuket bunga di depan batu nisan, sosok itu menoleh ke kiri dan matanya langsung menangkap eksistensi Gavin yang menatapinya sejak tadi. Di saat itulah Gavin tahu kalau dugaannya benar.


"Arun?"


"Gavin?"


...⁕⁕⁕ ...