
"Oke, semua sudah datang, 'kan?" tanya Arunika pada seluruh pengisi acara live music valentine's day di hadapannya sekarang. Pertanyaan itu pun dijawab anggukan oleh semuanya.
"Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banget ke kalian semua karena sudah bersedia meluangkan waktu untuk kegiatan check sound hari ini. Walaupun besok acaranya kecil-kecilan, aku sangat menghargai seluruh waktu dan tenaga yang kalian berikan untuk acara ini. Tepuk tangan dulu, dong, buat kita semua." Permintaan tepuk tangan itu disetujui oleh seluruhnya, bahkan tercetak senyuman di wajah beberapa orang.
"Aku akan secara singkat menjelaskan rundown di sini besok," lanjut Arunika setelah suara gemuruh yang mengisi hall tersebut mereda. Ia menatap satu per satu orang-orang yang duduk memperhatikannya, tak terkecuali Gavin. Lelaki itu duduk di kursi sayap kanan di barisan paling depan. Arunika menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
"Pergerakan acara akan sangat cepat karena keterbatasan waktu, jadi aku mohon pada kalian semua untuk tidak molor. Kalian sudah harus siap ketika aku memanggil kalian, kalau sampai telat, tahu 'kan apa yang akan terjadi?" Kalimat penuh ancaman itu Arunika keluarkan dengan sangat halus, membuat semuanya tertawa kecil.
"Acara akan dimulai sepuluh menit setelah jam istirahat kedua dimulai. Kalian akan dipanggil oleh para anggota OSIS dengan kitir dua puluh menit sebelum acara untuk persiapan. Sampai sini ada yang mau ditanyakan?" tanya Arunika dengan tegas dan dijawab gelengan pelan tanpa suara sehingga perempuan itu langsung beralih ke poin selanjutnya.
"MC akan membuka acara hanya dalam waktu dua menit, lalu band satu akan maju sebagai performers pertama dan diikuti oleh Whitney sebagai performers kedua. Perhatikan jamnya, ya," ucap Arunika sambil memandangi kertas di tangannya, sedangkan dua pihak yang dipanggil mengangguk paham.
"Setelah selesai, Gavin akan masuk dan memainkan ... Vin, kau benaran akan memainkan dua lagu, 'kan?" Arunika menghentikan kalimat pertamanya akibat teringat kalau Gavin belum mengkonfirmasi berapa lagu yang akan dimainkan. Jika dilihat dari catatannya, tertulis pria itu masih belum pasti. Netra coklat terang Arunika langsung mengarah pada Gavin yang menatapnya lekat sejak awal.
"Tidak jadi, aku hanya akan bermain satu lagu," jawab Gavin setelah beberapa saat terdiam, membuat Arunika sedikit mengerutkan dahinya.
"Kenapa berubah?"
"Karena performers lainnya hanya membawa satu lagu, jadi biar adil saja," balas lelaki itu dengan santai.
Arunika mengangguk paham lalu melanjutkan kalimatnya, "baiklah, Gavin akan memainkan satu lagu, durasinya tiga menit. Biar suasana saat Gavin bermain makin bagus, beberapa lampu akan dimatikan dan anggota OSIS akan mengajak murid untuk menyalakan flashlight handphone-nya." Sembari Arunika mengatakan hal tersebut, seluruh anggota OSIS yang ada di sana mengangguk, mengingat tugas kecil itu.
"Lalu setelah Gavin tampil, guru maupun murid diperbolehkan untuk menyanyi di panggung, band satu akan menjadi pengiringnya. Durasinya sekitar lima belas menit. Lalu, acara pun selesai, kita hanya perlu merapikan peralatan musik ataupun hal lainnya karena harus kembali kelas. Namun saat pulang sekolah, kita harus kembali mendatangi tempat ini dan membereskan seluruhnya. Paham? Ada yang mau ditanyakan?" Sesaat setelah Arunika mengatakan hal itu, ada satu orang pengisi acara yang Arunika kenal sebagai drummer dari band satu mengangkat tangannya.
"Sebenarnya ini bukan pertanyaanku, sih, tapi dia," ucap drummer itu sambil menunjuk pria yang duduk di sebelahnya, pria tersebut berposisikan sebagai gitaris di band. Gitaris itu berusaha menutup mulut temannya, seakan tak ingin temannya berbicara. Namun, Arunika tidak terlalu memedulikan itu dan mengangguk paham sambil memberikan tatapan lurus pada kelompok itu.
"Boleh tidak memainkan lagu yang kau sukai? Itu pertanyaannya." Pertanyaan itu langsung disahuti dengan teriakan goda oleh semua orang di sana, sedangkan si gitaris telah memukul keras temannya dengan semburat merah di pipinya. Arunika menelengkan kepalanya ke kanan penuh kebingungan.
"Tentu saja boleh, dong. Kenapa tidak? Lagi pula kau tahu apa lagu kesukaanku?" Respons itu cukup membuat beberapa anggota OSIS berteriak frustrasi dalam hati. Kode sudah sejelas itu tapi masih tidak tertangkap oleh otak pintar Arunika. Di sisi lain Arunika menatap teman seperjuangannya dengan wajah bingung serta menanyakan mengapa orang-orang tersebut membuat gestur tangan seakan kesal dengannya.
Di kursi sayap kanan baris paling depan sana, Gavin memperhatikan seluruh kejadian itu sehingga muncul perasaan tidak suka dalam hatinya. Ia pun melipat tangannya di depan dada dan kaki kanannya ditumpuk di atas kaki kirinya. Pandangannya secara datar mengarah pada si gitaris. Beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, yang penting tidak tertuju pada kejadian di sana.
"Her, kenapa Arunika selalu begini, ya? Padahal kodenya sudah jelas banget tapi dia masih tidak sadar," tanya Brianna dengan berbisik pada Hera di sebelahnya, mereka yang berdiri sekitar lima langkah dari Arunika.
Hera melirik Brianna lalu menaikkan kedua bahunya. "Entahlah. Dulu aku pernah bertanya tentang hal ini dan dia menjawab, dia lebih suka yang to-the point daripada yang kode-kode begini. Kalau tidak jelas, ya, akan di skip sama dia," balasnya dengan sambil berbisik juga.
"Tapi tidak semua orang bisa terus terang seperti yang diinginkannya," dalih Brianna yang membuat Hera kembali menaikkan kedua bahunya. Kemudian Hera tak sengaja menolehkan kepalanya pada area duduk sayap kanan, tempat di mana Gavin duduk. Matanya bisa menangkap bagaimana gaya duduk serta pandangannya yang sangat terlihat tidak ingin memandangi Arunika yang mendapatkan kode keras dari salah satu anggota band sekolah. Ia pun tertawa dalam hati.
"Sepertinya ada yang cemburu, ya," gumam Hera. Namun gumaman itu dapat didengar oleh Brianna.
"Siapa yang cemburu?" Hera sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu, ia menolehkan kepalanya pada Brianna lalu menggeleng.
"Guys, ayo kita mulai check sound-nya, band satu siap-siap sekarang, ya." Untungnya perkataan Arunika itu menghentikan Brianna untuk bertanya lebih lanjut, membebaskan Hera dari pertanyaan-pertanyaan akibat suaranya yang terlalu keras. Dua perempuan itu pun berjalan mendekati Arunika dan mereka membicarakan pekerjaannya.
Setelah bersiap sekitar lima menit, band satu mulai memainkan alat-alat musiknya, dengan satu vokalis berdiri di tengah panggung. Para pengisi acara lainnya menjadi penonton, begitu juga dengan Gavin. Lelaki itu bisa melihat Arunika yang berdiri di bawah panggung berhadapan dengan vokalis band yang sedang bernyanyi. Jujur, Gavin merasa terganggu dengan tatapan vokalis tersebut. Untungnya momen itu tak berlangsung lama.
"Oke, performance kalian sudah bagus, kok. Tapi menurutku, suara drumnya terlalu mendominasi sehingga suara alat musik lain dan vokalisnya jadi tidak terdengar. Kira-kira ada solusi tidak, ya?" ucap Arunika mengevaluasi penampilan band tersebut. Mereka yang ada di panggung terdiam.
Melihat tidak ada keinginan untuk merespons, Arunika pun mendongakkan kepalanya ke lantai dua hall yang dijadikan sebagai tempat teknisi audio, lampu, dan layar proyektor. "Audio, kira-kira suara dari drum bisa dikecilkan tidak, ya?" tanya Arunika dengan suara yang sangat keras agar bisa terdengar oleh mereka di lantai dua.
"Akan kita coba," balas dari salah satu staf audio, Arunika mengangguk paham.
"Kalau begitu kalian bisa turun sekarang. Whitney, ayo, naik," pinta Arunika sambil menatap Whitney—murid kelas sepuluh yang dikenal akan suara emasnya. Gadis berumur empat belas tahun itu pun menuruti perkataan sang ketua OSIS.
Gladi bersih dari penyanyi tersebut berjalan dengan lancar, tidak ada kendala sehingga Arunika tidak memiliki komentar. Kemudian sampailah giliran Gavin untuk gladi bersih. Arunika menoleh sedikit ke belakang untuk menatap pria yang telah berdiri dari duduknya. Dua pasang netra itu bertemu dan bertatapan selama beberapa detik, kemudian Arunika menggerakkan alisnya, seakan mengatakan pada Gavin untuk segera naik ke panggung. Gavin tak memberikan jawaban apa pun, namun ia tetap menuruti permintaannya.
Gavin berjalan menuju ke atas panggung dan duduk di depan grand piano yang terletak di area samping kanan panggung. Di bawah panggung sana, Arunika penasaran setengah mati dengan piece yang akan dibawakan oleh lelaki itu. Karena beberapa hari terakhir ini mereka berjauhan, Arunika menjadi tidak berani untuk bertanya. Arunika memperhatikan Gavin yang sudah siap untuk menekan tuts pertamanya dengan saksama.
Tak lama setelah itu, Gavin dengan lihai memainkan piece pilihannya, yang tak lain dan tak bukan adalah piece yang membuatnya sadar akan perasaannya pada Arunika. Arunika terdiam melihatnya, begitu juga dengan seluruh penonton di sana. Mereka semua terhanyut dalam permainan penuh perasaan Gavin. Entah kenapa, para pengurus OSIS yang telah mendengarkan penampilan Gavin beberapa hari lalu merasa permainan Gavin hari ini lebih dalam dari hari sebelumnya, seakan pria itu benar-benar mencurahkan seluruh perasannya di sana.
Arunika masih terdiam dengan pandangan dalam pada pianis itu. Tentu ia juga merasakan apa yang teman seorganisasinya rasakan. Namun karena perasaan yang Gavin berikan dalam permainannya makin dalam, perasaan yang Arunika rasakan saat Gavin beberapa hari lalu memainkannya menjadi makin jelas. Jatuh cinta yang diikuti oleh kelegaan. Muncul sebuah pertanyaan dalam diri Arunika, apakah Gavin benar-benar sedang jatuh cinta sekarang? Apakah karena itu Gavin menghindarinya beberapa hari terakhir ini? Artinya, Gavin berusaha menjaga perasaan orang tersebut?
Arunika mengembuskan napasnya berat, entah kenapa Arunika merasa tidak senang dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hera yang duduk di sebelahnya tersenyum tipis.
Tanpa sadar tiga menit telah berlalu, seharusnya piece tersebut tidak berdurasi sependek ini, namun Gavin telah menyingkatnya agar tidak memakan waktu lama. Sehabis Gavin menekan tuts terakhirnya, tangannya terangkat tinggi dengan mata yang awalnya terpejam dibuka secara perlahan. Tepuk tangan ia dapatkan dari seluruh pasang tangan di ruangan itu. Gavin menurunkan tangannya lalu mengembuskan napas pelan, kemudian menatap Arunika di bawah sana.
Beberapa detik dilalui dengan keheningan, Arunika masih terus menatapi Gavin yang mulai kebingungan, sampai akhirnya Hera menyenggol pelan lengan itu. Nyatanya Arunika tidak melamun—seperti perkiraan Hera, perempuan itu sadar seratus persen sejak awal Gavin bermain. Tiba-tiba Arunika berdiri dari duduknya, membuat Hera dan Gavin sedikit terkejut.
Tanpa mengatakan apa pun, Arunika meletakkan kertas berisikan rundown acara itu di atas kursi. Setelahnya ia menatap Gavin dan berjalan menaiki panggung dan terus melangkah menuju backstage. "Vin, sini sebentar, aku mau mengobrol," suruh Arunika dengan nada datar. Gavin dan yang lainnya bingung, mengapa perempuan tersebut bersikap begini secara tiba-tiba?
Gavin menatap Hera, bertanya melalui matanya. Namun Hera menaikkan kedua bahunya dan membuat gestur dengan dagunya seakan menyuruh Gavin untuk menuruti perintah perempuan itu. Merasa tak memiliki pilihan lain, Gavin pun akhirnya menyusul Arunika yang sudah berada di backstage. Baru saja kedua kaki Gavin menapaki area backstage, tubuhnya ditarik dengan kasar oleh Arunika yang telah menungguinya di balik tembok. Karena belum siap dengan serangan itu, Gavin tidak bisa melawan dan akhirnya hanya bisa mengikuti keinginan Arunika.
Dengan seluruh tenaganya, Arunika membalik posisi berdiri mereka sehingga Gavin berada di posisi Arunika sebelumnya, terpojokkan ke tembok, sedangkan Arunika langsung mengunci pergerakan pria itu dengan meletakkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan tubuh Gavin. Gavin terkejut melihat tingkah tanpa aba-aba itu sehingga ia tanpa sadar makin menempelkan punggungnya ke tembok, berusaha memberikan jarak antaranya dan Arunika. Jika kalian bertanya bagaimana kondisi jantungnya sekarang, maka satu kata ini akan menjelaskan semuanya, kacau.
"Run ... ada ... apa?" tanya Gavin dengan suara terbata-bata. Ini pertama kalinya Gavin merasa harus memberikan upaya lebih untuk berbicara. Di sisi lain, Arunika terus memberikan tatapan tajamnya.
"Semakin lama aku memikirkannya, semakin kesal aku dibuatnya. Jadi, mari kita to-the point saja. Kenapa kau menghindariku tiga hari terakhir ini?"
...⁕⁕⁕...