RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 36: TERTOLAK



"Aku menyukaimu." Tanpa basa-basi yang tak jelas, Archie langsung menyatakan maksudnya memanggil Arunika untuk datang ke tempat tersebut. Namun tidak ada reaksi dari Arunika, perempuan itu masih diam sejak pertanyaan terakhir yang dilontarkannya tadi.


Melihat keterdiaman perempuan itu, Archie mendengus sambil tersenyum. "Kenapa? Kau mengharapkan orang lain, ya? Kau tidak menduga diriku yang berdiri di depanmu sekarang?" tanya lelaki itu dengan masih mempertahankan senyumnya.


Akhirnya Arunika bereaksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan gelengan pelan. "Aku tidak memiliki dugaan apa pun sebelum datang ke sini, hanya penasaran saja," balasnya dengan santai.


"Lalu? Apakah kau terkejut? Sekarang aku sedang mengikuti saran seseorang yang berkata untuk terus terang saja jika menyukai seseorang dan jangan mengganggu orang lain." Archie menekankan kata 'seseorang' yang pertama. Arunika tahu pria di depannya ini menyinggung Gavin.


"Baguslah kau mengikuti saran seseorang itu, artinya kau sadar tindakanmu sudah membuat orang lain tidak nyaman." Arunika pun ikut menekankan kata 'seseorang', menunjukkan ia mengerti siapa yang dibicarakan. Archie terdiam mendengar itu, Arunika benar-benar berpihak pada Gavin rupanya.


"Tapi maaf sekali, jika kau mengajakku berpacaran, aku tidak bisa," ucap Arunika to-the point karena ia tahu inilah hal yang menjadi topik pembicaraan mereka. Kalimat itu tentu membuat Archie menutup mulutnya selama beberapa saat. Perempuan di depannya ini memang benar-benar tegas sekali.


"Kenapa?" tanya Archie akhirnya. Jujur, ia tak paham mengapa Arunika sulit sekali didekati, padahal ia terkenal ramah dan supel. Ia pikir perempuan itu akan baper jika diberi sedikit saja perhatian dan rayuan, namun tidak, perkiraannya meleset.


Arunika memberikan tatapan datarnya pada Archie. "Aku tidak ada niatan untuk berpacaran." Dan jawaban itulah yang selalu Arunika berikan ketika diajak berpacaran. Memang ada orang yang berkomitmen seperti Arunika, namun apakah ia benar-benar tidak memiliki niatan itu selama masa remajanya? Apakah ia tidak pernah memiliki perasaan pada pria yang membuatnya merasa ingin sekali berpacaran?


"Kalau aku boleh jujur, aku tidak percaya dengan alasan itu," balas Archie yang membuat Arunika menaikkan kedua alisnya.


"Aku lebih percaya dengan alasan kau berpacaran dengan Gavin, makanya kau menolakku sekarang." Arunika memutar bola matanya lelah mendengar pernyataan itu. Kenapa orang-orang selalu mengatakan atau bertanya dirinya berpacaran dengan Gavin? Apakah interaksi mereka terlihat berbeda di mata orang-orang ini? Padahal Arunika merasa tidak ada yang salah.


"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak berpacaran dengan Gavin dan tidak memiliki perasaan padanya, dia hanyalah teman baikku, mengerti?" Meskipun mulut Arunika harus berbusa mengatakan hal ini, ia akan tetap melakukannya karena tidak ingin ada kesalahpahaman tentang hal sepele. Archie dapat melihat kesungguhan dalam setiap kata yang dikeluarkan oleh Arunika, bahkan ia dapat merasakan tidak adanya kebohongan di netra coklat terang itu sehingga ia tersenyum penuh kelegaan.


"Kalau begitu apakah aku boleh berusaha terlebih dulu?" Gelengan Arunika berikan sedetik setelah mendengar permohonan itu, membuat senyuman Archie memudar.


"Sekeras apa pun usahamu, aku tidak akan menyukaimu. Jadi, jangan membuang waktu dan tenagamu untuk hal yang sudah pasti tidak akan terwujud," jawab Arunika menohok hati Archie. Suatu bagian dari dirinya berdenyut nyeri dan ia merasa sesak. Apakah dirinya benar-benar tidak memiliki kesempatan?


Arunika dapat melihat raut wajah yang berubah sendu itu, namun inilah dia, dirinya akan berkata tidak jika memang dirinya tidak ingin. Ia tak senang memberikan harapan palsu pada orang lain karena ia tahu betapa sakitnya mengalami hal itu.


"Maaf sudah menyakiti hatimu, semoga kau bisa bertemu dan menyukai orang yang bisa menerima perasaanmu." Sehabis mengatakan itu, Arunika membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi meninggalkan Archie yang masih berdiri membeku. Gadis itu benar-benar menjauh tanpa sekali pun menatapnya, menunjukkan seberapa tegasnya penolakan itu.


"Jika sudah mendapatkan jawaban seperti itu darinya, kuharap kau menerimanya dengan lapang dada." Archie tersentak ketika mendengar suara berat dan dalam itu. Ia dengan cepat melihat ke area gudang yang berjarak sekitar sepuluh langkah di samping kanannya dan mendapati Gavin berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan dada.


"Sejak kapan kau di sana?" tanya Archie curiga.


Gavin mengetahui pertanyaan yang berputar di kepala Archie melalui tatapannya sehingga ia tersenyum tipis. "Iya, aku mendengarkan percakapan kalian," ucap Gavin yang makin membuat Archie terdiam.


"Jangan salah paham dulu, aku bukannya sengaja melakukan itu. Tadi aku tidak sengaja melihat Arunika berlari ke sini, jadi aku mengikutinya karena takut terjadi sesuatu. Tapi ternyata ia bertemu denganmu dan kau menyatakan perasaanmu padanya. Aku akan menganggap tidak mendengar percakapan itu," jelas Gavin sambil mendekatkan jaraknya dengan Archie.


Archie mendengus sambil tersenyum, lalu memberikan tatapan tajam pada Gavin. "Sepertinya kau sedang dalam keadaan hati yang baik sekali setelah mendengar percakapan kita. Pasti kau senang sekali melihat satu sainganmu berkurang," tuturnya sambil tersenyum bengis.


Meski Archie memberikan aura persaingan yang sangat kuat, Gavin tidak terpengaruh dan menanggapinya dengan santai. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai saingan, apa gunanya? Toh Arunika juga tidak akan menerima perasaanku." Dahi Archie mengerut dalam.


Gavin terkekeh melihat kebingungan di wajah Archie. "Kau tidak mendengar kalimat penjelasan yang sangat tegas itu? Arunika tidak menyukaiku dan hanya menganggapku sebagai teman baik. Jadi, kenapa kau harus merasa tersaingi olehku?" Penjelasan logis itu pun membuat Archie tertegun.


"Karena kau mempunyai banyak waktu untuk bersama dengannya. Meskipun sekarang dia bilang tidak memiliki perasaan padamu, kalian akan terus menghabiskan waktu bersama dan akan ada saatnya perasaan itu tumbuh dalam dirinya. Hati manusia itu selalu berubah," jelas Archie setelah beberapa saat terdiam.


"Aku setuju, hati manusia memang selalu berubah." Archie menatap Gavin bingung setelah pria itu menyetujui ucapannya sambil mengangguk.


"Tapi apa kau tahu bagaimana sifat Arunika?" tanya Gavin selanjutnya, yang membuat Archie menggeleng pelan. Meski dirinya menyukai perempuan itu dan telah memperhatikannya sejak lama, nyatanya Archie tidak pernah benar-benar mengetahui sifat aslinya karena tidak pernah dekat dengannya.


"Arunika itu kalau sudah memiliki komitmen, dia akan memegangnya dengan sangat kuat. Ketika dia sudah berkomitmen untuk tidak berpacaran, maka aku yang sudah memberikan banyak waktu dan usaha untuknya pun tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku memang tidak tahu bagaimana hatinya sekarang, tapi aku mengetahui komitmennya sehingga menghargai hal tersebut menjadi pilihan terbaikku," jelas Gavin dengan nada lembut. Tanpa sadar matanya pun ikut menyendu saat mengatakan hal tersebut dan Archie dalam melihatnya, seberapa besar perasaan lelaki itu pada Arunika.


Terjadi pertarungan batin dalam diri Archie. Satu sisi dirinya membenarkan perkataan Gavin dan menyadari kalau tingkah selama ini tidaklah baik, namun dirinya yang lain mengamuk mengatakan semua omongan Gavin hanyalah bualan dan Gavin melakukan hal itu untuk membuatnya menyerah. Bagaimana pun juga, lelaki di depannya ini juga menyukai Arunika dan pasti berharap bisa mendapatkan perempuan itu.


Melihat keterdiaman Archie, Gavin pun ikut terdiam. Ia tak mengetahui apa yang dipikirkan oleh pria tersebut, apakah perkataannya akan diterima dengan positif atau negatif. Namun yang pasti, Gavin telah mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Terserah kau ingin menerima perkataanku atau tidak. Hanya saja, aku berharap kau tidak mengganggu Arunika lagi karena dia sudah dengan jelas mengatakan isi hatinya," ujar Gavin mengakhiri percakapan singkat namun cukup menegangkan antaranya dan Archie. Sehabis itu, ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana dan membalikkan badannya, lalu berjalan pergi meninggalkan Archie yang masih bergulat dengan pikirannya sendiri.


Archie memandangi punggung lebar yang semakin lama semakin mengecil itu. Dengan tatapan yang sulit diartikan, Archie mengeratkan pegangannya pada hampers yang dipegangnya sejak awal. Ia akhirnya tak bisa memberikan barang itu karena Arunika yang benar-benar menolak dirinya.


"Omong kosong." Dan sepertinya kita sudah tahu sisi mana yang memenangkan pertarungan batin itu.


...⁕⁕⁕...