
"Tiga hari lalu, ayahku tiba-tiba berkata kita akan mengunjungi makam ibuku." Setelah hampir sekitar sepuluh menit terjadi keheningan di antara dua insan itu, sosok yang lebih tinggi berbicara dengan suara yang sangat kecil, nyaris seperti berbisik. Hanya Arunika yang bisa mendengarnya.
Tak ada perubahan pada posisi duduk mereka. Gavin masih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Arunika dan Arunika masih membiarkan lelaki itu mendekapnya sambil memberikan usapan-usapan lembut di punggungnya. Gadis tersebut memilih untuk diam dan mendengarkan keseluruhan cerita Gavin.
"Mungkin ini terdengar biasa bagimu, tapi bagiku, ini adalah rencana yang sangat tidak terduga. Kau tahu? Semenjak hari kepergian ibuku, ayahku hanya mengunjungi makamnya sebanyak empat kali dan hari ini menjadi kunjungan kelimanya," lanjut Gavin dengan suara sendu. Meski hanya diam, Arunika memahami perasaan terkejut lelaki itu. Ia rasa akan mengalami kekejutan yang sama jika keluarganya berkata akan mengunjungi makam neneknya, ketika mereka sudah bertahun lamanya tak mendatangi tempat tersebut.
"Ternyata alasan ayah mengajak kita pergi ke sana adalah karena ingin mengenalkan Rebecca dan Erlano pada ibuku." Arunika tidak tahu siapa itu Rebecca dan Erlano, ini pertama kalinya ia mendengar dua nama itu. Namun gadis itu tak bertanya karena merasa hal yang Gavin inginkan sekarang adalah didengarkan.
Arunika masih melakukan usapan lembut pada punggung lebar Gavin, tak sedetik pun ia berhenti. "Jujur, aku goyah mendengar perkataan ayahku saat di pemakaman tadi. Aku sempat berpikir, apakah memang ini saatnya move on dan tak lagi mempermasalahkan perilaku keluarga ini pada ibuku?" ujar Gavin setelah mengembuskan napas berat.
"Tapi di ruang makan tadi, sikap ayahku kembali berubah. Dia tiba-tiba memintaku untuk tidak lagi mengunjungi makam ibuku dengan alasan kepergiannya yang sudah sangat lama dan aku harus merelakannya agar ibuku bisa beristirahat dengan tenang." Akhirnya Arunika menemukan poin yang membuat Gavin bad mood seperti ini sehingga ia mengangguk-angguk kecil.
Gavin kembali mengembuskan napas berat sambil menjauhkan tubuhnya dari Arunika, mengakhiri pelukannya pada tubuh kecil itu. Arunika pun menatap lekat Gavin. "Aku paham kepergian ibuku memang sudah lama. Aku bukannya tidak bisa merelakannya, aku tidak terima kematiannya disebabkan oleh orang-orang tua itu. Kenapa ayahku berbicara seakan aku membuat ibuku tidak bisa beristirahat dengan tenang?" Setelah Gavin mengucapkan kalimat itu, Arunika secara perlahan menggenggam kedua tangan si lelaki dan memandang dalam netra biru kehijauan yang tak lazim dimiliki oleh orang Asia.
"Ayahku seperti tidak paham tentang segala perasaanku dan selalu bertindak seakan ibuku tidak pernah berada dalam hidupnya," ujar Gavin dengan kepala tertunduk. Arunika masih tidak memberikan respons, atau lebih tepatnya tidak tahu harus berkata apa.
Kepala Gavin kembali terangkat dan ia menatap dalam mata Arunika. "Mau mendengarkan sedikit cerita tentang ibuku?" tanya Gavin dengan lembut, ia sadar Arunika belum tahu secara mendalam tentang hidupnya. Muncul keinginan dalam hatinya untuk terbuka pada perempuan itu, meski ada juga sedikit ketakutan akan reaksi Arunika nantinya.
Awalnya Arunika terdiam, namun tak lama mengiakan dengan menganggukkan kepalanya. Kenapa? Entahlah, perempuan itu sendiri tak paham, ia hanya mengikuti hatinya. Melihat Arunika memberikan lampu hijau, Gavin pun tersenyum tipis.
Sebelum memulai ceritanya, Gavin mengembuskan napas pelan dengan mata terpejam. Ketika sepasang netra dengan warna tak lazim di kalangan orang Asia itu terbuka, kalimat pertama yang dilontarkan oleh Gavin malam membuat mata Arunika terbelalak.
"Ibuku adalah orang Indonesia." Bagaimana bisa Arunika tidak terkejut mendengar itu? Ia pikir Gavin sepenuhnya berdarah warga negara asing.
Gavin terkekeh melihat ekspresi kaget Arunika yang tampak lucu baginya. Untuk meyakinkan Arunika, Gavin mengangguk kepalanya, "Iya, ibuku merupakan orang Indonesia keturunan Tionghoa, lahir di Kalimantan Timur tahun 1974." Arunika membulatkan mulutnya kagum, tak pernah terpikirkan fakta seperti ini sebelumnya.
"Sama seperti keluargaku," gumam Arunika yang masih bisa didengar oleh Gavin. Gavin pun tersenyum sambil mengangguk. Menyadari ternyata Gavin mendengar gumamannya membuat Arunika tersenyum kecil. "Lalu?" tanya Arunika meminta Gavin melanjutkan ceritanya.
"Karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama, akhirnya mereka saling menyukai dan mencoba menjalin hubungan terlebih dahulu. Ayahku awalnya tidak memberitahu keluarganya karena yakin hubungan ini akan mendapat tentangan keras. Namun sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikannya, pasti akan ketahuan, 'kan?" Arunika mengangguk setuju.
"Hubungan mereka akhirnya ketahuan, tapi ayahku bersikeras mempertahankannya. Ibuku pun juga berusaha untuk mendapatkan hati mereka. Pada akhirnya, mereka menikah dengan sangat sederhana, yaitu pemberkatan gereja. Tidak ada pesta karena sebagian besar keluarga masih menentang kehadiran ibuku di antara mereka." Gavin mengembuskan napas pelan sambil mengubah posisi duduknya menjadi ke arah depan dengan kaki yang ia regangkan.
"Setelah menikah, para tetua, orang-orang tua yang menganggap dirinya berkuasa atas setiap anggota keluarga Kanagara, menekan ibuku untuk berhenti bekerja sebagai presenter TV dengan dalih ingin mempertahankan kerahasiaan identitas Kanagara." Arunika memahami maksud perkataan itu karena Keluarga Kanagara memang dikenal sangat privat dan sulit diketahui identitas para anggotanya, kecuali jika mereka memperkenalkan diri ke publik umum.
"Ibuku sangat mencintai pekerjaannya, namun demi mempertahankan pernikahannya, ia memutuskan untuk berhenti dan sepenuhnya berperan sebagai nyonya rumah. Tak lama setelah ibuku melepas pekerjaannya, para tetua kembali menekannya untuk melahirkan seorang penerus lelaki, lagi-lagi ibuku hanya bisa menurut. Lalu lahirlah aku." Satu hal yang Arunika sadari selama Gavin bercerita. Nyatanya keluarganya dan Gavin sama-sama konservatif dan kolot. Ia pikir Keluarga Kanagara sama seperti keluarga-keluarga modern pada umumnya.
"Ibuku tidak pernah bercerita tentang perasaannya, tapi aku bisa melihat matanya yang selalu sendu setiap menonton berita. Aku sering diam-diam melihatnya berdiri diam di balkon kamar dengan pandangan kosong. Tak jarang juga terdengar suara teriakan penuh emosi dari kamar orang tuaku yang berakhir dengan suara tangisan penuh pilu. Kadang aku berpikir, kenapa ibuku bersedia bertahan selama itu di keluarga ini?" Pertanyaan keluar sebagai akhir dari cerita itu. Gavin mengusap pelan ujung matanya yang terasa berair dengan kepala tertunduk. Ia tak ingin Arunika melihatnya menangis.
"Karena dia memikirkanmu," jawaban spontan Arunika berikan sebagai balasan atas pertanyaan tersebut, membuat Gavin mengalihkan pandangan yang awalnya pada rumput-rumput kecil di depannya menjadi ke arah Arunika.
"Iya, ibumu bertahan karena memikirkanmu. Ia tak ingin kau sedih akan kepergiannya dari rumah. Ia tak mau kau sendirian di rumah setiap pulang sekolah, makan sendirian, dan tidur tanpa mendengar dongeng kesukaanmu. Mungkin ia masih ingin melihatmu bertumbuh menjadi pianis cilik yang luar biasa," lanjut Arunika yang membuat Gavin makin terdiam. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum miris, membuat si perempuan bingung.
"Dan sepertinya alasan-alasan itu tidak bisa membuatnya bertahan dalam waktu lama, ya." Arunika mengerutkan dahinya mendengar itu. Apa maksudnya?
"Ibuku bunuh diri di saat usiaku enam tahun, Run. Di kamar tidurnya, dengan obat pereda cemas yang entah sejak kapan dimilikinya."
Setelah itu, Arunika benar-benar terdiam, tak tahu bagaimana harus menanggapi balasan itu, sedangkan Gavin hanya bisa tersenyum tipis.
...⁕⁕⁕...