RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 35: SURAT ANONIM



Sejujurnya muncul perasaan tidak suka dalam hati Gavin setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Hera. Ya, tentu saja begitu, siapa yang suka melihat crush-nya secara terang-terangan menjadi gebetan orang lain juga? Tapi mau bagaimana lagi, Gavin hanya bisa menerima karena sadar Arunika memang setenar itu di kalangan murid laki-laki. Berulang kali ia mendengarkan pujian dilontarkan pada perempuan itu ketika ia dan Arunika berjalan bersama. Inilah sulitnya menyukai orang terkenal.


Melihat perubahan raut wajah Gavin yang menjadi lebih murung, Hera, Maverick, dan Floyd memutuskan untuk berhenti menjahilinya. Kemudian muncul satu ide dalam kepala Maverick. Ia menatap Gavin dan Floyd secara bergantian, namun keduanya bingung dengan maksud tatapan tersebut.


"Gavin juga dapat banyak hadiah, loh, padahal dia baru sekitar satu bulan di sini." Ternyata Maverick melakukan trik yang sama seperti Hera untuk melihat bagaimana reaksi dari Arunika. Hera membulatkan mulutnya dan menatap Maverick seakan mengatakan, apakah benaran yang kau katakan itu? Maverick menjawabnya dengan anggukan kecil. Floyd telah menahan tawanya, sedangkan Gavin mengembuskan napas berat.


Setelah itu, mereka semua menatap Arunika yang masih diam sejak Maverick menuturkan kalimat tersebut. Gavin sebenarnya diam-diam juga penasaran bagaimana reaksi perempuan yang disukainya itu. Perempuan yang dilihati menaikkan kedua alisnya sambil mengunyah satu kotak kecil coklat di tangannya.


"Sudah pasti, dong? Gavin 'kan dari awal sudah terkenal, berita kedatangannya saja menggemparkan sekolah ini," komentar Arunika dengan santainya, sedangkan semuanya terdiam mendengar itu. Lama-lama muncul perasaan ragu dalam hati Hera, apakah temannya ini benar-benar tidak sedikitpun memiliki perasaan pada Gavin? Apakah Gavin benar-benar terjebak dalam friendzone? Maverick dan Floyd memejamkan mata dan menepuk jidat dalam hati, sedangkan Gavin hanya tersenyum tipis.


Beberapa saat kemudian Gavin menatap Hera, Maverick, dan Floyd, lalu menggeleng pelan, meminta mereka untuk berhenti. Ia tahu maksud dari ketiga temannya ini ingin membantunya, Gavin berterima kasih untuk hal itu. Namun, Gavin juga tidak suka memaksakan perasaannya pada orang lain. Jadi, jika Arunika memang benar-benar tak memiliki perasaan terhadapnya, maka Gavin akan menghargainya dan lebih memilih mempertahankan hubungan persahabatan mereka.


Arunika menatap jam dinding yang terpasang di kelasnya, kemudian bertanya, "kalian tidak kembali ke kelas? Bel masuk sebentar lagi berbunyi." Sontak Gavin melihat jam yang melingkar di tangannya, sedangkan tiga lainnya menatap objek yang sama seperti Arunika.


"Benar, kita harus kembali ke kelas sekarang, jam mata pelajaran pertama kita hari ini adalah geografi, gurunya sangat disiplin tentang waktu," ujar Floyd membenarkan perkataan Arunika, sedangkan Gavin dan Maverick mengangguk. Sehabis mengucapkan itu, ketiga murid lelaki itu pun berpamitan dengan dua perempuan di sana dan berjalan pergi meninggalkan kelas sebelas IPA dua.


"Aku benar-benar terkejut melihat kadar ketidakpekaan Arunika yang sangat tinggi," ucap Maverick entah pada siapa. Ia mengutarakan kekejutannya itu sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala.


Floyd melirik sebentar pada Maverick yang berjalan di sampingnya, lalu menimpali, "Arunika itu peka terhadap perasaan satu individu dengan individu lain, contohnya ... kau ingat kejadian kakak kelas kita yang menembak di lapangan?" Maverick mengangguk.


"Kejadian itu terjadi karena Arunika yang terang-terang bilang pada kakak kelas itu kalau perempuan yang disukainya membalas perasaannya, makanya dia akhirnya berani mengambil tindakan," lanjut Floyd sambil melirik ke arah Gavin, ingin melihat bagaimana respons dari temannya itu. Gavin menyadari lirikan itu sehingga ia membalasnya dengan menaikkan kedua alisnya, bertanya mengapa Floyd melihatinya. Floyd pun menggeleng pelan.


"Tapi, Arunika tidak peka terhadap perasaan yang diberikan untuknya, seperti Gavin sekarang," ujar Maverick seakan mengetahui apa yang akan dikatakan Floyd selanjutnya. Floyd mengangguk membenarkan.


"Tapi kenapa Arunika bisa sadar tentang perasaannya Archie?" tanya Maverick lagi.


"Tentu saja karena Archie tidak pernah berniat menyembunyikannya, dia sejak awal secara jelas menunjukkan kalau dirinya menyukai Arunika," balas Floyd yang membuat Maverick mengangguk paham.


Ketika Maverick dan Floyd sibuk berdiskusi tentang ketidakpekaan Arunika, Gavin sejak awal hanya menyimak pembicaraan kedua temannya dan membenarkan seluruh percakapan itu dalam hati.


Di sisi lain, setelah kepergian Gavin, Maverick, dan Floyd, Arunika kembali duduk di bangkunya dan melanjutkan kegiatan membaca surat dari para anonim itu. Setelah membaca satu, ia memasukkannya lagi ke amplop dan membuka surat baru, lalu membacanya lagi, terus begitu sampai akhirnya ia membaca satu surat yang berbeda dari lainnya.


Jika surat-surat sebelumnya berisikan ungkapan perasaan atau kekaguman, maka surat ini meminta Arunika untuk bertemu di halaman belakang sekolah saat jam istirahat pertama. Arunika membolak-balikkan kertas tersebut untuk mencari siapa pengirimnya, namun nihil.


Gadis itu pun menggeleng pelan, "Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu apakah ada lanjutan di suratnya ini," jawabnya santai. Hera pun mengangguk paham lalu kembali fokus pada ponsel pintarnya, sedangkan Arunika menatap sebentar surat tersebut lalu memasukkannya ke dalam kantong roknya.


Jam istirahat pertama akhirnya datang. Setelah guru pergi meninggalkan kelas, Arunika dan Hera dengan cepat berjalan menuju ruang OSIS. Sesampainya di sana, mereka bisa melihat beberapa anggota OSIS telah menunggu di depan ruangan. Arunika dengan cepat membuka ruangan itu dengan kunci yang ia pegang sejak pagi dan semuanya pun masuk ke dalam ruangan.


"Sesuai dengan hasil diskusi kita kemarin, yang bertugas mengirim hampers tolong segera bergerak. Setelah mengirim, pastikan penerimanya sudah benar, baru mengirim lagi untuk orang selanjutnya," peringat Arunika yang dibalas anggukan ataupun jawaban 'oke' dari para anggotanya.


Sebelum anggota pengirim hampers benar-benar keluar dari ruang OSIS, Arunika akan mengecek nama-nama penerima barang tersebut dan menyesuaikannya dengan daftar yang ada di tangannya. Jika sesuai, maka akan dicoret olehnya. Sembari mengecek, Arunika sesekali berkomunikasi dengan anggota OSIS yang berada di hall untuk mulai menyiapkan peralatan maupun perlengkapan untuk acara live music nanti. Setelah memastikan kelompok tersebut aman, Arunika juga mengecek tim yang mengurus konten Unspoken Word di media sosial dan untungnya tak ada masalah. Arunika pun mengembuskan napas lega, sepertinya kegiatan kali ini dapat diselesaikan dengan lancar.


Waktu istirahat tersisa tujuh menit dan untungnya seluruh hampers telah selesai dikirim ke penerimanya, Arunika dan para anggota yang bertugas tersenyum penuh kelegaan. Tim yang bertugas mengurus kegiatan Unspoken Word juga akan selesai ketika jam istirahat berhenti dan tim pengurus live music juga telah menyelesaikan tugasnya. Saat-saat ini merupakan waktu yang melelahkan namun juga menyenangkan bagi seluruh anggota OSIS.


Sekarang Arunika terduduk di salah satu kursi di ruangan OSIS. Ia menyenderkan punggung kecilnya di kepala kursi dan memejamkan matanya. Tak lama, Arunika teringat satu hal yang ia lupakan sejak awal istirahat karena terfokus pada kegiatan OSIS, surat anonim itu. Mata Arunika langsung terbuka lebar dan ia menatap jam dinding ruangan. Istirahat akan berakhir dalam lima menit.


Tanpa babibu, Arunika langsung beranjak dari duduknya dan berpamitan secara terburu-buru pada anggota OSIS lainnya, termasuk Hera.


"Run! Mau ke mana? Tidak istirahat?" tanya Hera dengan sedikit berteriak karena sosok Arunika yang mulai menjauh dari pandangan. Namun ia tak mendapat jawaban dari perempuan itu. Hera hanya bisa memberikan wajah kebingungannya sembari menatap punggung Arunika yang semakin lama semakin mengecil.


Karena keterbatasan waktu, mau tidak mau Arunika harus berlari agar bisa bertemu dengan si anonim itu. Jujur saja, Arunika sangat penasaran sekarang sehingga ia tak bisa menahan langkahnya untuk sedikit lebih santai.


Halaman belakang sekolah hanya diisi dengan dua gudang penyimpan barang-barang lama sekolah yang tak akan dipakai lagi sehingga bisa dibilang area ini cukup sepi. Namun kesepian itu dianggap sebagai keuntungan bagi beberapa oknum karena bisa dijadikan sebagai tempat bersembunyi ketika ingin bolos, atau juga ketika ingin mengalami hal yang sama seperti Arunika. Bertemu dengan tidak ada satu pun orang yang tahu.


Sesampainya di sana, Arunika menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari satu eksistensi yang katanya ingin bertemu dengannya.


"Halo? Apakah ada orang di sini?" tanya Arunika dengan suara sedikit keras, mencoba memberitahukan orang tersebut bahwa dirinya telah datang.


Tak lama, muncul satu orang dari balik pohon besar yang jaraknya tak jauh dari Arunika. Awalnya Arunika melihat sosok itu samar-samar, namun ia akhirnya secara perlahan dapat melihat jelas wujud orang itu. Setelah Arunika dapat dengan sepenuhnya menangkap eksistensi orang tersebut, ia berdiri diam di tempatnya, sedangkan sosok tersebut tersenyum penuh kegembiraan di wajahnya.


"Kupikir kau tidak akan datang ke sini, Arunika. Jujur aku sempat hopeless tadi," ucap sosok itu sambil mengeratkan genggamannya pada barang di tangannya. Arunika sangat mengenal barang itu ... karena dirinyalah, atau mungkin lebih tepat timnyalah, yang membuat barang tersebut. Iya, hampers buatan OSIS yang beberapa menit lalu selesai didistribusikan ke pemesan ataupun penerimanya.


"Jadi, surat itu darimu, ya, Archie?"


...⁕⁕⁕...