RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 19: GOSIP



Gadis berambut kuda itu berjalan menyusuri koridor dengan wajah berseri. Ia beberapa kali menyapa murid yang dikenalnya dan membalas sapaan dari murid yang mengenalnya. Sesuai dengan motonya, hari Senin harus disambut dengan cerah agar hari-hari selanjutnya bisa berjalan dengan cerah juga. Ya, siapa lagi manusia yang memiliki moto seperti itu selain Arunika? Selain itu, ada faktor lain yang membuat tampangnya makin penuh senyuman. Akhirnya setelah satu minggu yang menyengsarakan itu, Arunika kembali mendapatkan jam tidur penuhnya. Tak lagi terbangun di jam tiga pagi akibat mimpi sialan itu, semua berkat konsultasinya dengan sang psikiater dan mungkin karena ia menghabiskan akhir minggunya dengan baik—bersama Gavin. Saking fokusnya terhadap kesenangan bisa kembali tidur delapan jam sehari, Arunika sampai tak menyadari bisikan-bisikan dari para murid setiap dirinya melangkah.


Jika Arunika menyambut minggu barunya dengan senyuman semringah, maka tidak dengan Gavin yang memberikan wajah 180 derajat dari Arunika. Lelaki itu menginjakkan kakinya di sekolah dengan cuaca hati yang cukup buruk akibat tidak bisa memakan sarapan favoritnya, sereal, karena kehabisan stok. Pelayan yang biasanya bertugas mencatat serta membeli bahan-bahan makanan setiap bulannya sakit sehingga digantikan oleh pelayan lain. Namun, pelayan yang sakit itu lupa mengatakan pada temannya, sereal harus selalu masuk dalam daftar pembelian bulanan sehingga akhirnya pagi tadi stok sereal kesukaan Gavin habis dan ia tidak bisa memakannya. Bagi Gavin, sereal sangat penting dalam memulai harinya.


Sudah suasana hatinya berantakan karena tidak bisa sarapan sereal, sepasang telinga Gavin sejak tadi bergoyang kecil akibat mendengar namanya disebutkan dalam bisikan-bisikan para siswa di sepanjang koridor. Gavin mengembuskan napas kasar dan berjalan cepat menuju kelas, dirinya tak tahan lagi.


"Yo, Gavin! How was your Monday morning?" sapa Maverick saat melihat Gavin berjalan memasuki kelas, sebelum sadar wajah masam pria itu. Floyd terlebih dulu menyadari ekspresi tak biasa itu sehingga ia menyenggol pelan tangan Maverick—Maverick memang tidak sekelas dengan Gavin dan Floyd, tapi dia suka datang ke kelas mereka.


"Bad. Very bad," jawab Gavin sambil melempar pelan tasnya ke meja, kemudian duduk di kursinya dan meletakkan kepalanya di atas tas dengan tatapan mengarah jendela.


"Kenapa?" tanya Floyd. Meski baru berteman selama dua minggu, pertama kalinya Floyd melihat Gavin menunjukkan suasana hatinya secara terang-terangan. Jadi, ia berpikir pria itu benar-benar mengalami hal yang sangat menyebalkan.


"Aku tidak bisa memakan sereal kesukaanku pagi ini karena kehabisan stok," jawab Gavin dengan suara seperti baru saja kehilangan seluruh uang tabungannya. Floyd dan Maverick saling bertatapan, lalu berusaha menahan tawa mereka. Mereka melihat sisi serta fakta baru Gavin hari ini, yang ternyata sangat menyukai sereal.


Maverick pun menepuk-nepuk pundak Gavin sambil terus berusaha agar tawanya tidak bocor, sedangkan Floyd sudah berhasil menghilangkan tawanya dan mengusap pelan rambut milk chocolate Gavin.


"Tidak apa, Vin. Pasti besok sudah ada lagi sereal kesayanganmu," ucap Maverick berusaha menenangkan wajah cemberut itu. Kalimat penenang itu nyatanya malah membuat Gavin membenamkan seluruh wajahnya di atas tas. Floyd langsung menatap tajam pada Maverick, sedangkan yang ditatapi menggeleng panik dengan kedua tangan yang ia silangkan menjadi huruf X di depan dada. Floyd pun kembali menyadari kalau sepertinya ada hal lain yang membuat mood-nya makin jelek.


"Vin, ada masalah lain selain sereal, ya?" tanya Floyd menebak. Tak ada jawaban dari Gavin selama beberapa detik, sebelum akhirnya kepala itu mengangguk pelan.


"Telingaku dari tadi gatal karena sejak tadi namaku disebut terus dalam bisikan mereka," gumam Gavin dengan suara teredam, namun masih bisa didengar oleh kedua temannya. Keduanya terdiam sebentar saling bertatapan, lalu Maverick menyadari sesuatu sehingga ia menggerakkan bibirnya tanpa suara pada Floyd.


Floyd memicingkan matanya untuk membaca gerakan bibir itu dan ia mendapatkan satu kata, Arunika. Barulah ia paham kenapa Gavin yang sudah bad mood menjadi makin bad mood lagi.


"Kau sudah mendengar gosipnya, ya? Tentang dirimu dan Arunika?" Tebak Floyd lagi. Bad mood Gavin ini benar-benar sesuatu bagi Floyd dan Maverick, terlihat seperti anak yang merajuk karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Dan sekarang mereka berdua terlihat seperti orang dewasa yang berusaha untuk membuatnya berhenti merajuk.


Di sisi lain, Gavin yang masih dalam posisi sama merasa bingung, jadi dari tadi telinganya berdengung karena muncul gosip tentang dirinya dan Arunika? Ia pun mengangkat kepalanya, membuat Floyd melepaskan pegangan tangannya di rambut sang teman.


"Gosip tentangku dan Arunika? Tentang apa?" tanya Gavin bingung pada kedua temannya. Melihat kebingungan yang tak dibuat-buat itu, dua pria lain di sana itu menduga kalau Gavin belum tahu sama sekali.


"Sebenarnya ini informasi yang disebarkan dari mulut ke mulut, aku pun tahu karena anak ini yang memberitahu," tutur Floyd sambil menunjuk Maverick ketika mengatakan kata 'anak ini'. Maverick memukul pelan jari itu, membuat Floyd melotot padanya.


"Menurut gosipnya, kau berpacaran dengan Arunika karena ada satu anak sekolah, dari kelas dua IPA sepertinya, yang melihatmu dan Arunika berjalan bersama di area CFD kemarin. Ia bahkan bisa menjelaskan pakaian yang kalian pakai, Arunika menggunakan kaos merah, cargo pants putih, sepatu warna hitam-putih, dan topi hitam. Lalu kau memakai baju berlengan panjang warna hijau tua, celana panjang putih gading, dan sepatu putih," lanjut Maverick yang membuat Gavin terdiam. Semua deskripsi pakaian itu benar, dari atas sampai bawah. Melihat Gavin yang tak mengelak, Maverick dan Floyd pun sadar kalau sepertinya ada bagian dari gosip itu yang benar.


"Jadi, bagian mana dari gosip yang benar?" tanya Floyd yang membuat lamunan Gavin buyar.


"Tapi tentu saja kita tidak berpacaran. Ayolah, kita baru berkenalan dua minggu lalu," lanjut Gavin dengan wajah lelah. Kenapa orang-orang ini bisa beranggapan manusia bisa berpacaran setelah empat belas hari berkenalan? Ya, mungkin memang ada yang seperti itu, tapi tidak dalam kasus Gavin.


Maverick dan Floyd dengan cepat mempercayai hal itu karena mereka melihat Gavin sebagai sosok yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Karena itulah mereka tidak terlalu memedulikan gosip itu.


"Lalu, bagaimana bisa kau bersama Arunika kemarin?" tanya Maverick santai.


Gavin terdiam sebentar lalu menjawab, "kita bertemu di makam." Sontak Maverick dan Floyd berteriak bingung dengan suara beratnya, membuat seluruh atensi kelas tertuju pada mereka. Namun tak lama murid kelas mengabaikannya, sedangkan kedua pemuda itu masih tak habis pikir dengan jawaban Gavin.


"Dari sekian banyak tempat, kenapa harus makam?" timpal Maverick sambil menggaruk pelan kepalanya. Gavin tertawa melihat reaksi itu.


"Kita juga tidak menduga bisa bertemu di makam, dari sekian banyaknya tempat. Tapi Arunika datang ke sana untuk memperingati kematian neneknya lima tahun lalu, sedangkan aku hanya ingin melepas rindu dengan kerabatku yang meninggal sepuluh tahun lalu." Tentu Gavin tidak bisa menjelaskan secara gamblang tentang ibunya sehingga ia sedikit merubah sebutannya.


"Kerabat?" tanya Floyd ketika mendengar kata yang menjanggal. Bukannya Gavin selama ini tinggal di Jerman dan Inggris?


Gavin membulatkan mulutnya dengan ekspresi seakan baru menyadari sesuatu, kemudian ia mengusap pelan tengkuknya. "Aku lupa memberitahu kalian, sebenarnya aku juga punya darah Indonesia, berasal dari kerabat yang sudah meninggal itu. Hanya saja memang darah Jermannya lebih kuat sehingga fisikku cenderungnya ke sana." Lagi-lagi Maverick dan Floyd berteriak terkejut.


"Jadi kau sebenarnya keturunan Indonesia juga?" Gavin mengangguk mendengar pertanyaan dari Maverick yang memastikan.


"Aku juga sebenarnya diajarkan banyak kata bahasa Indonesia oleh kerabatku itu, namun setelah ia meninggal, tidak ada lagi yang bisa mengajariku sehingga aku melupakannya. Dan mungkin karena sudah familier dengan bahasa Indonesia sejak kecil, waktu belajarku sekarang menjadi cukup cepat." Jelas Gavin lagi yang membuat kedua temannya mengangguk paham.


Maverick dan Floyd menjadi penasaran tentang hal-hal mengenai Gavin yang mungkin tak mereka ketahui. Gavin pun hanya bisa menjawab, selama tidak menyinggung ibunya ataupun kondisi keluarganya. Jadi, mari kita biarkan ketiga pemuda itu dan beralih pada Arunika yang baru saja mengetahui gosip tentang dirinya dengan Gavin, namun dengan tanggapan yang lebih santai.


"Hebat juga anak itu, bisa mengingat baju yang kita pakai dari atas sampai bawah, aku bahkan mulai lupa kemarin memakai baju apa," kagum Arunika, yang malah membuat Hera keheranan. Kenapa temannya ini santai sekali?


"Kenapa kau malah fokusnya ke sana?" tanya Hera sambil memukul pelan lengan kanan Arunika yang bertengger di kepala kursi—Arunika duduk di barisan samping tembok kelas dekat jendela dan sekarang posisi duduknya menyamping dengan punggung menempel tembok.


"Kenapa juga aku harus memusingkan gosip itu? Toh tidak benar juga. Aku dan Gavin tidak sengaja bertemu di pemakaman karena aku mengunjungi nenekku dan ia mengunjungi kerabatnya. Lalu aku, awalnya dia sebenarnya, mengajak sarapan. Kemudian aku membawanya keliling kota karena dia belum sama sekali mengamati kota ini dan aku dipulangkan olehnya. Sudah begitu saja kemarin." Akhirnya Arunika menjelaskan kegiatannya kemarin secara singkat, membuat Hera mengangguk paham.


"Tidak ada yang spesial dari perjalanan kemarin?" Pancing Hera sambil menaikkan kedua alisnya. Arunika yang mendengar itu terdiam dan kembali mengingat perilaku tanpa sadar Gavin kemarin yang mengusap rambutnya. Tak sampai situ saja, ketika mereka berdua makan es krim, pria itu lagi-lagi tanpa sadar menghapus noda es krim yang menempel di sudut bibir Arunika, membuat perempuan itu mengancam akan menjaga jarak dengan Gavin jika lelaki itu nantinya kembali melakukan hal yang aneh-aneh. Barulah setelahnya Gavin berhenti bersikap aneh dan Arunika menganggapnya sebagai candaan saja.


Arunika pun kembali tersadar dari lamunannya dan memasang wajah santai sambil menaikkan kedua bahunya tak acuh, "tidak ada." Hera kurang percaya dari jawaban itu karena keterdiaman Arunika yang cukup lama. Namun belum sempat menggoda temannya, bel masuk berbunyi dan beberapa detik kemudian guru mata pelajaran pertama masuk ke kelas sehingga Hera pun membatalkan rencananya.


...⁕⁕⁕...