RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 40: KELUARGA BESAR



Sudah sekitar dua jam Arunika menghabiskan waktunya dengan membalikkan setiap halaman pada buku pelajaran di depannya dan menuliskan materi-materi penting yang sekiranya akan keluar di soal ujian tengah semester. Iya, Arunika menganggap serius perkataan kedua orang tuanya. Aaron dan Claris tidak pernah main-main dengan setiap ancaman yang diberikan pada Arunika. Bagi mereka, Arunika-lah anak yang paling bandel dan sulit diberitahu sehingga sering kali keluar ancaman agar Arunika menurut.


Arunika melepaskan kacamata yang bertengger di kepalanya, lalu mengembuskan napas berat sambil memijat pelan pangkal hidungnya. Satu fakta yang jarang diketahui orang lain, Arunika memiliki rabun jauh. Namun karena angkanya kecil dan pemakainya merasa masih bisa melihat dengan jelas, barang tersebut pun jadi jarang dikenakan. Paling-paling dipakai saat lagi belajar atau sedang membaca.


Melihat jarum pendek dan panjang berada di angka sebelas siang, Arunika memutuskan untuk istirahat sebentar. Arunika beranjak dari duduknya dan mulai merenggangkan badannya, duduk selama tiga jam tentu membuat seluruh tubuhnya kaku. Buku-buku tersebut ditinggalkan dalam posisi terbuka dan pemiliknya berjalan ke luar ruang tidurnya.


Ketika sepasang kaki Arunika menginjak lantai satu rumahnya, ia memandang sekitar. Kosong seperti biasa. Kedua orang tuanya tentu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, begitu juga para pekerja di sana. Gadis itu pun membelokkan badannya ke arah kiri dan kembali melangkah menuju ruang makan. Kulkas dua pintu yang terpasang tak jauh dari meja makan dibukanya dan ia terdiam selama beberapa menit untuk menatap berbagai macam minuman yang tersedia. Air dingin, susu, jus atau sari dari berbagai buah, hingga minuman bersoda. Namun akhirnya pilihan Arunika jatuh pada air dingin.


Botol yang masih tersegel itu dibuka dalam sekali putaran dan langsung ditegak setengahnya oleh Arunika. Karena fokus pada minuman di tangannya, Arunika tidak menyadari ada beberapa maid yang masuk ke ruang makan melalui pintu belakang alias pintu dapur kotor.


"Kau sudah dengar beritanya? Katanya Tuan Charles akan kembali hari ini," ucap seorang maid dengan suara yang cukup keras, mengira hanya ada dirinya dan kedua temannya di ruangan itu. Di sisi lain Arunika yang masih berdiri di balik pintu lemari es terdiam dengan botol terbuka di tangannya. Tubuhnya membeku dengan pandangan linglung. Dadanya mulai berdetak cepat dengan bulir-bulir keringat dingin mengalir di wajahnya. Jika Arunika bisa mendeskripsikan informasi baru ini dengan satu kata, maka kata 'sial'-lah yang akan keluar dari mulutnya.


Pria usia lanjut itu, Charles Bumantara, adalah sumber dari segala keburukan yang Arunika alami dalam hidupnya. Banyak yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, itulah yang terjadi antara Aaron dan Charles. Mantan pemimpin keluarga itu dikenal sangat keras dan tak kenal ampun, bahkan lebih-lebih dari Aaron. Ialah yang melestarikan sistem-sistem didikan keras dan kuno Bumantara. Ialah yang melanjutkan tekanan akan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya pada generasi penerus Bumantara.


Beberapa bulan terakhir ini Charles berada di luar negeri untuk melakukan pengobatan pada penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK. Meskipun semasa hidupnya Charles bekerja sebagai dokter spesialis forensik, sayangnya ia merupakan perokok berat yang baru berhenti dua tahun lalu. Itu pun berhenti setelah di diagnosa penyakit tersebut. Dan sekarang, pria kolot itu telah kembali, artinya Arunika harus menyiapkan telinga dan mentalnya.


Tak lama setelah itu, smartphone yang berada di kantong celananya berbunyi sambil bergetar pendek, menandakan adanya pesan masuk. Entah kenapa Arunika sudah bisa mengetahui dari siapa dan apa isi pesan tersebut. Namun untuk memastikan, Arunika meletakkan kembali botol minumannya ke kulkas dan membuka pesan digital itu. Benar saja, pesan singkat dari ibunya itu mengatakan, makan bersama keluarga besar akan diadakan untuk menyambut kembalinya sang kakek ke ibu kota.


Arunika memandang dalam pesan itu, lalu mengembuskan napas berat sambil menutup pintu kulkas. Saat gadis itu menolehkan kepalanya ke kiri, ketiga maid tadi telah melihatinya dengan ekspresi terkejut sekaligus canggung. Arunika memberikan senyuman ramahnya sambil menggoyangkan ponsel pintarnya lalu berkata, "Terima kasih, berkat kalian aku tidak terkejut melihat pesan dari nyonya kalian."


...⁕⁕⁕...


Arunika pikir acara makan tersebut akan diadakan di malam hari, ternyata dirinya salah. Begitu Charles menginjakkan kakinya di bandara internasional dan melihat keluarganya berkumpul demi menyambut kedatangannya, ia langsung mengajak makan siang bersama karena kebetulan jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Tak ada yang berani menolak sehingga dalam puluhan menit kemudian, Arunika telah duduk di kursi empuk dari sebuah restoran mewah nan ternama ibu kota.


Dalam ruangan yang cukup luas itu, terdapat sebuah meja bundar yang bisa diisi hingga sepuluh orang dan dua lemari dengan masing-masing empat laci untuk menyimpan berbagai alat makan serta bumbu atau saus tambahan. Arunika duduk di samping kanan ibunya dan ayahnya duduk di samping kiri ibunya. Jujur, Arunika sangat tidak menyukai acara makan keluarga besar ini. Baginya, acara ini hanyalah acara sindir-sindiran berkedok acara kekeluargaan. Lihat saja.


"Berarti tahun depan Arunika harus mulai daftar universitas, ya." Kalimat itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan. Siapa yang berbicara? Tentu saja Tante Arunika atau adik perempuan dari sang ayah, Anna Bumantara. Wanita berambut seleher itu tersenyum penuh arti saat mengatakan kalimat tersebut dan Arunika sudah bisa mengartikannya.


"Tapi, apakah prestasi Arunika sekarang cukup untuk membuat Harvard menerimanya? Sudah berapa lomba internasional yang kau menangkan?" tanya Anna dengan senyuman lebar di wajahnya. Arunika terdiam sebentar mendengar kalimat tanya yang diucapkan dengan penuh hinaan itu.


Arunika tak ada niat untuk menanggapinya dengan serius, ia hanya tak habis pikir dengan perilaku tantenya yang tak pernah berubah sedikit pun sejak dahulu. "Kalau dilihat dari pengalaman kedua kakak saya dan beberapa Bumantara yang berhasil masuk Harvard, saya setidaknya butuh satu lagi kejuaraan lomba internasional," balas Arunika dengan sangat tenang, sama sekali tidak terpancing.


Anna mengangguk paham, kemudian melontarkan kembali satu pertanyaan baru. "Tante menjadi teringat akan kesuksesan kedua kakakmu, mendapatkan surat undangan dari Harvard langsung, bukankah itu mengagumkan? Kira-kira Arunika bisa tidak seperti itu?"


Kesepuluh jari Arunika yang terletak di atas paha itu mengepal. Gadis itu berusaha mempertahankan senyumnya, meski sudut bibirnya mulai berkedut. Setelah mengembuskan napas perlahan, Arunika menjawab dengan penuh kesabaran di setiap katanya, "Semoga Arunika bisa mencapai ekspektasi keluarga ini dan melebihi pencapaian yang telah dimiliki oleh kedua kakak saya."


Anna tertawa setelahnya sambil mengangguk-anggukkan kepala, mengamini doa Arunika. Arunika menundukkan kepalanya dan kembali mengembuskan napas berat. Dirinya benar-benar merasa muak berada di situasi ini dan ingin sekali keluar dari sana. Apalagi eksistensi dirinya benar-benar diabaikan oleh Charles yang sejak tadi sibuk berbincang dengan adik sepupunya, Janice Vertha Bumantara, selama percakapannya dengan Anna berlangsung. Aaron hanya diam menyaksikan anaknya ditekan habis-habisan oleh adiknya sedangkan Claris memilih nimbrung ke percakapan Charles dan Janice. Satu lagi, jangan mengharapkan apa pun dari suami Anna yang selalu menutup telinganya terhadap segala perkara keluarga Bumantara. Di saat-saat inilah Arunika teringat akan sang nenek yang selalu menganggap kehadirannya dengan mengajaknya berbicara santai.


"Saya izin ke toilet," ucap Arunika yang menarik perhatian semua orang di ruangan selama lima detik, namun setelah itu, Arunika kembali diabaikan dan semuanya fokus pada perbincangan masing-masing.


Arunika dengan cepat berjalan meninggalkan ruang penyiksaan itu dan akhirnya ia bisa bernapas lega. Tentu saja dirinya berbohong, ia sama sekali tak ada keinginan untuk pergi ke toilet. Ia hanya ingin mencari udara segar sambil menenangkan dadanya yang sesak dan berdenyut nyeri.


Langit tidaklah seterik saat kedatangannya, membuat Arunika berani mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat dengan jelas langit biru berawan yang terasa dekat, namun sebenarnya sangat jauh itu. Setelah puas memandangi pemandangan favoritnya, Arunika mengedarkan pandangannya ke area sekitarnya. Tidak ada siapa pun di sana selain Arunika dan satu orang yang sedang duduk di kursi kayu dengan kepala tertunduk.


Tatapan Arunika tertahan pada sosok itu. Secara perlahan ia menelengkan kepalanya ketika merasa sosok itu sangatlah familier baginya. Punggung dan gaya duduk tersebut, sangatlah mirip dengan orang yang dekat dengannya beberapa minggu terakhir ini. Dengan dorongan firasat dan keberanian, Arunika secara perlahan melangkah mendekat. Saat dirinya sudah satu langkah di samping sosok itu, ia sedikit membungkukkan badannya dan menepuk pelan punggung lebar orang tersebut.


Seketika yang dipanggil menolehkan kepala dan tangan yang menutupi wajahnya tersingkirkan. Sepasang netra coklat muda Arunika dan netra biru kehijauan sosok itu bertatapan selama lima detik, keduanya masih memproses pertemuan yang tak terduga ini.


"Gavin?" panggil Arunika berbarengan dengan gerakan Gavin yang menarik Arunika untuk masuk dalam pelukannya, mungkin lebih tepat dikatakan Gavin yang masuk dalam pelukan Arunika. Mau tak mau tubuh kecil Arunika—jika dibandingkan dengan Gavin—harus terhuyung dan terduduk di sebelah lelaki muda itu.


Arunika bisa merasakan napas Gavin yang tak beraturan, lebih terasa seperti berusaha mengontrol amarah daripada mengontrol kesedihan. Arunika pun memilih untuk diam, membiarkan Gavin memeluknya erat, dan membantu Gavin meredakan emosinya dengan memberikan elusan-elusan lembut di punggungnya.


...⁕⁕⁕ ...