RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 38: INI SAATNYA?



Sebuah mobil sedan hitam secara perlahan memasuki area salah satu pemakaman mewah di Indonesia, San Diego Hills Memorial Park. Jika lahan hijau itu ditunjukkan tanpa menyebutkan namanya, orang-orang pasti akan mengira tempat tersebut adalah taman ataupun lapangan golf. Pemandangan alamnya indah mampu untuk sedikit menghibur mereka yang ditinggalkan. Selain itu, bukankah muncul keinginan dalam benak untuk memberikan pemandangan terbaik bagi ia yang telah meninggal? Berharap sosok tersebut senang ketika "berkunjung" ke tempat itu.


Gavin masih mengingatnya dengan sangat jelas, hari di mana ia berdiri di samping gundukan tanah yang masih basah itu. Dalam balutan setelan hitamnya, Gavin kecil menundukkan kepalanya dengan sang ayah berdiri di sampingnya dengan tatapan sendu. Netra biru kehijauan itu terasa sangat panas, namun tak ada satu pun butiran keluar dari mata itu.


Setelah prosesi pemakaman selesai, banyak orang mendatanginya dan sang ayah untuk mengucapkan belasungkawa dengan wajah penuh kesedihan. Harris hanya berterima kasih sambil berusaha memberikan senyuman ramahnya, namun tidak dengan Gavin yang memasang wajah datar sambil mengangguk sesekali. Matanya lebih fokus pada sekelompok orang yang berdiri tak jauh darinya. Keluarga besar Kanagara.


Tak terlihat sedikit pun rasa kesedihan ataupun keprihatinan dari tatapan-tatapan itu. Semuanya terasa dingin dan seakan enggan untuk berdiri lama di sana. Bahkan kakeknya, alias ayah dari Harris, memberikan tatapan tajamnya pada batu nisan, lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut bersama istrinya.


Beberapa saat setelah kepergian kakeknya, Bibi dari Gavin, atau adik perempuan Harris berjalan menghampirinya dengan senyuman tipis di wajahnya. Hanya Gavin yang bisa melihat itu dengan jelas, seakan senyuman itu memang diperuntukannya. Lelaki berumur enam tahun itu terdiam. Apakah kematian ibunya benar-benar membawa kebahagian bagi keluarga besar ayahnya? Setidak suka itukah mereka pada sang ibu?


"Big condolences to you, honey. Never thought she would go this fast, may she rest in peace." Ini pertama kalinya Gavin kesal mendengar kalimat berbelasungkawa. Kalimat yang diucapkan dengan penuh senyuman di wajah sungguh menaikkan emosi Gavin hingga ke ubun-ubun.


"Thank you, Aunt Florence." Akhirnya hanya jawaban itu yang bisa Gavin berikan. Wanita yang berada di usia kepala tiganya diam sambil terus menatap Gavin, kemudian ia menelengkan kepalanya.


"Dumm." Alis Gavin menukik tajam. Meski satu kata itu diucapkan dengan suara yang sangat kecil—lebih terdengar seperti gumaman—telinga Gavin masih dapat berfungsi dengan baik. Tidak mungkin juga ia tak memahami arti kata itu karena dirinya selama ini tinggal di Jerman. Saat itu Gavin pun sadar, bibinya mengucapkan hal itu dengan sengaja dan ingin ia mendengarnya. Jahat sekali, bukan?


Namun lagi-lagi Gavin hanya bisa terdiam dan memberikan balasan apa pun, dirinya pasti akan disalahkan karena telah membuat keributan di tempat yang tenang ini. Selain itu ia juga tak tahu harus membalas apa, ini semua terasa terlalu cepat baginya. Gavin kecil pun akhirnya hanya bisa memandangi kepergian orang-orang yang telah menghina ibunya dengan nyaman tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Tuan?" Gavin sedikit tersentak ketika mendengar suara sang sopir yang telah membukakan pintu mobil untuknya. Ia menoleh ke kanan dan mendapati pria tersebut memberikan wajah bingung.


Dengan senyuman tipisnya, Gavin menginjakkan kaki ke tanah berumput itu dan mengeluarkan tubuhnya dari mesin berjalan tersebut. "Terima kasih," ucap Gavin yang dijawab tundukan kepala kecil dari sang sopir. Setelah Gavin keluar dari mobil, ia bisa melihat Harris, Rebecca, dan Erlano yang juga sedang keluar dari mobil. Tanpa menunggu, si kecil berlari menuju Gavin.


"Kak, ini kita mau ke mana?" tanya Erlano dengan kepala mendongak demi menatap Gavin. Gavi tersenyum lembut lalu mengangkat tubuh ringan Erlano agar berada dalam gendongannya. Memang, ini pertama kalinya Rebecca dan Erlano diperkenalkan pada Anahita, jadi wajar Erlano belum mengetahui apa tujuan kedatangan mereka ke tempat itu.


"Erlan akan mengenal orang baru di sini, orang yang sangat berharga bagi kakak." Muncul raut kebingungan pada Erlano. Ia masih kecil, belum mengerti maksud kata 'orang berharga' dalam hidupnya. Gavin menangkap kebingungan itu sehingga ia kembali menjelaskan dalam bahasa anak-anak.


"Erlan sayang banget sama ibu, 'kan?" tanya Gavin dengan suara lembutnya. Di saat-saat tertentu Gavin memang harus memanggil Rebecca dengan sebutan ibu, apalagi ketika dirinya berbicara dengan sang adik, ia tak ingin adiknya terlibat dalam permasalahannya.


Erlano mengangguk semangat, "Iya, aku sangat banget sama ibu."


"Nah, kakak juga sama seperti Erlan, punya orang yang sangat disayangi." Erlano mengangguk paham dengan mulut yang dibulatkan, terlihat sangat menggemaskan di mata Gavin sehingga ia terkekeh dan mengecup kepala adiknya.


"Tidakkah kau sadar seberapa dewasanya Gavin? Dia bisa punya banyak alasan untuk tidak menyukai Erlano, tapi dia memilih untuk menyayanginya dan tidak melibatkannya dalam permasalahan hatinya," ucap Rebecca dengan suara lembutnya. Harris pun menolehkan kepalanya dan membalas tatapan istrinya.


"Tapi menurutku, itulah yang sudah seharusnya ia lakukan sebagai kakak. Tidak peduli Erlano adalah adik kandungnya atau tidak, ia harus menyayangi anak yang lahir dari ibu barunya." Rebecca terdiam mendengar perkataan itu. Setelah mengatakan itu, Harris berjalan mendahuluinya, meninggalkan Rebecca yang masih berdiri dalam keterdiamannya.


Setelah berjalan sekitar lima menit, akhirnya keluarga kecil itu sampai di depan tempat peristirahatan terakhir Anahita. Makam itu terlihat sangat rapi dan terawat, seakan ada orang yang baru saja mengunjunginya. Ya, siapa lagi kalau bukan Gavin? Masih ingat Gavin mengunjungi tempat ini beberapa minggu lalu karena rindu? Di mana terjadi pertemuan tak terduga antaranya dengan Arunika?


Sebuket bunga yang terakhir kali Gavin letakkan di sana sudah layu, namun tak ada yang memindahkannya. Sekarang, Gavin telah membawa sebuket bunga baru yang masih fresh dan wangi sehingga ia menukar kedua buket tersebut. Harris, Rebecca, dan Erlano hanya diam melihati.


"Halo, mama, Gavin kembali lagi ke sini," ucap Gavin dengan kekehan lembut di akhir kalimat. Rebecca diam-diam menatap anak tirinya, sedangkan Harris masih fokus pada batu nisan.


"Kalau tidak salah, terakhir Gavin ke sini sekitar tiga minggu lalu, 'kan?" tanya Gavin yang tentu saja tak mendapatkan jawaban, hanya ada kesunyian.


Gavin tersenyum kecil setelahnya. "Biasanya Gavin datang sendiri karena rindu dan ingin bercerita pada mama, tapi hari ini, Gavin membawa seseorang yang sudah pasti sangat mama kenal." Akhirnya Gavin masuk ke dalam inti pembicaraannya. Setelah mengucapkan itu, Gavin sedikit menyingkirkan tubuhnya dari depan makam sehingga Harris dan Rebecca dapat sepenuhnya melihat liang itu.


Terjadi keheningan di sana. Sepasang suami-istri itu menatap nama wanita yang tertera dengan perasaan campur aduk. Harris benar-benar merasa canggung dan tak tahu bagaimana harus memulai kalimatnya. Ia kembali menghitung berapa kali ia menyambangi wanita yang mengisi sepuluh tahun hidupnya. Sialnya, hanya lima jarinya yang terangkat. Namun itu semua ada alasannya. Harris selalu merasa berat untuk mendatangi tempat ini, ada bagian dari dirinya terasa sesak dan berdenyut nyeri setiap mengingat masa-masa kematian Anahita. Harris tak ingin merasakan itu sehingga ia memutuskan untuk tak banyak mengingat hal-hal tentang wanita Asia itu, termasuk mengunjungi makamnya.


"Lama tak jumpa, Ana." Setelah beberapa menit diam, Harris akhirnya membuka mulutnya dan mengeluarkan suara. Nadanya terdengar sangat sendu, membuat Rebecca berpikir, apakah sebenarnya pria itu masih belum sembuh dari rasa sakitnya?


"Maaf aku baru mengunjungimu sekarang setelah kedatangan terakhirku tiga tahun lalu. Entah kenapa aku selalu membutuhkan kekuatan lebih untuk siap menginjakkan kaki di sini," lanjut Harris sambil menundukkan kepalanya. Kemudian ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Aku tidak tahu apakah kau melihat kondisiku setelah kepergianmu, tapi aku akan berterus terang di sini. Hari-hari setelah kehilanganmu adalah salah satu masa terberat dalam hidupku, aku seakan kehilangan arah karena selama ini kaulah yang membantuku untuk melangkah." Gavin terdiam mendengar perkataan dalam tersebut. Apakah selama ini ia salah menilai ayahnya?


"Kemudian aku bertemu dengan wanita yang berdiri di sebelahku ini. Ia menemani dan menyembuhkanku dari rasa sakit tak berujung itu. Ia juga membuatku bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi padamu dulu. Kami telah menjalin hubungan ini selama sembilan tahun, kuharap kau bersedia menerimanya dan mendukung kami," ucap Harris mengakhiri penjelasan singkatnya dengan senyuman tipis. Tangannya secara lembut mengelus punggung Rebecca, membuat Rebecca ikut tersenyum.


Gavin memperhatikan perkenalan yang dilakukan secara halus oleh ayahnya dengan pandangan sendu, kemudian ia menundukkan kepalanya dan menarik napas dalam. Apakah ini saat baginya untuk benar-benar menerima kepergian ibunya tanpa mengungkit kembali apa yang terjadi di masa lalu?


...⁕⁕⁕...