RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 5: TERLUKA



"Baiklah, kita sepakat kalau tema Valentine's Day tahun ini adalah Extraordinary Love dengan dua kegiatan, yaitu Show Your Love dan Unspoken Words." Ketika hampir seluruh siswa telah kembali ke rumahnya masing-masing, maka tidak dengan 38 orang itu. Karena hari kasih sayang itu tinggal sebulan lagi, OSIS sudah harus mulai bersiap dan hari ini menjadi hari pertama mereka mendiskusikannya. Dengan Arunika sebagai pemimpinnya, rapat tersebut berjalan dengan cukup lancar.


"Untuk perincian dari dua kegiatan ini akan kita bicarakan di rapat selanjutnya, jadi kalian bisa pulang, hari sudah makin malam," ucap Arunika dengan senyuman lembut yang membuat seluruh anggotanya mengangguk. Semuanya pun mulai membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan ruang OSIS. Berbeda dengan anggota lainnya yang seakan ingin sekali pulang ke rumah, Arunika malah mendudukkan dirinya sambil mengembuskan napas pelan.


Hera yang melihat itu menepuk pundaknya, "tidak pulang?"


"Istirahat sebentar," balas Arunika dengan mata terpejam yang membuat Hera tersenyum dan kembali mengemasi barangnya.


"Run, Her, mau nongkrong sebentar ke kantin sebelum pulang?" Dari balik pintu muncul Fernando , wakil ketua satu OSIS, dengan semangat.


"Ayo! Sudah lama kita tidak berkumpul," ucap Laura, bendahara satu OSIS, dengan wajah kalemnya. Ia berdiri di sebelah Fernando dengan satu tangan berpangku di pundak lelaki itu.


Arunika dan Hera saling bertatapan. Memang benar perkataan Laura, terakhir mereka berkumpul itu ketika mereka semua masih kelas satu. Arunika masih menjabat sebagai wakil ketua OSIS bersama Fernando, Hera menjadi sekretaris dua, dan Laura menjadi bendahara dua OSIS. Bisa dibilang mereka adalah teman seperjuangan dari kelas satu.


Beberapa detik kemudian, kedua siswi itu mengangguk yang membuat Fernando dan Laura makin bersemangat. Dengan cepat tangan masing-masing tangan Arunika dan Hera ditarik oleh Fernando, sedangkan Laura hanya mengikuti dari belakang. Sesampainya di kantin, keempat orang itu mengunjungi satu kedai makanan yang menjual minuman serta camilan ringan.


"Sore, Bu, saya pesan es latte-nya dua, es jeruk satu, dan jus alpukat satu. Lalu untuk camilannya, popcorn chicken dan onion ring, masing-masing satu porsi," ucap Fernando dengan suara sopan, sedangkan ketiga orang lainnya telah duduk di salah satu meja dekat kedai tersebut.


Sehabis membayar, Fernando kembali dengan membawa nampan berisikan minuman-minuman yang dipesan tadi. Ia meletakkannya dengan perlahan dan memberikan masing-masing minuman ke pemesannya. Jus alpukat untuk Arunika, es jeruk untuk Hera, dan es latte untuk dirinya serta Laura.


"Popcorn chicken sama onion ring-nya masih dibuatkan." Ketiga perempuan itu mengangguk paham.


"Run, si anak baru bagaimana?" tanya Fernando sambil menyeruput minumnya.


Arunika yang ditanyai menaikkan satu alisnya, "bagaimana apanya?"


"Your impression to him, soalnya dilihat-lihat, kau yang paling santai ketika bertemu dengannya dan si anak baru pun juga begitu," jelas Fernando yang membuat Arunika terdiam sebentar.


Setelah menelan jusnya, Arunika menjawab, "impression, ya ... awalnya aku mengira dia akan memiliki sifat sombong dan sulit didekati, tapi ternyata tidak juga, dia hanya pendiam dan pemalu." Kalimat penuh pertimbangan itu membuat ketiga orang di sana mengangguk paham.


"Sepertinya banyak yang menganggapnya sama seperti Arunika. Karena dia punya rahang yang cukup tegas dan alis yang sedikit menurun, wajah tanpa ekspresinya menjadi terlihat cuek dan dingin. Aku sering mendengar siswa-siswa tidak berani menghampirinya karena terlihat dingin." Mendengar perkataan dari Laura, Arunika menjadi membayangkan wajah Gavin yang kebingungan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia atau ketika men-translate ucapannya di medical room tiga hari lalu. Bayangan itu pun membuatnya terkekeh kecil.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Hera ketika mendengar kekehan kecil itu. Arunika menjawabnya dengan gelengan. Sembari Arunika menjawab pertanyaan Hera, kedua camilan pesanan mereka akhirnya datang. Tanpa menunggu lagi, mereka mulai memakannya sambil membicarakan banyak hal, tanpa menyadari Maverick yang berlari pada mereka dengan penuh kepanikan.


"Arun!" Tidak hanya Arunika, ketiga orang lainnya menoleh ke si sumber suara. Melihat wajah panik Maverick, dahi Arunika mengernyit.


"Ada apa?" tanya Fernando mewakili Arunika. Dengan napas terengah-engah, Maverick meletakkan kedua tangannya di meja tempat keempat teman sebayanya duduk.


"Tolong ... tolong obati Gavin," pinta Maverick dengan tatapan memohon.


"Gavin kenapa?" balas Arunika dengan menatap serius lawan bicaranya. Ketika dirinya mendengar perkataan Maverick tadi, perasaannya langsung menjadi tidak enak.


"Kita baru saja selesai ekstrakurikuler dan ketika ingin pulang, Archie memintanya untuk sparing one-on-one. Lalu si brengsek itu dengan liciknya menyenggol Gavin sampai akhirnya ada beberapa luka di kaki dan tangannya. Kakinya juga sepertinya keseleo." Arunika langsung berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Fernando, Hera, dan Laura.


Maverick pun paham kalau Arunika ingin mendatangi TKP sehingga ia langsung menjadi pemandu jalannya. Dengan langkah sejajar dengan Maverick, Arunika bertanya dengan wajah datarnya, "guru ekstrakurikuler kalian di mana?"


"Kenapa tidak langsung dibawa ke UKS?"


"Kau tidak sadar ini sudah jam berapa?" tanya balik Maverick yang membuat Arunika tersadar bahwa jam sudah menunjuk angka lima, tentu saja mereka sudah pulang. Bahkan guru pun juga kebanyakan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Sesampainya kelima orang itu di lapangan indoor, Arunika berlari menuju Gavin yang terduduk di pinggir lapangan dengan Floyd yang menemaninya, sedangkan Archie terkejut melihat kedatangan sang ketua OSIS dan menundukkan kepalanya.


"Fer, tolong ambilkan kotak P3K di dalam sana." Arunika menunjuk ke arah ruang kerja guru di sudut lapangan. Arunika tahu karena ruang olahraga di sekolah mereka memiliki kotak tersebut, jaga-jaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Fernando pun langsung melakukan apa yang diminta dengan cepat.


Arunika berlutut dengan kedua kakinya ketika sampai di sebelah Gavin, sedangkan yang sedang terluka itu hanya menatapi si perempuan dengan tatapan tak terbaca. Tak lama Fernando datang dengan kotak P3K di tangannya, lalu meletakkannya di samping Arunika.


"Bagian mana yang sakit?" tanya Arunika sambil memegang lembut lengan serta badan Gavin.


"Tangan dan kaki, tapi yang paling parah adalah pergelangan kiri kakiku." Arunika melihat ke arah pergelangan kaki Gavin yang sudah sedikit membiru, ia pun menekannya kecil dan Gavin merintih kesakitan. Kepala Arunika terangkat dan pandangannya mengedar ke seluruh ruangan.


"Apakah ada yang membawa minuman dingin?" tanya Arunika sambil menatapi seluruh orang di sana.


Salah satu anggota dari geng Archie mengangkat tangannya dan menunjuk kumpulan botol dalam kantong plastik, "barusan dibeli beberapa menit lalu." Arunika mengangguk dan membalas, "tolong bawa ke sini, juga pinjamkan aku salah satu handuk kecil milik kalian." Pria itu pun menuruti perkataan Arunika dan kembali dengan kantong plastik berisi beberapa botol minuman dingin serta handuk kecil yang entah milik siapa.


Arunika melapisi botol dingin itu dengan handuk kecil dan meletakkannya di atas pergelangan kaki Gavin yang terkilir. Ia meminta pertolongan Hera untuk memegangnya dan beralih pada beberapa luka kecil di tangan serta lutut Gavin.


Dimulai dari lutut kanan Gavin yang luka lecetnya lumayan lebar, ia mengambil sarung tangan lateks dari dalam kotak P3K karena ia tidak bisa mencuci tangannya, lalu membersihkan luka tersebut dari kotoran menggunakan larutan garam steril atau dikenal sebagai cairan saline. Setelahnya, Arunika menggunakan tisu pembersih bebas alkohol di area sekitar luka dan mengoleskannya betadine agar tidak terjadi infeksi. Langkah terakhir, Arunika menutup luka itu dengan perban untuk melindunginya dari kotoran. Cara yang sama ia lakukan di luka bagian siku kanan Gavin.


Semua orang di sana hanya memperhatikan kerja tangan Arunika yang sangat cepat dan rapi, menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa melakukannya. Begitu juga dengan Gavin yang sejak dimulainya pengobatan tak mengatakan apa pun, matanya terus tertuju pada wajah serius Arunika saat mengobatinya.


Setelah memastikan seluruh luka telah terobati, Arunika tersenyum puas sambil melepas sarung tangannya, "inilah gunanya menyimpan kotak P3K di setiap tempat."


"Terima kasih," ucap Gavin sambil menatap lembut pada Arunika.


Arunika mendengus main-main sambil menyenggol pelan tangan kanan Gavin, "dalam tiga hari kau mendapatkan pengobatanku sebanyak dua kali, sesuka itukah kau dengan perawatanku?" Gavin ikut mendengus tak percaya, namun tak mengatakan apa pun.


Arunika membereskan kotak P3K itu dan kembali berdiri, "tolong tidurkan Gavin di kursi panjang sana, lalu angkat kakinya yang terkilir dengan ketinggian melebihi dada. Tetap kompres kakinya sampai sekitar sepuluh menit lagi." Maverick dan Floyd membantu Gavin untuk berdiri dan menidurkannya di kursi panjang di sisi lapangan. Kemudian Maverick mengangkat kaki kiri Gavin dan meletakkannya di pundaknya, sedangkan Floyd berdiri di samping Maverick sambil memegangi kompres-an di kaki temannya.


Arunika mengamati seluruh pergerakan ketiga lelaki itu, memastikan tidak ada yang salah. Setelahnya, kedua netranya menatap satu per satu anggota geng Archie, namun penglihatannya menajam ketika sampai di sosok Archie. Archie cukup merasa tertekan dengan tatapan tersebut sehingga ia mengalihkan pandangan.


"Nah, sekarang kita sepertinya perlu mencari tahu bagaimana luka ini bisa terbentuk." Kalimat penuh tekanan di setiap katanya membuat semua orang—kecuali; Fernando, Hera, Laura, Gavin, Maverick, dan Floyd—menoleh ke segala arah, yang penting tidak mengarah ke Arunika.


Arunika melipat kedua tangannya depan dada dan tersenyum paham, "aku mengerti kalau lelaki kadang memiliki sifat kompetitif yang tinggi dan kadang perlu disalurkan lewat olahraga, namun bukan berarti menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melukai orang lain." Meski tidak mengatakan satu pun nama dalam kalimatnya, tatapan Arunika tertuju pada Archie dengan tajam.


"Kau menuduhku?"


...⁕⁕⁕...