
Arunika akui perawakan perempuan yang sepertinya umurnya tak beda jauh darinya itu, tubuhnya tinggi semampai dengan posturnya yang sekali lihat langsung menunjukkan seberapa berkelasnya ia. Rambut blonde dan mata birunya membuat semua orang memuji kecantikannya dalam pandangan pertama—begitu juga dengan Arunika. Wajahnya pun memancarkan kesan lembut serta ramah. Arunika melirik pada Gavin yang berdiri di sebelahnya, ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. Namun, nyatanya wajah Gavin masih datar seperti sebelum melihat perempuan itu, membuat Arunika heran.
Karena melihat sepertinya Gavin tidak akan membuka mulut, akhirnya Arunika yang membalas sapaan itu dengan senyuman ramah, "yes, you can. You're the daughter of the Rosverd family, right?" tanyanya basa-basi. Perempuan itu mengangguk dan mengulurkan tangannya. (iya, boleh. Kau anak perempuannya keluarga Rosverd, 'kan?)
"Cassandra Rosverd." Arunika membalas uluran tersebut, "Arunika Bumantara." Setelahnya jabatan tangan itu terlepas, Cassandra beralih pada Gavin dan melakukan hal yang sama. Selama beberapa detik Gavin hanya menatapi tangan tersebut sampai akhirnya Arunika menyenggol pelan tangannya, barulah lelaki itu membalas.
"Gavin Kanagara," ucapnya sekenanya. Cassandra pun tersenyum sambil menatap dalam Gavin yang tatapan mengarah pada hal lain.
"So, what do you want to talk to us about?" Agar Cassandra tidak canggung akan sikap Gavin yang tiba-tiba menjadi dingin, Arunika mengalihkan perhatian perempuan itu dan untungnya Cassandra teralihkan. (Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?)
"On behalf of my family, I want to know your opinions on our new product. Can you guys tell me?" Akhirnya Cassandra menjelaskan maksud kedatangannya dengan tatapan yang sesekali mengarah pada Gavin. Arunika pun mulai sadar kalau sepertinya ada maksud lain dari kedatangan perempuan itu. Namun melihat Gavin yang tidak ingin membuka mulutnya, akhirnya Arunika menjawab terlebih dahulu. (Atas nama keluargaku, aku ingin tahu pendapat kalian tentang produk baru kami, bisakah kalian memberitahuku?)
"For me, produk baru ini merupakan upgrade dari barang sejenis dari merek lainnya karena memiliki kualitas dan beberapa fitur baru yang tidak ada di barang merek lain, membuat konsumen jadi tertarik untuk membeli. Apalagi secara harga juga tidak berbeda jauh dari barang merek lain sehingga konsumen jadi berpikir, lebih baik membeli produk baru ini daripada barang yang serupa dari merek lainnya." Cassandra mendengar komentar itu dengan saksama, meski beberapa kali melirik pada Gavin yang juga diam-diam menatapi Arunika. Setelah mendengar kalimat penuh pujian itu, Cassandra tersenyum dan berterima kasih pada Arunika. Kemudian, netra birunya beralih pada Gavin.
Gavin menyadari maksud tatapan itu, "my opinion is no different from hers," ujarnya dengan kesan datar dan dingin. Arunika yang menyadari reaksi tak biasa itu memberikan tatapan bingung, apakah pria itu sedang bad mood? Tapi kenapa? Padahal saat sebelum bertemu perempuan tersebut mood-nya masih baik-baik saja. Sedangkan Cassandra hanya bisa tersenyum sendu. (pendapatku tidak berbeda darinya.)
"Sir, it's your time to get on stage." Tiba-tiba seorang pria dengan pakaian serba hitamnya menghampiri Gavin. Namun ketiga orang di sana tahu, pria itu merupakan staff acara karena peralatan-peralatan yang menempel di tubuhnya. Gavin tahu maksud perkataan itu sehingga ia berpamitan pada Arunika yang masih memasang wajah bingung. (Tuan, ini saatnya untuk naik ke panggung.)
Melihat kebingungan Arunika, Gavin menjelaskan dalam satu kata, "piano." Barulah Arunika paham, Gavin akan mempersembahkan permainan pianonya untuk seluruh orang di ballroom itu. Kepergian Gavin membuat Arunika menjadi satu-satunya yang bersama dengan Cassandra. Dua pasang mata itu mengarah pada panggung yang kosong karena Gavin masih berjalan menuju ke sana.
Beberapa saat diisi oleh keheningan, namun Arunika menyadari ketidaktenangan Cassandra yang berdiri di sebelahnya. Ia pun melirik dan membuka mulutnya, "apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya santai. Cassandra sedikit tersentak, lalu tersenyum canggung, ternyata keraguannya dapat dirasakan oleh Arunika.
"Apakah kau berpacaran dengannya?" Dahi Arunika mengernyit mendengar pertanyaan itu, lalu mendengus main-main sambil tersenyum.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu?" tanya balik Arunika sambil menyilangkan kedua tangannya depan dada. Cassandra terdiam, membuat Arunika melanjutkan kalimatnya.
"Tidak, aku dan Gavin hanya teman. Kita pertama kali bertemu lima hari lalu, tidak mungkin bisa pacaran secepat itu." Jawaban itu membuat Cassandra mengembuskan napas lega. Arunika yang melihat itu ikut tersenyum.
"Kau tertarik padanya?" Pertanyaan itu kembali membuat Cassandra terkejut.
"Apakah sejelas itu?" Arunika menaikkan kedua bahunya, "iya, dimataku, tidak tahu lagi di matanya." Mendengar itu Cassandra menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu. Dirinya memang payah dalam menyembunyikan perasaan.
"Jika ternyata dia tidak tahu, tolong jangan memberitahunya, ya?" pinta Cassandra yang tanpa pikir panjang langsung disetujui oleh Arunika. Toh memangnya atas alasan apa Arunika ingin menolak permintaan itu, tentu tidak ada.
"Sebagai perempuan kita harus tahu sampai batas mana kita bisa mendekati pria. Jika ternyata pria tersebut merasa tidak nyaman dan menolak, kita harus segera menjauh dan tak mendekatinya lagi. Tunjukkan harga diri kita sebagai perempuan dan jangan pernah mengemis cinta dari lelaki, mengerti maksudku?" Petuah itu membuat Cassandra terdiam beberapa saat, tak menyangka perempuan di sebelahnya bisa sedewasa itu. Namun tak lama ia mengangguk paham.
"Oh ya, umurmu berapa? Sepertinya umur kita tidak beda jauh," duga Arunika dengan yakin.
"Lima belas." Arunika terkejut mendengar itu, "lima belas tahun dan tubuhmu sudah setinggi ini?" Wajar saja Arunika terkejut karena nyatanya tinggi Cassandra telah melebihi Arunika.
"Berapa tinggimu?"
"Hm ... sebenarnya aku kurang paham satuan panjang yang digunakan di sini, tapi beberapa hari lalu aku mencobanya dan mendapatkan ... 170, kalau tidak salah." Terdapat jeda di kalimat Cassandra karena ia berusaha untuk mengingat kembali. Berbeda dengan Arunika yang nyawanya seakan melayang setelah mendengarnya.
"Kenapa kau bisa setinggi ini?" Arunika menggerakkan tangannya dari kepala hingga kaki Cassandra beberapa kali. Cassandra pun tertawa melihat reaksi Arunika, padahal menurutnya Arunika juga tidak pendek-pendek amat karena tinggi Arunika sejajar dengan matanya.
"Mungkin karena keturunan, ayahku tingginya 192 sentimeter dan ibuku 180 sentimeter." Arunika makin terdiam, sedangkan tawa Cassandra mengeras. Dalam hati ia tak menduga bisa secepat ini akrab dengan orang baru, mungkin itu semua karena sifat easy-going Arunika yang mampu membuatnya nyaman.
"Test." Sebuah suara yang cukup berat menggema di seluruh sudut ruangan, membuat fokus Arunika dan Cassandra kembali mengarah pada pria di atas panggung sana. Gavin telah duduk di depan grand piano dengan lampu sorot mengarah padanya, semua orang pun tahu ke mana mata mereka harus melihat.
"I'm going to present this little performance to the Rosverd family, who have been good friends of my family for many years. Congratulations on the launch of the new product, and I hope you all enjoy it." Sehabis mengucapkan kalimat singkat itu, seluruh tamu bertepuk tangan, tak terkecuali Arunika dengan senyuman lembutnya. Gavin mulai menyiapkan dirinya, memastikan posisi duduknya telah nyaman, dan sepuluh jarinya telah berada di tuts yang benar. (Saya akan mempersembahkan pertunjukkan kecil ini pada keluarga Rosverd yang telah menjadi teman baik keluarga saya sejak beberapa tahun lalu, selamat atas peluncuran produk barunya dan semoga kalian semua menikmatinya.)
Lima detik pertama diisi keheningan, barulah di detik keenam Gavin mulai menekan tuts dengan jari tengahnya. Menit-menit selanjutnya ruangan itu dipenuhi oleh suara piano klasik yang sangat memanjakan telinga, begitu juga dengan sepasang indra pendengaran Arunika. Permainan penuh perasaan itu mampu membuat Arunika memejamkan matanya dan kepalanya bergoyang pelan ke kanan-kiri. Di dalam kepalanya, Arunika bisa melihat dirinya berlarian bebas di hamparan rumput yang sangat luas dengan langit biru cerah berada di atasnya. Arunika dalam bayangannya berlari dengan baju putih, kaki telanjang, tangan terbentang lebar, dan tersenyum penuh keceriaan—seakan tidak ada sedikitpun beban di pundaknya.
Tak beda jauh dengan Arunika, Gavin juga memejamkan matanya dengan tangan dan kaki yang terus bergerak, seakan telah mengingat semua nadanya tanpa perlu Gavin pandu. Piece ini merupakan kesukaan ibunya. Kata sang ibu, ketika piece ini dimainkan, ia bisa melihat hamparan rumput luas dan langit birunya dengan tidak ada satu pun bangunan maupun manusia di sana. Di sana, sang ibu hanya ditemani oleh binatang-binatang kecil, seperti burung, tupai, dan kelinci. Dan entah ini sugesti dari ibunya atau bagaimana, tapi Gavin selalu dapat membayangkan pemandangan itu setiap memainkan piece ini. Terkadang Gavin juga membayangkan dirinya mengajak sang ibu bermain dan wanita itu dengan senang hati menuruti permintaan anak semata wayangnya.
Ketika Gavin masih terhanyut dalam bayangannya, Harris yang sejak awal memperhatikan penampilan anaknya hanya bisa terdiam dengan wajah sendu—ada sedikit bagian di hatinya seakan sedang dicubit. Tentu ia tahu mengapa piece tersebut bisa memunculkan senyuman terlebar Gavin, tapi ia bertanya-tanya, mengapa anaknya memilih piece tersebut? Rebecca menoleh untuk menatap suaminya dan secara perlahan mengelus lembut tangan Harris. Harris menyadari tindakan penuh perhatian itu sehingga ia membalas mengelus punggung tangan istrinya.
Akhirnya setelah hampir sepuluh menit bermain, pertunjukan itu selesai dengan tangan kanan Gavin yang terangkat tinggi dan wajahnya yang dihiasi oleh senyuman puas. Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu, berbagai kalimat pujian dilontarkan padanya, dan sekali lagi Gavin membuktikan identitasnya sebagai Kanagara. Tanpa Gavin ketahui, Harris tersenyum penuh bangga padanya. Kemudian banyak orang kembali mengerubungi Harris dan Rebecca untuk memuji penampilan anak sulung mereka.
Di saat pasangan itu sibuk membalas perkataan orang-orang, Gavin berdiri dari duduknya dan menatap satu perempuan yang berdiri di samping tembok dengan senyuman lembutnya, membuat Gavin ikut tersenyum.
Ya, siapa lagi kalau bukan Arunika.
...⁕⁕⁕ ...