
Kelima anak muda itu sekarang telah berdiri di depan gerbang yang bertuliskan "Dunia Fantasi". Arunika, Hera, dan Maverick memunculkan senyuman terlebar mereka, sedangkan Gavin dan Floyd hanya tersenyum tipis dengan perasaan tak enak. Meski belum pernah mendatangi tempat tersebut, entah kenapa Gavin sudah bisa merasakan betapa lelahnya bermain di sini, apalagi bersama tiga orang extrovert yang mendapatkan energi lebih ketika beraktivitas. Gavin melirik pada Floyd yang berdiri di ujung barisan lainnya, Floyd pun tak lama juga ikut menatap Gavin. Setelah itu pandangan keduanya mengarah pada tiga orang yang berdiri di antara mereka.
"Ayo, masuk!" Arunika menarik pergelangan tangan Gavin dan Hera dengan penuh antusias, begitu juga dengan Maverick yang menarik Floyd untuk berjalan mengikuti ketiga orang di depan mereka.
Sebenarnya kelima orang ini tidak pernah berencana bepergian ke Dunia Fantasi sebelumnya, namun kemarin malam Maverick mengajak bermain demi Arunika dan Hera yang keesokan harinya akan mulai sibuk dengan acara hari kasih sayang di sekolah. Hitung-hitung refreshing sebelum stres, begitu katanya. Ajakan itu pun dengan cepat disetujui oleh Arunika dan Hera, sedangkan Gavin dan Floyd hanya mengikuti saja keinginan mereka. Jadi, di sinilah mereka sekarang, berdiri di antara berbagai wahana permainan, dari yang paling santai sampai yang paling mengerikan.
Arunika memandangi peta wahana yang diambilnya saat membeli tiket tadi. Ia melihatnya dengan saksama sambil sesekali mencocokkan apa yang ada di sana dengan aslinya. Gavin yang berdiri di sebelah Arunika hanya bisa diam mengamati perempuan itu dengan tatapan dalam. Tak lama Arunika mengalihkan pandangan dari peta menuju keempat temannya.
"Aku bingung wahana mana yang ingin kunaiki terlebih dulu karena semuanya ingin kucoba. Apakah ada yang sangat ingin kalian naiki sekarang?" tanya Arunika sambil menggaruk pelan lehernya. Empat orang lain di sana tertawa kecil, lalu Hera mengangkat setengah tangannya.
"Aku ingin naik halilintar," cetus Hera yang membuat mata Arunika dan Maverick berbinar, sedangkan Gavin memberikan wajah bingung dan Floyd memejamkan matanya. Tanpa basa-basi Maverick menarik tangan Arunika dan Hera di masing-masing tangannya, ketiganya berlari kecil menuju wahana halilintar dengan Arunika sebagai pemandunya. Mau tidak mau Gavin dan Floyd harus berlari juga demi tidak kehilangan tiga remaja dengan semangat anak-anak itu.
Sesampainya di wahana halilintar, mereka harus mengantre dulu sekitar lima menit. Untungnya taman rekreasi itu belum terlalu ramai karena masih berada di jam-jam baru buka, namun tidak tahu lagi jika waktu sudah makin siang. Kelimanya langsung menaiki wahana dengan Arunika dan Hera mengambil duduk paling depan, kemudian di belakangnya ada Gavin yang duduk sendirian, lalu Floyd dan Maverick duduk di barisan ketiga. Pengaman badan yang ada di setiap bangku ditarik ke bawah dan mereka menunggu beberapa saat sampai seluruh bangku terisi.
Setelah memastikan pengaman telah terpasang dengan benar, pegawai mulai menjalankan permainan tersebut. Kendaraan yang seperti ular itu meliuk-liuk mengikuti jalur yang telah dibuat dengan kecepatan yang sangat cepat. Seluruh pengunjung di sana berteriak, ada yang berteriak ketakutan, ada yang berteriak penuh kesenangan—seperti; Arunika, Hera, dan Maverick—dan ada juga yang diam saja—seperti, Gavin dan Floyd.
Beberapa menit kemudian wahana akhirnya berakhir. Semuanya secara bergantian menuruni wahana, begitu juga dengan kelima anak muda itu. Seakan tak ingin membuang waktu dengan hanya berdiri saja, Arunika, Hera, dan Maverick secara bergantian memberikan usulan wahana yang ingin dimainkan. Ketiga orang itu terus menarik tangan Gavin dan Floyd dari satu wahana lain ke wahana lainnya setelah selesai, benar-benar tidak ada waktu istirahat. Bahkan ada beberapa kali Gavin dan Floyd memilih untuk beristirahat sehingga ketiganya menitipkan tasnya pada kedua pria itu, lalu pergi menuju wahana selanjutnya.
Empat jam berlalu sejak kedatangan mereka dan sudah ada sekitar sepuluh wahana yang telah dinaiki—sebenarnya hanya Arunika, Hera, dan Maverick saja karena Gavin-Floyd menyerah di wahana keenam. Kedua pria itu lebih memilih duduk dan menunggu ketiganya selesai bersenang-senang dengan segelas minuman dingin di tangannya, energi introvert mereka benar-benar terserap habis. Ketika sedang menunggu, Gavin dan Floyd sering kali didatangi oleh perempuan asing yang menanyai nomor mereka, namun dengan cepat mereka menolak. Gavin bahkan beberapa kali berlagak seakan tak mengerti apa yang dimaksud perempuan itu, membuat perempuan tersebut pergi dengan perasaan malu.
"Sudah dua jam setengah mereka pergi, kapan mereka akan kembali?" tanya Gavin sambil memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Floyd yang menyandarkan bahunya santai pada kepala kursi pun ikut mengecek jam melalui ponsel pintarnya.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Floyd sambil menyedot minuman kedua yang ia beli sekitar sepuluh menit lalu.
"Energi mereka benar-benar mengagumkan," puji Gavin sambil melemaskan pundaknya dan ikut menyandarkan punggung di kursi, kemudian kakinya ia silangkan dengan kaki kanan berada di atas kaki kiri.
Floyd terkekeh mendengarnya, "aku tidak kaget dengan Arunika dan Maverick karena sudah seperti makanan sehari-hari melihat mereka muncul di banyak tempat, aku malah kagetnya ke Hera. Aku mengira dia tipe extrovert yang kalem, tapi ternyata sama saja, dia terlihat lebih tenang karena terhalang oleh energi membludak Arunika." Gavin tertawa kecil mendengar komentar itu.
"Setelah mereka kembali, kita harus mengalihkan mereka dari wahana-wahana ini. Ayo, ajak mereka ke Sea World," saran Floyd yang membuat Gavin mengangguk di kalimat pertama lalu menelengkan kepalanya di kalimat kedua.
"Sea World? Hewan laut?" tanya Gavin memastikan, Floyd mengangguk.
"Kenapa? Kau tidak suka hewan?" Gavin menggeleng pelan.
"Apakah bisa meredakan energi mereka?" tanya Gavin kembali sambil melihat peta yang diberikan oleh Arunika sebelum pergi tadi. Lelaki itu ingin tahu di mana lokasinya.
Floyd mengangguk penuh keyakinan, "meskipun ada kemungkinan mereka akan senang melihat hewan, tapi setidaknya tidak akan se-semangat saat bermain. Ketiga orang ini harus dihentikan sebelum mereka besok izin tidak masuk sekolah karena masuk angin." Gavin kembali mengangguk setuju sambil melipat kembali peta tersebut, ia sudah melihatnya dan hanya butuh berjalan sekitar lima menit dari tempatnya duduk sekarang.
"Kenapa kalian bisa basah begini?" tanya Floyd sambil berdiri dari duduknya dan membuka telapak tangannya menghadap langit. Ketiga tertawa canggung sambil menggaruk masing-masing tengkuknya. Berbeda dengan Floyd yang bereaksi penuh ekspresi, pandangan Gavin sejak tadi hanya terarah pada Arunika yang rambut dan bajunya sudah setengah basah. Untungnya perempuan itu mengenakan baju hitam sehingga pengunjung lain tidak salah fokus.
"Sebenarnya kita tidak ingin naik niagara gara karena tahu pasti akan basah, tapi kita juga berpikir sayang sekali jika tidak memainkan itu setelah datang ke sini. So, our impulsive thought win," jelas Arunika mewakili dua orang lainnya sambil tersenyum canggung. Floyd mengembuskan napas berat, tak habis pikir.
Gavin berdiri dari duduknya sambil melepas jaket denim yang dipakainya, lalu menyampirkannya di tubuh Arunika. "Duduk, keringkan rambut kalian," perintah Gavin pada ketiga orang itu dengan nada datar. Mereka yang disuruh menurut tanpa mengatakan apa pun karena jujur, wajah Gavin sudah sedikit terlihat menyeramkan.
Arunika membuka tasnya dan mengeluarkan tisu dari sana, lalu memberikan beberapa lembar pada Hera serta Maverick. Floyd pun juga meminjamkan hoodie-nya pada Hera.
"Aku tidak diberikan apa pun?" tanya Maverick nada tak terima yang dibuat-buat. Ia sedang berusaha mencairkan suasana. Floyd mendengus mendengar itu.
"Jadilah perempuan dulu baru bisa mendapatkannya," balas Floyd yang membuat Maverick ikutan mendengus.
"Setelah ini kita pergi ke Sea World," ujar Gavin sambil membantu Arunika mengeringkan rambutnya tisu. Arunika langsung mengangkat kepalanya, ingin mengutarakan ke tidak setujuannya karena masih ingin bermain. Namun ia langsung mendapatkan tatapan tajam sekaligus dalam Gavin, yang membuatnya tidak mampu membuka mulutnya dan tersadar kalau dirinya baru saja basah-basahan, jika ia bermain wahana lagi, risiko masuk anginnya sangat tinggi dan bisa membuatnya sakit. Jadi, Arunika hanya bisa mengangguk kepalanya.
Setelah ketiganya berhasil mengeringkan rambutnya—setidaknya sudah tidak sebasah tadi, mereka berjalan menuju Sea World yang letaknya tak jauh dari sana. Meskipun awalnya tidak setuju mendatangi Sea World, Arunika akhirnya tetap excited saat memasuki kawasan yang lengkap akan hiburan dan pendidikan di dunia laut itu karena pada dasarnya Arunika senang dibawa jalan ke mana pun. Orang tuanya sangat jarang mengizinkannya bepergian karena lebih mementingkan pendidikannya, alias Arunika harus belajar setiap harinya. Hari ini pun ia bisa pergi karena orang tuanya tak ada di rumah.
Gavin sesekali melirik Arunika yang sejak tadi melukis senyum di bibirnya sambil melihat dengan saksama ikan-ikan di sana. Gavin pun menjadi ikut tersenyum, senang karena melihat banyak senyuman Arunika hari ini. Karena ketiga pria di sana berada di area yang tidak mereka kenal dengan baik, alias mereka anak IPS, mereka menjadi banyak bertanya pada Arunika dan Hera seputar hewan-hewan di sana—meskipun sebenarnya sebagian besar informasi telah diberikan melalui papan kecil yang terpasang di dekat hewan. Ketiga lelaki itu hanya sedang malas membaca.
"Hiu pari ini makanannya apa, Run?" tanya Gavin sambil menatap kumpulan hiu pari yang berenang bebas di Shark Aquarium.
Arunika terdiam sebentar, memikirkan jawabannya, "seingatku ikan kecil, kerang, udang, dan kadang-kadang serangga." Gavin membulatkan mulutnya sambil mengangguk. Berbeda dengan sesi tanya jawab Arunika dan Gavin yang berjalan dengan santai, sesi tanya antara Hera dan Maverick sangatlah ribut karena Maverick yang terus menanyakan pertanyaan di luar jangkauan si perempuan.
"Kira-kira bagaimana cara pihak Sea World mengambil dan membawa hewan-hewan ini, ya?"
"Jangan bertanya padaku, bertanyalah pada pihak Sea World," jawab Hera dengan sedikit ketus. Ini sudah keempat kalinya Maverick menanyakan hal yang jawabannya tak pernah Hera ketahui.
Floyd yang sejak awal diam mendengar percakapan random itu hanya bisa menggeleng lelah, lalu ia mengajak teman-temannya untuk pergi ke Antasena Tunnel. Sebuah akuarium raksasa yang menampung hingga lima juta liter air lut dengan ratusan jenis biota laut di dalamnya, berada di sana akan membuatmu merasa seperti sedang dikelilingi olehnya. Area itu lebih ramai dari tempat lainnya karena ada banyak orang mengabadikan momen sehingga jalur jalannya menjadi sedikit terhambat. Untungnya kelima remaja itu masih bisa berdiri sejajar menghadap akuarium—dengan urutan Maverick, Hera, Floyd, Gavin, dan Arunika—dan menikmati ikan-ikan yang berenang di depan hingga belakang mereka.
Sekelompok pria muda yang sepertinya satu hingga dua tahun lebih tua datang dan berdiri di sebelah Arunika. Arunika melirik sebentar, lalu mengabaikannya dan kembali fokus memperhatikan pemandangan yang lebih indah di depannya. Sedangkan pria yang berdiri tepat di samping Arunika melirik dan secara terang-terangan memandangi Arunika dari atas hingga bawah. Muncul senyuman jahil di bibirnya.
"Kau terlihat seksi dengan jaket kebesaran itu," ujarnya dengan santai, sedangkan Arunika menghentikan gerakan tangannya di kaca akuarium dan menoleh untuk menatap pria berambut gimbal itu.
...⁕⁕⁕...