
Empat hari berlalu sejak Harris memberikan dua solusi terhadap kebingungan sang anak mengenai pemilihan piece untuk acara live music di hari kasih sayang, yang berarti empat hari juga pikiran Gavin penuh dengan perkataan ayahnya. Lelaki itu sudah tahu perasaan apa yang ingin disampaikan, apalagi kalau bukan kasih sayang, namun yang membingungkannya adalah kepada siapa perasaan itu ia rasakan.
Gavin sangat yakin tidak berada dalam kondisi menyukai siapa pun, ia baru tiga minggu di tempat baru ini dan ia masih berusaha mengenal baik orang-orang di sana—termasuk keempat teman barunya. Pria itu sendiri juga belum ada niat mengalami kisah kasih sayang dengan lawan jenisnya.
Karena Gavin terus bergelut dengan pertanyaan itu, ia menjadi sering melamun dan mengabaikan sekitarnya. Hal ini tentu disadari oleh Maverick dan Floyd, sekaligus membuat mereka bingung.
"Kenapa akhir-akhir kau banyak melamun?" tanya Floyd dengan tangan yang terus menulis catatan-catatan yang ada di papan tulis, sedangkan Maverick sedang menyalin jawaban tugas matematika milik Floyd. Sekarang memang merupakan jam istirahat, namun ketiga pria itu memilih untuk diam di kelas karena tidak ingin pergi ke mana-mana.
Gavin yang sedang menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya menoleh ke kanan, "kau tahu acara live music di hari Valentine, 'kan?" tanyanya dengan suara pelan. Ia mulai merasa frustrasi karena tidak menemukan jawabannya.
"Tahu, OSIS mengumumkannya kemarin di media sosial mereka, ada hubungannya dengan itu?" Meskipun pertanyaan tersebut Gavin lontarkan untuk Floyd, Maverick terlebih dulu menjawabnya sambil membalikkan kertas buku latihan Floyd.
Gavin menegakkan kembali badannya dan menyandarkan punggungnya di kepala kursi, "aku akan bermain piano di sana." Floyd dan Maverick langsung mengalihkan pandangan dari buku mereka menuju Gavin yang menyilangkan kedua tangannya sembari memejamkan mata.
"Good for you, then. What's wrong with that?" komentar Floyd yang ditimpali oleh anggukan kepala oleh Maverick, setuju dengan perkataan temannya. Gavin mengembuskan napasnya lelah.
"That's not the problem. Sejak empat hari lalu, aku masih belum menemukan piece yang ingin kumainkan, padahal biasanya tidak seperti ini," sanggah Gavin yang membuat kedua temannya mengernyitkan dahi.
"Bagaimana bisa?" tanya Floyd.
"Empat hari lalu?" Berbeda dengan Floyd yang mempertanyakan masalah inti dari cerita Gavin, Maverick salah fokus pada hal lain. Floyd langsung memberikan tatapan bingung pada temannya, namun kemudian ia sadar maksud dari pertanyaan itu.
"Benar juga, empat hari lalu? OSIS bahkan baru mengumumkannya kemarin," celetuk Floyd setuju. Maverick dan Floyd pun langsung memberikan tatapan curiga pada Gavin yang sudah memainkan bibirnya canggung.
Tidak tahan terhadap tatapan penuh tuntutan akan penjelasan, Gavin mengembuskan napasnya berat, mengutuk dirinya sendiri yang keceplosan. "Aku tidak tahu bisa mengatakan ini atau tidak, tapi sebenarnya Arunika mendapatkan ide live music ini setelah ... pertandinganku dengan Archie." Terdapat jeda di kalimatnya dan Gavin merasa malu mengatakan itu. Masih belum ada reaksi dari keduanya sehingga Gavin kembali menjelaskan.
"Dia ... khawatir dengan perasaanku setelah kalah dari Archie, karena pada dasarnya Archie menantangku untuk menunjukkan dirinya lebih baik dariku. Jadi, Arunika ingin ... mengingatkanku, aku juga memiliki spesialisasi dan sama-sama baiknya dengan Archie." Gavin beberapa kali menjeda kalimatnya karena rasa malu menjalar pada dirinya karena secara tidak langsung dirinyalah yang menginspirasi Arunika, atau bahkan memiliki arti yang lebih dari itu.
Seakan tak mempercayai indra pendengaran mereka, butuh waktu bagi Maverick dan Floyd mencerna penjelasan itu. Tak lama terukir senyuman jahil di wajah mereka, membuat Gavin berdeham meski tenggorokannya tidak gatal. Maverick dengan cepat menutup buku tulisnya dan menumpukkan kedua tangannya di atas meja, lalu meletakkan dagunya di sana. Wajah penuh senyuman itu terlihat sangat menyebalkan di kedua mata Gavin sehingga ia secara asal mengambil alat tulis miliknya dan melemparnya pelan ke Maverick. Sayangnya Maverick berhasil menghindar dan entah melayang ke mana alat tulis itu.
"Berhentilah sebelum kulempar buku-buku ini wajah kalian," ancam Gavin dengan wajah kesal, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak. Akhirnya mereka menghentikan sikap jahil itu dan kembali fokus pada masalah yang Gavin alami.
"Baiklah, baiklah, kembali ke laptop. Kenapa kau bisa belum menemukannya? Sudah bertanya pada orang yang mungkin lebih memahami masalah ini?" tanya Floyd dengan tawa yang sudah mereda, meski ia sesekali masih merasa lucu dengan wajah malu—yang berusaha ditutupi—oleh Gavin.
Gavin mengangguk sebagai jawabannya, "aku sudah bertanya pada ayahku dan dia mengatakan mungkin ada perasaan yang ingin kusampaikan pada seseorang. Aku ingin menyampaikan perasaan kasih sayang, sesuai dengan tema acaranya, hanya saja aku tidak tahu kepada siapa aku merasakannya." Sehabis mengatakan itu Gavin mengembuskan napas berat. Pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini dan ini membuatnya sakit kepala. Maverick dan Floyd pun mengangguk paham.
"Aku pernah menyukai perempuan dari kelas lain saat kelas tiga SMP," aku Maverick sambil mengambil alat musik yang Gavin lempar tadi. Dua pria lainnya seketika merasa tertarik sehingga dipandangi lekat Maverick yang mengembalikan alat tulis itu ke meja.
"Aku mulai menyukainya setelah melihat penampilan baletnya di acara pentas seni. Sebenarnya, dia sudah terkenal sejak kelas satu karena prestasi baletnya yang sangat cemerlang, dia bahkan pernah memenangi kejuaraan nasional. Namun karena belum pernah melihat langsung, aku jadi tidak terlalu peduli," lanjut Maverick dengan santai.
"Aku pun berusaha mendekatinya dan dia memberikan respons positif, membuatku berpikir kalau aku memiliki kesempatan. Namun saat aku ingin menyatakan perasaanku, aku bahkan sudah mempersiapkan diri, tersebar kabar ia berpacaran dengan anak basket sekolah. Setelah mengalami itu, aku pun menganggap, cinta itu tentang mengikhlaskan dan mengharapkan yang terbaik untuk orang yang disayangi. Dan setelah lulus SMP, perempuan itu memasuki sekolah khusus balet untuk mendalami bakatnya." Maverick mengakhiri ceritanya dengan senyuman tipis. Ia menjadi mengingat kembali usahanya dulu dalam mendekati perempuan tersebut.
"Kalau aku, cinta tidak selalu tentang lawan jenis," ucap Floyd yang sepertinya memiliki anggapan berbeda dengan Maverick. Sekarang Maverick dan Gavin beralih mendengarkan Floyd.
"Cinta juga bisa kita rasakan untuk keluarga, sahabat, hewan peliharaan, bahkan pada benda kesayangan. Jadi, valentine's day tidak hanya hari kasih sayang untuk lawan jenis saja, tapi juga untuk semua orang yang kita sayangi." Maverick mengangguk setuju, begitu juga dengan Gavin.
Gavin pun merenungkan pendapat kedua temannya, perasaan kasih sayang manakah yang ia rasakan. Apakah seperti Maverick atau Floyd? Setelah beberapa saat terdiam, Gavin mulai teringat satu orang yang masih mendapatkan kasih sayangnya meski telah tak berada di sisinya selama bertahun-tahun, sang ibu. Seketika muncul senyuman senang bercampur kelegaan, sepertinya ia telah menemukan jawabannya. Maverick dan Floyd yang melihat senyuman merekah dari bibir Gavin ikut tersenyum dan menepuk pundaknya. Gavin pun mengucapkan terima kasih karena sudah membantu.
Sepulangnya Gavin dari sekolah, lelaki itu langsung mendekam di studio pribadinya setelah membersihkan diri. Ia memainkan satu piece yang menurutnya sesuai dengan perasaannya terhadap sang ibu. Piece ini berbeda dengan yang ia mainkan di acara keluarga Rosverd karena piece yang sekarang merupakan piece yang Gavin anggap sangat cocok dengan perangai ibunya, sedangkan piece yang dimainkan tempo hari merupakan kesukaan ibunya.
Kesepuluh jarinya terhenti saat tak ada lagi not nada yang tertulis. Gavin tersenyum, merasa cukup lega. Namun, ada sebagian dari dirinya yang merasa masih kurang dan terasa tidak sesuai. Gavin lagi-lagi mengembuskan napas kasar dan meletakkan kepalanya di atas tuts-tuts itu sehingga menimbulkan suara yang sangat keras serta berantakan.
"Bisa gila aku lama-lama."
...⁕⁕⁕...