RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 4: KENAPA?



"Tuan, Nyonya Rebecca memanggilmu ke rumah kaca." Sebuah suara bernada sopan mengikuti ketukan tiga kali di pintu studio pribadi Gavin. Pria muda itu mendengus kasar ketika mendengar nama wanita yang telah menjadi ibunya selama tujuh tahun.


Karena tak mendengar balasan, pelayan yang berdiri di depan pintu kembali mengetuk dan memanggilnya, Gavin akhirnya membalas, "baiklah, saya akan ke sana." Tanpa babibu, ia berdiri dari duduknya di depan piano dan berjalan keluar dari ruangannya.


Selama berjalan, mata Gavin dimanjakan oleh pemandangan halaman yang terlihat sangat dirawat oleh penjaga taman. Dalam hati, ia berharap satu tanaman 'itu' bisa tumbuh di halaman yang indah ini, sayangnya, tanaman itulah satu-satunya tanaman yang dilarang muncul di rumah bagaikan mansion itu. Gavin hanya bisa tersenyum getir dan mempercepat langkahnya menuju sebuah tempat berbentuk kubah dengan kaca sebagai dindingnya.


Berbagai jenis bunga mengisi rumah tersebut, terlihat juga bahwa mereka sangat dirawat, menunjukkan seberapa sayangnya si pemilik. Namun Gavin tak memedulikan bunga-bunga itu dan berjalan lurus mendekati wanita dengan tampilan eloknya. Cara mata wanita itu serta caranya membelai bunga di depannya menunjukkan, dirinya-lah pemilik seluruh bunga di kubah tersebut.


"Kau masih menggunakan seragam sekolah?" Wanita tersebut membalikkan badannya dan tersenyum ketika melihat Gavin dengan tampang datarnya berdiri sekitar tiga langkah darinya.


"Kenapa memanggilku, Rebecca?" Seakan tak mendengar pertanyaan Rebecca, Gavin malah menimpalinya dengan pertanyaan to-the-point, membuat wanita kepala empat itu mengumpatinya dalam hati.


"Kenapa kau masih memanggilku dengan nama? Hatiku menjadi sedih," ungkap Rebecca sambil memegang dadanya.


"Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, aku akan pergi." Gavin membalikkan badannya dan siap untuk melangkah pergi. Namun suara Rebecca menahannya.


"Berapa umurmu sekarang?" tanya Rebecca dengan serius. Gavin mendengus mengejek.


"Tidak tahu umur anaknya tapi berharap untuk dipanggil ibu," sindir Gavin yang membuat alis Rebecca berkedut.


"Jawab saja, bocah."


"Enam belas." Rebecca mengangguk paham.


"Duduklah terlebih dulu," ajak Rebecca sambil menunjuk kursi kosong di depannya. Gavin menatapnya curiga, namun akhirnya mengikuti perkataan wanita itu.


"Apakah kau sudah punya pacar?" Gavin makin curiga ketika mendengar pertanyaan itu dan entah kenapa, firasatnya tidak enak.


"Sepertinya tidak, ya." Rebecca langsung menyimpulkan ketika melihat tatapan curiga Gavin, ditambah ada satu faktor yang menguatkan kesimpulannya.


"Kenapa?" Akhirnya Gavin membuka suara. Rebecca tersenyum lembut dan meminum teh hangat dari cangkirnya dengan cara yang sangat anggun serta berkelas.


"Kau mau berkenalan dengan anak-anak dari temanku?" Saat itulah Gavin sadar ke mana arah pembicaraan itu. Tanpa menunggu lama ia langsung berdiri dengan wajah mengeras.


"Kau mau menjodohkanku? Umurku masih enam belas tahun!" ucapnya dengan suara lantang dan nyaris terdengar seperti suara amarah.


"Kalau begitu katakan pada mereka untuk berhenti mengurusi kehidupan pribadiku. Ini sudah bukan zamannya menjodoh-jodohkan." Rebecca meletakkan cangkirnya dan mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap mata Gavin.


"Mau berapa kali pun mengatakannya, mereka tidak akan mendengar, Gavin." Satu kalimat penuh fakta itu membuat Gavin meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menundukkan kepalanya sambil tertawa.


"Untuk pertama kalinya aku setuju denganmu," komentar Gavin sambil masih tertawa. Rebecca menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Mereka tidak ingin pernikahan seperti ayah dan ibumu terulang lagi." Tawa Gavin langsung terhenti, ia mengangkat kepalanya, dan memberikan tatapan tajam.


"Jangan berucap seakan pernikahan ayah dan ibuku merupakan kesalahan, mereka menikah karena cinta dan tidak ada yang salah dengan itu." Rebecca tersenyum santai dan menaikkan kedua bahunya.


"Tapi bagi mereka, pernikahan ayah dan ibumu merupakan kesalahan fatal. Bagi mereka, keturunan mereka yang penuh bakat serta anugerah tidak boleh bersama wanita yang biasa saja dan cenderung hidup dalam kekurangan." Gavin terdiam mendengarnya. Secuil hatinya menyetujui perkataan itu, sedangkan logikanya menolak keras.


"Mau sekeras apa pun kau menyebutkan kebaikan Ibumu, mereka akan selamanya menutup mata dan telinga, karena apa? Karena sejak awal ibumu tidak pernah masuk dalam kriteria mereka. Kriteria utama mereka adalah nama terakhir di sini," ucap wanita itu dengan telunjuk menekan bagian dada kanan Gavin, tempat di mana label namanya terpasang.


Gavin dengan cepat menepis jari Rebecca dari dadanya, "cukup, Rebecca," ujarnya dengan wajah tegas. Rebecca pun menurunkan tangannya dan kembali menyesap tehnya dengan wajah tenang.


"Kak Gavin?" Gavin menoleh ketika merasa dirinya dipanggil. Terpisah sekitar lima langkah darinya, seorang anak lelaki kecil berdiri dengan sebuah mainan berbentuk kendaraan truk di pelukannya. Sedetik kemudian ekspresi Gavin langsung berubah dari penuh ketegasan menjadi penuh kelembutan.


"Erlan? Kenapa ada di sini?" Gavin menghampiri anak itu dan berlutut satu kaki untuk menyamakan tingginya, lalu memegang lembut pundak Erlano, anak dari Rebecca dan Harris, serta adik tirinya Gavin.


"Erlan tadi pergi ke studio untuk mengajak kakak bermain, tapi kakak tidak ada di sana. Lalu Erlan mendengar kalau kakak ada di sini bersama mama, jadi Erlan ke sini," jelas Erlano dengan suara cadelnya, membuat Gavin tersenyum lembut, mengangkatnya dan membuatnya berada dalam gendongan.


"Tapi sepertinya kakak masih berbicara dengan mama, tidak apa-apa kalau dilanjutkan, Erlan bisa menunggu," ucapan penuh pengertian dengan ekspresi polos itu membuat Gavin makin gemas dengannya. Ia mengelus pelan rambut coklat terangnya dan menatap dalam mata biru itu.


"Kakak sudah selesai berbicara dengan ibumu, jadi ayo, kita bermain bersama." Senyuman Erlano pun langsung merekah, meski bibirnya berkata kalau dirinya bisa menunggu, dirinya tetap senang jika ternyata hal itu tidak diperlukan.


"Mama, Erlan main bersama kak Gavin dulu, ya!" pamit Erlan penuh antusias, ia melambaikan tangannya pada Rebecca yang sejak tadi memperhatikan interaksi dua anak dengan usia terpaut sekitar sembilan tahun. Berbeda dengan Erlano yang memberikan ucapan penuh semangat, Gavin hanya menundukkan kepalanya sekali dengan wajah datar dan berjalan meninggalkan Rebecca membawa Erlano. Rebecca bisa merasakan bagaimana dekatnya dua lelaki itu hanya dengan melihat interaksi mereka.


"Kenapa kau bisa menerima anakku tapi tidak bisa menerimaku?" gumam Rebecca dengan wajah kecut.


Sejak Rebecca menginjakkan kakinya di rumah milik suaminya di Inggris sembilan tahun lalu, Rebecca tidak pernah paham mengapa Gavin sangat sulit untuk menerima dirinya. Awalnya ia berpikir karena Gavin masih terbayang oleh sosok ibunya, tentu Rebecca bisa memahami itu. Kehilangan orang yang menjadi pegangan terkuat dalam hidup tentu sangatlah menyakitkan. Namun, tahun demi tahun berlalu dan Gavin masih belum bisa menerimanya. Rebecca sampai bertanya dalam hati, apa yang salah dengannya?


...⁕⁕⁕...