
Dua hari sebelum kemoterapi.
"Apa kau akan pergi ke kantor ayahmu?"
"Seperti biasa ibu aku harus memberinya kejutan di hari ulang tahunnya," jawab Rosa
"Kalau begitu hati-hati,"
"Ok, dadah ibu!" seru Rosa melambaikan tangannya kearah ibu angkatnya
Seketika wajah Rosa berubah masam saat membalikkan tubuhnya.
Rosa memiliki kebiasaan menemui Aditama di hari kelahirannya yaitu hari Jumat. Gadis itu selalu membawakannya makanan favorit pria itu dan juga makan siang bersamanya.
Saat keduanya tengah menikmati makan siang mereka assisten pribadi Aditama menghampiri mereka.
"Tuan aku membawakan dokumen yang anda minta," ucap pria itu
Adi segera mengambil dokumen itu dan membacanya.
"Semoga dengan aku menjadikan ia sebagai ahli warisku akan mengurangi rasa bersalah ku kepada Anna," ucap Aditama kemudian menandatangani surat pernyataan tersebut.
"Siapa itu Anna?" tanya Rosa begitu penasaran
"Oh itu teman ayah, sebaiknya kau cepat selesaikan makan siang mu, bukankah kau masih ada mata kuliah sore?"
"Baik,"
Selesai makan siang, Rosa segera bergegas pulang. Namun seseorang menjegalnya dan membawa gadis itu masuk ke ruangannya.
"Ibu, kenapa mengagetkan aku seperti itu," ucap Rosa dengan nada kesal
"Apa kau ayahmu sudah menandatangani surat itu?" tanya Ivana dengan nada dingin
"Surat apa?" tanya Rosa tak mengerti
"Serah terima Aditama Group atas nama Talita,"
"Oh itu, aku melihat dia menandatangi surat itu dengan sangat bahagia," jawab Rosa
Tiba-tiba gadis itu begitu terkejut saat mendengar ibunya menggebrak meja kerjanya.
*Brakkk!!
"Dasar bajing*n, ternyata dia masih mencintai wanita sialan!"
Ivana kemudian menarik baju putrinya dan menatapnya tajam.
"Dengar baik-baik Rosa, Aditama Group harus menjadi milikmu dan tidak seorangpun yang boleh menguasainya,"
"Tapi ibu...."
"Selama ini aku sudah berjuang keras agar kau bisa hidup bersama ayahmu itu meskipun berpura-pura menjadi anak angkatnya. Jadi jangan pernah pernah membiarkan anak haram itu menguasai harta ayahmu, sebisa mungkin kau harus menyingkirkannya apapun caranya. Ibu akan berusaha mengubah surat wasiat tersebut dengan caraku dan kau harus mempercepat pertunangan mu dengan Gala, karena hanya dia yang bisa menopang kehidupan kita jika gagal mengambil alih Aditama Group,"
"Baik Ibu," jawab Rosa
*******
Selesai mengantar ibunya pulang, Talita segera menuju hotel tempat dia bertemu dengan Gala.
Ia segera menuju sebuah kamar sweet room dan Gala langsung menyambutnya dengan senyuman di wajahnya.
"Wah tidak ku sangka kau benar-benar datang juga," ucap Gala
"Kau pikir aku wanita cemen yang tak takut dengan gertak kan mu?"
Talita langsung melepaskan tasnya dan duduk di depan Gala. Pria itu kemudian mengajak Talita untuk menikmati makan malam mereka di sebuah restoran mewah.
Talita sama sekali tak terkejut saat Gala mempersiapkan sebuah makan malam romantis untuknya.
"Kau pasti sering melakukan hal-hal seperti ini agar bisa mendapatkan yang kau mau dari kekasih mu bukan?"
"Wah... sepertinya kau langsung tahu apa yang aku inginkan, kau benar-benar cerdas!"
Talita kemudian meminum wine yang ada didepannya hanya dengan sekali teguk.
Tentu saja hal itu membuat Gala tak mengira jika wanita sepertinya mau meminum minuman yang sudah dipersiapkan olehnya.
"Apa kau tidak takut jika aku menaruh sesuatu dalam minuman itu?" tanya Gala penasaran
Mendengar jawaban Talita membuat Gala langsung menyembur minumannya.
*Byuuur!!
"Sorry," ucap Gala mencoba menutupi rasa paniknya
"Kenapa, apa aku sudah membuat mu merasa tak nyaman?" tanya Talita sengaja mendekatkan wajahnya kearah Gala hingga membuat pemuda itu salah tingkah
"Sepertinya aku sudah salah mengira mu selama ini," ucap Talita sengaja mendekatkan bibirnya membuat Gala langsung memejamkan matanya
Cih, ternyata dia bukan player seperti yang ku dengar selama ini. Bagaimana mungkin seorang Casanova setegang ini saat berhadapan dengan seorang wanita.
Selesai makan malam mereka segera kembali ke kamarnya.
Talita sengaja mengganti pakaiannya dengan gaun malam yang **** hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Ia bahkan sengaja memesan wine untuk menemani malam panjang mereka.
"Aku dengar kau sangat kuat saat minum alkohol, apa itu benar?" tanya Talita saat melihat Gala yang terus mengalihkan pandangannya darinya.
"Tidak juga," jawab Gala
Talita kemudian memberikan segelas wine kepadanya membuat ia langsung meneguknya.
Gadis itu kemudian duduk di pangkuan Gala membuat jantung pemuda itu meletup-letup di buatnya.
"Sejujurnya aku senang malam ini kau mengajakku menginap di sini. Setidaknya aku belajar menjadi anak bengal karena mu. Asal kau tahu jadi anak baik itu membosankan, jadi sekali-kali aku juga ingin terlihat liar sama seperti anak-anak muda lainnya," ucap Talita kemudian menuangkan wine kedalam gelas Gala
Melihat keringat dingin mulai membasahi kening Gala membuat Talita tersenyum sinis menatapnya.
"Sepertinya kau sedang tak enak badan hari ini, apa malam pertama kita tunda dulu sampai kondisi mu membaik?" sindir Talita membuat Gala semakin terpojok dibuatnya
Sial, bagaimana dia tahu kalau aku begitu nervous malam ini,
"Ah ... tentu saja tidak. Lagipula aku baik-baik saja kok jadi kenapa harus di tunda," jawab Gala berusaha menutupi rasa tegangnya
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai saja sebelum aku mabuk berat," ucap Talita kemudian mendorong tubuh Gala Hingga terjerembab keatas kasur.
Karena minum terlalu banyak Talita pun ambruk dalam pelukan Gala.
Pagi harinya saat terbangun Talita begitu kaget melihat dirinya begitu nyaman dalam pelukan Gala.
Yang membuatnya semakin terkejut adalah saat ia melihat tanda merah di leher Gala.
"Ah sial, apa aku sebrutal itu hingga meninggalkan tanda merah di lehernya??" Talita segera turun dari ranjangnya sebelum Gala bangun
Ia menyambar pakaiannya dan bergegas pergi meninggalkan hotel.
Tidak lama berselang Gala terbangun saat mendengar suara ponselnya yang terus berdering.
"Iya, aku akan segera ke sana," pemuda itu segera bangun dan terkejut melihat tanda merah di lehernya.
Ia tersenyum saat melihat pesan Talita yang diletakkan diatas meja.
"Jangan Lupa janjimu, kau harus menjadikan aku sebagai tunangan mu atau aku akan memberitahukan semua orang jika kita sudah tidur bersama,"
"Ah beraninya dia mengancam ku," pekik Gala meraba bekas bibir Talita yang menempel di lehernya
Setibanya di kantor GR Retail, ibunya langsung menyambutnya dengan menampar wajahnya.
*Plaaakk!!
"Dasar brengsek, beraninya kau mempermalukan keluarga kita di depan umum!"
"Apa maksud ibu?"
"Apa kau berniat untuk membatalkan pertunangan mu dengan Rosa??, jangan mimpi!" jawab wanita itu
"Memangnya kenapa kalau aku membatalkan pertunangan ku dengan Rosa, lagipula Talita juga putri Om Adi jadi gak masalah bukan jika aku menikahinya," sahut Gala
"Kau salah nak, meskipun mereka itu bersaudara tapi mereka itu berbeda, pokoknya ibu tidak mau tahu. Kau harus tetap bertunangan dengan Rosa titik," ucap wanita itu kemudian meninggalkannya
Tidak lama ayah Gala, datang menghampirinya.
"Kau tidak perlu menanggapi serius ucapan ibumu, kau bebas memilih siapapun yang akan kau nikahi, agar kau tidak menyesal seperti ayahmu. Pastikan kau tidak salah memilih jadi pikirkan lagi baik-baik sebelum membuat keputusan,"
"Terimakasih ayah," ucap Gala begitu bahagia saat ayahnya berpihak kepadanya