
"Harus berapa kali aku katakan padamu Ros, kalau aku hanya mencintai dirimu. Itulah alasan ku meninggalkan Talita dan memilih mu,"
"Jangan bohong, waktu itu alasanmu memilih aku bukan hanya karena cinta, tapi karena kau tahu ayahku memberikan semua kekayaannya kepada ku bukan kepada Talita, bukankah begitu?" tanya Rosa membuat Rehan tercengang Mendengarnya
"Kau benar, tapi kau tahu benar kan kalau aku hanya mencintai mu. Sejak pertama kali kita bertemu sampai sekarang. Aku bahkan bersedia melakukan apapun termasuk menikahi Talita wanita yang tidak aku cinta demi dirimu," tegas Rehan
"Aku memang tidak meragukan cintamu dulu, tapi sekarang semua sudah berubah. Semenjak kehilangan putriku aku mulai kehilangan rasa percaya diriku, apalagi ditambah situasi kita saat ini. Semua ini membuat aku tak nyaman apalagi jika melihat mu bersama wanita licik itu, aku takut kau akan berpaling dariku karena keadaan ini. Aku yakin semuanya mungkin saja terjadi. Aku tidak munafik begitu takut kehilangan kamu," jawab Rosa membuat Rehan langsung memeluknya
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku janji padamu, tidak akan pernah meninggalkan dirimu apapun keadaannya," ujar Rehan
Pria itu akhirnya menyetujui keputusan istrinya untuk selalu berada di rumah dan Rosa yang bekerja untuk menafkahi kebutuhan keluarga mereka.
Tentu saja hal itu membuat Ivana kesal, ia terus menyalahkan Rehan yang dianggap sebagai beban untuk putrinya.
Ia banyak menyuruh Rosa untuk menceraikan Rehan dan menikah lagi dengan lelaki lain yang lebih mapan dan mampu menopang hidupnya.
"Tidak mungkin Bu, aku hanya mencintai Rehan dan tidak ingin yang lain!" seru Rosa
"Tapi dia tak bisa mencukupi kebutuhan mu,"
"Bukan ia tak bisa tapi aku melarangnya, aku tidak bisa membiarkan dia bertemu dengan jal*ng itu!" seru Rosa membuat Ivana membelakakan matanya
"Dasar gila, kau benar-benar sudah gila Ros. Kau sudah dibutakan oleh cinta, sadarlah Rosa semuanya tidak ada yang abadi semuanya palsu. Jika kau terlalu mempercayai cinta maka kau akan menyesal seperti ibumu ini," ujar Ivana kemudian meninggalkan kediaman Rosa
**********
Malam itu Gala sengaja memberikan kejutan kepada Talita. Pria itu mendatangi apartemen wanita pujaan dengan membawa sebuah cincin berlian untuk meminangnya.
Setibanya di kediaman Talita pria itu begitu terkejut saat bertemu dengan sahabatnya Alvin.
Lelaki itu langsung terkesiap saat beradu pandang dengan sahabatnya tersebut.
"Bukankah kau seorang dokter yang sangat sibuk, lalu kenapa kau bisa jalan-jalan ke sini?" tanya Gala
"Oh itu... kebetulan hari ini aku libur,"
"Btw kamu mau ketemu sama siapa kok rapi bener kaya calon pengantin?" tanya Gala lagi
Pria itu memperhatikan penampilan Alvin yang terlihat begitu modis dan elegan.
"Kebetulan hari ini aku akan menemui wanita yang aku cintai," jawab Alvin malu-malu
"Loh kok sama?"
"Apa kau sudah bertemu dengan wanita itu?" tanya Alvin
"Oh iya aku lupa memberitahu mu kalau aku sekarang akan balikan sama mantan kekasih ku,"
Alvin segera memeluk Gala dan mengucapkan selamat kepada sahabatnya tersebut.
"Aku ikut senang mendengarnya, setidaknya kamu tidak akan menjomblo lagi. Aku harap kamu segera melepaskan Callista agar ia bisa menikahi kekasihnya,"
"Tentu saja Bro, bagaimana kalau hari ini kita melakukan double date. Bukankah lebih seru jika kita jalan bersama," ajak Gala
"Setuju!"
Keduanya kemudian berjalan menuju ke rumah Talita. Gala menyipitkan matanya saat melihat Alvin tiba-tiba berhenti dan berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau tiba-tiba mengikuti ku, sebaiknya kamu jemput dulu kekasih mu nanti kita ketemuan di tempat biasa aja," ucap Gala
"Siapa yang mengikuti mu, aku pikir kamu yang mengikuti ku?" jawab Alvin
"Kalau kau tidak mengikuti ku, kenapa berhenti di sini?" tanya Gala
Saat Gala hendak menekan bell rumah tersebut, Alvin buru-buru menekannya membuat Gala sedikit kesal dengannya. Tak lama Talita keluar membuat kedua pria itu bersamaan menyapanya.
"Malam Ta?" ucap keduanya serentak
Talita langsung terkekeh melihat kekompakan mereka.
"Malam Gala, malam juga dokter Alvin," jawab Talita
Jadi Wanita yang Alvin sukai adalah Talita,
Seketika Gala langsung mendekatkan dirinya kepada Talita dan menggandeng lengannya.
Ternyata dia wanita yang selama ini ditunggu oleh Gala,
Tak mau kalah dengan Gala, Alvin segera memberikan bucket mawar merah yang dibawanya kepada gadis itu.
"Terimakasih Dokter," ucap Talita menerima bunga pemberian Alvin
"Sayang, apa kau sudah siap?" tanya Gala berusaha mengalihkan perhatian Talita
"Untuk?"
"Kan aku sudah bilang kalau malam ini aku akan memberikan surprise kepada mu," jawab Gala
"Ah itu... maaf aku lupa,"
"Ya sudah kalau begitu sekarang cepat siap-siap, aku akan menunggu mu," jawab Gala
"Ok, tunggu sebentar ya,"
Alvin yang tak mau membiarkan Talita pergi dengan Gala segera mencegahnya.
"Tidak boleh, malam ini kau harus melakukan medical check up untuk memastikan kesehatan mu. itulah sebabnya aku datang mengunjungi mu," ucap Alvin
'Tapi dok?" ucap Talita merasa tak enak hati kepada Gala
"Gak usa tapi-tapian, kalau kau ingin segera sehat maka cepat ikut denganku," jawab Alvin
Pemuda itu segera melepaskan lengan Gala dan membawa Talita pergi.
"Bukankah masih ada hari esok kenapa juga harus malam-malam begini kamu membawanya. Lagipula Talita baik-baik saja, jadi tolong jangan berusaha menjadi jurang pemisah antara aku dan Talita," ucap Gala segera menarik Talita.
"Kalau kau menyayanginya, harusnya kamu memberikan izin padanya untuk berobat, bukan malah seperti ini. Aku tidak percaya kalau kau benar-benar mencintai Talita sepenuh hati?" cibir Alvin
Mendengar ucapan Alvin, Gala kemudian mengizinkan Alvin membawanya untuk berobat dengan catatan ia harus ikut untuk mengantarnya.
Alvin merasa kesal saat Gala sengaja menyuruh Talita untuk naik ke mobilnya.
"Ah sial, kenapa aku selalu saja kalah dengannya. Kenapa setiap wanita yang aku suka selalu memilihnya,"
Setibanya di rumah sakit Alvin sengaja menggunakan kuasanya untuk membuat Gala jelous kepadanya. Ia bahkan sengaja tidak mengijinkan Gala masuk ke ruang pemeriksaan dengan alasan privasi saat memeriksa Talita.
melihat Gala yang terus menggerutu membuat Alvin terkekeh.
"Aku tidak percaya kalau kau benar-benar menyukainya. Kau bahkan rela menunggunya bertahun-tahun meskipun tanpa kepastian. Sekarang kau memang sudah berubah Gala," ucap Alvin tertegun melihat kesetiaan sahabatnya
Saat pemeriksaan selesai Talita tertegun melihat Gala yang tertidur di kursi tunggu saat menunggunya.
Wanita itu bahkan tak berani membangunkannya karena ia melihat Gala yang tampak kelelahan dan begitu nyaman saat tertidur di kursi tersebut.
"Terimakasih Ga sudah mau menungguku," ucap Talita kemudian merebahkan kepala Gala ke pangkuannya.