Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 50. Kenyataannya



"Ibu tolong aku Bu....," Rosa terlihat bersimpuh sembari memohon kepada Ivana berharap wanita itu akan membantunya


"Kembalikan saja mobil itu, lagipula percuma saja punya mobil mahal, boros, pajak mahal, biaya perawatan mahal, lebih baik beli mobil yang sesuai dengan kemampuan kalian sekarang. Ingat kau bukan anak konglomerat lagi!" seru Ivana


"Tapi Bu?"


"Sudahlah Ros, jangan terlalu memaksa lebih baik kau sadar diri, sadar dengan kemampuan kita sekarang. Jangankan untuk buang-buang uangmu hanya untuk hal yang tidak penting," imbuh Rehan


"Kembalilah bekerja, aku yakin perekonomian kalian akan membaik kalau Rehan bekerja lagi," tutur Ivana


"Aku tidak mau ibu, aku tidak mau Rehan dekat dengan Talita lagi," jawab Rosa


"Kalau gitu kamu saja yang kerja!" cibir Rehan


"Yaudah biar aku saja yang kerja, kamu di rumah saja!" ucap Rosa


Hari itu, Rosa mengembalikan dua mobilnya ke showroom. Setelah kehilangan rumah wanita itu kini harus merelakan dua mobil Ferrarinya.


Rosa berjalan gontai meninggalkan Showroom, hatinya remuk redam karena harus melepaskan mobil kesayangannya.


Berjalan sambil meratapi nasibnya membuat Rosa hampir tertabrak sebuah mobil yang melintas. Beruntung ada seorang pria yang menolongnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Pria itu


Rosa mengangguk pelan. Saat melihat wanita itu kembali melangkahkan kakinya pria itu segera mengikutinya.


"Sepertinya kau sedang kurang enak badan, kalau boleh biar aku mengantar mu pulang," tutur pria itu


"Tidak usah makasih," tolak Rosa


"Jangan begitu, aku hanya tidak mau melihat mu celaka karena terus merenung sambil berjalan,"


Pria itu kemudian mengajak Rosa masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu terbelalak saat mengetahui mobil pria itu adalah salah satu mobil mewah.


Ia segera masuk kedalam mobil itu dan terus memperhatikan interior di dalam mobil yang terlihat begitu mewah.


Pria itu memberikan sebotol air mineral dingin kepada Rosa, "Minumlah agar kamu tenang," ucap pria itu begitu ramah


"Terimakasih," jawab Rosa mengambil air mineral itu darinya


"Kenalkan aku Dika," ucap pria itu mengulurkan tangannya


"Rosa," jawabnya singkat


"Kau bisa memberitahu dimana rumahmu?"


"Jalan Perintis Kemerdekaan, nanti biar aku yang akan memberitahu jalan mana yang harus kau lewati,"


"Ok,"


Setengah jam kemudian Rosa sampai di depan rumahnya. Pria itu segera turun dan membukakan pintu mobilnya.


"Sekali lagi terimakasih," ucap Rosa sebelum masuk kedalam rumahnya.


Pria itu terus berdiri di depan rumah Rosa sampai wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Siapa pria itu?" tanya Rehan menatap curiga kepada pria itu


"Bukan siapa-siapa, dia hanya khawatir padaku makanya dia mengantar aku pulang," jawab Rosa


"Apa kau mengenalnya?" tanya Rehan lagi


Rosa langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau kalian tidak saling kenal, bagaimana ia bisa mengantar mu pulang, aku yakin kamu bohong,_"


"Terserah apa yang kau pikirkan, tapi asal kau tahu aku bukan orang yang suka selingkuh seperti dirimu," jawab Rosa kemudian masuk ke kamarnya.


Pagi harinya, Rosa tampak rapi wanita itu tampak membawa beberapa surat lamaran kerja yang sudah ia persiapkan semalam.


"Hari ini aku akan melamar kerja, aku harap kamu tetap diam di rumah dan jangan kemana-mana. Tunggu aku dirumah dan jangan macam-macam," ucap Rosa kemudian meninggalkan Rehan


Seorang wanita muda menunggu Rosa dan memboncengnya dengan sepeda motornya.


Keduanya melesat menerobos jalanan ibukota yang sangat padat di pagi hari.


"Apa kau yakin aku bisa diterima kerja di tempat mu Nad?" tanya Rosa sedikit ragu


"Tenang saja, aku yakin kau bisa diterima di sana, lagipula kamu memiliki paras yang cantik, tinggi, jadi aku yakin sekali kau pasti di terima," jawab Nadia


"Aamiin,"


"Asal kau tahu standar untuk bekerja di perusahaan ku itu memang tinggi tapi jika memiliki paras yang cantik dan proporsional itu lebih di utamakan dan biasanya akan di tempatkan di bagian strategis yang dekat dengan pimpinan,"


"Kenapa bisa begitu?" tanya Rosa


"Biasalah warga 62 selalu menilai seseorang dari parasnya, mungkin mereka jenuh seharian bekerja makanya perlu melihat yang bening-bening agar semangat bekerja," jawab Nadia


"Jangan bilang kau sudah menikah jika ingin diterima di sini?" ujar gadis itu


Rosa mengangguk paham, dan segera masuk ke dalam untuk interview.


Satu jam kemudian Rosa keluar dengan wajah sumringah.


Seorang pria langsung mengantarnya ke luar, "Kalau kau mau, hari ini juga kau bisa langsung bekerja,"


"Tentu saja,"


"Baiklah kalau begitu kau akan bekerja sebagai staff administrasi,"


Pria itu kemudian mengantar Rosa menuju tempat kerjanya. Wanita itu begitu terkejut saat bertemu dengan pria yang menolongnya kemarin.


"Rosa??"


"Dika??"


"Apa Bapak mengenalnya?" tanya pria itu


"Iya, dia Rosa temanku," jawab Dika


"Kebetulan Rosa melamar sebagai staff administrasi yang baru, dan hari ini dia akan mulai bekerja,"


"Oh begitu rupanya,"


"Rosa .... perkenalkan dia adalah Andika Argaseno Direktur utama perusahaan ini,"


Rosa segera memberikan hormat saat mengetahui pria itu adalah atasannya. Ia benar-benar tak menduga jika pria yang menolongnya adalah seorang direktur utama.


Sore itu Dika menghampiri Rosa di shelter bus dan mengajaknya pulang bersama.


"Apa kau sudah makan?" tanya Dika


Rosa menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang," ajak Dika


"Maaf aku tidak bisa Pak, aku harus segera pulang," tolak Rosa


"Baiklah kalau begitu," Dika kemudian mengantar Rosa pulang.


Namun pria itu menghentikan mobilnya di sebuah restoran cepat saji dan memesan makanan untuk Rosa.


"Kau bisa memakannya saat pulang di rumah nanti," ujar pria itu. memberikan makanan kepada Rosa


"Terimakasih banyak, harusnya anda tak perlu repot-repot Pak," jawab Rosa


"Panggil Dika saja jika di luar kantor,"


"Iya Dika,"


Rosa tidak tahu kenapa pria itu begitu baik padanya. Padahal mereka belum saling mengenal, tentu saja hal itu membuat Rosa berusaha menjaga jarak dengannya karena ia tak mau terpikat dengan pria tampan itu.


Setibanya di rumahnya Rosa begitu terkejut saat melihat Talita ada di rumahnya.


"Ada keperluan apa kau datang ke sini?" tanya Rosa


"Ku dengar kalian diusir dari rumah dan juga kehilangan mobil kesayangan kalian, jadi aku sempatkan datang ke mari, barang kali ada yang bisa saya bantu?" jawab Talita


"Jangan bohong, aku yakin kau datang kemari pasti untuk menertawakan kami bukan, jadi pergi dari sini sebelum aku mengusir mu!" seru Rosa


"Jangan salah sangka dulu Rosa, walaupun bagaimana kau tetap adikku, jadi wajar saja jika seorang kakak datang untuk membantu adiknya saat ia sedang kesusahan bukan?"


"Kalau kau ingin membantu ku, kenapa kau tidak melunasi cicilan mobil ku dan malah meminta mereka menagih ku, dasar wanita licik!" sahut Rosa


"Oh kalau masalah itu, aku minta maaf karena banyak pertimbangan yang membuat ku tak bisa membayar cicilan mobil mewah mu itu. Sebagai bukti permintaan maaf ku, mulai besok kau dan suamimu boleh bekerja lagi di Aditama Group. Semoga dengan begitu perekonomian kalian bisa membaik lagi," jawab Talita


"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan mu, sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan jadi aku tidak perlu lagi belas kasihmu!"


Rosa kemudian mengusir Talita dari rumahnya.


Rehan yang melihat keegoisan Rosa mulai berdebat dengannya.


"Kenapa kau menolak tawaran darinya, bukankah jika kita berdua bekerja lagi maka kehidupan kita akan membaik?"


"Apa kau begitu ingin bekerja dengan wanita itu hingga tak mau bekerja di tempat lain hah!!" hardik Rosa


"Lagi-lagi kau berbicara seperti ini, apa dimata mu aku selalu terlihat sebagai lelaki baji*Ngan yang akan mengkhianati mu dan berselingkuh dengan kakak mu sendiri!"


"Kau tahu benar jika Talita bukan kakak ku. Jadi mungkin saja bagimu untuk berselingkuh dengannya, apalagi dia seorang yang kaya raya. Bukankah keluarga mu menginginkan kau menikah dengan wanita kaya sepertinya, bukan dengan wanita miskin seperti diriku!" seru Rosa begitu berapi-api


"Harus berapa kali aku katakan padamu Ros, kalau aku hanya mencintai dirimu. Itulah alasan ku meninggalkan Talita dan memilih mu,"


"Jangan bohong, waktu itu alasanmu memilih aku bukan hanya karena cinta, tapi karena kau tahu ayahku memberikan semua kekayaannya kepada ku bukan kepada Talita, bukankah begitu?" tanya Rosa membuat Rehan tercengang Mendengarnya.