Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 48. Maafkan Aku



"Kau bohong, kalau kau baik-baik saja, kenapa pergi setelah mengetahui bahwa aku yang menjadi mempelai pengantinnya, kenapa juga kau tidak kembali ke kantor mu malah menangis seorang diri di sini, apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Gala


"Cukup Gala, hanya aku yang tahu bagaimana perasaan ku, jadi please jangan ikut campur urusan ku," jawab Talita


"Tentu saja aku harus ikut campur karena aku tidak bisa melihat wanita yang ku cintai menderita. Aku memang bukan dirimu yang bisa baik-baik saja meskipun tanpa diriku, aku bukan kamu yang cuek saat melihat ku meskipun aku tahu kau masih menyukaimu. Selama itu membuat mu bahagia aku tidak peduli, meskipun hati hancur karena penantian ku sia-sia selama dua tahun ini, tapi setidaknya aku bahagia kalau melihat mu bahagia. Jadi usaplah air matamu agar aku bisa tenang melepas mu," jawab Gala membuat Talita seketika kembali terisak


Gala segera memeluk erat wanita itu saat melihatnya menangis tersedu-sedu.


"Kalau kau seperti ini, bagaimana aku bisa hidup bahagia," ucap Gala mengusap lembut rambutnya


"Kenapa kau selalu membuatku bimbang Gala, sekarang tidak ada kesempatan lagi untuk kita, jadi please jangan buat aku tidak bisa move on dari kamu," ucap Talita melepaskan pelukannya


"Kalau begitu jangan pernah move on dariku dan tetaplah bersamaku," jawab Gala kemudian mengecup bibir wanita itu.


"Gala!"


Keduanya tersentak saat mendengar suara orang menghampiri mereka.


Talita segera menoleh kearah pria itu, dan mengusap air matanya saat melihat ayah Gala datang menghampirinya.


Pria itu menatap nyalang kearah Talita, membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


"Ayo cepat kembali, semua orang menunggu mu," ucap pria itu


Gala menggenggam erat jemari Talita seolah ingin menolak ajakan ayahnya.


Namun Talita segera melepaskan tangannya dan menyuruhnya untuk pergi bersama ayahnya.


"Pergilah, istrimu pasti menunggu mu di sana," ucap Talita


Melihat Gala tak mau meninggalkannya, maka ia memutuskan untuk meninggalkan pria itu.


Alvin yang menyaksikan semuanya dari kejauhan.


"Ternyata dia wanita itu, pantas saja ia langsung terbangun saat mendengar suaranya. Ternyata kalian memang pasangan sejati, hanya saja takdir tidak menyatukan kalian berdua," ucap Alvin mengingat bagaimana Talita sadarkan diri dari komanya.


*******


Pagi itu Talita memulai harinya dengan tumpukan pekerjaan di atas mejanya.


Ia berniat mengerjakan semua pekerjaannya untuk melupakan kesedihannya.


Ia bahkan sengaja memilih lembur saat orang-orang memilih liburan di hari libur.


"Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ardan


"Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri," jawab Talita


"Aku harap kau tidak memaksakan diri, kau juga butuh istirahat."


"Tentu saja, aku akan istirahat setelah menyelesaikan semua pekerjaan ini," jawab Talita


Ardan mengangguk, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Talita.


Tidak lama pria itu kembal dengan membawa segelas kopi hangat dan sebungkus roti sobek untuknya.


"Makanlah dulu baru lanjutkan lagi pekerjaan mu,"


"Ok Ardan, terimakasih." Saat wanita itu tengah menikmati makan malamnya, handphonenya berdering.


Ardan segera mengambil gawai pipih tersebut.


"Halo, ada yang bisa saya bantu?"


"......"


Ardan langsung mengangguk dan memberikan telpon tersebut kepada Talita.


"Ada tawaran bisnis dari perusahaan Retail, apa anda bersedia untuk menjadi rekan bisnis mereka?" tanya Ardan


"Jika itu menguntungkan bagi kita kenapa tidak?"


"Baiklah, kalau begitu,"


Pagi harinya Ardan menjemput Talita di kediamannya. Ia kemudian melesatkan mobilnya menuju kawasan puncak Bogor.


Setibanya di sana semua direksi perusahaan Retail sudah menunggunya.


"Selamat datang nona Talita," sapa seorang pria menyalaminya


"Terimakasih sambutannya," jawab Talita


Talita terkesiap saat melihat semua CEO perusahaan masih muda dan mereka membawa pasangan masing-masing.


"Kenapa kau tak membawa pasanganmu ke sini, bukankah aku sudah memberitahu Assisten pribadimu untuk membawa pasangan karena acara kita gak formal?"


"Iya, tapi aku lebih nyaman sendiri," jawab Talita


Pria itu kemudian mengajak Talita ke sebuah restoran untuk menikmati sarapan pagi mereka.


"Jadi kau akan berpasangan dengan assisten kamu?" tanya pria itu


"Anggap saja begitu," jawab Talita


Saat mereka tengah menikmati sarapan tiba-tiba Talita langsung tersedak saat melihat kedatangan Gala bersama istrinya.


Tentu saja semua orang langsung menoleh kearah gadis itu. Ardan dengan cekatan segera mengambilkan tisu untuk atasannya tersebut.


"Maaf jika sudah mengganggu kenyamanan kalian," ujar Talita


Gala sengaja duduk di sampingnya membuat Talita jadi salah tingkah.


Ia bahkan sengaja menyuapi pasangannya untuk membuat Talita semakin tak nyaman melihatnya.


Benar saja Talita memilih mengakhiri sarapannya daripada harus melihat Gala yang berusaha memanasinya.


Setelah acara sarapan acara selanjutnya adalah melakukan rapat kerja.


Kali ini semua tidak membawa pasangan mereka karena melakukan rapat kerja untuk menentukan siapa yang akan mereka pilih sebagai partner kerja.


Talita kemudian memeriksa dokumen kedua perusahaan retail tersebut untuk menentukan pilihannya.


"Kenapa anda tidak memilih GR Retail, bukankah perusahaan mereka sudah teruji bagus dan terpercaya," ujar Ardan


"Tapi...." jawab Talita ragu


"Jangan mencampur adukkan urusan bisnis dengan urusan pribadi anda, ingat itu nona," tegas Ardan mengingatkan wanita itu


Talita akhirnya memutuskan untuk memilih menjadi partner bisnis GR Retail. Gala begitu senang saat tahu Talita memilihnya, hingga ia langsung menerima tawaran dari Aditama Group dan mengabaikan perusahaan lainnya.


"Bagaimana perasaanmu karena harus bertemu denganku lagi?" tanya Gala


"Biasa saja," jawab Talita singkat


"Jangan bohong, aku yakin kau pasti kesal dan marah karena harus bertemu denganku lagi,"


"Kenapa aku harus marah, bukankah kita hidup berdampingan jadi wajar saja jika kita sering bertemu, lagipula aku juga akan terbiasa nantinya," jawab Talita


Gala hanya tersenyum kecut menanggapi jawaban gadis itu.


Dasar gadis jahat, kau selalu saja berusaha tegar meskipun aku tahu sebenarnya kau sedang terluka dan rapuh.


Ardan membisikkan sesuatu kepada Talita membuat gadis itu langsung tersenyum kepadanya.


"Benarkah, aku senang sekali mendengarnya. Aku yakin setelah ini mereka akan mulai kebingungan karena keuangan mereka yang mulai susah. Aku tidak sabar untuk melihat pria itu mengemis pekerjaan padaku," ujar Talita


Malam itu adalah acara penutupan lokakarya, mereka menggelar acara pesta dansa untuk mengakhiri acara lokakarya tersebut.


"Talita, apa kau mau berdansa denganku?" tanya seorang pria menghampirinya


"Maaf, aku tidak bisa berdansa," tolak Talita


Gadis itu lebih memilih duduk menyendiri sambil memandangi orang-orang yang berdansa di hadapannya.


Seketika pandangannya tertuju kepada Gala yang tengah berbincang intens dengan istrinya.


Sementara itu di saat yang bersamaan Ardan meminta ijin untuk pulang karena ada urusan keluarga.


Talita yang sendirian kemudian memilih berjalan-jalan menikmati pemandangan malam hari di sekitar vila.


Wanita itu menghentikan langkahnya saat melihat pasangan yang tengah memadu kasih di taman vila.


"Tidak mungkin??"


Talita segera membalikkan badannya dan bergegas masuk ke dalam. Wanita itu tercengang saat melihat Gala sedang menikmati minumannya seorang diri.


Ia termangu melihat pria itu yang terus memandangi potretnya.


Ia segera manarik pundak pria itu membuat Gala langsung menoleh kearahnya.


"Maafkan aku," ucap Talita kemudian mencium bibir pria itu.