Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 14. Kecurigaan



Kediaman Aditama tampak begitu ramai malam itu. Terlihat begitu banyak muda-mudi mendatangi rumah mewah itu untuk merayakan ulang tahun Rosa yang ke tujuh belas.


Bunyi bising suara dentuman musik membuat Talita memilih keluar untuk mencari udara segar.


Netranya tak berkedip saat menatap kedatangan Rehan yang tampak begitu menawan malam itu.


Kau memang selalu membuatku terpukau dengan ketampanan dan kebaikan mu, harusnya hari ini kita jadian hari ini. Dan aku masih ingat betapa bahagianya aku saat kau menyatakan perasaan mu padaku.


"Selamat malam Talita," sapa Rehan begitu ramah


"Malam Re,"


"Kenapa kau ada di luar, bukankah harusnya kau menemani Rosa di dalam,"


"Iya tapi, aku tak suka keramaian,"


"Oh begitu ternyata kita memiliki kesamaan. Aku juga tidak suka keramaian," jawab Rehan


Keduanya kemudian mengobrol begitu lama hingga Rosa datang memanggil keduanya.


"Kakak!" serunya membuat Talita dan Rehan langsung menoleh ke arahnya.


"Rehan, kau sudah datang tapi kenapa belum masuk?" tanyanya begitu terkejut saat melihat Rehan lebih memilih mengobrol dengan Talita daripada menemuinya


"Maaf, aku hanya sedikit malu untuk masuk ke rumah kamu, sepertinya aku tak pantas bergabung di pesta ulang tahunmu," jawab Rehan


"Kata siapa kau tak pantas bergabung dengan kami. Kau ini tampan, baik hati jadi apa yang membuatmu tak percaya diri?" tanya Talita


Rehan terdiam sambil mengamati penampilannya.


Talita yang mengerti kegelisahan Rehan segera menarik pemuda itu meninggalkan halaman rumahnya.


"Kalian mau kemana!" seru Rosa dengan rasa penasaran


"Tunggu saja aku akan kembali sebentar lagi," jawab Talita


Rosa tersenyum bahagia saat melihat Talita begitu peduli dengan Rehan. Ia mengira jika kakaknya sudah mulai menyukai Rehan.


Sepertinya usaha Rehan untuk mendekatinya berhasil, aku jadi lega sekarang.


Rosa kembali masuk kedalam untuk melanjutkan pesta ulang tahunnya.


Setengah jam kemudian Talita kembali dengan membawa Rehan yang sudah berubah karenanya.


Semua orang seketika terpukau saat melihat penampilan Rehan yang tampak berbeda.


Wajah tampannya semakin menawan dengan balutan outfit branded terkenal.


Rosa bahkan tak berkedip saat menatap pria itu menghampirinya.


"Selamat ulang tahun Rosa?" ucap Rehan memberikan sekuntum mawar merah kepadanya


Semua wanita terlihat iri saat melihat Rosa berhasil mendapatkan perhatian dari Rehan.


Pria itu bahkan sengaja melukisnya di depan para tamu undangan membuat gadis itu semakin terkesima dibuatnya.


Talita tersenyum simpul saat melihat benih-benih cinta yang mulai tumbuh dalam diri Rosa.


"Mulai sekarang aku akan membuat kalian saling jatuh cinta hingga akhirnya kalian menikah. Pada hari itu kalian akan tahu seperti apa sifat asli pasangan kalian dan bagaimana rasanya menikah dengan orang yang dicintai tapi tak memiliki apa yang kalian inginkan yaitu harta??" ucap Talita kemudian pergi meninggalkan hingar bingar pesta ulang tahun Rosa.


Pagi harinya, Talita memulai kegiatan lagi sebagai Kepala Divisi Eksekutif.


Kali ini ia merasakan ruang kerjanya begitu dingin hingga sengaja mematikan ac ruangan itu.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding berada di ruangan ini?"


Talita tiba-tiba melihat sekelebat bayangan berlalu di depan meja kerjanya.


"Haish, sepertinya hantu itu mulai muncul," gadis itu menyeringai menatap sekelilingnya


Apa benar ruangan ini berhantu?, aku tidak percaya hantu muncul di pagi hari. Sekarang aku ingin tahu siapa yang mencoba menakut-nakuti aku hingga aku ingin pindah dari Divisi ini?


Talita sengaja memanggil bagian maintenance untuk memperbaiki ac ruangannya.


"Apa AC nya rusak?" tanya Talita


"Sepertinya ada seseorang yang menambah freonnya hingga menjadi lebih dingin dari biasanya,"


"Kalau begitu biarkan saja," jawab Talita dengan tenang


Ia kemudian keluar untuk menemui ayahnya.


Tidak lama seorang pria keluar dari ruangannya dengan tubuh menggigil.


Setelah kembali ke ruangannya Talita langsung membuka ponselnya.


Wanita itu tersenyum saat melihat seseorang keluar dari ruangannya dengan tubuh menggigil.


Jadi dia orangnya yang berusaha menakuti ku. Baiklah kita lihat siapa yang akan ketakutan aku atau kamu...


Talita sengaja keluar dari ruangannya saat jam istirahat. Ia pergi ke pasar tradisional untuk membeli dupa dan wewangian melati dan juga kain kafan.


Ia kemudian membakar dupa di bawah meja kerjanya.


Ia sengaja memasang kain pada di sudut ruangannya.


"Perfect!"


Saat semua orang sibuk bekerja Talita kemudian keluar dari ruangannya dan sengaja mengawasi ruangannya dari kejauhan.


Seorang wanita mengendap-endap masuk ke ruangannya.


Setelah memastikan wanita itu masuk Talita kembali masuk ke ruang kerjanya.


Ia sengaja mematikan dupa di bawah meja kerjanya dan menggantinya dengan menyemprotkan wewangian khas melati.


Wanita yang menyamar menjadi hantu mulai gelisah saat mengendus aroma melati yang begitu menyengat.


Talita sengaja menyalakan alunan suara mencekam untuk menambah aroma mistis di ruangan itu.


Ia pura-pura ketakutan saat mencium aroma wangi melati. Melihat Talita sudah ketakutan membuat wanita itu langsung keluar dari persembunyiannya untuk menakut-nakutinya.


Namun saat wanita itu keluar Talita langsung membuka Tirai yang menutupi manekin yang sudah di tutup dengan kain kafan.


Bukannya menakuti Talita wanita itu justru ketakutan saat melihat penampakan pocong di depannya.


Talita tertawa terbahak-bahak melihat wanita itu yang seketika lari tunggang langgang meninggalkan ruangannya.


"Makan tuh setan!" seru Talita merasa puas karena sudah menakut-nakuti wanita yang selalu membuatnya ketakutan


"Sekarang tinggal cari tahu siapa dalang di balik semua ini!"


Talita segera membersihkan ruangannya dan kemudian bergegas pulang.


Setibanya di area parkir ia baru menyadari kalau kunci mobilnya ketinggalan.


Saat ia hendak memasuki ruang kerjanya ia melihat wanita yang menyamar menjadi hantu.


Ia berusaha mengikuti wanita itu untuk mendapatkan informasi darinya.


Talita menghentikan langkahnya saat melihat wanita itu memasuki ruang kerja Ivana.


"Jadi selama ini yang berusaha menakuti aku agar aku pindah divisi adalah Ivana??.


Talita segera mengambil kunci mobilnya.


Sekarang jangan pikir aku akan meninggalkan di Divisi Eksekutif, justru dengan menakut-nakuti aku kau malah makin membuat ku penasaran, untuk apa kau selalu berusaha menekanku. Aku justru semakin penasaran untuk mengungkapkan siapa dalangnya,


*******


Hari berikutnya Talita masih diam saja di kantornya. Sudah seminggu ia bekerja sebagai kepala Divisi Eksekutif tapi tak ada satupun pekerjaan untuknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa aku merasa aneh, bahkan harusnya mereka meminta tanda tangan ku setiap membuat sesuatu. Masa sudah seminggu di sini aku hanya duduk di ruangan ini tanpa melakukan apapun," saat Talita keluar dari ruangannya semua bawahannya terlihat sibuk bekerja


Ia kemudian mengikuti seorang karyawan yang keluar dari ruangannya sambil membawa sebuah dokumen.


Karena penasaran ia mencegatnya,


"Bukankah kau seharusnya minta tanda tangan ku, lalu kenapa kau malah keluar ruangan Divisi Eksekutif,"


Karyawan itu terlihat panik dan ketakutan. Menyadari ada sesuatu yang di sembunyikan oleh bawahannya membuat Talita melepaskan wanita itu dan mengikutinya diam-diam.


Ia mengepalkan tangannya saat melihat seorang menyuruh menumpuk dokumen itu di sebuah ruangan. Karena penasaran Talita masuk ke ruangan itu, ia terkejut saat melihat tumpukan map Divisi Eksekutif menumpuk di meja itu.


Ia memeriksa satu demi satu dokumen tersebut.


Jadi ternyata ada seseorang yang membajak pekerjaanku. Tapi siapa orangnya yang berani memalsukan tanda tangan ku??