
Meskipun rasa penasaran menyelimuti pikirannya kini, namun Talita buru-buru kembali ke mejanya sebelum Rosa tiba di sana.
Tidak lama seorang pelayan mengantarkan minuman untuk mereka.
"Selamat menikmati," ucap pramusaji tersebut kemudian meninggalkannya
Talita segera memerintahkan Gala untuk menghubungi Rosa.
Betapa bahagianya Rosa saat menerima panggilan dari pria yang disukainya itu.
Ia kemudian beranjak dari duduknya untuk mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dengannya.
Melihat rencananya berhasil, Talita langsung menukar minumannya dengan punya Rosa.
Kali ini aku akan membuat kamu yang akan menikah dengan Rehan.d
Benar saja setelah meminum air minumnya Rosa langsung ambruk di mejanya. Begitupun dengan Rehan.
Talita kemudian membawa mereka ke kamar hotel, persis seperti yang dulu ia rasakan saat meminum minuman itu dulu.
Saat Rosa tak sadarkan diri, Talita mengambil ponsel miliknya.
Ia hanya ingin memastikan siapa wanita yang dipanggilnya mamah oleh Rossa.
Tidak ada nomor lain selain sebuah nomor yang selalu dihubungi oleh Rosa selain nomor cantik yang membuat Talita penasaran.
Ia kemudian menelepon nomor itu dan mendengarkan suara wanita yang menjawab panggilannya. Talita begitu terkejut saat mendengar suara orang yang menjawab teleponnya tersebut. Ia merasa familiar dengan suara itu.
Sebenarnya siapa wanita itu. apa aku mengenalnya, kenapa suaranya begitu familiar??
Talita seperti sudah hafal dengan suara tersebut dan begitu dekat dengan orang tersebut.
Tidak mungkin...aku yakin Rosa tidak mungkin berhubungan dengan wanita sialan itu,
Talita kemudian membaca pesan singkat antara Rosa dan Ivana. Ia benar-benar shock saat mengetahui jika Ivana adalah ibu kandung dari Rosa.
"Aku benar-benar tak percaya jika Rosa adalah putri dari Ivana. Pantas saja ia begitu jahat dan sangat licik, ternyata ia mempelajari semua itu dari wanita iblis itu,"
Talita segera mengembalikan ponsel Rosa dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Pagi harinya, ia pura-pura tidur saat mendengar suara Rosa berteriak-teriak memanggil namanya.
Ia tahu jika gadis itu ingin menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengannya.
Sekarang kau akan merasakan bagaimana rasanya di jebak oleh dirimu sendiri. Aku ingin tahu apa kau benar-benar akan menikah dengan Rehan atau kau akan membiarkan semuanya tanpa ada seorangpun yang tahu.
#Kediaman Ivana
*Plaaakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Rosa saat gadis itu menceritakan apa yang terjadi padanya.
Ivana begitu geram saat mengetahui putrinya tidur dengan seorang lelaki miskin yang sama sekali tidak memiliki masa depan menurutnya.
"Dasar bodoh, bagaimana bisa kau terjebak oleh jebakan mu sendiri. Apa kau ini benar-benar bodoh atau kau memang mencintai pria itu!" seru Ivana
"Tidak mah, semuanya tidak seperti yang mamah pikirkan. Aku sudah melakukan semua yang mamah perintahkan. Tapi entah kenapa aku malah yang meminum air itu bukannya Talita. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu," jawab Rosa
"Sepertinya kau lupa jika yang kau hadapi sekarang bukan lagi Talita gadis yang bodoh, tapi Talita seorang gadis genius yang mampu melakukan apapun," jawab Ivana
"Lalu apa yang harus aku lakukan mah?" tanya Rosa
"Apapun yang terjadi denganmu, kau tidak boleh menikah dengan Rehan, ingat nak... Rehan bukan pria kaya jadi dia tidak akan pernah membuat mu bahagia meskipun kalian saling mencintai."
"Lalu bagaimana jika aku mengandung anak Rehan?" tanya Rosa
"Gugurkan, aku yakin kau akan menyesal suatu saat nanti jika tidak mendengarkan ucapan ku ini,"
"Baik mah," jawab Rosa dengan perasaan sedih
Ia kemudian meninggalkan kediaman Ivana dan segera bergegas ke kampus.
Melihat Rosa yang murung seharian saat berada di kampus membuat Rehan mendekati gadis itu.
Rosa menggeleng kepalanya.
"Kalau ia belum tahu kenapa kamu terlihat sedih dan tak bersemangat," tutur Rehan
"Aku takut...." Jawab Rosa dengan wajah gusar
"Takut apa?"
"Aku takut hamil dan ayahku mengetahuinya. Aku takut diusir dari rumah itu. Aku tidak mau kembali lagi ke panti asuhan," jawab Rosa
"Jangan takut Ros, apapun yang terjadi padamu aku pasti bertanggung jawab. Aku pasti akan menikahi mu dan menjagamu sepenuh hatiku," ucap Rehan berusaha menenangkan Rosa
Kenapa aku sangat nyaman dalam pelukan Rehan, apa benar aku mencintainya??
*******
Gedung Aditama Group
Pagi itu Talita sengaja datang ke kantor lebih awal dari biasanya.
Ia sengaja datang pagi untuk menyelidiki sesuatu. Tentu saja ia akan menyelidiki Ivana namun ada hal lain yang lebih penting yang harus diungkap oleh Talita.
Adi memintanya untuk menyelidiki kasus penggelapan anggaran katering makanan untuk karyawan.
Talita seger menuju ruang pantry untuk melihat stok makanan di sana.
Setibanya di sana ia hanya mengelus dada saat melihat tak ada apapun di pantry selain teh dan gula.
"Benar-benar brengsek, kau pikir kenapa kinerja karyawan lemah, "
Setelah memeriksa pantry, Kini Talita menuju ke kantin.
Semua orang tampak sibuk mempersiapkan menu untuk makan siang karyawan.
Talita terkesiap saat melihat timbunan sayur mayur yang sudah membusuk dan juga daging yang sudah tidak segar dan bau.
Tiba-tiba seorang wanita mengambil sayuran itu dan membersihkannya.
Ia lalu memotongnya.
"Kenapa kau tidak membuang sayuran itu?" tanya Talita menghampiri wanita ini
"Sayuran ini masih bisa dimasak jadi untuk apa membuangnya," jawab wanita itu begitu dingin
*Braakkk!!
Seketika ia terkejut saat Talita menggebrak mejanya.
"Jadi kalian selama ini memasak sayuran sampah untuk para karyawan, pantas saja semua orang lebih memilih makan di luar daripada makan di kantin," tukas Talita
Wanita itu menatap nanar kearah Talita.
"Kau pikir kami bisa mendapatkan sayur segar dengan budget uang yang kalian berikan. Sebaiknya kau jaga ucapanmu sebelum memaki ku," jawab wanita itu mengacungkan pisau kearahnya
"Siapa yang mengurus keuangan kantin ini?" tanya Talita
Wanita itu langsung menunjuk seorang wanita gemuk yang terlihat ongkang-ongkang kaki di ruangannya.
Talita segera masuk ke ruangan itu membuat wanita itu terkesiap melihat kedatangannya.
"Ada perlu apa Ibu datang ke sini?" tanyanya gemetar
"Aku mau lihat laporan keuangan kantin?" tanya Talita
"Maaf kalau itu bukan saya yang membuatnya,"
"Terserah siapapun yang membuatnya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihat laporan keuangan itu saja, apa kau mengerti!" seru Talita
Wanita itu langsung berdiri dan memasang badan saat Talita meminta laporan keuangan padanya.
"Meskipun kau putri direktur, tapi kau tidak berhak melihat laporan keuangan itu, karena yang berwenang mengaudit keuangan di kantin hanya Ibu Ivana. Jadi jika kalau tidak ada urusan lain silakan pergi dari sini,"