Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 7. Nekat 2



"Pria itu adalah Gala calon tunangan aku yang direbut oleh kak Talita. Kalau kakak menganggap aku sebagai temanmu aku harap kau mau membantuku untuk mendapatkan kembali calon tunangan ku yang sudah direbut kak Talita. Selain kakak bisa membantuku kaka juga akan mendapatkan hati wanita yang kau cintai, jadi balance kan?" ujar Rosa


"Tapi ...."


"Hanya kakak yang bisa membantuku saat ini, aku mohon dekati Talita dan dapatkan hatinya dengan begitu Gala pasti akan kembali padaku," imbuh Rosa


Melihat kesedihan di wajah wanita yang dicintainya membuat Rehan mengiyakan permintaan Rosa


Gala menarik Talita kesebuah tempat dimana tak seorangpun melihat keduanya.


"Wah aku tak menyangka wanita lugu seperti mu berani melakukan hal-hal tak terduga, menarik sekali?" ucap Gala


"Memangnya kenapa, apa kau terpesona denganku?" jawab Talita menantangnya


"Tentu saja aku begitu terpesona denganmu, kau tahu kan kalau aku sangat tertarik dengan wanita yang agresif seperti dirimu," bisik Gala


"Jika kau memang tertarik denganku, lalu kapan kita akan bertunangan?" tanya Talita sengaja menarik dasi Gala hingga pria itu membungkukkan wajahnya kearah gadis itu.


"Tidak ku sangka kau benar-benar agresif. Tak tahu kenapa aku jadi makin suka denganmu," ucap Gala memberikan sebuah kunci hotel kepadanya


"Kalau kau benar-benar ingin jadi tunangan ku maka datanglah dan mari kita habiskan malam panjang bersama," imbuh Gala


Talita mendengus kesal mendengar ucapan Gala yang terkesan meremehkannya.


"Jangan bilang kau tak berani dan hanya menggertak ku selama ini," tukas Gala


"Aku mau kau segera mengadakan acara pertunangan kita setelah kita menghabiskan malam bersama,"


"Certainly, lelaki sejati tidak pernah mengingkari kata-katanya," jawab Gala kemudian meninggalkannya


"Brengsek, rupanya dia sengaja mengujiku, kau pikir aku tak berani tidur denganmu?. Lihat saja kau pasti akan terkejut melihat ku!" pekik Tania kemudian membalikkan badannya.


Hampir saja Talita terjatuh saat seseorang tiba-tiba menabraknya.


*Grep!!


Beruntung seorang pria datang menangkap tubuhnya hingga ia tak terjatuh.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan senyum ramah di wajahnya


*Deg!


Rehan??


Talita terkesiap saat tahu jika pria yang menolongnya adalah Rehan.


Kenapa jantung ini masih berdesir saat melihatmu setelah apa yang kau lakukan padaku. Apa aku benar-benar mencintainya hingga jantungku terus berdebar-debar saat melihatnya. Sadar Talita... kali ini kau tidak boleh terbuai dengan semua kepalsuannya.


"Ah iya, aku baik-baik saja," jawab Talita segera berdiri dan memperbaiki penampilannya


"Sepertinya aku sering melihat mu di sekitar sini, hingga tak sadar kau selalu menjadi objek lukisan ku," tukas Rehan


"Benarkah??, aku tersanjung mendengarnya," jawab Talita


"Benar, kalau kau tak percaya lihat saja semua lukisan ku ini," Rehan kemudian memperlihatkan semua hasil lukisannya kepada Talita


"Maaf kalau aku jadi merusak nilai seni dalam lukisan mu,"


"Justru dengan keberadaan mu di lukisan ini akan semakin menambah nilai estetik lukisan ini, terimakasih sudah menjadi inspirasi ku," jawab Rehan


"Harusnya aku yang berterima kasih,"


"Kalau boleh tahu siapa namamu?"


"Talita,"


Rosa tersenyum bahagia melihat keberhasilan Rehan mendekati kakaknya.


"Bagus kak Rehan, aku yakin kau bisa menaklukkan wanita itu,"


********


Talita terus melirik kearah jam tangannya, ia terlihat gelisah saat mengantar ibunya kemoterapi.


"Kamu terlihat gelisah, apa kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Ibu Talita


"Aku memang ada janji, tapi masih satu jam lagi Bu,"


"Kalau kamu buru-buru sebaiknya tidak usah menunggu ibu. Lagipula Ibu sudah biasa sendiri kok, jadi jangan khawatir,"


"Tidak bu, aku akan tetap menunggu ibu sampai selesai kemo,"


"Yasudah terserah kamu saja, asal tidak merepotkan kamu nak,"


Saat Ratna akan memasuki ruangan kemoterapi tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.


"Selamat sore Nyonya Aditama,"


"Selamat sore Ivana, ada apa kau datang kemari?" tanya Ratna


Wanita itu kemudian memberitahu maksud kedatangannya kepada Ratna.


"Jadi saya harus menandatangani kepindahan suamiku?"


"Benar Nyonya, hal ini dilakukan untuk mengatasi krisis keuangan yang dialami cabang perusahaan kita di luar negeri, kalau begitu serahkan saja kepada putriku, tanganku sudah tidak bisa digerakkan lagi karena sudah di suntik anastesi. Jadu biarkan dia yang akan menandatangani surat ini atas namaku," jawab Retna


Ivana kemudian menghampiri Talita yang duduk di Selasar.


Talita sedikit bingung kenapa sekretaris ayahnya yang terkenal paling sibuk bisa datang mengunjungi ibunya hanya untuk meminta sebuah tanda tangan, yang seharusnya bisa di wakilkan oleh bawahannya.


Kenapa ia sangat mencurigakan?


Sebelum menandatangani surat tersebut Talita membaca isi dokumen tersebut.


"Sebaiknya nona langsung tanda tangan saja, toh ibumu sudah membaca isinya.


Karena sedikit curiga dengan sikap Ivana yang cenderung terus memaksanya untuk segera menanda tanganinya.


Betapa terkejutnya Talita saat melihat isinya dokumen tersebut.


Jadi ini alasannya kenapa ayah memilih pergi ke luar negeri.


"Maaf aku tidak bisa menanda tangani dokumen tersebut, aku harus meminta persetujuan ayahku terlebih dahulu," jawab Talita


Ivana yang gagal mendapatkan tanda tangan Talita langsung pergi meninggalkannya.


"Maaf aku gagal," ucap Ivana melapor kepada seseorang.


"Aku sudah menduganya, dia pasti tidak akan menandatangani surat tersebut,"


********


Setelah mengantar ibunya pulang Talita segera mengunjungi Gala di sebuah Hotel.


Melihat kedatangan Talita membuat pemuda itu benar-benar tak menyangka jika perempuan itu akan datang.


"Ah sial, pasti ia sengaja tak menandatangani surat itu