
*Braakkk!!
Tiba-tiba Rosa langsung menggebrak meja membuat Rehan tercengang dibuatnya.
Pria itu tak mengira jika Rosa akan semarah itu padanya.
"Sepertinya kehadiran ku di sini hanya mengganggu kesenangan kalian. Baiklah kalau begitu aku akan pergi dari sini agar kalian bisa lebih nyaman tanpa diriku," jawab Rosa
wanita itu terlihat begitu marah, ia segera mengambil tas kecil miliknya dan beranjak dari duduknya.
"Terimakasih Ros, kamu memang sangat pengertian. Tapi sepertinya kau salah sangka," jawab Talita mencoba menghentikan wanita itu saat hendak pergi setelah mengambil tas kecilnya .
Rosa yang melihat Rehan hanya diam dan tak menghiraukannya membuat ia semakin kesal dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu meskipun Talita menahannya..
Talita menghampiri Rehan setelah ia gagal membujuk Rosa untuk tidak pergi.
Melihat Rehan tak bergeming meskipun istrinya pergi membuat Talita menghampiri pria itu.
"Kenapa kau tidak mencegahnya?" tanya Talita
Rehan segera membersihkan mulutnya dan segera berdiri di depan Talita
"Percuma saja, lagipula bukankah itu yang kau inginkan??" ucap pria itu sengaja mencondongkan tubuhnya kearah Talita
"Kau sengaja menjadikan aku sekretaris mu agar kau bisa membuat aku dan Rosa terus salah paham bukan?" imbuhnya
Ia semakin mendesak Talita hingga wanita itu tak berdaya dan hanya bisa bersandar di dinding rumahnya.
"Bukankah kau juga senang jika bisa dekat denganku lagi. Aku yakin lelaki seperti dirimu selalu berusaha mendekati wanita yang lebih kaya untuk menjamin kehidupan mu nanti, bukan begitu sayang," jawab Talita
Sementara itu Rosa berlari menuju kediaman Talita. Wanita itu baru menyadari jika ia tidak bisa meninggalkan Rehan berduaan dengan Talita.
"Aku tidak boleh memberikan kesempatan kepada mereka untuk berduaan,"
Rosa berusaha mengatur nafasnya setibanya di depan pintu rumah Talita.
Cih, dasar bocah. Kenapa kau begitu mencurigakan sekali.
Melihat Rosa masih mengintip mereka dari celah pintu, ia sengaja mencium bibir Rehan untuk membuat wanita itu semakin terbakar api cemburu.
Sekarang kau akan merasakan bagaimana sakitnya dikhianati orang yang paling dekat denganmu
"Dasar brengsek, beraninya kau tetap berselingkuh di depanku," celoteh Rosa
Ia seger menggandeng Rehan dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Talita benar-benar merasa bahagia setelah mengetahui betapa kesal si Rehan dibuatnya.
Mengetahui jika Rehan begitu menderita pasca bertengkar dengan Rosa, membuat Talita begitu senang dengan keadaan tersebut.
"Mari kita lihat siapa yang akan bertahan, apa aku atau Kalian?"
Keesokan harinya Talita sengaja memberikan banyak pekerjaan kepada Rehan. Ia bahkan meminta pria itu untuk pergi ke luar kota bersamanya.
"Apa keluar kota dengannya??" Rosa membelalak saat Rehan memberitahukannya akan pergi ke luar kota dengan Talita
"Aku ke luar kota untuk urusan bekerja bukan untuk yang lain,"
"Tidak boleh, aku tidak suka kalian pergi bersama berduaan!" seru Rosa
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Aku yakin kalian akan melakukan hal-hal lain selain bekerja?" jawab Rosa
"Kalau begitu lebih baik aku keluar saja dari Aditama Group, sepertinya percuma saja aku bekerja jika kita selalu saja bertengkar.Seperti yang kau inginkan aku akan memilih mu daripada pekerja ku, apa kau puas sekarang?" tanya Rehan
Rosa begitu bahagia mendengar jawaban suaminya.
Tidak lama Rehan kemudian menghubungi Talita dan menyampaikan pengunduran dirinya.
"Maaf jika aku kurang sopan karena mengajukan pengunduran diri lewat telpon, tapi aku akan segera membuat surat pengunduran secara resmi besok pagi," ujar Rehan
"Tidak masalah, aku ngerti kok apa yang kamu rasakan, kamu pasti dilema karena istrimu bukan. Ternyata kau bisa juga jadi suami yang baik untuk adikku," jawab Talita kemudian mematikan di ponselnya
Talita menyeringai mendengar ucapan Rehan.
"Kita lihat, sejauh mana kalian bertahan hidup tanpa uang,"
Hari itu Talita memutuskan untuk pulang cepat karena harus melakukan pemeriksaan rutin kesehatannya.
Ditemani Ardan wanita itu menuju ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Alvin.
"Bagaimana kabarmu?" sapa dokter Alvin begitu ramah
"Alhamdulillah aku baik dok,"
"Syukurlah," Alvin kemudian mulai memeriksa gadis itu
Alvin mempersilakan Talita untuk duduk kembali setelah melakukan pemeriksaan.
"Secara keseluruhan hasilnya sudah baik, aku harap kamu terus rajin berolahraga agar otot-otot tubuh kamu semakin elastis dan bekerja dengan baik,"
Gadis itu segera beranjak dari duduknya kemudian berpamitan.
"Talita...."
Gadis itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara berat sang dokter berusaha menghentikan langkahnya.
"Iya dok," jawab Talita singkat
"Apa kau ada waktu malam ini?" tanya Alvin
Talita mengerjapkan matanya saat mendengar ucapan sang dokter.
"Tentu saja, memangnya ada apa dok?"
"Sebenarnya gak enak ngomong di sini, kamu bisa menunggu sebentar?"
Talita mengangguk setuju. Gadis itu kemudian duduk di selasar untuk menunggu Alvin.
Tidak lama Alvin keluar dengan menggunakan pakaian casual yang membuat pria itu terlihat begitu berbeda.
Talita terkesiap saat melihat pemuda itu.
"Maaf jika terlalu lama menunggu,"
"Ah, tidak kok," jawab Talita
Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan berjalan disamping pria itu.
Alvin mengajak Talita ke sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit.
Pemuda itu sedikit canggung saat hendak memulai pembicaraannya.
"Apa dokter suka kopi?" tanya Talita berusaha mencairkan suasana
"Aku suka capuccino," jawab Alvin
Tidak lama pemuda itu mengeluarkan sebuah undangan pernikahan kepada Talita.
"Sebenarnya...."
"Apa dokter akan menikah dan mengundang ku dalam pesta pernikahan anda?" tanya Talita mencoba menebak isi hati Alvin
"Bukan itu...." jawab Alvin sedikit menerawang
"Lalu?"
"Sebenarnya, malam ini sahabat baikku akan menikah dan dia memintaku datang dengan pasangan ku ke pesta pernikahannya," jawab Alvin canggung
"Terus apa masalahnya?"
"Masalahnya aku gak punya teman dekat, jadi aku mau minta tolong kamu untuk menemaniku menghadiri pesta pernikahan temanku tersebut," ucap Alvin memberanikan diri
"Jam berapa acaranya?" tanya Talita
"Pukul setengah delapan malam,"
Talita kemudian mengecek jadwal kegiatannya, "Ok, tapi aku tidak bisa lama," jawab gadis itu membuat Alvin langsung berseri-seri mendengarnya
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, selama ini dokter sudah banyak membantuku jadi tidak ada salahnya jika aku membalas kebaikan dokter bukan," jawab Talita kemudian menikmati minumannya
Talita segera berpamitan setelah menghabiskan minumannya, "Baiklah jika tidak ada yang dibicarakan lagi aku pamit,"
"Ok Talita, terimakasih atas kesediaan mu," jawab Alvin
"Sama-sama," jawab Talita
"Malam ini aku akan menjemputmu jam tujuh," ucap Alvin
"Ok,"
*******
Malam harinya, Alvin menepati janjinya dengan datang on time ke rumah Talita pukul tujuh malam.
Pemuda itu tak berkedip saat melihat Talita yang begitu cantik dengan menggunakan kebaya warna pitch.
"Kamu cantik sekali malam ini?" puji Alvin
"Thanks, kamu juga terlihat menawan dok," jawab Talita membuat Alvin langsung memerah
Keduanya segera bergegas menuju ke sebuah hotel tempat resepsi pernikahan.
Alvin segera mengajak Talita untuk menemui mempelai pengantin untuk mengucapkan selamat.
Talita begitu terkejut saat melihat mempelai pria. Wanita itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat Gala yang menjadi mempelai prianya.