
"Apa kau yakin nona?" tanya assisten Talita
"Tentu saja," jawab wanita itu begitu mantap
Ia kemudian segera duduk di kursi roda dan pria itu langsung mendorongnya keluar.
Dalam perjalanan pulang Talita meminta sang sopir untuk mengantarnya ke Aditama Group,
"Tapi kondisi anda belum pulih nona?" cegah Ardan sang asisten
"Tidak masalah, aku hanya ingin menyapa adikku, dan memberikan shock terapi kepada mereka," jawab Talita
Ardan tak bisa membantah perintah atasannya, ia kemudian menggendong Talita dan memindahkannya di kursi Roda.
Sementara itu di dalam ballroom hotel, Rosa sedang menjamu makan malam para relasi bisnisnya.
Wanita itu sengaja duduk di samping Gala saat suaminya sedang melakukan negosiasi dengan para direksi perusahaan lain.
Merasa risih saat Rosa terus memandanginya membuat Gala akhirnya memilih pergi meninggalkan mejanya.
Pemuda itu lebih memilih mencari udara segar di luar.
Tidak lama, Rehan yang berhasil membuat kesepakatan kerjasama segera menghampiri Rosa dan mengajaknya naik ke atas podium.
"Selamat malam semuanya, terimakasih saya ucapkan kepada semua direksi dan rekan bisnis Aditama Group yang berkenan hadir memenuhi undangan kami malam ini. Tujuan kami mengadakan acara dinner on the duty kali ini adalah untuk mempererat hubungan kerjasama kita. Meskipun Perusahaan kami sedang di terpa rumor yang tidak sedap karena CEO perusahaan kami yang tak kunjung sadar dari koma, akan tetapi saya dapat menjamin jika investasi kalian aman di perusahaan kami. Saya selalu Kepala Divisi Eksekutif Aditama Group dan Para Direksi akan melakukan regenerasi kepemimpinan perusahaan kami untuk memastikan harga saham perusahaan kami tidak anjlok di pasaran karena rumor tersebut." tutur Rehan
Lelaki itu sejenak menghentikan pidatonya dan memberikan isyarat kepada Rosa untuk segera naik ke podium mendampinginya.
Melihat Rosa naik ke podium membuat semua orang yang hadir langsung berbisik-bisik dan membicarakan wanita itu.
"Aku yakin dia akan menjadi CEO Aditama Group selanjutnya,"
"Benar, hanya dia satu-satunya ahli waris yang tersisa. Tapi apakah dia kompeten untuk memimpin perusahaan, karena yang aku dengar dia itu sangat ceroboh,"
Mendengar banyaknya para relasi bisnisnya yang meragukan kemampuan istrinya membuat Rehan kembali melanjutkan pidatonya.
"Aku yakin banyak diantara kalian yang meragukan kemampuan istriku dalam menjalankan perusahaan. Wajar saja, dan aku sangat mengerti apa yang kalian khawatirkan, namun sebagai kepala Divisi Eksekutif saya sudah mempertimbangkan dengan masak keputusan ini. Tidak mungkin kami akan memilih seorang pemimpin yang akan membawa perusahaan kami pada kehancuran bukan," tutur Rehan berusaha menenangkan para investor
Sementara itu Alvin buru-buru meninggalkan mejanya setelah mendapat telepon dari perawat jika pasiennya menghilang dari kamarnya.
Karena tak menemukan Gala, pemuda itu hanya mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Sorry bro gue gak bisa lanjutin acara ini karena ada masalah urgent di rumah sakit," pesan Alvin
"It's ok, aku juga sudah gak mood di sini," jawab Gala
Pemuda itu segera kembali ke ballroom hotel setelah mendapatkan pesan singkat dari Alvin.
Talita yang sudah tiba segera masuk ke ballroom hotel ditemani oleh asistennya Ardan.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menyapa para tamu undangan yang hadir di sana
"Selamat malam semuanya, maaf saya datang terlambat," ucap Talita tiba-tiba membuat semua orang langsung heboh
Tentu saja semua orang begitu terkejut saat melihat kedatangan Talita.
Bukan hanya para investor yang terkejut melihat kemunculan gadis itu namun juga Rehan dan Rosa yang dibuat tak berkutik dengan kemunculannya.
"Bagaimana mungkin dia bisa sembuh," ucap Rehan tak percaya
"Tidak mungkin, aku pasti sedang bermimpi," Rosa berusaha menepuk-nepuk pipinya berharap ia seger sadar dari mimpi.
*Plaakkk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Rosa, membuat semua orang terkesiap melihatnya.
"Bagaimana, apa sakit?" tanya Talita menyeringai
Rosa langsung mengangguk sambil memegangi pipinya.
Wanita itu kemudian meminta Ardan untuk membantunya naik ke podium.
"Kalian pasti terkejut melihat kedatangan ku di tempat ini bukan. Sepertinya Tuhan sudah mendengar kekhawatiran kalian makanya ia sengaja membangunkan aku agar kembali memimpin perusahaan ini supaya investasi kalian tidak hilang di perusahaan ini. Karena bagaimanapun juga hanya aku yang mampu membesarkan Aditama Group seperti pesan ayahku," terang Talita membuat semua orang langsung bertepuk tangan. Seketika suara bergemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu.
Setelah berhasil meyakinkan para investor Talita kemudian segera turun dari podium dan meminta Ardan mengantarnya kembali ke rumah sakit.
Gala yang sedari tadi memperhatikan gadis itu segera mengejarnya.
"Talita!" seru pemuda itu membuat Ardan langsung menghentikan langkahnya
*Deg!!
Seketika denyut jantung Talita berdegup kencang saat mendengar suara pria yang dirindukannya selama ini.
Ia langsung memalingkan wajahnya saat melihat Gala menghadangnya.
Wanita itu sengaja tak menatapnya karena tak mau pemuda itu melihat kesedihan di matanya.
Pemuda itu menatap lekat kearah Talita yang duduk diatas kursi roda, wanita itu terlihat begitu kurus dan pucat.
Jika suatu hari nanti aku meninggalkan dirimu maka kamu jangan marah apalagi kesal padaku. Karena aku meninggalkanmu bukan karena aku ingin meninggalkan dirimu. Tapi aku melakukannya karena aku sangat menyayangimu. Jadi bisakah kau tak memarahiku jika kita bertemu lagi nanti?.
Kata-kata terakhir Talita tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga Gala
"Jadi ini alasan mu meninggalkan aku??" tutur Gala dengan nafas terengah-engah
Pemuda itu segera duduk jongkok didepan Talita dan menggenggam erat jemari gadis itu.
"Seperti janjiku, aku tidak akan marah ataupun kesal padamu meskipun kau meninggalkan aku tanpa pesan selama ini. Karena aku tahu kau meninggalkan aku bukan karena benci padaku ataupun ingin mencari pemuda lain yang lebih tampan dariku. Aku yakin ada alasan besar kenapa kau melakukan semua ini padaku," ucap Gala
Talita tak merespon ucapan pemuda itu dan melepaskan tangannya. Ia kemudian meminta Ardan untuk segera membawanya pergi.
Namun bukan Gala namanya jika membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
Ia kembali mengejar Talita dan berusaha meminta klarifikasi dari gadis itu, namun Ardan menjegalnya.
"Maaf, sepertinya ia masih ingin menyendiri, jadi tolong berikan waktu untuknya," tutur Ardan
Pria itu kemudian menggendong Talita dan memindahkannya ke dalam mobil.
Gala segera mengikuti mobil itu saat meninggalkan halaman parkir hotel.
Gala menghentikan mobilnya saat melihat mobil Talita terparkir di halaman rumah sakit.
"Bukankah ini rumah sakit tempat Alvin bekerja??"
Sementara itu Alvin yang begitu kebingungan mencari keberadaan Talita tiba-tiba langsung memeluk gadis itu begitu ia kembali ke ruang perawatannya.
"Syukurlah kau kembali, aku benar-benar panik saat tahu kamu menghilang," ucap Alvin kemudian melepaskan pelukannya
"Maaf sudah membuat mu khawatir," jawab gadis itu dingin
Ardan segera membaringkan gadis itu ke ranjangnya.
Melihat Talita sudah berbaring, Alvin segera mengecek tensi darahnya.
"Semuanya normal, sekarang kamu boleh istirahat setelah meminum obatnya dulu," tandas dokter muda itu
Ia kemudian meninggalkan Talita setelah gadis itu meminum semua obat darinya.
"Good night Talita, semoga mimpi indah," ucapnya kemudian mematikan lampu ruangan itu
Talita segera bangun dan duduk bersandar di ranjangnya.
"Kenapa ia masih mengingat aku, apakah ini juga terjadi karena aku berhasil merebutnya dari Rosa dan menjadi tunangannya. Meskipun aku sebenarnya tak berharap dia setia padaku, tapi kenapa hati ini begitu senang saat mendengar ia tak marah padaku meskipun aku sudah meninggalkannya??, apa aku benar-benar menyukainya??"