Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab. 40. Perlawanan



Gala hanya menatap Talita dari kejauhan. Ia hanya memastikan jika gadis itu benar-benar di rawat di rumah sakit tersebut kemudian pergi.


Pagi harinya ia datang kembali untuk menjenguk Talita, ia sengaja membawa seporsi batagor dengan bucket mawar merah di tangannya.


Setibanya di rumah sakit ia melihat Talita tidak ada di kamarnya.


"Dimana Talita?" tanya Gala


"Dia sedang melakukan terapi," jawab Ardan


"Oh begitu, kalau boleh tahu dimana dia terapi?"


"Ada di ruang terapi cardio cari saja tidak jauh dari sini," jawab Ardan


Saat Gala hendak menyusul Talita ponselnya terus berdering, rupanya sang ayah memintanya segera kembali karena ada rapat penting dengan para pemegang saham.


Gala kemudian menitipkan makanan dan bunganya kepada Ardan.


"Tolong sampaikan kepada Talita, maaf aku tidak bisa menemuinya karena aku ada urusan penting," ucap Gala memberikan pesan kepada Ardan


Lelaki itu mengangguk dan mempersilakan Gala pergi.


"Kenapa harus sekarang sih ayah, padahal aku ingin menyapa Talita," gerutu Gala


Sementara itu Rosa yang khawatir dengan kemunculan Talita segera meminta bantuan Ivana untuk melawan Talita.


"Ibu tidak mau bukan kalau dia mengambil alih Aditama Group dan mengusir kita dari sana," ujar Rosa


"Kamu tidak perlu khawatir, dia hanya seorang diri. Lagipula aku memiliki kartu As yang bisa mematikan gadis itu dan mengusirnya dari Aditama group untuk selama-lamanya. Dan mungkin ini akan menjadi pertarungan terakhir antara aku dan Talita. Sudah saatnya aku memainkan kartu sakti tersebut," terang Ivana


Wanita itu kemudian menghubungi asistennya dan menyuruhnya untuk mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkannya.


Gala segera menuju ruang rapat setibanya di GR Retail. Sang ayah sudah menunggunya bersama para pemegang saham.


"Sudah saatnya ayah pensiun sekarang, dan ayah ingin menjadikan engkau sebagi pengganti ayah. aku harap kali ini kau akan lebih serius bekerja dan tidak main-main lagi karena sekarang nasib ribuan karyawan GR Retail ada di tangan mu,"


"Tapi ayah...aku belum siap," jawab Gala


"Siap tidak siap kamu harus siap, kau tahu kan ayah harus berobat dan istirahat. Kecuali kau ingin ayah tetap sakit-sakitan,"


"Kenapa harus berkata seperti itu,"


Gala akhirnya menerima permintaan ayahnya untuk menggantikan posisinya.


"Kalau begini sulit untuk menemui Talita, pasti hidup ku akan menjadi membosankan karena harus memikirkan perusahaan," Gala merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mengambil ponselnya.


"Bagaimana keadaan mu sekarang, aku harap kau segera sembuh, maafkan aku yang sempat berpikir kalau kau memang menjauh dariku,"


#Rumah sakit harapan kasih.


"Sekarang kau sudah mengalami banyak perkembangan, aku yakin sebentar lagi kau akan bisa berjalan lagi seperti semula. Otot-otot kakimu hanya perlu sering berlatih, maklum saja ia agak sedikit kaku karena ia sudah lama tak digerakkan, jadi perlu beradaptasi lagi," terang Alvin


Lelaki itu kemudian mengantar Talita ke ruang perawatannya.


Keduanya terkejut saat melihat seorang wanita sudah menunggunya di sana.


"Lama tak bertemu, apa kabarmu Talita?" sapa Ivana


"Alhamdulillah aku baik-baik saja," jawab Talita


"Terimakasih dokter, maaf kalau boleh bisa tinggalkan kami berdua," ucap Talita


"Ok," jawab Alvin kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Ada urusan apa kau datang menemui ku?" tanya Talita


"Aku suka gayamu yang selalu to the point, baiklah aku juga tidak suka bertele-tele. Sekarang sudah saatnya kau sadar posisi mu agar tidak mengganggu putriku lagi," Ivana kemudian memberikan sebuah manuskrip kepada Talita


Gadis itu langsung mengambilnya dan membacanya dengan teliti.


"Jadi kau ingin mengusir ku dari rumahku sendiri?" tanya Talita


"Tentu saja, bukankah anak haram seperti dirimu tidak pantas menjadi penerus Aditama Group,"


"Siapa bilang aku anak haram, apa kau lupa kalau aku adalah anak kandung Ibuku," jawab Talita membuat Ivana seketika bungkam


Bagaimana dia bisa tahu??


"Kau pasti tak percaya dan meminta untuk melakukan tes DNA bukan?"


Talita kemudian memanggil Ardan dan memintanya mengambil semua berkas-berkasnya yang ia simpan di meja kerjanya.


"Jangan khawatir aku sudah mempersiapkan semuanya sejak dulu, dan aku sudah menunggu lama untuk hal ini," jawab Talita begitu santai


Melihat seporsi batagor dengan bucket mawar merah, Talita tahu jika Gala sudah datang mengunjunginya.


"Maaf aku sarapan dulu, kalau kamau mau aku bisa memesankan satu untukmu," tutur Talita


"Tidak perlu, lagipula aku sudah makan," jawab Ivana


Ia kemudian menaruh bunga mawar itu kedalam vas bunga dan menyantap batagor pemberian Gala.


Rasanya masih sama seperti dulu, apa dia membelinya di taman itu, thanks Gala untuk semuanya. Aku janji akan segera menjelaskan semuanya padamu jika urusanku sudah selesai.


Tidak lama Andra kembali dan memberikan berkas-berkas yang diminta oleh Talita.


Talita segera mengambil hasil tes DNA dan memberikan kepada Ivana.


Ivana tersenyum melihat bukti itu, "Karena kau adalah anak kandung dari Aditama maka akan lebih mudah mengusir mu dari perusahaan. Apalagi saat semua orang tahu apa niat busuk ayahmu saat menikahi Ibumu yang merupakan pemilik sah Aditama Group," ucap Ivana


Talita tak kehabisan akal, ia kemudian memberikan surat peninggalan ibunya yang diberikan oleh kuasa hukumnya.


"Jadi kau ingin mengusir ku karena mengira aku sebagai kaki tangan ayahku yang sengaja mengambil perusahaan dari ibuku?"


"Sepertinya kamu harus baca surat ini sebelum memberi tahu para pemegang saham," jawab Talita


Ivana tercengang membaca surat wasiat Ratna.


"Tidak mungkin, aku yakin kau yang menulisnya untuk mengantisipasi situasi ini bukan?" tuduh Ivana


Talita segera memberikan buku diari miliknya dan menyuruh Ivana untuk membandingkan tulisan tangannya dengan tulisan Ratna.


"Apa tulisan kami sama?" tanya gadis itu menyeringai


"Kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakan keaslian tulisan tangan itu kepada seorang Grafologi," tantang Talita membuat Ivana semakin naik pitam


"Aku tahu kau sengaja mengirim ayahku ke luar negeri untuk melakukan hal ini padaku, itulah sebabnya aku mempersiapkan semuanya agar bisa melawan mu. Sebaiknya kau mulai berkemas dari sekarang karena sebentar lagi aku akan mendepak mu dari Aditama group tentu saja dengan putri dan menantu kesayangan mu," ucap Talita


"Jangan mimpi sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengusir ku dari Aditama Group," sahut Ivana


"Semuanya berawal dari mimpi nyonya, dan aku sudah membuktikannya, dreams came true," sahut Talita


Ivana kemudian meninggalkan ruangan itu dengan wajah kesal. Ia tak mengira jika Talita yang baru bangun dari koma akan berubah menjadi kuda hitam yang sangat berbahaya.


"Aku tidak bisa membiarkan dia menang, aku harus mencari cara agar bisa mengalahkan anak itu!"