
Rosa begitu terkejut saat Dika memberikan kejutan dengan memberikan kejutan padanya.
"Selamat ulang tahun Ros," ucap Dika
Pria itu kemudian menyalakan lilin dan meminta Rosa untuk meniupnya.
Rosa segera meniup lilin tersebut namun Dika menahannya.
"Ucapkan dulu permohonan mu sebelum meniup lilinnya," tutur Dika
Rosa kemudian memejamkan matanya dan mengangkat kedua tangannya. Wanita itu meminta semoga Rehan bisa mendapatkan pekerjaan di tempatnya bekerja.
Ia kemudian meniup lilin itu setelah selesai bermunajat.
Sebagai ucapan terimakasih Rosa bahkan memberikan potongan pertama kuenya kepada Dika.
"Terimakasih Pak atas perhatiannya, aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menunjukkan rasa terimakasih ku kepada anda," ucap Rosa
"Tidak perlu sungkan, bukankah sesama mahluk sosial harus saling bantu," jawab Dika terdengar begitu tulus
Melihat ketulusan dan kebaikan hati Dika membuat Rosa berusaha mengajak bicara pemuda itu.
"Apa boleh kita bicara sebentar?" ucap Rosa terlihat berhati-hati
"Tentu saja," jawab Dika segera mengikuti Rosa
Wanita itu tampak menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya.
"Sebenarnya aku sudah menikah," ujar Rosa memulai pembicaraannya
"Hmmm, lalu?" tanya Dika semakin penasaran
"Apa kau tidak terkejut?"
Rosa tampak gelisah saat mengetahui Dika tak terkejut mendengar pengakuannya.
"Kenapa harus terkejut, toh aku sudah pernah ke rumah mu dan melihat suamimu," jawab Dika enteng
"Lalu kenapa kau tidak memecat ku?" tanya Rosa
"Tidak ada aturan seperti itu di sini, jadi untuk apa memecat mu,"
"Tapi Maya bilang...."
Dika segera menutup mulut Rosa dengan telunjuknya. Ia kemudian memberitahukan kepada Rosa jika itu adalah peraturan yang di buat oleh ayahnya untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi pengeluaran perusahaan.
"Ah syukurlah kalau begitu, padahal aku sangat takut jika aku ketahuan," ucap Rosa mengelus dadanya
"Kalau kau butuh bantuanku katakan saja, aku lebih senang jika kau terbuka padaku. Setidaknya dengan begitu kau sudah menganggap aku sebagai sahabat mu,"
"Sebenarnya aku...." Rosa terlihat ingin menyampaikan sesuatu namun gadis itu terlihat sungkan apalagi setelah melihat betapa baiknya Dika.
"Katakan saja," desak Dika
Rosa kemudian memberitahu Dika tentang masalah yang dihadapinya. Ia juga memberitahukan tentang suaminya yang menganggur.
"Kalau suamimu bekerja di sini itu melanggar ketentuan perusahaan yang melarang pasangan suami istri bekerja dalam satu kantor. Kalau kau mau aku bisa merekomendasikan suamimu ke perusahaan sahabat ku," ucap Dika
Pria itu kemudian menuliskan alamat sebuah perusahaan kepada Rosa.
"Katakan saja kalau suamimu adalah sahabatku. Aku yakin Medina akan menerimanya,"
"Terimakasih banyak atas bantuannya Pak,"
"Sama-sama Ros," jawab Dika
Pemuda itu kemudian meninggalkan Rosa dan kembali bekerja.
Sepulang kerja, Rosa kemudian memberitahu Rehan tentang perusahaan yang direkomendasikan oleh Dika.
Wanita itu kemudian menyarankan Rehan untuk melamar pekerjaan di sana. Rehan pun setuju.
Keesokan harinya, Rehan mendatangi perusahaan tersebut untuk melamar pekerjaan.
Seorang wanita kemudian mengantarnya untuk menemui CEO perusahaan tersebut.
Rehan begitu terkejut saat mengetahui CEO perusahaan tersebut.
"Rehan??" ujar wanita itu menatapnya lekat
Rehan yang menundukkan wajahnya seketika mengangkat kedua wajahnya dan tersenyum menatap wanita tersebut.
"Aku kira kau sudah melupakan aku, ternyata kau masih mengingat ku," jawab Rehan
"Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan pria yang mencampakkan aku hanya demi seorang anak konglomerat," jawab Medina
"Maafkan aku Din, aku tidak bermaksud meninggalkan mu waktu itu hanya saja keadaan yang memaksaku," jawab Rehan terbata-bata
"Dasar brengsek, apa kau pikir aku percaya?" tanya Medina
Rehan kemudian mengajak Medina untuk bicara. Pria itu kemudian menceritakan tentang dirinya yang dijebak bersama Rosa hingga membuat wanita itu hamil.
"Itulah alasannya kenapa aku meninggalkan dirimu, aku terpaksa menikahinya," jawab Rehan
"Apa kau tidak bohong??" tanya Medina
"Tentu saja, bahkan sekarang aku terpaksa harus setia kepadanya karena ia divonis mandul setelah kehilangan bayi kami," terang Rehan
"Kasian sekali nasibmu, jadi itu yang membuat Dika merekomendasikan dirimu untuk bekerja di sini?"
"Sepertinya begitu," jawab Rehan
Lelaki begitu senang saat mengetahui Medina mempercayainya.
Ia bahkan berhasil mendapatkan posisi sebagai manajer perbekalan di perusahaan Medina.
"Ternyata sangat mudah mengelabui wanita. Medina dia masih saja bodoh seperti dulu. Ia bahkan lebih bodoh daripada Talita," ujar Rehan
Setibanya di rumah, Rehan langsung menceritakan kepada Rosa jika ia akan mulai bekerja di perusahaan Medina sebagai manajer perbekalan.
"Syukurlah, setidaknya mulai sekarang kita bisa tinggal lagi di rumah sendiri tanpa harus tinggal bersama ibuku lagi," ujar Rosa
"Apa kau berniat meninggalkan ibumu!" seru Ivana menghampiri Rosa dan Suaminya di beranda rumahnya
"Bukan begitu Ibu, namun aku berpikir alangkah baiknya jika aku tidak merepotkan ibu setelah menikah. Apalagi sekarang Rehan sudah bekerja jadi kami ingin hidup mandiri lagi seperti dulu," jawab Rosa
"Meskipun kalian sudah mendapatkan pekerjaan lagi, tapi aku ragu pria itu akan membahagiakan mu. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam hidup aku sudah banyak melihat berbagai karekteristik lelaki sepertinya. Aku harap kau tidak pernah menyakiti putriku, jika tidak mau berurusan denganku," terang Ivana
"Tentu saja Ibu, aku sangat mencintai Rosa tentu saja aku tidak akan menyakitinya, apalagi meninggalkannya," jawab Rehan
"Semoga saja, ucapan mu dapat dipercaya," jawab Ivana
Keesokan harinya Rosa dan Rehan meninggalkan kediaman Ivana dan memilih tinggal di sebuah apartemen.
Sementara itu Talita akhirnya memutuskan pinangan Gala untuk menjadi istrinya. Ia segera menemui Gala untuk memberitahukan Gala tentang perasaannya itu.
Gala yang begitu bahagia langsung meluapkan perasaannya dengan memeluk erat Talita.
"Terimakasih sayang, akhirnya setelah menunggu selama 7 purnama, aku berhasil juga mendapatkan kata yes darimu," ucap Gala
"Maafkan aku yang sudah membuat mu lama menunggu, namun meskipun aku bersedia menjadi istrimu tapi aku belum bisa menikah denganmu dalam waktu dekat ini," jawab Talita
"Memangnya kenapa?"
"Aku harus memastikan dulu apa yang aku rencanakan berhasil, setelah itu aku baru kita menikah," jawab Talita
"Apa ini juga alasanmu untuk menjadi tunanganku waktu itu?"
Seketika Talita terkesiap mendengar ucapan Gala. Wanita itu tak mampu lagi menyembunyikan rahasia yang selama ini ia tutupi darinya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Talita
Gala kemudian mengeluarkan buku harian Talita dan memberikan kepadanya.
"Aku menemukan buku harian itu saat kita menghancurkan tempat perjudian gelap Ivana. Aku juga sudah membaca semua isinya," ucap Gala tiba-tiba menghentikan ucapannya
"Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang kau tuliskan semua di buku itu. Tapi sekarang aku percaya setelah mengetahui kamu mengalami koma selama hampir satu bulan," terang Gala
"Meskipun awalnya aku mengira kau tidak pernah menyukaiku dan hanya menjadikan aku sebagai alat untuk membalas dendam kepada Rosa. Tapi setelah membaca buku itu aku tahu semuanya?" terang Gala
"Sekarang apa yang akan kau lakukan padaku setelah mengetahui semuanya?" jawab Talita berkaca-kaca
"Jangan pergi lagi dariku, sama seperti dirimu, awalnya aku juga hanya penasaran denganmu, namun setelah mengenalmu aku benar-benar jatuh hati padamu hingga membuat ku tak bisa berpaling lagi darimu," jawab Gala