
Talita dibantu oleh sahabatnya mempersiapkan sebuah pesta sederhana untuk pernikahan Rosa dan Rehan.
Karena Ivana tidak menyetujui pernikahan keduanya, Talita memang sengaja membuat pernikahan diam-diam agar wanita itu tak mengetahuinya.
Pagi itu Gala datang mengunjungi kediaman Aditama tanpa sepengetahuan Talita. Ia yang tidak tahan menanggung rindu karena Talita berusaha menjauh darinya membuatnya memberanikan datang ke rumah itu.
Ia terkejut saat melihat dekorasi pengantin di rumah itu.
Gala yang mengira Talita akan menikah diam-diam segera masuk kedalam kamar gadis itu.
Talita terkejut saat melihat Gala tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menguncinya.
"Gala??"
"Jadi ternyata kau menjauhi aku karena ingin menikahi pria lain," ucap Gala mendekati gadis itu
Ia bahkan mendorong gadis hingga Talita yang merasa terpojok tak bisa berkutik dibuatnya.
"Kamu salah paham Ga," tukas Talita berusaha meluruskan kesalahpahaman Gala
"Pantas saja pestanya di buat sederhana, rupanya kau ingin menyembunyikannya dari ku, untung instingku bekerja dengan baik hingga aku memutuskan diri untuk datang ke sini,"
"Kamu salah Ga, yang menikah itu Rosa bukan aku," jawab Talita
Gala segera melepaskan Talita saat mendengar jawaban wanita itu.
Talita langsung mengambil nafas dalam-dalam setelah Gala melepaskan cengkeramannya.
Pemuda itu segera minta maaf karena sudah salah paham kepadanya.
Tiba-tiba Talita merasakan nyeri yang begitu hebat hingga gadis itu nyaris pingsan.
"Talita ... Talita!!" Gala berusaha menyadarkan gadis itu dengan mengguncang tubuhnya.
"Are you ok!" seru pria itu
Samar-samar Talita melihat wajah Gala yang terlihat begitu panik dan sesekali memeluknya.
Mendengar nafas Talita yang beraturan dan telapak tangannya yang terus memegangi dadanya membuat Gala segera melakukan pertolongan pertama padanya.
Pria itu seger meletakkan telapak tangannya dan menekan dadanya berkali-kali agar pernapasannya kembali lancar.
Talita perlahan membuka matanya dan pernapasannya kembali stabil.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gala segera meninggikan kepala gadis itu.
Talita mengangguk pelan, Gala segera menggendong Talita dan membaringkannya di ranjangnya.
Ia segera menyelimuti tubuhnya saat merasakan tubuh gadis itu begitu dingin.
Gala keluar dari kamar itu dan menuju ke dapur. Rosa terkejut saat melihat Gala di dapur.
"Kapan datang?" sapa Rosa
"Belum lama," jawab Gala buru-buru membawa segelas tes hangat ke kamar Talita.
Ia kemudian membantu gadis itu meminum teh hangat itu.
"Terimakasih," jawab Talita
"Maaf jika aku sudah membuat mu khawatir," imbuhnya
"Sebenarnya kamu sakit apa?" tanya Gala begitu khawatir
Talita tampak bingung saat mendengar pertanyaan itu, ia tak mungkin memberitahukan Gala jika dirinya berasal dari masa depan dan kembali ke masa lalu untuk membalas dendam.
"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi aku rasa sakit ku tidak akan lama," jawab Talita
"Kalau begitu ayo kita ke dokter supaya kita bisa tahu apa penyakit mu,"
"Tidak perlu, lagipula aku sudah merasa baikan," jawab Talita segera bangun
"Ayolah, jangan buat aku semakin khawatir?" desak Gala
"Kaka, penghulunya sudah datang," ucap Rosa
Gadis itu tiba-tiba memasuki kamar Talita,
"Ok, tunggu sebentar aku akan bersiap-siap dulu," jawab Talita
"Ok," jawab Rosa kemudian meninggalkan kamar itu
Talita segera menyisir rambutnya dan merapikan make upnya.
"Apa kau akan tetap di sini melihat ku buka baju?" tanya Talita
"Jika diizinkan, kenapa tidak," jawab Gala
Talita kemudian menarik lengan pemuda itu dan menyuruhnya keluar.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, kita mulai saja acaranya," ucap Seorang Penghulu
Saat Rehan bersiap untuk mengucapkan ijab qobul, tiba-tiba Ivana datang ke tempat itu.
"Hentikan pernikahan konyol ini!" seru wanita itu dengan wajah bengisnya
"Tapi Bu, kalau Rehan tidak menikahi aku lalu Anakku ini akan lahir tanpa ayah. Dan juga aku tak siap jika harus mendengar cibiran orang karena kehamilan ku ini," ujar Rosa
"Bukankah aku sudah bilang untuk menggugurkan kandungan mu, tapi kamu masih ngeyel dan tetap membiarkan anak haram itu hidup!" seru Ivana
"Aku gak mau jadi Ibu durhaka Bu. Cukuplah aku dan Mas Rehan yang menanggung dosa karena perbuatan kami. Tapi tidak dengan anak kami, aku tak mau membunuhnya hanya demi menutupi dosaku,"
*Plaaakkk!!
Seketika tamparan keras mendarat di wajah Rosa membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Ayo pergi dari sini!" seru Ivana mencoba menarik lengan Rosa
Gadis itu berusaha menolaknya, dan tetap bertahan.
"Aku tidak mau Ibu,"
"Ayo!" hardik Ivana berusaha menyeretnya
"Hentikan Tante!!" seru Talita membuat Ivana langsung melepaskan lengan Rosa
Talita segera menghampiri Rosa dan menggandengnya.
Ivana tersenyum sinis menatap Talita yang begitu berani menantangnya.
"Wah sekarang kau sudah berani menentang ku, dasar anak haram!" seru Ivana
Gala segera menahan lengan wanita itu saat berusaha menamparnya.
"Kau akan berhadapan denganku jika berusaha menyentuhnya," ucap Gala membuat Ivana terkekeh melihatnya
"Hahaha, lihat... ternyata kekasihnya berusaha melindunginya. Kau pasti senang karena sekarang ada yang melindungi mu bukan?" Tukas Ivana
"Asal kalian tahu jika Rosa adalah putri kandungku, jadi hanya aku yang berhak memutuskan dia akan menikah dengan siapa?" tambahnya
"Apa buktinya kalau dia putrimu?" tantang Talita
Mendengar tantangan Talita membuat Ivana benar-benar naik pitam. Ia tak menduga jika gadis itu akan menanyakan hal itu kepadanya.
"Kau pasti bingung kan karena tak punya bukti. Bahkan di akta kelahiran Rosa pun tidak tercantum namamu sebagai ibunya. Jadi bagaimana kami bisa percaya jika kau adalah ibu kandungnya, bisa saja kau mengaku-ngaku sebagai ibunya karena tahu jika Rosa adalah salah satu pewaris Aditama Group, bukan begitu pak Penghulu?" terang Talita
"Tapi kau sudah tahu jika aku adalah ibu kandung Rosa dan kau tahu alasannya kenapa aku menjadikan dia sebagai putri Aditama," seru Ivana
"Kalau begitu beritahu kepada kami alasannya kenapa kau menjadikan anak kandungmu sebagai anak Aditama?" tanya Talita
Seakan terjebak dengan ucapannya sendiri Ivana tidak berani melanjutkan perdebatannya dengan Talita dan memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Talita kemudian segera meminta sang penghulu untuk melanjutkan ijab qobulnya.
Acara berjalan lancar, Talita tersenyum bahagia karena akhirnya ia menjadikan Rosa sebagai istri Rehan.
Setelah acara resepsi pernikahan selesai Talita mengajak Gala jalan-jalan di sebuah taman.
"Apa kau yakin sudah baikan?" tanya Gala yang masih khawatir dengannya
"Tentu saja, aku baik-baik saja," jawab Talita
Ia kemudian mengajak Gala duduk di sambil menikmati indahnya bunga-bunga yang mengelilingi tempat duduk mereka.
"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Talita
"Tentu saja, katakan saja?"
"Dulu aku sangat ingin punya punya pacar yang romantis yang selalu menyuapiku saat kita sedang jalan berdua,"
"Astaga, cuma itu saja!" sahut Gala
Talita langsung mengangguk, mendengar jawaban Gala.
"Kalau gitu tunggu sebentar," Gala segera pergi meninggalkan Talita
Tidak lama pemuda itu kembali membawa seporsi somay dan beberapa tangkai bunga mawar segar.
"Gak papa kan kalau hanya makan somay, soalnya cuma ada tukang somay di depan," tukas Gala
"Iya gak papa, aku suka kok,"
Gala kemudian memberikan bunga itu kepadanya.
"Meskipun awalnya aku tidak menyukaimu tapi tidak ku sangka aku akan tergila-gila padamu setelah mengetahui karakter aslimu. Meskipun kau terlihat jutek dan sedikit bengis tapi kamu tetap kalajengking ku yang manis dan itu yang membuat ku semakin mencintai mu. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang kucintai dan tidak seorangpun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, I Love you my sweat Scorpio," ucap Gala kemudian mencium bibir Talita.