Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 18. Kecurigaan



Rosa terus menangis tersedu-sedu saat melihat kondisi Rehan yang babak belur. Ia terus mengutuk perbuatan Gala yang sudah main hakim sendiri hingga membuat Rehan harus di rawat di rumah sakit.


"Maafkan aku Kak, gara-gara aku kamu jadi seperti ini, aku janji akan menanggung biaya perawatan kakak sampai sembuh," ucap Rosa penuh penyesalan


"Semua ini bukan salah kamu, andai saja aku tidak salah mengambil tindakan mungkin aku takkan seperti ini. Lagipula aku yang salah jadi wajar saja kalau Gala salah paham saat melihat ku dan Talita,"


"Tapi tetap saja, harusnya ia tidak boleh main hakim sendiri, dasar preman!" gerutu Rosa terus memakinya


Tidak lama terdengar suara pintu diketuk. Rosa lalu beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang.


Wajahnya seketika masam saat melihat kedatangan Gala dan Talita.


Talita kemudian meminta maaf atas apa yang menimpa Rehan, ia tidak habis pikir jika kebaikan Rehan malah berujung petaka yang membuatnya harus di rawat di rumah sakit.


Ia juga meminta Gala untuk meminta maaf kepada Rehan.


"Sorry Rey atas kesalahpahaman kemarin, maaf aku tidak tahu kalau kamu sebenarnya ingin menyelamatkan Talita. Andai saja kau menjelaskannya dari awal aku tidak mungkin sebrutal itu padamu. Kau pasti mengerti bagaimana perasaan ku, sebagai sesama lelaki kau pasti tahu benar bagaimana rasanya saat melihat wanita yang kita cintai bercumbu dengan pria lain," ujar Gala


Bajing*n seperti dia mana tahu rasanya di khianati, karena yang ada dialah yang berkhianat,


"Iya, aku juga minta maaf karena aku terlalu panik saat melihat Talita pingsan, aku pikir akan terjadi sesuatu jika aku tak segera bertindak makanya aku spontan memberikan nafas buatan padanya, sekali lagi maaf, bukan maksud saya kurang ajar tapi saya hanya reflek menyelamatkan Talita,"


"Ok Bros, sans aja, aku dah paham kok. Kalau gitu aku pamit ya," ucap Gala setelah memberikan amplop coklat kepada Rehan berisikan uang kompensasi


Rosa terus menggerutu meskipun Gala sudah memberikan uang kompensasi, ia menganggap Gala semakin arogan setelah menjadi tunangan Talita. Berbeda saat ia menjadi kekasihnya.


**********


Siang itu Gala menemani Talita ke kampus. Gala menunggu di lobby saat Talita masuk ke ruang dekan.


Melihat sosok Gala yang tampan membuat para mahasiswi langsung mendekat dan menggodanya.


"Halo kak Gala, Apa kabarnya nih?"


"Aku baik kok, kalian gimana?"


"Baik juda dong Kak, btw sudah lama kaka tak ke sini, pasti kakak tertekan ya karena punya calon istri posesif, atau lagi mempersiapkan pesta pernikahan?"


"Ah bisa saja, biasalah aku sibuk ngurusin bisnis aku,"


"Kak, kapan nih kita party lagi?"


"Iya Kak, kapan dong kakak ngundang kita lagi party di rumah?" timpal mahasiswi lain menghampirinya


Gala tak bisa menolak permintaan para gadis yang mengerumuninya. Baru saja ia akan mengabulkan permintaan mereka tiba-tiba Talita dan langsung melotot kearahnya.


Tentu saja Gala langsung menjauhi gadis-gadis itu dan menghampiri Talita.


"Apa kau sudah selesai sayang?" tanya Gala tersenyum menatapnya


Talita hanya diam sambil berlalu meninggalkannya. Melihat Talita mengacuhkannya membuat Gala langsung mengerjakannya.


Ia tahu Talita cemburu karena melihatnya bersama para mahasiswi itu. Ia kemudian meminta maaf padanya berharap wanita itu tak lagi marah kepadanya.


"Maafkan aku jika sudah membuat mu kesal, tapi asal kau tahu aku tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain dirimu, sungguh?"


"Really?"


"Sure honey, saat ini tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu,"


"Ya saat ini, gak tahu satu jam lagi, satu minggu lagi dan seterusnya, sudahlah terserah kamu saja aku tak peduli," jawab Talita


"Aku sungguh-sungguh Talita, memang dulu aku seorang Casanova yang selalu bergonta-ganti wanita. Tapi setelah aku bertemu denganmu semuanya berubah, bagiku sekarang, besok, ataupun nanti aku hanya mencintai kamu seorang tidak ada yang lain!" ucap Gala kemudian bersimpuh didepan Talita


Rosa yang melihat kejadian itu langsung meremas botol minuman di tangannya.


Rosa langsung berlari dan menghentikan sebuah taksi. Wanita itu semakin membenci Talita yang sudah berhasil membuat Gala benar-benar jatuh hati padanya.


Setibanya di rumah ia langsung masuk kedalam kamar Talita dan menghancurkan semua barang-barang miliknya.


Saat ia hendak merobek-robek buku diare Talita ia terkesiap saat membaca tulisan Talita.


"Bagaimana mungkin ia bisa mengetahui peristiwa yang akan terjadi nanti, apa ia memiliki kemampuan melihat masa depan??" Rosa terus membaca semua catatan itu.


Rosa terus memikirkan semua tulisan di buku diary Talita.


Sementara itu Talita terkejut saat melihat kamar tidurnya berantakan,


"Siapa yang sudah mengacak-acak kamarku!" serunya kesal


Ia segera memeriksa barang-barang miliknya anehnya tidak ada satupun yang hilang.


Ia kemudian mendatangi kamar Rosa untuk menayangkan apakah Rosa yang sudah mengacak-acak kamarnya atau tidak.


Namun saat melihat Rosa sudah tertidur ia mengurungkan niatnya.


Pagi harinya, Talita kembali bekerja seperti biasa. Jika hari-hari sebelumnya ia hanya duduk di ruangannya, kali ini ia mulai bergerak mengecek kinerja stafnya.


Ketika melihat seorang staf terburu-buru menuju ruang khusus untuk meminta tanda tangan ia mencegatnya lebih dulu.


"Boleh aku melihat pekerjaan mu?" tanya Talita


"Maaf Bu, tapi saya dilarang memberikan pekerjaan saya kepada anda," jawab wanita itu menundukkan kepalanya


"Tenang saja, aku hanya ingin tahu apa yang dikerjakan oleh divisi ku itu saja," jawab Talita


Wanita itu kemudian memberikan dokumen yang dibawanya kepada Talita.


Gadis itu tersenyum simpul saat membaca dokumen tersebut.


Jadi mereka sedang mempersiapkan produk baru, tapi kenapa aku tidak boleh terlibat, padahal aku adalah penanggung jawab di Divisi ini?, sebenarnya apa yang mereka inginkan??


Talita mengembalikan dokumen tersebut setelah membacanya.


Wanita itu segera masuki ruangan khusus untuk meminta perseroan dari Ivana.


Tidak lama wanita itu kembali dengan raut wajah sedih. Talita yang penasaran kemudian bertanya kepadanya apa yang terjadi.


"Ibu Ivana menyuruh saya membuang analisis produk yang saya ajukan, katanya produk itu tidak akan laku di pasaran karena harganya terlalu mahal,"


"Kalau begitu daripada kau membuangnya boleh aku menyimpannya?" tanya Talita


"Silakan saja mbak Talita, lagipula aku harus membuatnya lagi bjkanß jawanya singkat.


Wanita itu kemudian kembali ke ruangannya untuk memperbaiki presentasiny.


"Bukankah ini produk yang sempurna?, bahkan perincian bahan- bahan untuk membuatnya sudah cukup untuk memenuhi oara pecinta kuliner.


Saat Talita sibuk mengevaluasi proposal itu tiba-tiba wanita itu kembali menangis saat setelah keluar dari ruangan khusuk.


"Kenapa lagi?" tanya Talita


"Sepertinya Bu Ivana belum mau menerim Proposal ku, makanya meminta aku untuk memperbaikinya lagi,"


"Kalau begitu pakai saja proposal itu biar aku yang bertanggung jawab."


"Tapi bagaimana kalau Bu Ivana marah, aku bisa dipecatnya,"


"Kalau kau takut dipecat maka buatlah terus proposal itu," jawab Talita