Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 20. Jebakan



Aditama langsung mengajak Talita ke ruangannya setelah rapat selesai.


"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Adi dengan raut wajah kecewa


"Karena aku tidak mau terus ditindas ayah. Aku ingin semua orang tahu siapa Ivana sebenarnya, dia itu serigala berbulu domba ayah. Dia ingin mengusir aku dari sini dan menguasai perusahaan ini," terang Talita


"Ayah tahu, tapi bukan seperti ini caranya," jawab Adi


"Jadi ... ayah selama ini sudah tahu ia berusaha menyingkirkan aku tapi ayah diam saja?" tanya Talita tak habis pikir


"Bukan maksud ayah membiarkan dia menyingkirkan kamu, hanya saja waktunya belum tepat untuk menyingkirkan Ivana dari perusahaan ini,"


"Sampai kapan ayah akan membiarkan dia semena-mena terhadap karyawan, apa ayah sengaja menunggu dia mengambil perusahaan kita!" seru Talita


"Tidak semudah itu menjatuhkan Ivana, meskipun kita tahu dia memiliki banyak kesalahan tapi ia memiliki saham yang lumayan banyak, belum lagi ia juga pandai melobi direksi lain. Kau bisa bayangkan jika dia menggabungkan sahamnya dengan direksi lain, dia bisa menguasai perusahaan ini dengan mudah. Dia tinggal menunggu kelemahan kita saja untuk bisa memutar balikan semuanya, jadi sebaiknya kamu tahan dulu emosimu, biar ayah yang akan mencari solusinya," tutur Aditama


Talita sedikit kesal meskipun sudah berhasil mengalahkan Ivana di rapat direksi.


Sementara itu, Rosa segera menemui Ivana dan memberitahukan tentang tulisan Talita kepadanya.


Wanita itu terlihat mengernyitkan keningnya saat melihat list yang di tulis oleh Talita.


"Apa kau pernah melihat bertingkah aneh atau datang ke tempat-tempat mistis gitu?" tanya Ivana


"Gak sih mah, hanya saja sifat Kak Lita memang berubah banget setelah dia sakit. Dia jadi cenderung lebih berani dan percaya diri dalam segala hal. Mamah tahu kan bagaimana dia merebut Gala dari aku, dia bahkan tak memikirkan berita miring yang menyudutkan ia sebagai seorang pelakor yang merebut tunangan adiknya,"


"Kau benar, dia bahkan berhasil mempermalukan aku di depan direksi," jawab Ivana mengingat kejadian di ruang rapat.


Ia kembali memandangi list yang ditulis oleh Talita.


"Dari sepuluh list ini ia sudah berhasil mewujudkan separuhnya, apa dia memiliki kemampuan melihat masa depan setelah ia sembuh dari sakit?" tanya Ivana


"Sepertinya begitu mah, karena ia sekarang lebih hati-hati setiap akan melakukan sesuatu,"


"Kalau begitu kita harus hati-hati mulai sekarang," ucap Ivana


"Kenapa mamah tidak singkirkan dia saja, seperti mamah menyingkirkan Ibu, bukankah jika tidak ada dia maka perusahaan ini akan menjadi milik Rosa?" jawab Ivana


"Tidak secepat itu sayang, jika mamah menyingkirkannya sekarang maka semua orang akan curiga kalau aku sengaja membunuhnya karena dia sudah mempermalukan aku di rapat direksi, bersabarlah dulu. Serahkan semuanya kepada mamah," jawab Ivana mengusap lembut rambut putrinya


Setelah kepergian putrinya Ivana segera menghubungi asisten pribadinya.


"Bagaimana dengan GR Retail, apa mereka sudah mengajukan tuntutan kepada PR Retail,"


"Tidak, mereka justru melanjutkan kontrak kerjasamanya dengan PR Retail,"


"Bagaimana mungkin!" seru Ivana tak percaya


Pria itu kemudian memberikan rekaman CCTV bagaimana Gala berhasil mengobrak-abrik gudang miliknya.


"Bagaimana ia bisa tahu kalau kita menukar kontainernya?"


"Sepertinya ada seseorang yang memberitahunya," jawab asisten Ivana


"Tidak mungkin, tidak seorangpun yang tahu bisnis kita, karena aku sudah melakukannya dengan rapih," jawab Ivana


Wanita itu terkesiap saat melihat Gala datang ke gudangnya bersama Talita.


"Jangan bilang dia yang memberitahu semua ini padanya!"


Ivana yang geram kemudian meminta asistennya untuk memberikan pelajaran kepada gadis itu.


"Baik nyonya," pria itu segera untuk diri dan meninggalkan Ivana


Talita buru-buru meninggalkan ruangannya setelah jam kerjanya selesai.


Ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan Gedung Aditama Group.


Karena jalanan macet Talita memilih menggunakan jalur tol agar bisa cepat tiba di kediaman Gala.


Talita yang panik berusaha menepikan mobilnya agar tak menabrak loket pembayaran tol.


*Braakkkk!!


Ia terpaksa menghentikan mobilnya dengan menabrak pembatas jalan.


Suara mobil ambulance seketika menyeruak di sepanjang jalan arteri.


Talita perlahan membuka matanya saat mendengar suara gaduh.


"Syukurlah kamu sudah sadar nak?" ucap Aditama


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Talita memegangi kepalanya yang sedikit nyeri


Aditama kemudian menceritakan kecelakaan yang menimpanya.


"Ah benar kenapa aku sampai lupa, dimana ponselku?" tanya Talita


Adi segera memberikan ponsel milik Talita kepadanya.


Talita begitu terkejut saat melihat pemberitaan media online.


"Apa-apaan ini, bagaimana mungkin aku mengemudi dalam keadaan mabuk. Yang benar saja," ucap Talita segera bangun dari brankarnya


Aditama segera mencegahnya saat gadis itu hendak keluar dari ruangannya.


"Sebaiknya kau di sini saja dan jangan keluar dulu," sergah Adi


"Tapi ayah, aku harus meluruskan masalah ini. Mereka membuat berita seenaknya sendiri tanpa adanya bukti. Asal ayah tahu aku sengaja menabrakkan mobilku ke pembatas jalan agar tak menabrak loket pembayaran tol. Dan itu terjadi karena rem mobilku tiba-tiba blong!" seru Talita membuat Aditama terkesiap mendengarnya


"Rem mobil kamu blong?"


"Benar, padahal tadi pagi baik-baik saja, tapi entah kenapa tiba-tiba remnya blong saat aku pulang," jawab Talita


"Kalau ayah tidak percaya periksa saja mobilnya?" imbuh Talita


"Mobil kamu sudah di bawa ke bengkel,"


"Kalau begitu bagus dong, kalau begitu aku akan segera ke bengkel untuk mengeceknya,"


"Tidak perlu, biar ayah saja yang mengeceknya. Sebaiknya kamu disini saja, karena di luar banyak wartawan yang menunggu mu," jawab Aditama kemudian meninggalkan


Bosan karena seharian berada di dalam ruang perawatan membuat Talita menghubungi Gala.


Ia sengaja memintanya datang untuk membantunya keluar dari rumah sakit.


Hanya dalam waktu singkat Gala tiba di bangsal perawatannya.


"Apa kabar sayang, kau pasti merindukan aku ya makanya menghubungi ku," ucap Gala langsung berusaha memeluk Talita, namun gadis itu dengan cepat mendorongnya


"Kabarku buruk, kau tahu kan aku tidak bisa keluar dari ruangan ini karena wartawan brengsek itu!" seru Talita


"So ... what can I do for you dear?" jawab Gala


"Bantu aku keluar dari sini, aku harus membuktikan kepada para wartawan itu kalau aku tidak mabuk saat mengemudi," jawab Talita


"Kalau keluar dari sini sih soal gampang, tapi masalahnya polisi sudah menemukan botol-botol minuman keras di mobilmu jadi sulit untuk membuktikan jika kamu memang tidak dalam pengaruh minuman keras saat mengemudi,"


"Mereka menemukan botol miras di mobilku?" tanya Talita tak percaya


Gala langsung mengangguk dan memperlihatkan sebuah berita online kepadanya.


"Aku yakin pasti ada yang berusaha menjebak ku," ucap Talita


"Kalau gitu ayo kita kabur," jawab Gala


Baru saja mereka akan keluar dari ruangan tersebut, dua orang polisi langsung memborgol Talita dan membawanya ke kantor polisi