Perfect Revenge

Perfect Revenge
Bab 33



#Gedung Aditama Group


Talita menghela nafas panjang, gadis itu memberikan diri memberitahu tentang rahasia dirinya.


Ia ingin sang ayah tahu bahwa dia adalah putri kandungnya.


Ketika hendak mengetuk pintu ruang kerjanya, ia mendengar ayahnya sedang berbincang dengan Ivana.


Suara teriakan Ivana terdengar begitu lantang, perdebatan mulai mendominasi percakapan keduanya.


Talita seakan enggan beranjak dari tempat itu, ia begitu penasaran dengan apa yang mereka perdebatkan.


"Pergi dari sini atau aku akan mengungkap semuanya!" suara keras Ivana terdengar begitu nyaring hingga membuat semua orang yang berlalu lalang di depan ruangan itu mendengarnya.


Adi tak mampu menyembunyikan amarahnya, rasanya ia ingin melenyapkan wanita dihadapannya itu.


Namun wajah putri semata wayangnya tiba-tiba terlintas dalam benaknya membuat atensi pria itu sedikit terbagi.


Ia kembali menggunakan akal sehatnya untuk membuat keputusan yang tepat agar tak menyakiti putrinya.


Ia kemudian memungut pena yang tergeletak di depannya dan segera menandatangani berkas yang disodorkan oleh Ivana.


Wanita itu menyeringai saat keinginannya berhasil terpenuhi,


Talita segera bersembunyi saat melihat Ivana keluar dari kantor ayahnya.


Melihat wajah Adi yang terlihat kacau membuat Talita berpikir sesuatu yang besar telah terjadi.


Benar saja ia terkejut saat melihat sebuah manuskrip yang tak asing tergeletak di depannya.


Seketika wajah gadis itu memerah melihat manuskrip tersebut, kristal bening mulai menumpuk di sudut matanya.


"Apa ayah akan pergi meninggalkan aku?" tanya Talita tampak berkaca-kaca


"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan mu," jawab Adi


Pria itu segera bangun dan membereskan barang-barangnya.


"Padahal aku ingin mengungkapkan kebenaran yang mungkin saja bisa membuatmu bisa menunda kepergianmu,"


"Apapun yang akan kau sampaikan tidak akan pernah bisa mengubah keputusan ku," jawab Adi


Talita kemudian menyerahkan sebuah berkas kepada pria itu. Melihat ekspresi Adi biasa saja membuat Talita penasaran.


"Apa ayah akan tetap pergi setelah mengetahui aku adalah anak kandung mu?" kembali Talita berharap pria itu akan mengurungkan niatnya


"Maafkan aku nak, suatu hari kau akan tahu kenapa aku tetap bersikeras untuk pergi. Bukan karena aku tak menyayangi mu atau tak peduli denganmu, tapi karena aku harus melindungi mu. Aku harap dengan kepergianku kau akan hidup bahagia," tukas Adi


Lelaki itu memeluk erat putrinya kemudian berpamitan. Melihat pria itu selalu menghela nafas membuat Talita curiga jika Adi sebenarnya sudah tahu jika dia adalah putri kandungnya.


"Apa sebelumnya kau sudah tahu kalau aku adalah putri kandung mu?"


Seperti dugaan Talita lelaki itu langsung mengangguk pelan. Ia kemudian memberikan sebuah kalung emas dengan liontin hati kepadanya.


"Kenapa ayah diam saja selama ini, kenapa ayah tidak memberitahu aku atau ibu!" seru Talita


"Aku yakin suatu saat kau akan tahu kenapa aku lebih memilih diam daripada mengungkapkan kebenaran itu?"


Lagi-lagi jawaban Adi membuat Talita geram hingga ia terus memukulinya untuk melampiaskan kemarahannya.


"Ayah harus pulang sekarang, karena ada banyak yang harus aku bereskan,"


Adi segera mengambil tas kerjanya dan bergegas meninggalkan ruangan itu meskipun Talita masih terisak di sana.


"Percuma saja aku tahu kebenaran ini jika pada akhirnya kau tetap pergi meninggalkan aku,"


Rasa sesak membuat gadis itu semakin terisak. Entah kenapa rasanya begitu sakit hingga ia masih terduduk di lantai tanpa menyusul ayahnya.


Bagaimanapun juga melihat orang yang disayanginya mengabaikan dirinya jauh lebih sakit daripada saat ia tidak tahu jika Adi adalah ayah kandungnya.


Talita yang merasa semua usahanya sia-sia tak tahu lagi harus berbuat apa. Harapan untuk hidup bersama ayahnya pasca ditinggal Rehan suaminya tak akan pernah terwujud.


"Sekarang semuanya percuma saja, meskipun aku berhasil membalaskan dendam ku kepada Rehan dan Rose tetap saja aku tidak akan pernah bahagia. Aku akan tetap hidup sendiri tanpa ada seorangpun yang peduli denganku, padahal aku berharap ayahku akan menemani ku di sisa hidupku nanti,"


Suara dering ponsel membuat Talita langsung terhenyak. Ia kemudian mengangkat teleponnya, "Halo kaka, tolong aku!" seru Rosa begitu cemas


"Ada apa?" jawab Talita begitu malas


"Tolong aku kak, aku butuh bantuan mu sekarang!" desak Rosa


Meskipun Talita sangat membenci Rosa dan tak mau membantunya lagi, tetap saja ia tak bisa mengabaikan gadis itu yang terus mengeluh kesakitan.


Ia segera menyalakan mobilnya dan meluncur untuk menjemput Rosa di kampusnya.


Setibanya di sana ia segera menghampiri Rosa yang terbaring di unit kesehatan Kampus.


Saat membuka pintu ia melihat Rosa tergeletak di brangkar seorang diri.


Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya terasa begitu dingin.


"Apa yang terjadi denganmu?"n tanyanya khawatir


"Tolong aku kak, aku sakit," jawab Rosa dengan suara lemah


Bibirnya yang mulai membiru seperti tak kuat berbicara lagi. Tak lama ia pun pingsan hingga membuat Talita semakin khawatir.


Ia berusaha membangunkan Rosa dengan mengguncang-guncang tubuh gadis itu, namun tetap saja ia tak kunjung membuka matanya.


Karena takut terjadi sesuatu padanya, ia kemudian meminta bantuan kepada mahasiswa lain untuk membantu membawanya ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit dokter menyarankan untuk melakukan operasi karena mengalami pendarahan di dalam kandungannya.


Tanpa berpikir panjang Talita langsung menandatangani surat persetujuan operasi.


Ia kemudian menghubungi ayahnya untuk memberitahukan keadaan Rosa.


Adi segera datang dan menunda kepergiannya.


Talita merasa lega saat mengetahui ayahnya menunda kepergiannya. Setidaknya musibah yang menimpa Rosa ada hikmahnya.


Ia juga tak lupa memberitahukan Rehan dan Ivana tentang keadaan Rosa.


Setibanya di rumah sakit Ivana langsung memarahi Rehan. Wanita itu berpikir jika Rehan lah yang menyebabkan Rosa mengalami semua itu.


Melihat Ivana yang terus memaki Rehan membuat Talita langsung menengahi mereka.


"Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, yang terpenting sekarang adalah bagaimana menjaga perasaan Rosa, aku yakin saat dia bangun nanti orang pertama yang ingin dilihatnya adalah Rehan. Jangan sampai kau menambah kesedihannya dengan menyuruh Rehan pergi apalagi berusaha memisahkan mereka berdua. Asal kau tahu Rosa sekarang sedang mengandung anak Rehan. Dan sekarang ia sedang melakukan operasi karena bayi yang di kandungnya berada di luar rahim. Sebaiknya kau doakan saja semoga operasinya berjalan lancar, sehingga bayi dan Ibunya selamat," terang Talita


Seketika Ivana merasa lemas mendengar ucapan Talita hingga ia akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Dua jam menunggu akhirnya operasi pun selesai. Mereka merasa lega saat dokter mengatakan operasinya berhasil.


"Alhamdulillah, syukurlah," tukas Rehan kemudian segera menghampiri Rosa


Melihat Rosa dan Rehan yang sudah tak terpisahkan membuat Talita berpikir untuk menikahkan keduanya.