
Kejar-kejaran pun tak terelakkan. Dilah merasa senang berada di mobil bersama Ali ( nama samaran Franz). Akhirnya doanya dikabulkan oleh Allah swt. Mobil yang dikendarai Franz begitu kencang membuat Reno dan anak buahnya tak dapat mengejar.
"Sial," umpat Reno kesal, ia masih memakai jas pengantin akan tetapi ia tidak jadi menikah. Peci yang ada dikepalanya ia lempar karena kesal kemudian Reno memutuskan untuk kembali ke rumah Dilah.
"Maafkan saya Pak Menir, saya tidak bisa mengejar penculik itu," Reno sebagai calon suami Dilah melapor.
"Sial, kau ini calon suami seperti apa? Kalau Dilah kenapa-kenapa, bagaimana?' teriak Menir kecewa.
"Sabar Pak, aku begitu mencintai putrimu. Aku akan membawanya kembali," tersenyum iblis.
"Keterlaluan, siapa sebenarnya pemuda gila itu." Kesal Menir.
Kejayaan yang sebentar lagi di depan mata kini hilang sudah. Menir merasa marah akibat kegagalan tersebut.
***
Mobil terus melaju mengikuti arah yang ditunjuk Dilah.
"Kita mau kemana?" tanya Franz gemetaran.
"Mau ke rumah peninggalan ibuku,"
"Nona, sebaiknya Anda menikah. Aku akan menghantarkanmu ke rumahmu." ucap Franz takut, karena baru pertama kali ia melarikan anak perempuan orang.
"Ya sudah antar saja, kau akan terbunuh." gelak tawa Dilah membuat Franz takut sendiri.
deg! Aku terancam kematian. Batin Franz
"Nona, aku hanya ingin uangku, bukan menculik dirimu," wajah Franz masih sangat takut. Hatinya berdebar kencang karena terancam kematian.
"Siapa yang menculikku, akulah yang menculikmu," Dilah tersenyum misterius.
"Baik Nona," Franz mengangguk.
Sudah sejak awal bahwa cita-cita Franz ingin mengalahkan ayahnya. Hal itu membuat Franz setuju dengan ucapan Dilah.
"Berhenti di sini!" perintah Dilah.
Franz memberhentikan mobil tersebut dan mereka masuk ke rumah tua.
"Ini Rumah siapa Nona?" tanya Franz bingung sambil melihat-lihat sekitar rumah.
"Rumah peninggalan ibuku, hanya aku dan ibu yang tahu rumah ini, sedangkan ayah tak pernah tahu rumah ini. Sengaja ibu tak memberi tahu ayah membeli rumah ini karena ayah tidak suka rumah kecil seperti ini." Dilah duduk di sofa.
"Terus, mengapa ibu Nona membeli rumah ini?" tanya Franz sambil duduk di samping Dilah.
"Ibuku suka rumah ini, karena mengingatkan masa lalunya. Ini rumah kekasihnya dulu yang dibunuh oleh ayahku. Ayahku itu kejam, ia menculik ibuku dan menikahinya. Begitulah nasib ibuku yang menikah dengan mafia kejam," Dilah jadi curhan pada Franz. ayahnya sungguh kejam walaupun sayang kepadanya.
Franz berdiri dan tak menghiraukan Dilah, ia berjalan melihat rumah tersebut.
"Nona, kamarnya cuma ada satu. Aku tidur dimana?" tanya Franz bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya di sofa atau di lantai. Tidak mungkin kan kita tidur berdua," suara menjelaskan.
"Nona jika ayahmu melaporkanku ke polisi. Aku bisa dipenjara," ucap Franz takut.
"Tenang saja, ayahku dan polisi bermusuhan. Ia tak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi ada dua hal yang menakutkan yaitu ayahku bisa membunuhmu atau menjadikanmu budak yang tersiksa," Dilah tertawa setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Sedangkan Franz ketakutan, ia merasa ngilu mendengar perkataan Dilah.
Ya tuhan selamatkan aku, batin Franz