
Raja kali ini memberikan suapan selanjutnya. Delicia hanya membuka mulut dan menuruti apa yang Raja inginkan.
"Aduh," Delicia merasakan panas akibat mie yang Raja suap.
"Maaf aku lupa meniupnya," Raja menyesal melupakan meniup mie itu.
"Dasar bodoh!" Kesal Delicia. Ia memegangi bibirnya yang perih dan mengibas lidahnya agar tidak terbakar.
Raja merasa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada Delicia. Raja mendekatkan bibirnya lalu memberikan ciuman. Delicia sangat menikmati apa yang telah diberikan Raja. Hingga Delicia sadar apa yang ia lakukan dengan Raja adalah perbuatan yang tidak benar menurutnya.
"Lepaskan!" Delicia mendorong Raja untuk menjauh.
"Kau sudah gila ya?" Tanya Delicia kesal.
"Aku hanya merasa bertangungjawab atas kejadian tadi, aku pikir apa yang aku lakukan dapat menghilangkan rasa sakit pada bibir dan lidahmu," Raja memberi keterangan atas apa yang telah Raja lakukan barusan.
"Itu tidak sama sekali membantu," kesal Delicia.
"Tapi ku pikir tadi kau menikmatinya," Raja kembali menggoda.
Pipi Delicia memerah, apakah Raja menyadari bahwa Delicia menikmati ciuman tadi? Delicia bener-bener malu untuk mengakui itu.
"Bukankah kau yang menikmatinya, paduka Raja?" Ejek Delicia kesal.
"Ckckck!" Tawa Raja.
"Aku akui aku menikmatinya," balas Raja dengan kemenangan.
"Aku bisa gila hidup dengan laki-laki berpikiran mesum sepertimu," Delicia bertambah kesal. Ia sangat jengkel terus dipermainkan.
"Kau tahu, kau telah merenggut ciuman pertamaku. Aku ingin ciuman itu terjadi antara aku dan Roni ketika kami menikah dan melakukannya tepat di tahun baru," ungkapan kekesalan Delicia.
"Kau tahu Delicia, kau telah merenggut ciuman pertamaku. Aku melakukannya karena terpaksa ingin bertanggung jawab. Aku panik!" Lagi-lagi Raja bisa mengelak dan membuat Delicia kesal.
"Terpaksa atau madus?" Delicia bertanya untuk mengintimidasi Raja.
"Sebenarnya keduanya," jawab Raja.
Delicia menghela nafas. Ia tak bisa memang berdebat dengan Raja kalau urusan seperti ini. Delicia tahu Raja pasti akan terus mengambil kesempatan. Delicia tidak boleh lengah dan harus terus waspada. Peristiwa tadi adalah kelengahan Delicia. Delicia membiarkan Raja menciumnya. Delicia harus waspada mulai detik ini dan seterusnya. Delicia berjalan ke kamar mengambil bantal dan selimut kemudian melemparkan kearah Raja.
"Tidur diluar!" perintah Delicia.
"Tapi Delicia ini rumahku," Raja tidak terima dengan perintah sepihak dari Delicia.
"Aku tidak mau tidur denganmu!" Delicia berjalan dan memasuki kamar. Ia mengunci pintu kamar yang hanya satu-satunya di rumah ini. Raja sengaja memilih rumah ini yang hanya memiliki satu kamar agar mereka bisa tidur berduaan. Namun keputusan berani Delicia untuk memerintah Raja untuk tidur diluar memutuskan harapan Raja.
"Aku bisa mengendalikan diri," ucap Raja di balik pintu.
"Aku tidak peduli intinya kamu tidur diluar atau ceraikan aku!"
"Baiklah aku memilih tidur diluar," Raja tak punya pilihan bagus. Terpaksa ia memilih untuk tidur diluar.
Raja merendahkan tubuhnya di sofa meletakkan bantal di bawah kepala dan menyelimuti tubuhnya dari dinginnya malam. Hingga Raja terlelap tidur. Delicia perlahan keluar dari kamar. Ia mengendap-endap untuk menemui Raja. Raja sudah terlelap tidur dan tak menyadari itu.
"Aneh! Ada apa sih dengan laki-laki menyebalkan ini? Mengapa dia tidak menceraikanku juga? Padahal aku telah merendahkannya dengan menyuruhnya untuk tidur diluar seperti ini. CEO manapun mana mau diperlukan seperti ini."