
Pagi hari Dilah dan Franz sudah bersiap dengan konsekuensi akan berpisah. Hari ini adalah jadwal dimana Dilah harus kembali pada ayahnya.
"Aku sedih jika harus berpisah denganmu, Nona," ujar Franz sambil menunduk pasrah.
Aku juga begitu. Batin Dilah sambil menatap lekat Franz.
"Hei! jangan jadi pria lemah. Kau harus kuat," ujar Dilah menceramahi Franz.
"Nona, kau tak sedih sama sekali?" tanya Franz ingin tahu tentang perasaan Dilah.
"Tidak, sudahlah yang terpenting kau dapat uangmu dan aku tidak menikah." ujar Dilah enteng saja sambil mengibaskan tangannya.
"Bagaimana jika Nona pulang terus mereka mengikat Nona dan tidak mengizinkan Nona kemanapun?" ujar Franz yang sangat khawatir.
"Itu tak akan terjadi," Dilah memalingkan wajahnya.
Mereka menyiapkan mobil, kemudian Franz mengikat Dilah dan menutup mulut Dilah, walaupun tidak terlalu kuat agar Reno dan Menir tak curiga. Mereka menuju sebuah tempat terpencil di dekat desa F. Tempat ini sangat privasi buat siapapun.
Franz berhenti dan turun dari mobil. Terlihat ada senyum licik pada Menir dan Reno.
"Apakah aku bunuh dia di sini?" tanya Reno berbisik pada Menir dengan kepala yang masih mendidih.
"Tak usah, uang palsu yang dia dapatkan akan dia gunakan kemudian dia terkena kasus dan membusuk di penjara." senyum licik Menir menolak rencana Reno.
"Baikah, jika dia tak terkena kasus aku sendiri yang akan menyiksanya dan membunuhnya." bisik Reno ditelinga Menir.
"Bagus, calon suami yang terbaik." ujar Menir kenudian ia memelintir kumisnya.
Franz mendekati Reno dan Menir dengan wajah berpura-pura jahat. Disana juga terdapat 3 anak buah Reno berbadan kekar.
"Mana uang tebusannya?" tanya Franz dengan nada tinggi.
"Ini ambil," mencampakkan tas berisi uang palsu ke wajah Franz.
"Astaga, uang palsu!" guman Franz terkejut dan langsung menoleh kebelakang melihat Dilah ke mobil. Ia benar-benar tahu uang itu palsu, kebetulan ayahnya juga memiliki percetakan uang palsu.
"Aku akan menikahimu, Sayangku. Uang itu adalah uang palsu sebagai hukuman untuk penculikmu," ujar Reno dengan tatapan penuh nafsu kemudian Reno membuka lak ban yang menutup mulut Dilah. Seketika Dilah berteriak.
"Ali, tolong aku! Mereka menjebakmu. Itu uang palsu!" teriak Dilah sambil meronta-ronta.
Sial, ikatan ini membuatku susah bergerak, Dilah membatin.
Seketika 3 anak buah Reno menodong pistol di kepala Franz membuat Franz angkat tangan.
"Kita akan melihat penculikmu mati," tawa Reno yang sudah bernafsu ingin Franz mati dengan segera.
Dor! Dor! Dor!
Dilah menutup wajahnya, mungkin Ali ( nama samaran Franz) sudah mati dengan bersimpah darah.
Reno tertawa keras dan diikuti tawa Menir.
"Loh, kenapa anak buahku yang mati?" tanya Reno terkejut dan Menir pun ikutan terkejut.
Karena ikatan tak terlalu kuat, Dilah mengigit tangan Reno yang memeluknya dan cepat berlari keluar. Ia memeluk Franz dari belakang, kemudian Franz melepas pelukan dan menarik tangan Dilah. Mereka langsung lari meninggalkan Reno dan Menir.
"Bodoh, mengapa mereka yang mati?"
"Pak tua Menir kejar mereka!" teriak Reno dengan amarah yang menggelegar. Dengan segera Menir menyetir mobil tersebut.
Dilah dan Franz berlari, mereka mencari jalan yang sulit di lalui mobil. Mereka mengerahkan tenaga untuk lari sekencang-kencangnya agar tak ditangkap Reno dan Menir. Setelah jauh dari lokasi tadi, Franz dan Dilah duduk di bawah pohon sambil mengatur nafasnya.
"Siapa orang yang menolongku tadi?" tanya Franz penasaran.