
"Sayang, aku minta maaf atas kesalahanku dulu," ucap Menir dengan memegang tangan Yulia. Ia berjongkok menatap Yulia.
"Kau masih sama seperti dulu sangat kejam," Yulia memalingkan wajahnya kesal.
"Aku berjanji tidak akan kejam seperti dulu, asalkan kau mau hidup bersamaku lagi," Menir menatap penuh penyesalan atas kesalahannya dulu.
"Aku masih tidak percaya dengan kata-katamu," Yulia mengibaskan tangannya.
"Sayang, kumohon maafkan aku," Menir meraih tangan Yulia.
"Huh!" Yulia menghela nafas.
"Aku memaafkanmu, kalau bukan karena kau adalah ayah dari putri mungkin aku tak pernah memaafkanmu," ucap Yulia dengan kejudesannya.
"Iya, maafkan ibuku juga ya Sayang," ucap Menir memelas.
"Aku memaafkan kalian semua yang jahat padaku dulu," ucap Yulia menghela nafas.
"Baiklah ayo kita pulang ke rumah," ucap Menir dengan bahagia.
Sesampainya dikediaman Menir. Yulia merasa heran. Rumah tersebut semakin besar dan semakin bagus.
"Ini rumah kita sayang," ucap Menir sambil mempersilahkan Yulia masuk.
"Jika rumah dan hartamu sebanyak ini. Kenapa kau menjodohkan putriku dengan si jahat Reno?" tanya Yulia dengan nada tinggi.
"Aku... Aku...emm..."
"Jawab Menir!" Yulia mendesak Menir untuk menjawab.
"Aku kalah bersaing dengan Darma,"
"Kau!" Yulia menjewer telinga Menir dengan kuat.
"Ya, ampun Sayang, Ampun!" ucapnya merintih kesakitan.
"Kau tidak tahu putriku hampir mati karena ulahmu?" Yulia kembali membentak.
"Aku... Aku.. Mengaku salah,"
Para pelayan Menir tertawa kecil. Baru pertama kali Menir ketakutan seperti itu.
"Ternyata Menir golongan suami takut istri ya," tawa pelayan wanita tersebut.
"Iya, aku tak menyangka Menir bisa ketakutan seperti itu," ucap wanita yang lain menimpali.
"Diam!" teriak Menir.
"Kau masih kejam dan kasar lagi," Yulia kembali menjewer Menir.
Yulia melepaskan tangannya dari telinga Menir. Ia melihat-lihat rumah tersebut.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat ini. Aku sangat merindukannya," Yulia menuju sebuah taman. Ia duduk di taman tersebut.
"Dulu, aku sering bermain dengan Dilah disini sekarang dia sudah besar bahkan telah menikah," Yulia mengingat-ingat masa lalu.
Malam Hari
Yulia duduk di meja makan. Ia sudah menyiapkan makan untuk Menir.
"Sudah lama sekali, aku tidak merasakan makanan ini," Menir memuji makanan tersebut. Akan tetapi Yulia melihat malas pada Menir.
Setelah usai makan Yulia masuk ke kamarnya dulu dimana Menir juga tidur di sana.
Dekorasi kamar ini tidak pernah berubah, batin Yulia.
"Apakah kau sudah tidak mencintai diriku?" tanya Menir sambil memeluk Yulia dari belakang.
"Kapan aku pernah mencintaimu?" Yulia memukul tangan Menir yang memeluknya.
"Iya aku tahu selama ini kau tak pernah mencintaiku," Menir duduk di pinggir tempat tidur.
"Tapi sungguh aku sangat mencintaimu," sambung Menir selanjutnya.
"Huh! Aku juga mencintaimu," ucap Yulia berkaca-kaca.
"Kapan kau pernah mencintaiku?" Menir tersenyum merekah dibibirnya.
"Sejak aku melahirkan putriku," Yulia memalingkan wajah. Ia berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Aku berjanji mulai dari sekarang, aku tidak akan menjadi kejam lagi. Aku tidak akan tergila-gila dengan harta. Aku tidak akan sejahat dulu lagi," Menir mengucapkan deretan janjinya.
"Tepatilah janjimu itu, jangan hanya sebagai rayuan untukku," ucap Yulia ketus.
"Iya aku akan menepatinya."
Yulia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Sayang, sudah lama sekali aku tidak menyentuh wanita," ucap Menir menggoda.
"Jangan harap kau mendapatkannya hari ini,"
"Sayang," suara Menir menggoda.
Yulia mengela nafas panjang, "Baiklah,"