Only You Mine

Only You Mine
Tunggu



Mendengar seruan Ayunda, Dilah dan Franz tersipu malu. Para pengawal segera memanggil penghulu yang dimaksud. Penghulu datang dan berjabat tangan kemudian duduk di tempat yang telah di tentukan sedangkan Dilah dan Franz duduk dihadapan penghulu.


"Bagaimana Franz dan Dilah, apakah kalian sudah siap menikah?" tanya penghulu sambil menegok Dilah dan Franz secara bergantian.


Franz melihat Dilah disampingnya. Ia bertanya melalui kontak mata. Apakah calon istrinya tersebut sudah siap? Dilah yang tahu makna dari kontak mata Franz, ia tersenyum kemudian mengangguk. Franz tersenyum karena sudah mendapatkan jawaban dari calon istrinya. Ia menghela nafas lembut.


"Kami sudah siap, Pak!" jawab Franz yakin.


Penghulu menjabat tangan Franz, ia mengucapkan basmalah kemudian, " Saya nikahkan dan saya kawinkan Franz Rivano bla bla bla.."


"Saya terima nikahnya.."


"Tunggu!" suara wanita menghentikan ucapan Franz. Semua orang menoleh kearah sumber suara. Siapakah wanita yang menggagalkan ijab kabul?


"Ada apa ini?" tanya Darma dengan nada kesal.


"Siapa itu? Siapa dia?" para penonton bertanya-tanya.


"Ibu Yulia," ucap Dilah dan Franz bersamaan.


Menir datang menghampiri wanita tersebut dan berkata, "Sayang kau masih hidup?" ucapnya penuh binar dan ingin segera memeluk Yulia istrinya.


"Jangan sentuh aku!" seru Yulia, ia datang mendekati Franz kemudian menarik telinga Franz.


"Aduh.. Aduh.. Bu lepaskan aku!" ucap Franz mengaduh.


"Kamu ya, ternyata tukang bohong, kau mengaku sebagai Ali dan mengatakan padaku bahwa kau sudah menikah dengan anakku," gerutu Yulia sambil menarik telinga Franz.


"Maaf Bu, maaf," ucap Franz memohon.


"Ibu, jadi ibu Yulia Ibu aku." Dilah langsung memeluk Yulia. Yulia melepaskan tarikan pada telinga Franz dan memeluk putrinya dengan erat. Franz memegang telinganya karena sakit akibat ditarik calon mertuanya.


"Pantas saja waktu di rumah Ibu, aku merasakan hal lain. Rasanya Ibu seperti Ibu aku sendiri, tapi ternyata Ibu benar-benar Ibu kandungku yang aku pikir telah tiada," ucap Dilah menangis haru.


"Ini semua karena Nenekmu yang tidak suka pada ibu," tangis Yulia makin pecah.


"Jadi isu Ibu meninggal itu ulah nenek?" tanya Dilah geram.


"Iya dan Ayahmu percaya itu," ucap Yulia yang terisak tangis.


"Ibu, terima kasih telah kembali. Aku akan membalas ulah Nenek," ucap Dilah geram.


"Sudahlah Nak, biarlah yang lalu tetap berlalu." Dilah mengangguk dan Yulia melepaskan pelukan pada anaknya.


"Saya ingin meminta penjelasan dari kamu Franz, mengapa kau mengaku sudah menikah dengan putriku karena aku percaya omonganmu itu aku memperbolehkan kau dan putriku tidur satu kamar," kesal Yulia sambil marah-marah.


Semua oran menatap heran. Pikiran buruk sudah mengarah pada Franz dan Dilah.


"Ibu, sebenarnya waktu itu kami dikejar Pak Menir. Aku terpaksa berbohong pada Ibu agar kami bisa tinggal sementara di rumah Ibu. Tapi aku bersumpah aku tak menyentuh putrimu sama sekali," ucap Franz yakin.


"Terus bagaimana dengan kejadian malam itu, putriku tepat diatas tubuhmu,"


Bu, mengapa bahas kejadian waktu itu. Aku kan malu harus menjelaskannya. Dilah membatin


"Kalau masalah itu tanyakan saja langsung pada putrimu," ucap Franz menahan tawa.


"Ibu, waktu itu aku bermimpi buruk. Jadi aku tidur diluar kendali dan tak sengaja aku terjatuh dan menimpa Franz," Dilah menjelaskan dengan wajah yang memerah.


"Oohh.." ucap gadis-gadis desa cekikian.


"Oh Ya sudah tunggu apa lagi? Ayo segeralah menikah!"