
Penghulu menghela nafas. Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Franz.
Penghulu tersebut mengucapkan ijab kabul yang akan diikuti oleh Franz. Franz mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu sambil melihat kekanan dan kekiri.
"Sah," ucap para saksi bersamaan.
Kini Dilah dan Franz telah sah menjadi suami istri. Franz mengecup dahi istrinya dengan lembut. Kemudian istrinya mencium punggung tangan Franz. Semua tersenyum bahagia.
Franz dan Dilah masuk ke kamar pengantin. Kamar tersebut sudah dihiasi bunga-bunga yang indah. Dan pengharum ruangan yang membangkitkan gairah.
"Aku sudah sering tidur satu kamar denganmu, tapi hari ini Tuhan memberikan hal yang jauh lebih menyenangkan. Aku bisa tidur satu ranjang denganmu," ucap Franz tanpa ragu.
Dilah hanya diam dan membeku. Ia hanya menunduk. Apakah malam ini akan terjadi malam panjang antara dirinya dan Franz?
Franz mendekati Dilah, hal itu membuat Dilah agak menjauh sedikit. Franz tersenyum tipis menatap lekat istrinya.
Apakah dia menginginkan sekarang?
"Sayang aku ingin makan, kamu..."
Hah, apa dia serius dengan ucapannya?
"Aku belum siap," ucap Dilah ketus, sebenarnya Dilah masih gugup dan belum siap untuk melakukan kewajibannya malam ini.
"Baiklah aku makan sendiri saja, jika lapar keluarlah dari kamar atau panggil aku, aku akan membawakanmu makanan," ucap Franz yang sudah memegang handel pintu kemudian ia segera keluar.
Wajah Dilah bersemu merah seperti buah tomat. Ia pikir suaminya minta haknya. Dilah menepuk keningnya lembut sambil tersenyum sendiri di kamar.
Usai makan Franz masuk lagi ke kamar. Ia mendekati istrinya dan berkata, "Izinkan aku memelukmu lebih lama," ucap Franz tersenyum lembut.
Franz memeluk Dilah dengan erat, "Aku tak meminta hari ini karena tubuhku benar-benar remuk akibat bertarung."
Dilah dan Franz terlelap dalam tidurnya.
"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Franz sambil melihat ayahnya.
"Apa, katakanlah!"
"Aku pernah bilang bahwa aku ingin hidup mandiri. Besok aku ingin ke kota dan hidup mandiri bersama istriku," Franz sudah mantap dengan keputusannya.
"Nak tinggal lah seminggu bersama kami, ibu masih rindu denganmu," Ayunda menatap Franz penuh kasih sayang.
"Iya Franz, tetap tinggal disini untuk waktu seminggu. Setelah itu kalian boleh pergi kemanapun kalian mau," ucap Darma memberikan pendapat.
"Jika itu keinginan Ayah dan Ibu, aku akan menurutinya,"
Dilah dan Franz selesai sarapan. Pengawal Darma masuk dengan wajah penuh khawatir.
"Ada apa?" tanya Darma heran.
"Ada wanita dan pria yang ingin bertemu Nona Dilah," ucap pengawal tersebut dengan raut wajah menghawatirkan.
"Baiklah, Dilah keluarlah dan temui dia. Dan kalian kawal ketat Dilah. Jangan sampai ada masalah," ucap Darma dengan tegas.
Dilah dan para pengawal menuju gerbang untuk melihat pria dan wanita tersebut.
"Dilah," ucap wanita tersebut, ia sepertinya sudah mengenal Dilah cukup lama.
"Fina, aaa Fina. Kau datang," ucap Dilah sambil memeluk Fina dengan erat.
"Maaf, semalam aku tak bisa datang keacara pernikahanmu," Fina berucap penuh dengan kesedihan.
"Tidak apa Fina, kau sudah datang kesini. Itu sudah membuatku bahagia."
Dilah melihat pria tampan bersama Fina. Ia mengernyitkan dahinya, pria asing tersebut tidak ada diingatannya.
"Siapa dia?" tanya Dilah heran.