
"Iya pertarungan antara Franz dan Reno. Siapa yang menjadi pemenangnya dia akan mendapatkan Dilah. Bagaimana?" tawaran Darma tersebut membuat Reno tersenyum misterius sedangkan Franz berkeringat dingin.
"Aku setuju," ucap Reno dengan tersenyum misterius.
"Ayah, aku cinta damai, mengapa Ayah menginginkan pertarungan?" Franz berkeringat dingin dan kakinya bergetar hebat. Ia mencoba untuk protes.
"Kau takut?" ucap Reno untuk menjatuhkan harga diri Franz.
"Franz kau lak-laki, anak seorang mafia. Bertarung sudah jadi ciri khas mafia. Tidakkah kau ingin berjuang untuk mendapatkan wanita cantik Dilah Sanjaya? Kau rela Dilah menikah dengan Reno," Reno melirik Franz dan tersenyum tipis kemudian menaik turunkan alisnya.
"Ayah, aku siap bertarung dengan Reno," Franz membusungkan dadanya dan memukul dadanya sendiri menunjukkan bahwa dia kuat.
"Tidak sekarang kalian bertarung, tapi 1 minggu lagi. Persiapkan lah tubuh kalian untuk bertarung." ucap Darma membuat persyaratan.
"Ayah, waktu 1 minggu tidak cukup untuk latihan," protes Franz.
"Dasar lemah," hina Reno sambil tertawa.
"Bagaimana dengan anakku?" tanya Menir yang terus memandang Dilah yang dipegang pengawal.
"Tenanglah Menir, anakmu aman bersamaku. Laura dan istriku akan menjaganya. Jika Reno menang, Dilah akan kuberikan kepadamu dan Reno, tapi jika Reno kalah. Dilah akan menjadi bagian dari keluarga kami," Darma menjelaskan.
"Aku tidak percaya, aku ingin memastikan bahwa anakku tidak terluka sedikitpun bila bersama kalian," Menir mengatakan dengan tegas. Ia tak mau dibodohi musuhnya.
"Baik, kita buat surat perjanjian. Jika Dilah terluka disengaja maupun tidak disengaja kami akan menanggung hukuman apapun yang Menir minta, cepat buat surat itu!" teriak Darma kepada asistennya.
"Baik Tuan," Asisten Darma gerak cepat untuk membuat surat yang di minta. Setelah mengetik surat tersebut, asisten Darma datang menghadap mereka.
"Ini Tuan surat perjanjiannya," asisten Darma memberikannya dan membungkuk hormat.
"Lihat Menir, jika tak sesuai aku akan membuatkan ulang untukmu," Darma memberikan kerjas perjanjian tersebut.
"Sudah setuju, cepat tanda tangan!" teriak Darma sambil memberiakan pena.
"Iya," mengambil pena dari tangan Darma dengan kasar. Kemudian Darma juga menandatanganinya.
"Sudah selesai, kalian boleh keluar dari sini! Minggu depan datanglah kesini. Aku akan membuat acara semeriah mungkin untuk melihat pertarungan antara putraku dan Reno." ucap Darma mengusir.
"Pengawal lepaskan Dilah!" teriak Franz, ia tak suka para pengawal terus memegangi Dilah.
"Jadi sekarang Dilah adalah calon istri antara Reno dan Franz, kuharap Reno kau menangkan pertarungan tersebut agar kau mendapatkan anakku."
"Tenang saja Pak Menir, aku akan mengalahkan Franz yang manja itu. Baru mendengar pertarungan saja dia sudah pucat," tawa Reno meremehkan.
"Apa kau bilang?" Franz mengepal tangannya erat.
"Pertarungan belum dimulai kalian sudah ingin bertarung. Aku yakin minggu depan akan seru," tawa Darma memecahkan Reno dan Franz yang ingin bersitegang.
"Ayo Pak Menir kita pulang dari sini, untuk menghancurkan Franz," Reno mengajak Menir untuk segera pulang.
"Franz, kau jangan pernah menyentuh anakku walaupun nantinya kalian tinggal serumah," Menir memperingatkan dengan menunjuk Franz dengan jarinya.
Reno dan Menir meninggalkan rumah tersebut.
"Franz kau yakin akan menang?" tanya Dilah khawatir, selama ia bersama Franz. Dilah tak pernah melihat Franz bertarung.
"Demi mendapatkanmu aku akan bertarung," Franz ingin memeluk Dilah.
"Hentikan! Sudah kukatakan kalian jangan berpelukan, jika kau memeluk atau menciumnya. Kau tak akan pernah melihat Dilah sampai minggu depan," Darma mengancam.
"Iya Ayah," Franz menunduk.