
"Itu mereka!" teriak Reno pada Menir membuat Franz dan Dilah terkejut.
"Aku sudah tak kuat berlari Ali, jika kau ingin selamat, pergilah!" ujar Dilah sambil memegangi kakinya.
Franz tak tega meninggalkan Dilah di hutan. Ia gendong Dilah dipungungnya dan berlari tanpa arah.
Setelah melewati hutan yang cukup dalam mereka melihat sebuah perkampungan. Terlihat orang-orang kampung tampak ramah dan baik menyambut orang baru.
"Itu istrinya kenapa di gendong?" tanya ibu paruh baya yang membawa sayur-sayuran yang disunggih di kepalanya.
Istri, aku belum menikah. Franz
"Dia lelah Bu," senyum Franz, terlihat Dilah memejamkan matanya dan bersandar di bahu Franz.
"Bagaimana kalau kalian ke rumah ibu? Kebetulan rumah ibu tak jauh dari sini." senyum ibu tersebut ramah. Ia benar-benar ibu yang berhati baik.
Setelah sampai rumah, Franz membaringkan Dilah di tempat tidur yang terbuat dari kaya. Rumah Ibu tersebut sederhana, rumah panggung yang dibuat dari kayu dan tepas. Suasananya sejuk walaupun hari sudah siang.
"Tidurlah Sayang," ucap Franz sambil mengusap pipi Dilah dan mengedip-ngedipkan mata agar Dilah tahu mereka sedang berakting menjadi pasangan suami istri.
"Terima kasih, suamiku." Dilah memejamkan mata dan tertidur untuk memulihkan tenaga karena setelah berlari, rasanya sangat lelah sekali.
Franz dan Ibu tersebut keluar dari kamar dan duduk di ruang keluarga. Di rumahnya tak terdapat televisi.
"Maaf ya, rumah Ibu sederhana," ujar Ibu tersebut dengan jujur.
"Iya Bu tidak apa, terima kasih telah memberikan tumpangan." Franz tersenyum ramah.
"Iya Nak, mengapa kalian bisa ke desa ini? Di lihat dari pakaian kalian, sepertinya kalian orang kota." ujar Ibu tersebut heran.
"Aku dan istriku kawin lari. Kami tak direstui oleh kedua orangtua kami." ujar Franz berpura-pura sedih.
"Tidak tahu Bu, kami saling mencintai tapi orangtua kami tak setuju. Kami berjalan tanpa arah." ujar Franz bersedih dan mengusap-usap matanya.
"Tenanglah Nak, kalian bisa tinggal di rumah ibu untuk beberapa hari. Lagi pula ibu sendirian di rumah." ujar ibu tersebut tersenyum.
"Benarkah?" Franz mencium tangan ibu tersebut dan memeluknya dengan erat. Ibu itu mengusap rambut Franz dengan penuh kasih sayang.
"Iya Nak, siapa namamu dan istrimu itu?" tanya ibu tersebut agar semakin kenal.
"Saya Ali (nama samaran Franz) dan istri saya Dilah."
Ibu tersebut terbelalak karena kaget. "Dilah anak Menir?" tanya ibu tersebut memastikan.
"Iya Bu, istri saya anak Menir." Franz mengangguk membenarkan perkataan ibu tersebut. Walaupun hanya sebuah kebohongan.
"Ya ampun Nak, berarti kamu lah yang menyelamatkan anak..." menggantung kata-katanya.
"Anak apa Bu?" tanya Franz garuk-garuk kepala.
"Tidak ada Nak," ibu tersebut buru-buru ke kamar Dilah.
"Nama Ibu siapa?" tanya Franz ingin tahu.
"Yulia," ucapnya dan masuk ke kamar.
Ia membuka kamar tersebut perlahan. "Jadi kamu sudah menikah, Nak? Maafkan ibu ya Nak, Ibu tak datang untuk memberi restu. Ayahmu pasti memaksakan kehendak padamu. Ibu masih hidup, Nak. Nenekmu dulu sangat membenci ibu sehingga ibu pergi dari rumah dan mereka membuat cerita palsu tentang kematian Ibu." ucap Yulia pelan sambil menitikan air mata dan mengusap kepala anaknya lembut.
Dilah pelan-pelan membuka matanya. Ia terkejut melihat Ibu tersebut mengusap kepalanya. Rasanya sama seperti Ibunya dulu.
"Ibu, mana suamiku?" Dilah perlahan duduk dan melihat sekeliling untuk mencari Franz. Ia masih ingat tentang akting suami istri dengan Franz.