Only You Mine

Only You Mine
Apa Yang Kau Mau?



"Apa yang kau mau?" bentak Darma, wajahnya merah padam melihat putri kesayangannya dikawal ketat oleh para pengawal.


"Anakku Franz mencintai putrimu, aku ingin menikahkan putrimu dengan putraku," ucap Darma enteng tak memperrdulikan Menir yang terlihat tak setuju.


"Jadi penculik itu putramu?" Reno bertanya dengan nada tinggi.


"Iya, putraku selicik diriku bukan?" tanya Darma menyeringai.


"Aku tidak akan pernah sudi menikahkan putri kesayanganku dengan putramu yang gila itu," Mata Menir melotot tajam, ia meremas tangan sangkin kesalnya.


"Pengawal hukum pancung Dilah sebagai hukuman karena ayahnya tak merestuinya menikah dengan putraku," Darma melakukan gertakan agar Menir pasrah.


Para pengawal hati-hati membawa Dilah ke lokasi hukum pancung. Dilah juga melakukan akting seolah-olah dia ketakutan.


"Tunggu!" Menir mengambil pedang Reno dan menodong Darma dengan pedang tersebut.


"Hahaha, jika aku mati kau tak akan melihat jasad anakmu," gelak tawa Darma membuat tangan Menir bergetar.


"Kubunuh kau!" teriak Menir, Darma mengelak dan mengambil pedang tersebut.


"Menir, Menir. Ini adalah wilayahku, rumahku, daerah kekuasaanku, dan kau berani sekali ingin membunuhku. Kau tidak takut ada banyak pengawal disini yang siap membunuh kalian semua!" teriak Darma diujung kalimat membuat pasukan Menir merinding.


"Baiklah, kami ingin ada berdamai," ucap Reno dengan nada santai. Ia berakting menyembunyikan ketakutannya.


"Aku suka gaya santai calon suami putrimu, baiklah kita berdamai. Masuklah ke istanaku, dan kita bahas bagaimana baiknya," Darma mengibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka masuk.


"Berhati-hatilah, bisa saja kita mati di sini," ujar Menir memperingatkan.


Mereka duduk rapi melingkar mengikuti meja yang bundar.


"Tawaran apa agar semua ini cepat selesai?" Menir mengeluarkan suara tinggi agar orang segan padanya.


Pelayan wanita cantik dan seksi membawakan teh kepada Menir dan pasukannya. Semua pengawal Menir melihat penuh nafsu pada wanita tersebut termasuk Reno.


Cih, pantas saja Dilah tak mau menikah dengan Reno. Ternyata Reno adalah pria mata keranjang.


"Harga dia cukup mahal perjamnya," ucap Darma menyeringai.


"Berapapun akan kubayar," ucap Reno, Darma langsung memukul meja membuat semua orang terkejut.


"Pantas saja Dilah tidak mau menikah denganmu, kau mata keranjang!." wajah Darma memerah, ia menghela nafasnya. Ia teringat akan rencananya, jadi ia menurunkan emosinya yang sudah memunjak. Walaupun Darma kejam, ia tidak mata keranjang seperti Reno.


"Sudah lah, kau bisa pergi," Darma melambaikan tangan untuk mengusir wanita tersebut. Reno dan para pasukannya menelan ludah ketika menatap punggung wanita tersebut yang terbuka. Putih mulus punggung wanita tersebut terlihat jelas. Ingin sekali Reno melahap habis.


"Silahkan kalian minum!" Darma tersenyum tipis.


"Jangan diminum!" Menir memukul meja kuat. Hampir saja Reno dan para pasukannya meminum teh tersebut.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Reno dan lainnya.


"Teh itu beracun, wanita tadi memperdaya kalian," ucap Menir meninggi.


Seketika Reno dan para pasukannya menjauhkahkan minuman tersebut


"Pintar juga kau Menir, padahal ingin sekali aku melihat kematian disini, tapi Tuhan belum mengizinkannya," Darma menghela nafas lembut.


Menir tampak geram telah dipermainkan oleh Darma. "Sudahlah Darma, hentikan omong kosongmu yang membuatku muak! katakanlah apa yang kau mau!" teriak Menir menggelegar.


"Aku ingin sebuah pertarungan!" Darma berdiri dari duduknya kemudian ia memegang pinggang dengan kedua tangannya.


"Pertarungan?" tanya Menir heran.