Only You Mine

Only You Mine
Kau Franz?



"Siapa wanita itu, Nak?" tanya Ayunda melihat wanita asing dirumah mereka.


"Dia adalah Dilah anak dari Menir," ucap Franz gugup.


Ayunda terkejut, bagaimana bisa Franz membawa anak rival abadi ayahnya.


"Tinggu dulu, apakah Ali ini adalah Franz? tanya Dilah, ia sangat bingung sekali. Ia butuh sebuah penjelasan.


"Iya dia Franz, kenapa?" tanya Darma dengan menatap Dilah intens.


"Kau Franz?" tanya Dilah tak percaya.


"Iya," Franz mengangguk ragu.


"Kau telah membohongiku, apa ini caramu untuk mengalahkan ayahku. Aku mendengar dari cerita ayahku bahwa Franz anak dari Darma musuh terbesar ayahku," ucap Dilah marah. Dilah ingin beranjak pergi dari rumah yang terbilang mewah.


Ternyata aku salah mencintai seseorang. Aku pikir Ali itu orang biasa yang berhati tulus. Bahkan aku mengharapkan cintanya tapi kebenarannya, dia juga anak mafia sama seperti Reno. Apakah hidupku akan menderita akibat anak mafia, baik itu musuh ayahku maupun sahabat ayahku?


"Tunggu dulu," Franz meraih tangan Dilah, "Kumohon jangan pergi!" ucap Franz sendu.


"Franz aku harus pergi, tak mungkin aku tinggal disini bersama musuh ayahku. Mungkin sudah takdirku menikah dengan Reno. Aku akan pulang sekarang. Sudah cukup drama yang kita buat," ucap Dilah yang membuat Franz membeku.


"Tunggu!" teriak Darma menggelegar membuat Dilah menoleh kearah Darma.


"Karena anakku begitu mencintaimu tak mungkin diriku menyakitimu," ujar Darma dengan tatapan serius.


Dilah membeku, sebenarnya ia tak ingin jauh dari Franz. Hatinya menginginkan terus berada di samping Franz, tapi pikirannya mengatakan bahwa ia tak akan selamat tinggal bersama musuh ayahnya.


"Jika kau tak ingin tinggal disini, aku akan ikut denganmu," ucapan Franz terdengar serius. Dilah hanya diam bingung harus memutuskan apa, di sisi lain ia takut tinggal bersama musuh ayahnya, di sisi lain pula ia tak bisa jauh dari Franz.


"Nak tolong, tinggallah bersama kami," ujar Ayunda memohon membuat Dilah tak tega meninggalkan Franz. Suara keibuan Ayunda membuat Dilah mengingat ibunya. Ayunda tahu bahwa anak laki-lakinya sangat mencintai Dilah. Akhirnya Dilah berbalik arah dan berdiri di samping Franz.


"Maafkan aku yang telah membohongimu," ucap Franz memohon.


"Sebenarnya aku kecewa padamu, Franz." ucap Darma dengan amarahnya.


"Maafkan aku Ayah,"


"Kau hampir terbunuh waktu itu bukan?" tanya Darma membuat Franz menerawang kebelakang.


"Jadi Ayah yang menyelamatkanku waktu hampir terbunuh di tangan anak buah ayahnya Dilah?" tanya Franz heran.


"Iya, walaupun aku berhati iblis, mana mungkin aku membiarkan putraku mati sia-sia," suara kejam Darma membuat semua orang merinding.


"Terima kasih, Ayah." Franz menunduk.


"Apakah kau sudah menyentuh gadis itu?" tanya Darma sambil melirik Dilah.


"Tidak sama sekali, Ayah." ucap Franz cepat sedangkan Dilah meremas tangannya.


"Bodoh! Sudah berapa bulan kalian tinggal bersama. Mengapa tidak melakukannya?" tanya Darma kesal.


"Aku sangat menghormati wanita, karena aku benar-benar mencintainya. Tak mungkin aku merusak masa depannya." ucap Franz yang membuat Dilah berdebar kencang.


"Kau anak yang paling ibu banggakan Franz, ibu senang pernah melahirkan anak sebaik dirimu," ucap Ayunda menatap dengan takjub putranya.


"Apa yang perlu dibanggakan dari anak itu, ia tak bisa berbuat satu kejahatan," kesal Darma.


"Kau mencintaiku Franz?" tanya Dilah dengan raut wajah tak percaya.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Franz tersenyum. Ia berani mengucapkan isi hatinya di depan banyak orang termasuk orang tuanya.


"Apakah kau tak mencintaiku?" tanya Ali serius.