
Franz dan Dilah bangun lebih awal untuk bersiap-siap pergi dari rumah ibu Yulia.
"Kalian ingin pergi?" tanya ibu Yulia sedih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf Bu, kami takut Ibu mendapat masalah karena kami." ujar Franz menjelaskan ia meraih tangan Ibu Yulia dan mencium tangannya.
Menantuku sangat tahu sopan santun. Batin Ibu Yulia.
"Nak, menginaplah di rumah ibu satu hari lagi. Ibu mohon," Franz dan Dilah saling menatap. Dilah menganguk tanda setuju. Hatinya tak tega harus meninggalkan Ibu Yulia.
"Baik Bu, karena istri saya setuju maka kami akan tinggal satu hari lagi. Tapi setelah ini kami harus pergi, kami takut Ibu dapat masalah karena hal ini." ujar Franz.
Ibu Yulia mendekati Franz dan Dilah. Ia memeluk Franz dan Dilah dengan penuh kasih sayang. Setelah berpelukan ibu Yulia mengajak mereka berdua ke sawah miliknya.
"Ibu!" panggil Dilah dengan senyuman.
"Iya Nak," Jantung ibu Yulia berdebar kencang setelah di panggil anaknya. Ibu Yulia yang sedang menanam padi langsung menoleh Dilah.
"Ibu tidak lelah menanam padi ini? Biar aku dan Ali saja yang melakukannya, Ibu duduk saja di pondok sana." ujar Dilah tersenyum.
"Ibu tak lelah," Ibu Yulia mengusap keningnya yang berkeringat.
"Iya, bolehkah aku membantumu, Bu?" Dilah tersenyum setelah mengatakannya.
"Boleh," ibu Yulia tersenyum penuh kasih sayang.
Setelah selesai menanam padi, ibu Yuli, Dilah dan Ali menyantap makanan di pondok.
"Ibu tak merasa kesepian di rumah sendirian?" tanya Ali sambil menatap ibu Yulia.
"Kesepian, ibu sangat kesepian." ujar ibu Yulia sedih.
"Ibu, setelah masalah kami selesai, aku akan menjadikan ibu sebagai anggota keluargaku. Aku akan mengangkat ibu sebagai ibu angkatku." ujar Dilah tersenyum manis menatap ibu Yulia.
"Hm, ibu sangat senang mendengar itu." ibu Yulia tersenyum tulus.
Mdngapa ya rasanya aku tak bisa jauh dari Ibu ini. Hatiku sangat bahagia melihatnya.
Setelah makan mereka lanjut menanam padi kembali sedangkan Franz mencari ikan di sungai untuk makan nanti malam.
Malam hari mereka berkumpul di meja makan. Menyantap ikan yang telah di bakar dengan bumbu yang mengungah selera.
"Ibu, rasanya sangat lezat. Persis seperti masakan ibuku." ujar Dilah memuji.
Ibu adalah Ibumu, nak.
"Terima kasih," ucap ibuYulia terharu.
Franz dan Dilah masuk ke kamar. Mereka harus berpura-pura menjadi suami dan istri agar tetangga tak curiga pada mereka karena di daerah sini masih tabu melihat laki-laki dan perempuan tinggal serumah tanpa adanya ikatan pernikahan..
"Jangan macam-macam ya!" ujar Dilah mengingat. Walaupun Franz pria baik tapi ia takut terjadi sesuatu di kamar.
"Iya, kamu juga jangan macam-macam padaku!" Franz meningatkankan.
"Iya, jika aku macam-macam padamu. Aku yang dirugikan disini." ucap Dilah cemberut masam.
"Iya juga, ya sudah tidurlah besok kita akan melalui perjalanan panjang."
"Iya," Dilah mengambil selimut dan memejamkan mata.
Berarti besok adalah saatnya kamu mengetahui siapa aku sebenarnya. Setelah kamu mengetahui siapa aku, apakah kamu mau menerima aku? Sungguh Nona aku sangat mencintaimu. Batin Franz
Franz merebahkan tubuhnya di lantai kemudian memakai selimut dan terlelap tidur.
Pagi hari mereka harus segera bersiap untuk melakukan perjalanan panjang. Ibu Yulia memberikan bekal makanan pada mereka. Mereka berpamitan, ibu Yulia tak tega melepas mereka pergi tapi ia harus kuat. Inj semua untuk keselamatan putri kesayangannya.